
Disebuah Padang rumput yang sangat luas, dengan pemandangan bukit-bukit hijau yang sangat indah, terlihat sebuah pusaran angin yang menyapu rumput-rumput kecil, setelah pusaran angin itu menghilang, terlihat Xin Huang dan Hua Mei muncul dari situ.
"Hahh...." Hua Mei menghela nafas panjang, dia merasakan paru-parunya terasa lebih sesak dari sebelumnya. "Kenapa dadaku terasa sesak ya?"
Xin Huang tersenyum kecil melihat Hua Mei, "Qi disini terlalu banyak, ini seperti kau sedang menyelam dikebawahan 30.000 meter. Tentu saja paru-parumu yang tidak terbiasa, akan terasa sesak seperti itu."
Hua Mei menganggukan kepalanya tanda paham, "Hahh.... Apakah kita harus beradaptasi setiap kita naik kealam yang lebih tinggi?"
"Tentu saja, itu resiko untuk para mahluk fana." Xin Huang menatap kesegala arah, dia merasa bahwa pemandangan yang ada disekitarnya terlihat sangat indah, mungkin itu pengaruh dari Qi tebal yang memperindah semua alam. "Hei, ayo kita tunjukkan ini pada anak kita."
Hua Mei mengangguk setuju, dia benar-benar merasa setuju dengan perkataan Xin Huang.
"Ya sudah, kau tunggu disini." Xin Huang memejamkan matanya, lalu tiba-tiba menghilang dari sana, meninggalkan Hua Mei sendirian ditempat yang sangat asing.
"Sial...." Hua Mei merasa takut melihat tidak ada orang yang menemaninya.
***
Wushhhhh
Xin Huang muncul dihadapan Lian Mei yang sedang berlatih, diteras rumahnya, terlihat Bing Xiwang yang sedang main game diatas kursi, sepertinya dia disuruh ibunya untuk mengawasi Lian Mei.
"Ayah!" Lian Mei berlari mendekati Xin Huang, Xin Huang langsung mendekap tubuh Lian Mei dan menggendongnya disaat itu juga.
"Sayang, ayah baru saja sampai kealam emas, dan pemandangan disana sangat indah, apa kau ingin melihatnya?"
"Ya! Aku ingin melihatnya!" Lian Mei mengangguk semangat.
"Ya sudah, ay-" Perkataan Xin Huang terhenti saat menyadari Bing Xiwang tiba-tiba muncul dan menarik celananya. "Hm? Ada apa Wang'er?"
Bing Xiwang menatap Xin Huang, tatapannya seolah seperti sedang memohon, "Ajak aku...."
"Sudah izin pada ibumu?" Xin Huang mau-mau saja mengajak Bing Xiwang, namun jika Bing Lian tidak mengizinkannya, dia mau tidak mau meninggalkan Bing Xiwang dan tidak mengajaknya.
Bing Xiwang semakin membuka matanya, tatapannya seperti anjing yang sedang mengharapkan makanan. "Belum...."
__ADS_1
"Izin dulu sana pada ibumu." Xin Huang tau tatapan yang ditunjukkan oleh Bing Xiwang, namun dia tidak punya kuasa atas anak orang.
"Sebentar saja paman.... Kumohon." Bing Xiwang benar-benar ingin pergi kedunia luar, dia ingin melihat orang lain selain ibu dan teman-teman Xin Huang diluar sana.
"Baiklah, tapi jika ibumu marah, kau yang hadapi."
Bing Xiwang tersenyum senang, "Iya, aku akan bertanggung jawab."
Setelah itu Bing Xiwang menggenggam lengan Bing Xiwang, lalu tiba-tiba menghilang dari sana.
***
Xin Huang dan dua orang lainnya tiba-tiba muncul dihadapan Hua Mei yang sedang duduk diatas rumput. Hua Mei dengan segera berdiri dan tersenyum senang.
"Halo Hua'er, apa kau baik-baik saja?"
"Ya...."
Setelah itu Xin Huang menunjukkan pemandangan itu kepada Lian Mei dan Bing Xiwang. Mereka berdua merasa terpana, dan hati mereka dipenuh oleh kesenangan.
"Rumput ini sangat empuk, sangat cocok jika tiduran disini selama seharian penuh...." Berbeda dengan Lian Mei yang bersemangat, Bing Xiwang malah merasa mengantuk saat merasakan rumput-rumput itu.
"Hei, apa kalian ingin jalan-jalan? Ayo kita makan direstoran." Sudah lama sekali Xin Huang tidak makan bersama dengan keluarganya, walaupun Bing Xiwang bukanlah keluarganya.
"Aku mau!" Lian Mei dan Hua Mei berseru bersamaan.
"Ya sudah paman, aku pulang dulu saja, aku takut ibu marah."
Xin Huang menaikkan sebelah alisnya, "Lupakan saja ibumu, ayo kita makan bersama."
"Ya, ayo ikut saja WangWang! Membosankan bukan jika dirumah terus sembari bermain game?" Kebetulan hubungan Lian Mei dan Bing Xiwang lumayan dekat, sehingga semua tidak akan terasa sama jika salah satunya tidak ada.
"Baiklah, aku akan ikut saja."
Xin Huang tersenyum, lalu hendak menggandeng lengan Lian Mei, namun Lian Mei tidak mau, dia lebih memilih untuk menggandeng lengan ibunya. "Ya sudah, aku menggandeng WangWang saja." Xin Huang menggandeng lengan Bing Xiwang, lalu berjalan pergi mencari kota terdekat.
__ADS_1
***
"Menurut penglihatan spiritualku, ini adalah kota terdekat." Xin Huang, Hua Mei, Lian Mei, dan Bing Xiwang berhenti berjalan tepat dihadapan tembok besar yang menjulang tinggi, banyak juga orang-orang yang sedang mengantri didepan gerbang, menunjukkan bahwa kota yang Xin Huang datangi saat ini adalah kota yang termasuk penting.
"Terserahlah, ayo kita masuk dan makan." Karena selalu diam dirumah dan mengurus anak, Hua Mei tidak punya waktu berlatih sama sekali, sehingga yang dia lakukan saat bosan, adalah makan makanan yang dia buat sendiri. Jadi walaupun sudah ditingkat yang termasuk cukup untuk tidak memerlukan makan lagi, Hua Mei masih tetap membutuhkan makanan sebanyak tiga kali sehari.
"Ya sudah, ayo kita masuk." Xin Huang dan tiga orang lainnya mengantri untuk masuk kekota, namun karena tidak mau menunggu lama, Xin Huang menyuap setiap orang yang ada sehingga bisa masuk kedalam kota hanya dengan waktu 5 menit saja.
.....
Pemandangan yang dilihat oleh keempat orang itu setelah masuk adalah pemandangan banyaknya warga yang sedang beraktivitas, namun para warga-warga itu didominasi oleh warga yang memakai pakaian seperti sarjana. Xin Huang mengira-ngira mereka adalah seorang sarjana, karena sepengetahuan Xin Huang, yang bertugas untuk mengurus masalah teknologi adalah seorang sarjana, jadi kesimpulan yang didapatkan Xin Huang setelah melihat kota ini, adalah kota ini yang berperan sebagai penyedia teknologi untuk kerajaan/kekaisaran yang dia layani.
"Ayo kita cari restoran!" Kata Hua Mei dan Lian Mei.
Xin Huang tersenyum kecil saat melihat istri dan putrinya kelaparan, "Baiklah, ayo."
"Ayo!" Setelah itu Xin Huang dan ketiga orang itu pergi, lalu menyusuri kota untuk mencari restoran, namun ditengah perjalanan mereka, mereka melihat sebuah selebaran kertas yang bertuliskan turnamen bergengsi anak muda. Xin Huang dan Hua Mei tidak tertarik dengan itu, namun Lian Mei berbeda, dia benar-benar tertarik dengan turnamen itu.
"Ayah, bolehkan aku ikut turnamen itu? Aku ingin mengetes kekuatanku." Kata Lian Mei sembari menarik-narik lengan baju Xin Huang.
"Memangnya kau kuat? Kau kan hanya latihan pedang saja."
"Ya ayah tolong latih aku saja sampai hari turnamen tiba." Tentu saja ditahap merasakan Qi nya, Lian Mei tidak percaya diri bisa memenangkan turnamen itu, sehingga dia lebih memilih untuk memanfaatkan kekayaan ayahnya.
"Baiklah, aku akan melatihmu, dan kau Bing Xiwang, kau juga ikut saja, temani kakakmu."
"Baiklah, tapi kakak Lian Mei bukan kakakku....."
"Anggap saja sebagai kakakmu."
.
.
.
__ADS_1
.