
"Hua'er, apa kau sudah selesai dengan urusanmu?" Tanya Xin Huang pada Hua Mei yang sedang duduk bersila.
"Sebentar lagi Xin...." Hua Mei terlihat sedang berkonsentrasi dengan kultivasinya.
"Lagian cuma menstabilkan doang, kenapa lama sekali?"
"Itu karena kau selalu mengajakku berbicara!"
"Ya sudahlah, aku akan tunggu diluar" Xin Huang berjalan pergi dari sana.
***
"Hah... Lama sekali...." Xin Huang sudah menunggu Hua Mei selama satu Minggu, tapi tetap saja Hua Mei tidak keluar dari rumahnya.
"Xin... Ayo berangkat" ucap Hua Mei yang baru tiba dibelakang Xin Huang.
"Lama sekali sih" Xin Huang membersihkan debu dibajunya dengan kesal.
"Maaf... Aku masih saja susah untuk berkonsentrasi"
"Apa kau harus berkultivasi didalam kekosongan untuk bisa berkonsentrasi?"
"Maaf Xin... Apa kau marah?"
"Tidak" Xin Huang mengeluarkan mobil terbangnya. "Ayo masuk" Xin Huang duduk dikursi depan mobil itu.
"Baik Xin" Hua Mei ikut duduk disebelah Xin Huang. "Apa sekarang kita akan pergi ke benua Utara?"
"Ya, aku sudah tidak punya urusan lagi"
"Hmmm... Seingatku kau punya kenalan di kota Xinan"
"Aku sudah kesana" Selama satu Minggu itu juga Xin Huang sudah menemui Lao Ren dan Xia Ren, lalu menghadiri upacara pernikahan Jian Tan dengan Tian Mi. Hingga berjalan-jalan sebentar di kota Xi. Dia juga sudah menengok perkembangan kota Dong yang dirawat Zhang Zi Lian.
"Kapan?!"
"Saat kau berkultivasi..."
"Apakah aku berkultivasi selama itu?"
"Pikir saja sendiri"
"Em... Maaf Xin"
Xin Huang tak menjawab.
Wushhhhh
Mobil terbang milik Xin Huang melesat maju diatas langit.
.
.
.
.
"Hmmm... Akhirnya terlihat juga" setelah terbang selama satu bulan, Xin Huang akhirnya bisa melihat dataran benua Utara. "Intesitas Qi nya masih sama" Xin Huang mengelus dagunya.
"Tentu saja! Didunia ini tak ada yang namanya penghalang Qi! jadi biasa saja bila intesitas Qi disini sama dengan diseluruh benua"
"Benua Utara benua besar kan? jadi pastinya ada perbedaan dengan benua-benua lainnya kan?"
"Hanya ukurannya saja yang lebih besar, selain itu, tak ada kelebihan lain yang lebih menonjol"
__ADS_1
"Begitu... Apakah kultivator disini sangat kuat?"
"Benua Utara dipimpin oleh 8 kekuatan utama. Kurang lebih kekuatan mereka semua ada ditahap Inti Suci Puncak 20 ledakan"
"8 Kekuatan utama? Apa saja itu?"
"Kekaisaran Yun, Kekaisaran Qin, Keluarga Zhen, Keluarga Xiang, Sekte Es Utara, Sekte Pedang Ilahi, Sekte Awan Merah, dan Qian Zhu, pendekar perkasa dari Utara"
"Qian Zhu? Pendekar perkasa dari Utara?"
"Betul! Dia adalah penguasa tunggal yang ada dibenua Utara, Qian Zhu. Dia suka berkeliaran di segala penjuru benua Utara, dia juga kultivator aliran netral, yang kadang membantu seseorang, kadang juga tidak membantu seseorang"
"Dia pasti sangat kuat, sehingga bisa menjadi penguasa tunggal"
"Pastinya! Kekuatannya setara bahkan bisa lebih kuat dari salah satu 8 penguasa utama"
"Menarik juga si Qian Zhu ini" Xin Huang tersenyum dengan tangan yang menyentuh dagu. "Lalu... Kau tau ini darimana?"
"Ini adalah pelajaran utama didalam keluargaku"
"Kenapa keluargamu mengajarkan hal tentang benua lain?"
"Entahlah..." Hua Mei mengangkat bahunya.
...
Setelah melanjutkan perjalanan selama satu hari penuh, Xin Huang sampai di pinggiran benua Utara, lalu mendarat disana.
Wushhhhhh
Brukkkkkkkk
Sebuah ledakan asap tercipta saat mobil terbang mendarat ditanah. "Fyuhh... Akhirnya sampai juga" Xin Huang berjalan keluar dari mobil terbangnya, Hua Mei juga mengikutinya.
"Kekaisaran Yun, ada disebelah Utara sana" Xin Huang menunjuk ke arah Utara.
"Kekaisaran Yun? Baiklah... Tapi, kau tahu ini darimana?" Seingat Hua Mei, Xin Huang sangat buta dengan benua Utara, tapi dia tiba-tiba tahu letak kekaisaran Yun, itu sangat mencurigakan.
"Dari teman rahasiaku"
"Aku penasaran dengan teman rahasiamu" Hua Mei berjalan perlahan mendekati Xin Huang.
"Sekuat apapun kau mencari, kau tak akan pernah bisa mengetahuinya"
"Hmmph!" dengus Hua Mei kesal, lalu menginjak tanah.
Bummmmm
Sebuah kawah raksasa tercipta akibat injakan tanah Hua Mei. Xin Huang yang melihat itu, sedikit tercengang. "Kau bukan gadis lemah lagi Hua Mei"
"Memangnya kenapa?"
"Jangan sembarangan mengeluarkan kekuatanmu, itu mengerikan tau"
"Biarin!" Hua Mei mendengus, lalu berjalan ke arah Utara.
"Sudah kubilang ya" Xin Huang berjalan mengikuti Hua Mei.
....
"Hua'er, kau salah jalan" setelah lama mengikuti Hua Mei, Xin Huang sadar bahwa Hua Mei salah mengambil jalan.
"Apa?! Kok salah sih?! katanya Utara?!"
"Kau berjalan ke arah barat laut, bodoh"
__ADS_1
"Kenapa kau tidak memberi tahuku?!"
"Kau yang sok memimpin!, dan tak bertanya padaku!"
"Eghhh..." Hua Mei tertunduk.
"Sudah! Ikuti aku saja" Xin Huang kali ini memimpin perjalanan. "Arah Utara saja tidak tahu" gumaman Xin Huang kesal.
"Jangan dibahas lagi!" Hua Mei berucap malu, lalu berlari mengikuti Xin Huang.
***
Kekaisaran Yun, kekaisaran yang dipimpin oleh Kaisar Yun Cheng, Pria perkasa yang berumur ribuan tahun. Kekaisaran Yun sudah ada sejak triliunan tahun yang lalu, dan seperti biasa, kaisar generasi sekarang sudah melemah dibandingkan triliunan tahun yang lalu. Kepemimpinan Yun Cheng sebagai kaisar sendiri biasa saja, tidak terlalu wow. Rakyat miskin 80% ditindas, dan bangsawan bersikap seperti penguasa dikalangan orang kecil.
"Monoton sekali... Tidak kreatif" Xin Huang melihat tembok putih raksasa, yang panjangnya terlihat tak berujung.
"Memangnya harus seperti apa lagi?, tembok adalah alternatif utama untuk pertahanan"
"Ya bagaimana lagi ya, aku bosan melihatnya"
"Sudahlah, ayo kita masuk" Hua Mei membawa Xin Huang ke arah antrian panjang didepannya.
....
"Aku malas mengantri" ucap Xin Huang yang mulai merasa bosan.
"Kita harus menjadi seseorang yang patuh dengan aturan!"
"Siapa peduli dengan aturan? di dunia ini, orang kuat lah yang berkuasa. Kau bahkan bisa menghancurkan kekaisaran ini dengan satu jari, jadi buat apa mengantri?"
"Tapi kita harus menjadi kepribadian yang rendah hati, tidak boleh sombong dan mengabaikan peraturan yang ada. Kau kan yang mengajariku?!"
"Terserah kau lah"
Setelah mengantri selama 3 jam penuh, Xin Huang dan Hua Mei akhirnya sampai di antrian yang paling depan. "Akhirnya" Saat Xin Huang ingin masuk ke kota, sebuah kereta kuda melesat dan menyerobot antrian.
Bruakkkk
"Eghhh" Xin Huang terlempar akibat kereta kuda itu.
"Dasar rakyat jelata!!! Tuan muda Lin sedang lewat!!! dan kau menghalangi?!! Apa kau mau mati?!!" teriak penjaga yang mengawal kereta kuda itu.
"Xin!!!" Hua Mei berlari mendekati Xin Huang yang terjatuh.
"Hei, kau mau mati?" Xin Huang mengeluarkan sedikit aura membunuhnya.
"E-Ek..." Penjaga itu terasa seperti tercekik saat merasakan aura yang keluar dari tubuh Xin Huang.
Wushhhhhh
Pintu jendela kereta kuda terbuka, terlihat seorang pria tampan berambut hitam panjang dengan mata berwarna selaras dari dalam kereta itu. Pria itu berjalan mendekati Xin Huang, lalu menatap Xin Huang dengan remeh. "Kau berani mengeluarkan aura membunuh kepadaku?" Pria itu mendekati wajah Xin Huang.
Blarrrrrrrrrrrr
Xin Huang mengeluarkan semua aura membunuhnya selama satu detik. Walaupun hanya satu detik, hempasan dari aura itu cukup untuk melempar pemuda yang arogan padanya.
"Bajingan, apa kau mau mati?"
.
.
.
.
__ADS_1