Power System

Power System
Tabib Surgawi


__ADS_3

"System, cepat beli profesi Tabib Surgawi"


[Membeli Profesi Tabib Surgawi, Poin Sistem dikurangi 1.111.310.000]


[Proses pemasangan dimulai... 10%... 20%.... 40%.... 70%.... 90%.... 100%.... Proses pemasangan selesai]


Wushhhhhh


"Erghh..." Kepala Xin Huang terasa sedikit sakit saat pengetahuan tentang tabib Surgawi memasuki kepalanya. "Wah... Hebat sekali...." pengetahuan tentang pengobatan dari penguasa dunia generasi pertama, sampai sekarang generasi kesepuluh. Semuanya ada dikepala Xin Huang. "Aku heran, apakah ada orang yang mempunyai pengetahuan lebih luas dariku?"


[Tentu saja ada]


"Siapa?"


[Raja Dewa]


"Ah... Aku sih sudah tidak heran lagi" Pengetahuan Raja Dewa jutaan kali lebih luas dari pengetahuan Xin Huang. "Di atas langit, masih ada langit" gumam Xin Huang. "Lalu... Bagaimana aku bisa keluar dari sini?"


[Tuan hanya perlu meretakkan Ruang, lalu berteleportasi ke tempat tuan berasal]


"Bukannya teleportasiku kurang kuat ya?"


[Retakkan ruang bisa menjadi perantara antara tuan dan tempat yang dituju menjadi lebih dekat]


"Begitu...." Xin Huang menyiapkan tinjunya, lalu memukulnya diudara kosong.


Duakkkk


Krakkkkkk


Krakkkkkk


Krakkkkkk


Muncul retakkan kecil di udara, walalupun kecil, retakkan ruang itu bisa menarik jutaan manusia biasa dalam sekali hirup. Tapi tentu saja tidak berpengaruh pada Xin Huang yang kekuatannya diluar nalar.


"Teknik Ruang dan Waktu: Teleportasi"


Blink!


Xin Huang tiba-tiba sudah ada ditengah hutan Anlong. "Ternyata benar katamu, system"


[Perkataan system sudah pasti benar]


"Sudah pasti? yang kau katakan tentang Di Yuzhi pun salah"


[Tuan jahat]


"Hahaha... Maaf Maaf" Xin Huang menggaruk-garukan kepalanya yang tidak gatal. Setelah itu, Xin Huang melihat kesekitarnya. "Hmmm... Disini masih pagi" udara yang lumayan dingin, dengan banyaknya udara yang mengembun terlihat disekitar Xin Huang.


"Hua'er sepertinya masih tidur. Dia kan walaupun sudah mencapai Inti Suci Puncak 236 ledakkan, masih tetap butuh tidur, walaupun itu hanya sugesti" gumam Xin Huang yang mengingat kelakuan istrinya. "Sudahlah, aku akan jalan-jalan sendirian dulu di sekitar kota, lalu pergi ke restoran palu emas saat sudah siang" ucap Xin Huang singkat, lalu pergi dari sana.


***


"Apa ini?" sebuah batu hitam legam terlihat dihadapan Xin Huang.


"Ini? Ini adalah arang? masa kau tidak tahu?" jawab seseorang yang menjual batu hitam itu.


"Perasaan arang itu dari kayu... Kenapa sekarang pakai batu?" Xin Huang mengelus dagunya.


"Pakai kayu? sejak kapan arang pakai kayu?"


"Apa?! Bukannya pakai kayu?!"


[Di dunia ini, mereka tidak tahu batu bara]


"Ohhh! Bukan aku yang bodoh ternyata!" Xin Huang menganggukan kepalanya.


"Bagaimana? apa kau mau beli?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak, buat apa aku beli arang?"


"Cih! sana pergi! buat apa tanya kalau tidak beli?!"


"Terserah aku lah"


Xin Huang dan penjual itu terus berdebat untuk waktu yang lama, sampai ketika suara wanita lembut terdengar di telinga keduanya. "Xin? kau sedang apa?"


"Hua'er?" Xin Huang melihat Hua Mei sedang membawa bahan-bahan makanan.


Karena wajah Hua Mei yang sangat cantik, penjual itu masih terbengong-bengong melihat Hua Mei.


"Kau sedang apa Xin?"


"Tadinya aku ingin menemuimu, tapi aku tidak tahu kau dimana"


"Begitu" Hati Hua Mei yang kosong, kembali terisi saat melihat Xin Huang.


Xin Huang melirik lengan Hua Mei. "Hua'er, kau beli apa?"


"Ini? Ini bahan makanan, aku ingin membuat makanan untukmu"


"Memangnya kau bisa masak?"


"E..E...E..."


"Tidak bisa ya? Ya Ampun..." Xin Huang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ini aku mau belajar!!!" Hua Mei sangat malu mendengar pertanyaan Xin Huang.


"Bila aku tidak tanya, kau pasti sudah menyajikan ku arang"


"Berisik kau!!!" Pipi Hua Mei terlihat merah.


"Lagian kau mau masak dimana?"


"Dirumah..."


"Aku membelinya kemarin" setelah memasuki kamar penginapan, Hua Mei sangat tidak betah disana, sehingga dia membeli rumah.


"Yaampun, kau hanya buang-buang uang"


"Terserah! Yang penting aku bisa masak!"


"Ya sudah, antar aku kerumah"


"Ayo!" Hua Mei berjalan dengan Xin Huang mengikutinya dari belakang.


....


"Ini dia!!!" sebuah rumah mewah yang sangat besar terpampang dihadapan Xin Huang dan Hua Mei.


"Hua'er, apa kau gila?" Xin Huang berpikir, habis uang berapa untuk membeli rumah ini?.


"Kenapa kau menyebutku gila?!"


"Kau boros sekali!!! Kita hanya tinggal disini sementara saja!!!!"


"Tidak! kita akan tinggal disini sampai aku bisa masak!!!"


"Sampai kapan?!! 1000 tahun?!"


"Apa?!! 1000 Tahun?!!! Kau meremehkanku?!!"


Mendengar itu, Xin Huang tak bisa berkata-kata. "Ayo masuk" Xin Huang melompati pagar rumahnya, lalu masuk kedalam.


"Hey!!!" Hua Mei juga mengikuti apa yang Xin Huang lakukan.


"Kenapa kau melompat juga?"

__ADS_1


"Aku kan mengkutimu"


"Aku melompat karena aku tidak punya kunci! kau kan punya kunci! kenapa kau ikut melompat?!!"


"Ah... Hehe, aku lupa"


"Fyuhh...." Xin Huang hanya menghela nafas melihat kebodohan istrinya.


"Kenapa kau menghela nafas?!!*


"Hahh...." Xin Huang menghela nafas lagi, lalu berteleportasi kedalam rumah itu.


"Hey!!! tunggu aku!" Hua Mei berlari mendekati pintu itu, lalu membukanya.


***


"Xin! coba ini!" Hua Mei menyajikan hidangan makanan dengan tudung saji yang menutupinya.


Melihat itu, Xin Huang bergumam pelan. "Perasaanku tidak enak" Xin Huang menelan ludah, lalu membuka tudung saji itu.


Wushhhhhh


Sebuah benda hitam yang Xin Huang tidak tahu, terlihat didalam tudung saji itu. "Apa ini Hua'er?"


"Ini adalah sup ayam!!!"


"Sup ayam?" Dari sudut manapun Xin Huang melihat, dia tidak melihat ada sedikitpun sup dimangkuk itu. "Hua'er, apa kau tahu sup?"


"Te-Tentu saja tahu!" Hua Mei menjawab dengan gugup.


Mendengar itu, Xin Huang menghela nafasnya. "Hua'er... Aku akan mengajarimu memasak"


"Kau bisa masak?!"


"Tentu saja bisa..."


"Ya sudah! sebelum mengajariku! makan dulu hidanganku! lalu beri nilai!"


Glek


Xin Huang menelan ludahnya, "Dilihat darimanapun, itu cuma sampah" tentu saja Xin Huang mengatakan itu didalam hati, dia tidak ingin hati Hua Mei tersakiti.


"Baiklah" Xin Huang mengambil satu potongan, lalu memakannya. Saat potongan itu masuk kedalam mulutnya, Xin Huang menteleportasikannya ke gunung berapi.


"Bagaimana? berapa nilainya?"


"9"


"9?! hahaha, aku memang berbakat"


"9/ 100" batin Xin Huang.


"Ya sudah! cepat habiskan!!!"


"Ya..." Xin Huang melakukan cara yang sama untuk menghabiskan makanan buatan Hua Mei. "Omong-omong, apa kau tidak mencoba masakanmu?"


"Tidak! aku hanya ingin kau yang memakan makananku untuk pertama kalinya!"


"Hah... Ya sudah, ayo ku ajari" Xin Huang berjalan ke arah dapur.


"Ayo!" Hua Mei berjalan mengikuti Xin Huang.


Setelah disana, Xin Huang terus mengajari Hua Mei memasak, dan sesuai perkiraan Xin Huang, Hua Mei sangat lah bodoh dalam hal memasak.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2