
Hasil akhir dari turnamen Bergengsi Anak Muda telah terlihat. Bing Xiwang keluar sebagai pemenang setelah membunuh Lian Mei.
Para peserta-peserta yang lain hanya menepuk tangannya dengan wajah datar. Menurut mereka, monster seperti Bing Xiwang memang pantas untuk berguru pada salah satu Dewa Agung.
"Xin... Xin.... Xin....! Anakku akan berguru pada salah satu Dewa Agung!! Aku tidak bisa mempercayainya! Aku bahkan tidak pernah melihat anakku berlatih! Darimana dia mendapatkan kekuatan sehebat itu?!" Bing Lian berteriak histeris saat Shen Jian mengumumkan pemenang turnamen itu. Dia benar-benar bangga mempunyai anak sejenius Bing Xiwang.
"Ya, selamat nona Bing, anakmu terpilih menjadi pemenang. Tapi kau harus siap untuk tidak bisa bertemu dengan anakmu lagi selama bertahun-tahun," Xin Huang lah yang menyuruh Bing Xiwang menang, jadi dia tidak terlalu sakit hati melihat anaknya kalah.
"Hehe, jika itu demi kebaikannya, aku tak keberatan bila berada jauh dari anakku," Yang kuat yang berkuasa, Bing Lian tahu betul kata-kata itu, jika dirinya hanya menjadi penghambat bagi perkembangan anaknya, lebih baik dia mati atau berada jauh dari anaknya.
"Kau memang wanita yang baik nona Bing, aku terpesona," Xin Huang benar-benar kagum dengan sifat asli Bing Lian. Dulu dia mengira bahwa Bing Lian adalah wanita dingin yang jahat, namun setelah mengenalnya lebih dalam, ternyata Bing Lian adalah wanita lembut yang memiliki hati baik.
"Ekhem," Hua Mei mencubit perut Xin Huang saat melihat tatapan Xin Huang terus terpaku pada Bing Lian.
"Iya Hua'er...."
Lian Mei turun dari lantai atas. Terlihat raut wajah kekecewaan terukir sempurna diwajahnya. Tatapannya kosong, seolah semangat hidupnya telah sirna. Dia benar-benar sakit hati, dan merasa malu melihat wajah ayahnya.
Xin Huang mengerti dengan perasaan Lian Mei, putrinya yang sangat mencintai pedang, tentu mau berguru pada orang yang sangat memahami pedang. Namun Xin Huang tidak bisa melepas putrinya pada orang yang akan menjadi musuhnya, hatinya tidak akan tenang saat memikirkan itu.
Xin Huang tersenyum lalu mengusap lembut kepala Lian Mei, "Lian'er, apa kau baik-baik saja?"
Lian Mei menggelengkan kepalanya, dia terus menundukkan kepalanya kebawah, bahkan saat ayahnya bicara padanya. "Ayah.... Aku kalah, maafkan aku."
Hati Xin Huang sedikit sakit saat melihat putrinya yang merasa sangat sedih. "Tak apa-apa Lian'er, ini bukanlah akhir dunia, jadi jangan bersedih."
Lian Mei mengepal erat tangannya, "Padahal ayah telah melatihku dengan keras, tapi aku tetap kalah. Aku merasa bahwa aku hanyalah sampah yang berserakan, berada dirantai paling bawah hierarki kehidupan, dan tidak bisa melakukan apapun selain merengek, aku tidak berguna."
Xin Huang mengusap lembut pipi Lian Mei. "Kau merasa seperti sampah karena kau lemah, dan kau merasa tak berguna karena kau lemah. Jadi jika kau tidak ingin merasa begitu, jadilah kuat. Jadikan kekalahan ini sebagai motivasi dirimu untuk menjadi kuat, jangan malah terjatuh kedalam kesedihan yang tak berujung. Kau pasti bisa menjadi kuat, aku mempercayai itu, sebab kau adalah putriku."
Lian Mei mengusap seluruh air matanya, kata-kata ayahnya barusan, telah membuka hatinya yang mulai tertutup.
"Terimakasih ayah....," Lian Mei memeluk erat tubuh Xin Huang.
"Ya, sama-sama," Xin Huang memeluk balik tubuh Lian Mei.
__ADS_1
"Hai."
Bing Xiwang muncul dengan wajah datarnya, dia sengaja datang terlambat agar Lian Mei bisa sedikit lebih tenang.
"Wang'er!!" Bing Lian berlari dan memeluk Bing Xiwang dengan wajah yang sangat senang.
"Hai ibu."
"Hebat sekali kau anakku!" Bing Lian mencium-ciumi pipi Bing Xiwang dengan histeris.
"Ah, tapi.... Guruku telah datang."
Shen Jian dan Shen Bian muncul tanpa disadari oleh keempat orang itu. Indra Xin Huang yang sangat tajam pun tidak mampu mendeteksi keberadaan keduanya.
"Kami akan segera pergi nona, jadi tolong turunkan calon murid ku," ucap Shen Jian dengan wajah tersenyum, walaupun tujuannya tidak tercapai, setidaknya dia mendapatkan murid yang memiliki ras langka.
Shen Bian hanya diam dan berdiri dengan senyuman manis.
"Ah... Uh... Oh.... O-Oke...." Dengan tangan yang gemetaran, Bing Lian menurunkan tubuh Bing Xiwang.
"Namamu Bing Xiwang kan?" Tanya Shen Jian sembari menjulurkan tangannya.
"Baiklah, ayo kita pergi," Shen Jian berbalik dan hendak pergi. Namun dia terhenti saat melihat Bing Xiwang yang masih tetap diam.
Shen Jian menghela nafas, lalu menatap tajam Bing Xiwang, "Bing Xiwang, aku tidak menerima penolakkan."
"Apakah aku boleh pamit dulu dengan keluargaku?"
Shen Jian melamun, lalu menganggukan kepalanya, "Tentu."
Bing Xiwang berbalik dan menatap ibunya, "Aku pergi dulu ibu, semoga paman Xin memperlakukanmu dengan baik."
"Iya sayang, kuharap juga begitu, tetapi walaupun paman Xin tidak memperlakukanku dengan baik, kau tidak perlu khawatir, jalani saja latihanmu dengan tenang. Jangan membebani pikiranmu dengan hal yang tidak penting, fokus saja untuk menjadi kuat," Bing Lian mengusap dan mencium dahi Bing Xiwang dengan lembut. Dia tidak tahu harus menunggu berapa tahun lagi untuk mencium dahi Bing Lian seperti itu.
"Ya ibu," Setelah itu Bing Xiwang menatap Xin Huang dan Lian Mei. "Kakak Lian Mei, kuharap kau tidak membenciku."
__ADS_1
Lian Mei tersenyum kecil, "Tentu saja tidak, itu hanya permainan."
Bing Xiwang merasa bersyukur saat mendengarnya, lalu dia menatap Xin Huang, "Paman, tepati janjimu."
Xin Huang mengangguk, "Tentu saja, dan maafkan aku."
"Heh, aku memang ingin menjadi orang besar, jadi tidak usah merasa bersalah."
Xin Huang menatap Bing Xiwang, lalu memejamkan matanya. "Ya, sampai jumpa lagi."
Bing Xiwang tersenyum, lalu berbalik menghadap Shen Jian dan Shen Bian. "Aku sudah siap."
Shen Jian menganggukkan kepalanya. "Bian."
"Iya," Shen Bian melangkahkan kakinya, lalu mereka bertiga tiba-tiba menghilang darisana.
Xin Huang melebarkan matanya, dia tahu betul gerakan apa yang ditunjukkan Shen Bian tadi. "Itu Teleportasi tingkat tinggi, apakah dia....."
Hua Mei menepuk bahu Xin Huang, "Ayo kita pulang Xin, aku lapar."
"Kau ini ya..." Xin Huang memeluk Hua Mei, Lian Mei, dan Bing Lian, lalu tiba-tiba menghilang darisana.
....
Para penonton yang lain memerhatikan semua percakapan itu dengan seksama. Mereka berusaha mengingat-ingat wajah Xin Huang, Bing Lian, Hua Mei, dan Lian Mei. Mereka melakukan itu agar bisa menjilat keempatnya saat bertemu lagi dilain waktu.
"Ini adalah turnamen dengan kejutan yang sangat besar. Seorang Dewa Agung yang datang menonton untuk mencari murid: benar-benar berada diluar logika mahluk fana, buat apa seorang dewa agung yang keagungannya terasa diseluruh dunia datang untuk mencari murid dikota yang sangat kecil ini? Apakah dia benar-benar mencari murid, atau ada urusan lain? Mungkin ini ada hubungannya dengan ketiga orang itu?" Namanya Zhang Jiao, seorang pria misterius yang memiliki darah seorang pahlawan terkenal.
"Entahlah, tapi apa kita akan mencari apa yang sedang kita cari selama ini?" Sahut seorang pemuda berambut hitam pendek, dengan mata emasnya yang bersinar.
Zhang Jiao menatap pemuda itu, "Jin Xie, aku tak menyangka kau akan bertanya seperti itu. Tentu saja kita akan melanjutkannya! Semua yang kita ingin kan sudah hampir tercapai! Kita hanya butuh satu darah saja, darah dari seorang ras Raksasa."
.
.
__ADS_1
.
.