
Dengan tangan yang dilipat, Qia Jia menatap Xin Huang secara seksama. Terlihat Xin Huang merasa tidak nyaman di intip seluruh kisah hidupnya dari masa lalu, sampai kemasa depan.
Ya, masa depan! Banyak sekali masa depan yang dilihat Qia Jia. Semuanya bercabang seperti ranting pohon yang jatuh.
Dan semua ujung dari masa depan Xin Huang, selalu berakhir dengan kehancuran. Bukan kehancuran karena Xin Huang, tapi karena suatu entitas yang tidak diketahui.
Qia Jia merengut dan mengelus dagunya. Dia terlihat berpikir keras mengenai masa depan yang baru saja dia lihat. "Kenapa ini bisa terjadi? Entitas yang tak diketahui itu benar-benar memiliki kekuatan yang sangat besar."
Qia Jia melirik diam-diam Xin Huang. "Masa depan bocah itu, sama persis dengan masa depan Jue Yuan. Yah... Pada akhirnya mereka memang bartarung, tapi setelah pertarungan itu, aku tidak tahu bagaimana akhirnya, aku juga tidak tahu siapa yang menang dan kalah."
Xin Huang berkeringat dingin saat ditatap diam-diam oleh Qia Jia.
Setelah itu Qia Jia menghela nafas. Dia menatap Xin Huang, lalu berjalan mendekatinya. "Xin... Apa kau tahu wujudmu yang sebenarnya itu seperti tahu busuk? Bau dan menjijikan. Semua itu disebabkan banyaknya nyawa yang kau hilangkan."
Xin Huang menundukkan kepalanya, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Dan yang lebih bodohnya, adikku tidak memberimu jalan agar kau bisa menjadi lebih baik. Dia malah membicarakan karma yang tidak pernah kau rasakan sama sekali. Adikku lebih memilih kehancuran dimana-mana dan akhir yang tidak bahagia. Daripada memilih jalan yang lurus dan akhir yang bahagia. Dia memang masih muda, pikirannya belum dewasa dan seperti bocah. Sama sepertimu, walaupun kau sudah hidup selama triliunan tahun, jika masih tidak dewasa apa gunanya?"
Xin Huang masih menundukkan kepalanya. Berada di situasi seperti ini, dia jadi teringat dengan ibu kandungnya.
"Jawab! Jangan diam saja!"
Bentakan Qia Jia membuat Xin Huang tersentak. "I-Iya...."
"Huh! Baiklah. Aku tahu latihan apa yang pas dengan sifatmu ini."
Qia Jia mengangkat tangannya. Dia memejamkan matanya, lalu menjentikan jarinya.
Ctak...
***
Xin Huang berpindah ke ruangan mewah dengan seorang anak kecil dihadapannya.
Anak kecil itu terlihat sangat imut dan menggemaskan. Dia terlihat memain-mainkan tangan Xin Huang yang putih dan lembut.
Putih dan lembut?
Xin Huang menatap kedua tangannya. Kelihatan tangannya begitu lembut dan mulus.
Setelah itu dia melihat kearah dadanya. Ada sesuatu yang menonjol, dan burung dibawahnya dia rasakan telah menghilang.
"Aku jadi wanita...." Xin Huang menghela nafasnya, dia sudah berlatih untuk tidak panik saat menghadapi sesuatu.
"Kakak...." Bocah kecil itu menatap Xin Huang dengan tatapan memelas. Seolah sedang ingin meminta sesuatu.
Dengan tatapan tajamnya, Xin Huang mengalihkan pandangannya dari bocah itu. "System? Dimana kau?"
Tidak ada yang menjawab....
Berkali-kali Xin Huang mencoba memanggil systemnya. Namun tidak ada jawaban sama sekali.
Tapi dilain sisi, Xin Huang mampu menggunakan semua fitur systemnya. Seperti status dan juga inventori. Tapi dia tidak bisa membuka tokonya.
Hei, ini aku, Qia Jia.
Xin Huang dengan segera duduk tegak begitu mendengar perkataan Qia Jia. "*Y-Ya?"
Nama tempatmu berada saat ini adalah 'Judgment Shrine'. Tempat dimana para arwah-arwah diadili dan dihukum. Tugasmu disitu adalah menuntun para arwah-arwah untuk pergi ke neraka atau ke surga.
Jika kau mampu memberi putusan sebanyak 50.000 kali, kau lulus dari tes ini*.
Xin Huang melongo, lalu menganggukan kepalanya. "Baik, aku mengerti. Omong-omong, kenapa aku menjadi wanita?"
Kau akan tahu itu nanti.
Xin Huang memiringkan kepalanya. Dia bingung dengan perkataan Qia Jia. "Ah, oke."
Setelah itu Xin Huang menatap bocah dihadapannya. Dia terlihat ingin menangis karena ditatap sinis oleh Xin Huang.
"Hmmm... Dia siapa ya?" Xin Huang menganalisa bocah dihadapannya. Tapi dia tidak bisa, sepertinya analisa adalah kemampuan yang diblokir ditempat ini.
"Kau siapa bocah? Kenapa kau bersikap sok akrab denganku?"
Bocah itu lagi-lagi ingin menangis, dia berlari kearah Xin Huang, dan memeluknya dengan erat. "Kakak... Kau benar-benar kakakku kan? Kenapa kau bersikap sekejam ini pada adikmu sendiri? Apa kau masih tidak bisa memaafkanku?"
Xin Huang tak mengerti, dia benar-benar tak mengenal siapa bocah itu. "Apasih kau sok kenal," Xin Huang berusaha untuk melepas pelukan bocah itu. Namun dia tak bisa melakukannya, sebab si bocah benar-benar erat memeluk dirinya.
"Halo...." Seorang pria kekar masuk kedalam ruangan. Dia terlihat sedikit terkejut saat melihat wanita yang dipeluk erat oleh seorang bocah.
"Huh?" Xin Huang menatap pria itu. Terlihat dia menggenggam secarik kertas ditangan kanannya. "Kau siapa ya?"
"Ini...." Pria itu memberi Xin Huang secarik kertas yang sejak tadi dia genggam.
Xin Huang menerima itu dengan wajah kebingungan. Namun setelah dia membaca apa yang ditulis dikertas itu, dia paham dengan apa yang terjadi.
"Begitu ya, jadi tes ini sudah dimulai."
Didalam kertas, banyak sekali informasi-informasi tentang si pria kekar. Mulai dari nama, umur, hingga kejahatan-kejahatan yang telah dia lakukan.
Dibalik sikapnya yang sok polos, tersembunyi banyak sekali kejahatan yang telah dia lakukan.
Seperti pemerkosaan, pembunuhan, dan penyiksaan. Semua korbannya adalah wanita, dia sangat tergila-gila dengan apa yang namanya wanita, apalagi jika wanita itu cantik.
__ADS_1
Sorot mata Xin Huang menjadi tajam. Walaupun dia suka membunuh, dia sangat tidak suka membuat wanita kesakitan.
"Kau menjijikan ya...." Xin Huang mengambil kuas dimeja yang ada dihadapannya.
Si pria kekar hanya tersenyum, dia terlihat tidak peduli dikata-katain oleh Xin Huang. "Haha...."
"Tak ada yang lucu sial," Xin Huang menuliskan kata-kata yang sangat mengerikan diatas kertas kosong.
Semua kata-kata itu bertuliskan hukuman yang akan dijalani si pria kekar. Si pria kekar terlihat gemetar saat melihat tulisan Xin Huang.
"Apa kau tidak bisa sedikit meringankan hukumanku? Aku sudah tidak pernah melakukan hal itu lagi selama 5 tahun lamanya. Aku sudah belajar banyak tentang bagaimana menghargai wanita."
"Tutup mulutmu, bangsat," Xin Huang menanda tangani kertas itu. Dan si pria kekar tiba-tiba menghilang dari sana.
Kau gagal. Hukuman yang kau berikan, terlalu berat untuk seseorang yang sudah bertaubat selama 5 tahun.
"Hah? Gagal? Apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaan wanita-wanita yang telah dia bunuh?"
Aku memikirkannya. Namun sekarang kau adalah sebuah keadilan. Jika ingin memberi hukuman, beri hukuman sesuai dengan perbuatan si pelaku.
Kau adalah calon penguasa dunia. Bukan calon pahlawan kesiangan. Jadi berpikirlah terlebih dahulu, sebelum kau melakukan sesuatu.
Xin Huang tertunduk, dia merasa seperti orang munafik. Padahal dibandingkan pria kekar itu, korban yang dia bunuh jauh lebih banyak darinya.
"Baiklah...."
***
Dua bulan berlalu, Xin Huang pun sudah mulai akrab dengan bocah yang mengaku sebagai adiknya.
Namanya DaiDai, seorang bocah laki-laki yang memiliki wajah super tampan. Matanya berwarna merah, dan rambutnya berwarna hitam pendek.
Semua aksesoris tubuhnya sama persis dengan aksesoris tubuh Xin Huang. Jadi Xin Huang berpikir bahwa si bocah itu adalah adiknya yang sebenarnya.
"Kakak, kapan pekerjaanmu akan selesai? Apa kau tidak mau bermain denganku?" Tanya DaiDai yang sedang bermain dengan mainan keretanya.
Xin Huang menghela nafas, dia tidak tahu kapan adiknya itu akan diam dan berhenti berbicara. "Kau tidak lelah ya berbicara selama dua bulan penuh?"
"Jika berbicara pada kakak, aku tidak akan lelah selamanya. Kau adalah yang terindah, kau selalu memberiku energi untuk tetap berbicara. Jadi jangan pergi kakak, dan ayo bermain bersamaku."
Xin Huang menggeleng, sebab seorang wanita tua datang kedalam ruangannya, sembari membawa secarik kertas ditangannya.
"H-Halo...." Ucapnya dengan nada yang gemetaran. Dia terlihat tidak mampu berdiri lama-lama. Sehingga Xin Huang mempersilahkan wanita itu untuk duduk dihadapannya.
"Halo nyonya, tolong berikan kertasnya padaku," Xin Huang bicara sesopan mungkin pada si nenek.
Dia sudah banyak sekali berinteraksi dengan banyak orang. Berbagai macam sifat, jenis kelamin, hingga segala usia.
Sehingga dia jadi bisa lebih berpikir, dan tahu bagaimana harus bersikap pada orang asing.
Xin Huang menerima kertas itu dengan tangan kanannya, lalu dia membaca semua tulisan yang ada dikertas.
"Nyonya, kau memiliki hati yang sangat baik. Hidupmu dipenuhi oleh banyak sekali kebaikan. Senyummu diingat oleh banyak orang, kau benar-benar contoh positif dari sebuah kehidupan. Tapi pertanyaanku, kenapa kau tidak menikah?"
Wanita itu tertawa kecil, "Hoho... Kau juga belum menikah, apa benar kau tidak tahu alasannya?"
Xin Huang menghela nafas, "Aku punya alasan tersendiri mengapa aku tidak menikah. Namun dialam semesta lain, aku sudah menikah."
"Ya, sama sepertimu. Aku juga punya alasan tersendiri untuk tidak menikah."
Sembari menganggukan kepalanya, Xin Huang menanda tangani kertas tulisannya. "Baiklah nyonya, nikmati seluruh waktumu disurga. Dan sekali-kali rasakanlah kenikmatan ***."
"Kau juga...." Wujud nenek itu memudar, lalu menghilang dari tempatnya.
Bagus, kau semakin dekat dengan akhir dari tes pertama. Kau memang yang terbaik.
Xin Huang tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih guru."
***
Tiga Minggu berlalu lagi dengan cepat. Diwaktu kosongnya, Xin Huang selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan DaiDai, mau bagaimanapun juga, tak baik untuk membiarkan anak kecil bermain sendirian.
"Kakak, sepertinya kau lupa ingatan ya?"
"Ya, bisa dibilang begitu."
"Tapi walaupun kau bilang ingatan, kau masih tetap baik padaku, bahkan kau mau membuatkan ku sebuah baju. Aku jadi heran, terbuat dari apa hatimu itu?"
Perkataan DaiDai sedikit menusuk hati Xin Huang. Dia akhirnya mengerti kenapa dia diubah menjadi perempuan saat ini. "Ah, iya...."
"Haha, tapi tak peduli kau hilang ingatan atau tidak, kau masih tetap cantik seperti biasanya."
Seorang pria datang kedalam ruangan. Dan seperti sebelum-sebelumnya, pria itu juga membawa sebuah kertas digenggamannya.
Wajahnya terlihat murung dan penuh dengan kehampaan. Tanpa basa-basi lagi, si pria memberikan kertasnya pada Xin Huang.
Xin Huang menerima dan membacanya. Dia begitu terkejut dengan dosa apa yang dilakukan pria itu. "Membunuh anak sendiri? Apa alasanmu melakukan itu?"
Dia tak menjawab. Namun matanya terlihat bercahaya saat melihat Xin Huang. "Ah... Uh... Uh.... Maafkan aku, maafkan aku...." Air mata terus mengalir membasahi pipi pria itu.
DaiDai terdiam dengan wajah yang gelap saat melihat pria dihadapannya.
"Ada apa tuan?" Xin Huang terlihat khawatir melihat kondisi si pria.
__ADS_1
"Maafkan aku...." Tak bisa menahannya lagi, pria itu menangis dengan sangat kencang sejadi-jadinya. Dia terlihat seperti bayi yang baru lahir.
"Tolong ceritakan padaku apa masalahmu, jangan membuatku panik seperti ini."
Pria itu mengangguk, dan mulai bercerita tentang masa lalunya. "Aku adalah seorang pria biasa yang hidup di desa kecil di daerah pinggiran kota. Aku memiliki dua anak yang sangat tampan dan cantik,"
"Si kakak perempuan bernama Xia Mei, dan si adik bungsu bernama Xia Dai. Disuatu hari saat aku sedang bekerja, aku mengalami perasaan buruk yang terjadi dirumahku. Aku dengan segera pulang dan berlari menuju rumahku,"
"Dan kau tahu apa yang terjadi didalam sana? Putriku Xia Mei dibunuh oleh adiknya sendiri dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Lehernya digorok dan tangan kakinya dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Tubuhnya telanjang dan terlihat seluruh pakaiannya sudah dirobek-robek oleh Xia Dai,"
"Pikiranku menjadi sangat kacau dan dipenuhi oleh amarah. Aku dengan segera mengepalkan tangan dan memukuli Xia Dai sampai mati. Dan saat aku sadar, para warga menemukanku yang sedang memegang mayat putraku. Mereka dengan segera menuduhku telah membunuh kedua anaknya sendiri dan membakarku hidup-hidup,"
"Dan kau tahu apa yang membuatku sangat sedih? Itu kau, wajahmu sangat mirip dengan wajah putriku. Putriku yang sangat lembut dan baik Hati. Putri yang telah menggantikan peran ibunya untuk mengurus ayahnya. Alasanku masih tetap bekerja keras diusia yang sudah senja adalah karena Xia Mei. Aku ingin melihat putriku menikah dengan pria yang mapan dan baik hati,"
"Aku.... Aku hanya ingin melihat putriku bahagia... Tapi semuanya hancur saat Xia Dai membunuh kakaknya sendiri. Aku tidak tahu apa alasan dia melakukan itu, aku benar-benar tidak tahu alasan dia melakukan hal sekejam itu. Jika aku mempunyai kesempatan kedua, aku ingin sekali membunuh Xia Dai sekali lagi."
Mendengar cerita pria dihadapannya, Xin Huang jadi mengerti kenapa pria itu menangis histeris saat melihatnya. "Aku mengerti tuan. Demi kau, aku akan memberimu sedikit keringanan didalam hukumanmu."
Pria itu tersenyum hangat, "Tak usah gadis kecil, sebanyak apapun alasan yang kuberikan, membunuh anak sendiri itu tidak bisa dibenarkan. Jadi biarkan aku menjalani hukumanku yang sebenarnya."
"Tapi...."
"Tak usah nak, terimakasih banyak atas kebaikanmu."
"Baiklah..." Xin Huang menuliskan hukuman-hukuman yang akan dijalani oleh si pria. Tanpa dikurangi, ataupun dilebih-lebihi.
Selesai menulis, tubuh si pria mulai memudar, dan menghilang seperti biasanya.
Itu adalah pelaku yang ke 49999, hanya tersisa satu orang lagi sebelum kau menyelesaikan tesmu.
Xin Huang mengangguk. Wajahnya terlihat lesu dan lelah dengan semua kisah ini.
Beberapa hari Xin Huang menunggu pelaku terakhir yang akan datang. Tapi si pelaku tidak kunjung datang juga selama apapun Xin Huang menunggu.
Hal itu membuat Xin Huang menjadi super kesal, dan ingin membanting meja dihadapannya.
"Kakak."
Xin Huang menatap DaiDai yang baru saja memanggilnya. "Apa?"
"Kau sedang menunggu tamu yang terakhir ya?"
"Iya, aku sudah menunggu selama beberapa hari, tapi dia tidak datang-datang juga."
DaiDai terdiam, lalu menggengam erat tangan Xin Huang. "Kenapa kau harus menunggunya, padahal dia sudah ada disebelahmu?"
"Hm?" Xin Huang mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan DaiDai.
"Aku adalah tamu yang pertama. Namun karena kau tidak tahu apa-apa, aku malah jadi tamu yang terakhir."
"Kau bicara apa sih?"
"Aku adalah Xia Dai, adik yang telah membunuh kakaknya sendiri. Dan kakak yang kubunuh adalah kau, Xia Mei."
Xin Huang tanpa sadar membuka mulutnya, dia tidak mampu menahan keterkejutannya. "H-Hah? Kau berbohong ya? Untuk apa anak sebaik kau membunuh kakaknya sendiri?"
"Karena sebuah obsesi. Kau adalah wanita terindah yang pernah aku lihat. Parasmu, watakmu, hingga perlakuanmu yang sangat cantik dan lembut membuatku jatuh cinta padamu. Dihari pembunuhanmu, aku menyatakan perasaanku padamu, dan kau dengan ringannya menolak perasaanku. Kukira kau adalah wanita yang baik, tapi ternyata kau memiliki sisi jahat juga. Aku yang kesal, menggorok lehermu, dan memperkosa mayatmu. Tanganmu kupotong-potong menjadi bagian kecil demi memuaskan hasrat ku. Saat aku hampir sampai klimaksnya, ayah datang dan memukuliku hingga aku mati. Dan dia terkena karmanya sendiri, dia dibakar hidup-hidup hingga kulitnya mengelupas dan mati penuh dengan rasa sakit. Nah kakak, setelah aku menceritakan semua itu, apa yang akan kau lakukan padaku?"
Wajah Xin Huang membeku, matanya melebar dengan mulut yang juga terbuka lebar. Dia tidak bisa memercayai perbuatan kejam yang telah dilakukan Xia Dai.
"K-Kau... Jahat."
Xia Dai memejamkan matanya. Dia mengambil kuas dan menuliskan kata-kata diatas kertas. Semua kata-kata itu bertuliskan hukuman apa yang akan dia rasakan.
Digantung, digorok, dikuliti hidup-hidup, dibakar, ditenggelamkan, diracun, dipotong-potong, dicungkil, direbus, digencet, dipanggang dan dihancurkan.
Semua itu dia tulis dengan hati yang tenang. "Ini adalah hukuman yang pantas untukku. Jadi selamat tinggal kakak."
Xia Dai menanda tangani kertas itu, dan tubuhnya menghilang dari sana.
Meninggalkan Xin Huang yang masih melongo tidak percaya. "A-Apa? Kenapa hatiku terasa sangat sakit? Ini bukanlah diriku, aku tidak pernah selembek ini. Aku mempunyai hati yang sangat kuat, ditinggal kedua orang tuaku saja aku tidak menangis. Tapi kenapa rasanya aku ingin menangis?"
Kau harus menahannya. Menjadi penguasa dunia itu memang sangat menyakitkan. Dan kau akan terus merasakan rasa sakit itu selama kau masih ada dimenara ini.
Jika kau tidak ingin merasakan rasa sakit itu, maka kau bisa menjadi sebuah senjata.
Oh iya, selamat, kau lulus tes yang pertama.
Entah kenapa Xin Huang tak bisa tersenyum bahagia. Hatinya masih terasa berdenyut setelah kehilangan teman terbaiknya, Xia Dai.
Rasanya dia ingin mati saja, daripada merasakan perasaan sakit itu. "Ah... Kau jahat guru, kau sangat jahat."
Maafkan aku bocah, tapi kau tidak boleh terus berangsur-angsur didalam perasaan itu. Kau harus menjadi lebih netral, dan tidak berpihak pada salah satu dari dua pilihan.
Kau harus lebih mengandalkan logika dan aturan yang berlaku, daripada mengandalkan perasaan empati yang tak berguna.
"Terserah kau."
.
.
.
__ADS_1
.