Power System

Power System
Hadiah Yang Tak Terhingga


__ADS_3

Gedung Tempat turnamen diadakan memiliki dua lantai, yang masing-masing lantainya mempunyai kegunaannya sendiri.


Lantai 1 adalah lantai untuk para penonton melihat dan mengamati jalan pertarungan terjadi, dan itu ditampilkan dalam layar yang sangat besar.


Dan untuk lantai 2, itu digunakan untuk para peserta memakai alat virtual. Alat virtual berbentuk sebuah kursi dengan kubah Qi berwarna merah yang menutupinya. Para peserta hanya tinggal duduk disitu, lalu kesadarannya akan menghilang ketempat turnamen terjadi.


1 jam berlalu dengan cepat, waktu yang ditunggu-tunggu para peserta turnamen akhirnya tiba, namun yang ditunggu-tunggu para penonton, belum juga tiba. Itu membuat para penonton kecewa.


Xin Huang duduk dikursi penonton yang paling depan, disebelah kanan dan kirinya, terlihat Hua Mei dan Bing Lian yang juga sedang duduk.


"Xin, katamu sang dewa pedang akan datang, tapi kenapa sampai sekarang tidak datang-datang juga?" Xin Huang pernah menceritakan kepada Hua Mei bahwa dewa pedang Shen Jian akan mengunjungi turnamen, namun dari persepsi spiritual hingga sensor aura nya, dia belum bisa merasakan atau melihat keberadaan Shen Jian.


"Itu, dia disana." Xin Huang menunjuk kearah bangku penonton yang paling depan yang ada tepat diseberang bangku duduknya.


Hua Mei dengan segera melihat apa yang ditunjukan Xin Huang, dan alangkah terkejutnya dia saat dua bangku yang dia kira kosong, ternyata sudah ada yang mengisinya, bahkan dia tidak bisa melihat apapun yang berkaitan dengan kedua orang itu, seperti aura atau ruang. "Si-Siapa mereka?"


Xin Huang mengelus dagunya sembari memperhatikan kedua orang itu, "Yang pria aku tahu bahwa dia adalah Shen Jian, tapi yang wanita aku benar-benar tak tahu dia siapa." Wanita yang ada disebelah Shen Jian memiliki paras dan wujud yang sangat cantik, bahkan miliaran kali lebih cantik dari Hua Mei, namun bukannya terpesona, Xin Huang malah merasa ngeri dengan wanita itu. "Status?"


[Error!]


[Tolong naikkan versi system untuk melihatnya!]


Xin Huang mengerutkan dahinya, lalu beralih pada Shen Jian. "Status"


[Error!]


[Tolong naikkan versi system untuk melihatnya!]


Xin Huang memutar bola matanya sembari menghela nafas, "Bila Shen Jian yang error itu wajar, tapi kenapa wanita itu juga malah error? Apakah dia seorang dewa agung juga? Tolong jawab system."


[Naikkan versi system jika tuan ingin mendapatkan jawabannya!]


"Rewel sekali kau system, tidak bisa langsung jawab kah?" Xin Huang sebenarnya malas untuk mengupgrade systemnya, sebab systemnya yang saat ini juga sudah lebih dari cukup, dan jika dia naik tingkat kelevel yang lebih tinggi, dia bisa menganalisa apapun tanpa bantuan system.


[System juga ingin tahu, tapi semua pengetahuanku dibatasi oleh sistem upgrade, sehingga jika system ingin menjawab, jawaban itu otomatis terblokir oleh kata-kata itu.]


"Baiklah, nanti setelah ini selesai, kau akan ku upgrade." Mau tak mau Xin Huang harus mengiyakannya, sebab dia juga penasaran.

__ADS_1


"Wah... Jadi itu wujud dari seorang dewa agung? Tapi kenapa tidak ada agung-agungnya? Padahal kan kedudukan dia hampir sama dengan tuhan bagi para mahluk fana." Hua Mei mengira bahwa dewa agung seperti Shen Jian akan terlihat seperti matahari yang mengeluarkan aura terang, tapi dari yang dia lihat sekarang, Shen Jian malah terlihat seperti manusia biasa.


"Kau tahu kenapa tuhan tidak bisa langsung datang kedunia ini untuk membantu mahluk ciptaannya? Ya karena kekuatan mereka sangat besar dan tak terbatas. Jika dewa agung mengeluarkan sedikit auranya saja, sudah pasti alam emas ini akan hancur seluruhnya, bahkan tanpa ada yang tersisa."


Hua Mei menganggukan kepalanya tanda mangerti.


.....


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Shen Jian berdiri dari duduknya, lalu melayang terbang diatas para penonton yang lain, membuat para penonton mengalihkan pandangannya pada dia.


Para penonton menjadi kebingungan saat melihatnya, sebab mereka sama sekali tidak mengenal siapa pria berkabut pirang dengan kedua telinga kucing itu. Namun disaat Shen Jian membuka mulutnya, para penonton yang ada disana langsung membuka mulut dan matanya lebar-lebar.


"Aku adalah Shen Jian, aku datang kesini hanya untuk menyampaikan sesuatu. Walaupun aku cukup sedih karena orang yang mengenaliku cuma satu orang." Shen Jian tersenyum kecil pada semua penonton.


"Bohong! Kau pasti bukan dewa agung! Bahkan auramu tidak ada bedanya dengan manusia biasa." Seorang penonton dengan baju bangsawan mewah berteriak pada Shen Jian sembari menunjuk-nunjuknya.


Shen Jian hanya diam tak bergerak, menurutnya bernafas dengan udara yang sama seperti manusia fana saja sudah menjijikan, apalagi ditambah oleh manusia fana yang menunjuk-nunjuknya sembari berteriak padanya. "Hilanglah." Shen Jian berkata pelan.


Sang pria bangsawan itu melebarkan matanya, lalu tiba-tiba menghilang dari sana. Itu membuat para penonton yang lainnya kebingungan.


Para penonton yang tadinya tidak percaya dengan Shen Jian, tiba-tiba menjadi sangat percaya bahwa dia adalah dewa pedang, dan untuk pria bangsawan yang tadi, mereka semua melupakannya.


Xin Huang terdiam dengan mata yang terbuka lebar, dia melihat Shen Jian seolah-olah melihat hantu. Hatinya saat ini dipenuhi dengan ketakutan dan kewaspadaan. "Apa itu tadi?! Itu benar-benar mengerikan! Bahkan aku lupa dengan apa yang dia lakukan sebelumnya!"


Shen Jian tersenyum kecil, lalu menatap semua orang dibawahnya, "Tidak ada hadiah emas didalam turnamen ini. Tapi jika ada yang memenangkan turnamen ini, dia akan jadi muridku."


Memang kata-kata yang dikatakan Shen Jian seperti hal yang remeh, namun bagi para penonton dan peserta turnamen, hadiah itu benar-benar berharga, bahkan seluruh kekayaan dialam emas tak akan pernah bisa menyandinginya.


Para penonton dan peserta turnamen melotot sembari terdiam seperti patung, kata-kata yang baru saja diucapkan Shen Jian, benar-benar membuat hati mereka dipenuhi dengan rasa semangat.


(Dilantai Dua)


"Menjadi murid dari sang Dewa Pedang? Aku benar-benar tak bisa membayangkannya! Aku akan memenangkan turnamen ini dan menjadi murid Dewa Pedang!" Lian Mei terlihat sangat bersemangat saat mendengar hadiahnya.


Bing Xiwang hanya mengangguk pelan, dia tidak terlalu tertarik untuk menjadi murid sang dewa pedang, sebab dia masih ingin memeluk tubuh ibunya. "Semoga sukses."


(Lantai dua)

__ADS_1


"Wow! Hadiah yang tak terhingga berharganya!"


"Jika anakku memenangkan turnamen ini, sudah pasti keluargaku akan naik pangkat!"


"Kau harus menang anakku! Kau harus menaikkan derajat kami!"


"Hebat sekali! Hebat sekali!"


Xin Huang menggigit bibirnya, dia benar-benar tak tahu tujuan apa yang ingin dicapai Shen Jian. "Apakah dia sudah sering mengambil murid, atau ini memang pertama kalinya? Jika memang ini pertama kalinya, dia datang karena aku, atau ada faktor lain? Tapi pokoknya, aku harus menjauhkan Lian Mei dari dirinya, Lian Mei tidak boleh terluka." Xin Huang memejamkan matanya, lalu menghubungi Bing Xiwang menggunakan telepatinya.


"Hey WangWang."


Bing Xiwang sedikit terkejut saat mendengar suara dari dalam kepalanya. "*Ada apa paman?"


"Kalahkan Lian Mei, jangan sampai dia menang. Tapi ingat, kalahkan Lian Mei tanpa memberinya rasa sakit*."


Bing Xiwang menjadi bingung saat mendengarnya, sebelumnya Xin Huang menyuruhnya untuk mengalah pada Lian Mei, tapi kenapa sekarang tiba-tiba menyuruhnya mengalahkan Lian Mei? "Apakah ini ada hubungannya dengan Shen Jian?"


"Ya, dia mencurigakan."


"Baiklah paman, tapi aku tidak mau menjadi murid Dewa Pedang, apa aku bisa menolaknya?"


"Tolak saja, dia juga pasti akan menerimanya."


Bing Xiwang menganggukan kepalanya, lalu tersenyum kecil, "Kita sudah membicarakan semuanya, tapi ada satu yang belum kita bicarakan, yaitu keuntungan."


Xin Huang menggeram kesal dan mengerti apa yang diinginkan Bing Xiwang. "Akan kukabulkan satu permintaan yang ibumu mau."


"Sepakat." Bing Xiwang tidak punya keinginan apa-apa, jadi dia lebih memilih membahagiakan ibunya daripada membahagiakan dirinya sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2