Power System

Power System
Tuan Muda yang Lemah


__ADS_3

"Kau!!! Kau!!! Kau berani menyakitiku?!!!" ucap tuan muda Lin yang sedang tersungkur ditanah.


"Yang kuatlah yang berkuasa" Xin Huang berjalan ke arah tuan muda Lin yang sedang tersungkur.


"Kau tidak tahu siapa ayahku?!!"


"Bila mengadu pada ayah, orang miskin pun bisa"


"Aku adalah Lin Fan!!! tuan muda keluarga Lin!!! Bila kau menyakitiku! ayahku akan memburumu keseluruh penjuru kota!!!"


Mendengar itu, Xin Huang tersenyum. "Aku tidak nanya, bodoh" Xin Huang menyiapkan tinjunya.


"Bila kau menyakitiku! aku akan mengadukanmu pada ayahku!"


"Aku penasaran, apakah jika kau mati, kau bisa mengadu pada ayahmu?"


"A-Apa? Kau mau membunuhku?"


"Tentu" Xin Huang mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ke--Kenapa kau mau mem-membunuhku?"


"Kenapa? Apa yang aneh dari membunuh didunia ini?" Xin Huang mendekatkan dirinya pada Lin Fan. "Kau pun sering membunuh kan?" Xin Huang berucap dengan senyuman mengerikan.


"Ja-Jangan membunuhku..." Lin Fan langsung bergetar hebat saat diancam oleh Xin Huang. "Ka-Kau mau apa? aku akan memberikan apapun padamu bila kau tidak membunuhku"


"Entahlah, aku hanya ingin nyawamu" Xin Huang mengangkat tangannya.


"Tunggu!!!" tiba-tiba terdengar suara pria tua dibelakang Xin Huang.


"Te-Tetua!!!" Hati Lin Fan langsung terasa lega saat melihat pria tua itu. "Hahaha, kau sudah pasti mati bila tetua Lin Chen turun tangan!!!" Lin Fan tertawa terbahak-bahak saat membayangkan orang yang mengancamnya, mati dengan tubuh tak utuh.


"Bocah! lepaskan tuan muda Lin! dan aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit" teriak tetua Lin Chen.


"Hooo... Begitu ya" Xin Huang menjentikkan jarinya.


Ctakkk


Cratttttt


Tubuh Lin Chen meledak seperti balon. "Khokk... A-Apa?!" Lin Fan tersedak oleh ludahnya sendiri saat melihat harapan hidupnya telah meledak seperti balon.


"Inilah perbedaan kekuatan kita...." Xin Huang menatap sinis Lin Fan.


Currrrr


"E-Egh..." Lin Fan mengompol saat ditatap sinis oleh Xin Huang.


"Hei... Kau penjaganya kan?" tanya Lin Fan pada penjaga tadi yang membentaknya.


"Be-Betul..." penjaga itu menjawab dengan tubuh yang bergetar tak karuan.


"Laporkan kejadian ini pada kepala keluargamu, maka kau masih bisa hidup"


"A--Apa?"


"Apakah aku harus memberikan kesempatan ini pada orang lain? Dan kau akan mati?"


"Ba-Baiklah! Aku akan melaporkan kejadian ini pada kepala keluarga" Belum sempat Xin Huang menjawab, penjaga itu sudah kabur kedalam kota.


"Hehe..." Xin Huang tersenyum kecil. "Sisanya, matilah" Xin Huang menjentikkan jarinya.


Ctakkk


Crattttt


Cratttttt


Crattttttt


Tubuh tiga penjaga yang tersisa meledak seperti balon. "Sekarang giliranmu, tuan muda Lin" Xin Huang menatap tajam Lin Fan.


"Eghhh"


Bummmmmmmm


Kepala Lin Fan hancur saat dipukul Xin Huang. "Hua'er, ayo kita masuk" Xin Huang berdiri, lalu mendekati Hua Mei.

__ADS_1


"Tapi Xin... Apa kau yakin membiarkan penjaga tadi kabur?"


"Kau sedang akting atau apa?"


"Ti-Tidak!"


"Kau kan bisa Menghancurkan benua ini sendirian, kenapa malah tanya-tanya?"


"Hehehe, aku merasa, aku harus bertanya seperti itu"


"Dasar wanita aneh"


"Walaupun wanita aneh! Aku ini istrimu tau!"


"Iya Iya, wanita aneh" Xin Huang berucap singkat sembari memasuki kota.


"Hei! jangan panggil aku wanita aneh!!!" Hua Mei berlari mengikuti Xin Huang.


***


(Kediaman Keluarga Lin)


"Kepala keluarga!!! kepala keluarga!!!" penjaga yang selamat dari pembunuhan Xin Huang berlari memanggil kepala keluarga Lin.


"Ada apa?" Saat penjaga itu melewati taman, seorang pria tua yang sedang duduk disana menyautnya.


"Ke--Kepala keluarga!!!" Penjaga itu menunduk pada pria tua itu.


"Ada apa?"


"Tuan Muda Lin...."


"Lin Fan? ada apa dengannya?"


"Dia... Dia telah mati!!!"


"Apa?!! Lin Fan mati?!!"


"Betul tuan!!!"


"Syukurlah"


"Syukurlah bocah itu mati. Sudah bodoh, tidak jenius kultivasi, selalu menghambur-hamburkan uang... Bila bukan karena istriku, aku sudah pasti akan membunuh dia dengan tanganku sendiri" mempunyai penerus lemah, berarti kehancuran keluarganya, dan istrinya tak peduli dengan itu, dia terlalu menyayangi dan memanjakan Lin Fan, sehingga Lin Fan terlena dengan kehidupan fananya.


"Oh iya, omong-omong siapa yang membunuh Lin Fan?"


"Aku tidak tahu tuan! dia adalah orang asing!"


"Sekuat apa dia?"


"Dia bisa membunuh tetua Lin Chen dengan satu jentikan jari!"


"Satu jentikan jari?!" Bila dia niat membunuh Lin Chen, dia bisa saja membunuhnya, tapi tidak dengan satu jentikan jari.


"Betul!"


"Kau buat sketsanya, lalu tunjukan padaku. Bila kau sudah menunjukkannya padaku, buat pengumuman untuk tidak menggangu orang itu"


"Baik tuan!" Pelayan itu menunduk, lalu pergi dari taman.


"Satu jentikan jari ya... Oh iya! aku lupa!" Kepala keluarga Lin lari dengan terbirit-birit dari taman.


.


.


.


.


"Xin! ayo makan direstoran itu!!!" ucap Hua Mei sembari menunjukan sebuah bangunan lima tingkat bertuliskan Palu Emas.


"Ayo, kuharap mereka tidak menjual daging manusia" Xin Huang menganggukkan kepalanya.


"Jangan mengingatkanku pada hal mengerikan itu...." Hua Mei merasa sedikit mual mengingat aroma daging manusia.


"Perutmu terlalu sensitif untuk Inti Suci puncak 236 ledakan"

__ADS_1


"Jangan samakan perutmu dengan perutku!!!'


"Ya sudah, ayo masuk..." Xin Huang menggandeng lengan Hua Mei, lalu masuk kedalam bangunan itu.


.....


"Ramai sekali" Xin Huang melihat kesekitarmya, dia melihat banyak orang yang sedang makan dilantai satu.


"Kita akan makan dilantai berapa Xin?"


"Tentu saja lantai Lima!"


"Ya sudah, sana pesan"


"Ini..." Xin Huang memberi Hua Mei sekantong emas.


"Untuk apa ini?"


"Untuk memesannya, sana pesan!"


"Kenapa tidak kau saja yang pesan?! kau kan laki-laki!"


"Apa hubungannya dengan gender?!"


"Kau sebagai suami harus bertanggung jawab dong! masa istri yang disuruh pesan?!!"


"Kau yang mengajakku kesini! jadi kau yang pesan!"


"Kenapa kau tidak mau ngalah dengan ku?!!"


"Aku tidak akan mengalah untuk hal sepele!"


"Erghhhh" Hua Mei geram melihat tingkah laku Xin Huang yang menyebalkan.


"Sana pesan, aku lapar"


Hua Mei tak menjawab, dia pergi ke arah resepsionis dengan perasaan geram.


"Hahahaha" Xin Huang tertawa terbahak-bahak saat melihat istrinya kesal.


....


"Nona, aku pesan lantai 5" Hua Mei yang sudah sampai dimeja resepsionis, memesan salah satu lantai.


"Lantai lima hanya untuk keluarga kaisar"


"Ya sudah, lantai 4 saja"


"Tolong bayar 400 emas"


"Ini" Hua Mei memberi wanita resepsionis itu 800 emas.


"Kenapa lebih?"


"Aku membeli untuk 2 orang"


"Oh..." Wanita resepsionis itu memberi Hua Mei dua kertas emas.


Setelah mengambil dua kertas emas itu, Hua Mei berjalan pergi ke arah Xin Huang yang sedang duduk.


"Xin... Aku sudah memesan lantai 4"


"Hah? Kenapa lantai empat?"


"Lantai lima hanya untuk keluarga kaisar"


"Ancam saja dengan kekuatan!"


"Dasar kau Xin! kau hanya bisa menyuruh saja!!!"


"Hahaha" Sekali lagi Xin Huang tertawa kencang sehabis mengerjai istrinya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2