
Xin Huang menunggu Yun Yue dan Zheng Yi bermesraan dari jauh, sembari menyembuhkan tubuh Qiqiu yang terkapar, namun Qiqiu langsung menyerang Xin Huang beberapa saat setelah dia disembuhkan.
Serangan Qiqiu hanya menembus tubuh Xin Huang yang transparan, sebab orang-orang yang berada dibawah tingkat Xin Huang, tidak akan bisa menyentuh Xin Huang jika mereka berniat membunuh Xin Huang.
Sudah berkali-kali Qiqiu yang marah menyerang Xin Huang, namun Xin Huang hanya menanggapinya dengan duduk santai dan senyuman tipis.
"Erghhh! Matilah!" Sebelum Qiqiu menyerang, Sun Mofa yang kesal dengan tingkah Qiqiu, langsung menangkapnya dan mengikatnya diatas pohon, itu membuat Qiqiu sangat marah dan memberontak hebat, namun saat dia hendak berubah menjadi raksasa, tubuhnya membeku seketika saat ditatap tajam oleh Sun Mofa.
"Erghhhh...." Qiqiu menjadi lemas, dan ketakutan.
Xin Huang hanya terkekeh kecil saat melihatnya, "Gadis kecil, lupakan saja semua yang terjadi, karena cepat atau lambat, Peri Xian Ai pasti akan memudar dan berubah menjadi serpihan kunci, aku hanya mempercepat prosesnya saja." Mau bagaimanapun, tentu saja Xin Huang tidak tega melihat Qiqiu yang terus berusaha membunuhnya, sebab dia juga pernah merasakan itu, perasaan ingin membunuh orang yang sudah membunuh ibunya.
"Diam! Kau tidak mengerti apa yang kurasakan! Kau hanyalah tahu busuk yang menyamar menjadi manusia! Jahat! Jahat! Jahat!" Qiqiu menangis kencang saat membayangkan kematian Xian Ai, dan yang lebih membuatnya sedih, pembunuhnya tidak bisa dia bunuh, bahkan saat dia sedang duduk santai didepannya.
"Ayolah bocah, jika kau memaafkanku, aku akan menggantikan peran Xian Ai, dan aku bukan pecahan kunci, aku seorang manusia, jadi kau tidak usah khawatir jika aku pergi meninggalkanmu." Xin Huang ingin mencoba membujuk Qiqiu agar melupakan dendamnya, karena jika yang dia amati, Qiqiu sekarang sudah menjadi teman Yun Yue, jadi tentu saja dia tidak mau membunuh teman, temannya.
"Dalam mimpimu! Aku tidak bisa merasakan kehangatan apapun dari dalam dirimu, kau hanyalah seonggok es batu yang menyatu dengan tahu busuk! Jahat! Jahat! Jahat!"
Xin Huang memutar bola matanya kesal, dia benar-benar tidak ingin membuat Qiqiu menjadi musuhnya. "Monyet! Lakukan tugasmu!"
Sun Mofa melirik kesal kearah Xin Huang, lalu mendecakkan lidahnya, "Ck, aku bukan peliharaanmu."
"Monyet, sudahlah menurut saja, nanti kukasih pisang."
Sun Mofa menggeram kesal pada Xin Huang, "Aku bukan monyet murahan seperti itu bangsat! Aku adalah raja monyet yang dulunya memiliki kekuatan Dewa Kuno! Jangan membuatku marah atau-"
__ADS_1
"Atau apa?" Xin Huang tersenyum licik sembari menunjukkan sebuah peta.
"Peta itu!" Sun Mofa dengan antusias hendak mengambil peta itu, namun sebelum dia mengambilnya, Xin Huang sudah memasukkan peta itu kedalam ruang penyimpanannya.
"Lakukan tugasmu dulu, monyet. Jangan sampai membuatku marah."
Sun Mofa sangat kesal, namun dengan terpaksa mengikuti perintah Xin Huang. "Kau bocah kecil, katupkan gigimu." Sun Mofa mengepalkan tangannya, lalu meninju perut Qiqiu dengan sangat keras, bahkan Qiqiu merasa bahwa organ-organ didalam tubuhnya benar-benar hancur akibat pukulan itu. Hal itu membuat Qiqiu jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.
Setelah melihat Qiqiu tidak sadarkan diri, Sun Mofa mengangkat tubuh Qiqiu, dan melemparkannya pada Xin Huang.
Xin Huang tersenyum tipis sembari menyentuh-nyentuh rambut lembut Qiqiu, "Hua'er, aku titipkan gadis ini kepadamu." Xin Huang menuliskan sesuatu dijidat lebar Qiqiu, lalu memasukkan Qiqiu kedalam dunia pribadinya.
***
3 Jam lebih Xin Huang menunggu Yun Yue dan Zheng Yi bermesraan, itu benar-benar membuatnya kesal karena dia masih ingin bermain dengan anaknya, serupa juga dengan Sun Mofa, tangannya benar-benar gatal ingin menghancurkan kepala dua insan yang sedang jatuh cinta itu.
"Ah, uh... Maaf tuan Xin, aku benar-benar lupa bahwa kau ada disini." Yun Yue merasa bersalah karena dia telah mengabaikan Xin Huang selama tiga jam, bahkan sangking seriusnya dia bercengkrama dengan Zheng Yi, dia benar-benar lupa bahwa Xin Huang sedang memerhatikan dirinya dari kejauhan.
"Tak apa YueYue, jadi bagaimana dengan kabarmu? Apa kau membutuhkanku untuk menyelesaikan masalahmu? Jika kau memang butuh, katakan saja, aku pasti akan membantumu."
Yun Yue menggelengkan kepalanya, "Tidak usah tuan Xin, aku tidak punya urusan yang belum selesai dengan siapapun, tapi jika boleh, apa aku boleh ikut kedalam perjalananmu?" Yun Yue sadar bahwa Zheng Yi masih terlalu lemah dialam atas yang luas ini, jadi dia benar-benar butuh kekuatan Xin Huang yang mampu mengendalikan monyet berbicara yang membantainya baru-baru ini untuk memuluskan perjalanannya, jadi dia memutuskan untuk meminta izin dulu kepada Xin Huang.
"Hehe, tentu saja boleh, kita kan teman."
"Terimakasih tuan Xin, aku sangat terbantu denganmu." Setelah itu Yun Yue menatap Zheng Yi, dan Zheng Yi menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Karena urusannya sudah selesai, Xin Huang berencana untuk memasukkan mereka berdua kedalam dunia pribadinya, dan mereka menyetujuinya, dan Zheng Yi percaya dengan Xin Huang karena Yun Yue terlihat benar-benar mempercayai Xin Huang, jadi dia mau tak mau harus percaya dengan Xin Huang, karena jika tidak, itu akan membuat Yun Yue sedih.
***
Satu hari berlalu, dan Xin Huang yang telah puas bermain dengan anaknya, berencana untuk mencari Liu Wen yang dari kemarin sudah memantaunya dari jauh, karena bagi dewa natural seperti Liu Wen, dunia pribadinya terlalu sempit untuk dilihat dengan satu mata.
Xin Huang terbang kearah selatan rumahnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak mau menggunakan Teleportasi karena dia ingin pamer pada wanita-wanita dibelakangnya mengenai kecepatannya yang sangat tinggi, Hua Mei hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Xin Huang.
Setelah terbang selama beberapa detik, akhirnya dia sampai ke sebuah gubuk reyot yang sedang ditempati Liu Wen selama beberapa jam ini. Dia benar-benar terpana dengan kefanaan yang ditunjukkan Liu Wen.
Xin Huang tersenyum tipis, lalu menghancurkan gubuk itu. "Bangun!"
Liu Wen benar-benar terkejut dengan hal yang terjadi saat ini, dia dengan segera melihat keatas langit, dan melihat Xin Huang yang sedang melayang-layang diatasnya. "Tidak usah kasar bisa kan?!"
"Hehehehe, melihat kau yang sedang tidur, aku jadi gatal ingin mengasarimu." Xin Huang benar-benar merasa aneh melihat seorang dewa natural tertidur pulas diatas kasur kayu yang keras.
Setelah itu Xin Huang mendarat tepat dihadapan Liu Wen, lalu memeluk tubuh Liu Wen.
"Huh?" Liu Wen sangat terkejut dengan apa yang sedang dilakukan Xin Huang.
"Ayo kita mulai sesi perkenalan." Setelah itu Xin Huang tiba-tiba menghilang darisana.
.
.
__ADS_1
.
.