
"Dimana ini? apakah aku bermimpi?" terlihat Xin Huang sedang terombang-ambing di ruangan putih yang terlihat kosong.
Wushhhhhhhh
Tiba-tiba muncul sebuah mata raksasa dihadapan Xin Huang. Mata itu terlihat sangat besar, Xin Huang terlihat seperti semut dihadapannya.
"Erghh" Dengan pupil emas yang sangat besar, mata raksasa itu mampu mengintimidasi Xin Huang hingga tak bisa bergerak.
"Ras iblis kuno dari dunia kecil.... Sungguh aneh" terdengar suara pria di udara kosong.
"Si--Siapa kau?!" Xin Huang memaksakan dirinya untuk berbicara.
"Mahluk rendahan sepertimu tidak berhak mengetahui identitas ku...."
".... Aku datang hanya untuk memberimu peringatan. Jangan pernah menaikan Ras Iblis Kuno mu hingga 30%, atau aku akan datang padamu, dan kau akan tahu akibatnya"
Blarrrrrrrr
"Hosh... Hosh... Hosh..." Xin Huang terlihat bangun dari tidurnya dengan nafas yang berat.
"Ada apa Xin? apa kau bermimpi buruk?" Hua Mei terlihat khawatir melihat Xin Huang yang terbangun dengan nafas yang berat.
"Tidak apa Hua'er, lanjutkan saja tidurmu"
"Baiklah, jika kau ada masalah, kau bisa memberi tahuku" ucap Hua Mei dengan senyuman manis.
"Ya, terima kasih Hua'er" Xin Huang mencium dahi Hua Mei. Setelah mencium Hua Mei, Xin Huang beranjak dari kasurnya.
"Kau mau kemana Xin?"
"Aku ingin ke kamar mandi"
"Oh..." Setelah berucap, Hua Mei melanjutkan tidurnya.
(Di kamar mandi)
"Apa itu tadi?" Xin Huang membasuh wajahnya. "Sistem, apa kau tahu siapa tadi?" Xin Huang berharap Sistem mengetahui sesuatu.
[Siapa? memangnya tuan bertemu seseorang?]
"Kau tidak tahu?"
[Tidak]
"Aku tadi bermimpi bertemu mata raksasa, dia memperingatkan ku untuk tak meningkatkan darah iblis kunoku hingga 30%"
[Kemungkinan, itu raja dewa]
"Raja Dewa?! Apa kau tahu alasannya?"
[Raja Dewa dan Iblis Kuno itu musuh bebuyutan. Untuk mencegah raja dewa membunuh calon iblis kuno, tuhan memberi perjanjian untuk tak boleh menyentuh calon ras agung itu sebelum mencapai angka 30%]
[Bila disimpulkan, itu sudah pasti Raja Dewa yang tak ingin tahtanya direbut oleh Iblis Kuno]
"Begitu..." Xin Huang mengelus dagunya. "Tapi yang lebih penting... Kenapa wajahku tidak tampan?" Xin Huang melihat ke kaca, terlihat seorang pemuda berambut hitam pendek dan mata yang selaras dengan wajah yang tak terlalu tampan dan tak terlalu jelek.
"Wajah Hua Mei sangatlah cantik, aku takut dia akan malu mempunyai suami jelek sepertiku" Xin Huang mengelus dagunya. "Baiklah, aku akan mempertampan wajahku!" Sebelumnya Xin Huang tidak peduli dengan wajah, tapi dia sadar bahwa dia punya istri yang sangat cantik, itu membuatnya takut istrinya akan malu mempunyai suami yang jelek.
***
(Keesokan harinya, dihalaman belakang kediaman Gong Tianzong)
"Hey tukang surat!" panggil Xin Huang pada seorang pemuda dengan tas coklat dibahunya.
"Ada apa tuan?"
__ADS_1
"Ini..." Xin Huang memberikan pemuda itu amplop surat berwarna emas. "Berikan itu kepada kaisar Shen"
"A--Apa?!" Pemuda itu sangat terkejut mendengar tujuan suratnya.
"Ini, kubayar dengan cincin" Xin Huang memberi pemuda itu cincin kecil berwarna emas.
"Cincin penyimpanan! Baiklah tuan, akan ku antarkan surat ini dengan selamat!" Harga Cincin penyimpanan adalah 10.000 emas, jadi tentu saja pemuda itu bersemangat saat diberi cincin penyimpanan.
"Ya, sana"
"Sampai jumpa lagi tuan!" Pemuda itu berbalik, lalu berlari keluar.
"Urusan yang tertinggal sudah selesai. Lalu...." Xin Huang melihat Zhang Zi Lian yang sedang tiduran di tanah.
"Sampai kapan kau akan tidur?" Xin Huang berjalan mendekati Zhang Zi Lian.
"Saudara Xin, kau sangat keras melatihku!"
"Itu berguna untukmu, jadi jangan mengeluh"
"Tapi---"
"Cepat bangun!" Xin Huang menarik lengan Zhang Zi Lian agar bangun dari tidurnya.
"Aduh... Aduh... Aduh..." Zhang Zi Lian memegangi punggungnya yang sudah tak karuan.
"Xin... Kau sangat kasar pada saudara Zi" terlihat Hua Mei berbicara sembari duduk dikursi halaman belakang.
"Hua'er, dia bukan gadis, dia laki-laki. Dia tidak boleh kumanja sedikitpun"
"Hehe... Silahkan lanjutkan saja Xin"
"Tentu" Xin Huang mengacungkan jempolnya.
***
"Dan identitas pembunuhnya masih tidak jelas, pembunuh itu juga menghancurkan peternakan kesukaanku!"
"Lalu... Tiba-tiba saja ada walikota baru, tapi itu tidak mungkin, kekuatannya hanya sampai Menyempurnakan Qi" Gumam Bai Xuantian.
"Apa harus kubalas? atau tidak?"
"Entahlah, aku malas" setelah bergumam sebentar, Bai Xuantian merebahkan tubuhnya.
"Tapi... Aku tidak bisa mencicipi daging itu lagi dong!" Bai Xuantian menggigit jarinya.
"Tapi... Aku juga malas meladeninya!" terlihat Bai Xuantian sedang berpikir dengan keras.
"Ah! jika penjaga itu tak kubunuh, mungkin dia mempunyai saran yang bagus!" Bai Xuantian merasa menyesal telah membunuh penjaga setianya.
"Apa aku pergi mengunjuginya saja ya?"
"Ya, lebih baik begitu..."
.
.
.
.
(Satu Bulan kemudian....)
"Bagus! kau memang berbakat!" Terlihat Xin Huang sedang mengadu pedang dengan Zhang Zi Lian.
__ADS_1
Tring!
Trang!
Tring!
Trang!
Terlihat percikan api saat Xin Huang dan Zhang Zi Lian mengadu pedangnya.
"Teknik Pedang Surgawi: Pembelah Surgawi!" Zhang Zi Lian mengayunkan pedangnya secara vertikal.
Wushhhhhhh
Sringgggggggg
Garis berwarna putih terlihat, Garis itu memotong apapun yang ada dalam jangkauannya. Tapi itu sia-sia, garis putih itu hanya melewati tubuh Xin Huang, dan tidak berhasil memotongnya.
"Jangan patah semangat! kekuatanku memang di luar nalar! jadi jika kau kalahpun, kau tak perlu malu!"
Selama satu bulan penuh, Xin Huang melatih Zhang Zi Lian di ruang pribadinya. Ruang pribadi sendiri adalah dunia yang diciptakan Xin Huang, dengan kata lain, Xin Huang mempunyai dunia sendiri, dan Xin Huang berperan sebagai tuhan didalamnya. Xin Huang hanya bisa membuat dunia sebesar benua Australia saja. Waktu disana adalah 1 berbanding 10. Jadi jika diluar sana hanya satu bulan terlewati, didalam Ruang pribadi sudah satu tahun terlewati.
"Analisa"
[Nama: Zhang Zi Lian]
[Level: Inti Suci (1)]
"Baiklah, pelatihan sudah cukup, sekarang ayo kita keluar"
"Baik saudara Xin!"
Wushhhhhhh
Xin Huang dan Zhang Zi Lian tiba-tiba hilang dari sana, dan muncul di halaman belakang kediaman Gong Tianzong.
"Hua'er, apakah ada peristiwa yang terjadi selama satu bulan ini?" tanya Xin Huang pada Hua Mei yang sedang duduk istirahat di kursi.
"Huh! Kau yang sedang asik berlatih, tidak pernah peduli pada aku yang kesusahan!" Hua Mei terlihat marah melihat Xin Huang.
"Hehe, maaf maaf, yang kulakukan kan untuk masa depan kota Dong" Xin Huang menggengam lengan Hua Mei.
"Huh!" Hua Mei mengalihkan pandangannya.
"Hehe, jangan marah dong. Omong-omong, kau tambah cantik saja ya?" Xin Huang Sangat terkejut melihat Hua Mei yang semakin cantik dari sebelumnya.
Hua Mei melirik Xin Huang, lalu menghela nafas "Fyuh... Baiklah, kau kumaafkan" Hua Mei berpikir dengan dewasa, lalu memaafkan Xin Huang.
"Hehe, gitu dong. Lalu... Apakah ada peristiwa penting yang terjadi selama satu bulan ini?"
"Ada... Sehari setelah kau memasuki duniamu, Shen Jin Long membalas surat yang kau berikan, dan menyetujuinya"
"Setelah itu, tiga Minggu yang lalu, Bai Xuantian datang kesini dan menanyakan walikota yang baru, kubilang saja dia sedang pergi. Setelahnya dia pergi, lalu berkata akan datang lagi satu bulan kemudian, lebih tepatnya, satu Minggu kemudian dari sekarang"
"Sisanya, tidak ada yang penting, hanya laporan tentang pembangunan kota bawah tanah dan lain lain" Hua Mei menutup laporannya.
"Begitu... Hehe, istriku memang hebat" Xin Huang mencium pipi Hua Mei.
"Sesuai ajaranmu" Hua Mei menjawab dengan pipi yang sedikit merah.
.
.
.
__ADS_1
.