
"Teknik Ruang dan Waktu: Teleportasi" Xin Huang dan Xiu Lan tiba-tiba menghilang dari sana.
Blink!
.
.
.
.
Di area sekitar hutan Juda, terlihat dua orang muda-mudi yang sedang berpelukan, itu adalah Xin Huang dan Xiu Lan yang habis saja berteleportasi. Setelah sampai disana, Xin Huang hendak melepas pelukannya, tapi sebelum melepasnya, Xiu Lan tiba-tiba memeluk erat Xin Huang.
"Lepaskan aku, nona Xiu" Xin Huang berusaha untuk melepaskan pelukan Xiu Lan tanpa membuatnya kesakitan.
"Tunggu dulu... Biarkan aku begini dulu" Xiu Lan membenamkan wajahnya ke dalam dada Xin Huang.
Xin Huang bingung dengan itu, apa dia benar-benar gila? Karena tidak ingin menyakitinya, Xin Huang diam saja saat dipeluk Xiu Lan, mungkin bila ada Hua Mei, Xin Huang akan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan pelukan Xiu Lan.
Setelah menunggu selama 15 menit, akhirnya Xiu Lan melepaskan pelukannya. Terlihat setetes air mata mengalir dari pipinya, dan dia berusaha untuk mengelap air mata itu. Xin Huang yang melihat itu, penasaran, apa yang membuatnya menangis? Bila dibalik, seharusnya Xin Huang yang menangis karena pelukan Xiu Lan sangatlah kuat, mungkin bila Xin Huang manusia biasa, tubuhnya sudah remuk akibat dipeluk Xiu Lan.
"Kau kenapa nona Xiu?" Malu bertanya, sesat dijalan. Daripada memikirkan yang aneh-aneh, lebih baik Xin Huang menanyakannya langsung pada Xiu Lan.
"Tidak, aku sudah lama tidak dipeluk seseorang" Xiu Lan tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir.
"Berapa lama?" Xin Huang memberi Xiu Lan secarik tisu.
Xiu Lan mengambilnya, lalu mengelap air matanya, "Terima kasih tuan Xin" Xiu Lan menghapus air matanya, "Sudah 5000 tahun aku tidak dipeluk sehangat itu, dan itu adalah pelukan terakhir dari ibuku" Akhirnya Xiu Lan bisa berhenti menangis.
"Kau masih muda ya" Untuk para ras rubah, umur 5000 tahun itu hanya untuk para bayi, dan masih harus didampingi sampai berumur 10.000 tahun.
"Bukan umurku yang 5000 tahun, tapi terakhir kali aku dipeluk adalah 5000 tahun yang lalu"
"Oh, jadi berapa umurmu sekarang?"
__ADS_1
Mendengar itu, Xiu Lan tersenyum, "Rahasia~~"
"Hahh.... Ya sudah, kita pergi ke rumahmu sekarang" Xin Huang menghela nafasnya, dia berpikir bahwa Xiu Lan terlalu menutup informasi dirinya. Padahal itu cuma umur, buat apa ditutup-tutupi?
Xiu Lan mengangguk, lalu berjalan pergi. Melihat itu, Xin Huang berlari kecil untuk menyusul Xiu Lan.
***
Didalam ruang kerja milik Liang Guang, terlihat dirinya sedang terkejut melihat informasi didepannya. Sebutir keringat mulai bermunculan di sekitar wajahnya, pasalnya dia sangatlah terkejut melihat informasi yang ditulis di secarik kertas itu. "Bing Lian kurang ajar itu....." Liang Guang meremas kertas ditangannya hingga hancur, "Kau telah berbohong padaku, dan kau pasti akan hancur, sehancur-hancurnya" Liang Guang merasakan amarah yang sangat dalam didalam hatinya, perasaan amarah itu akhirnya bisa dirasakannya lagi setelah miliaran tahun lamanya. Bahkan amarah yang ada dihatinya saat ini lebih besar dari amarah yang pernah dirasakannya miliaran tahun yang lalu, amarah yang membuat salah satu kota di benua Xiongwei dinamakan kota Hitam.
Sejak miliaran tahun, nama Liang Guang sudah eksis diseluruh dataran Xiongwei, bahkan namanya sudah terkenal disemua benua yang ada, sehingga dia mendapatkan satu julukan 'Liang Guang, si Emas Hitam dari Xiongwei' Julukan itu bukan didapatkan Liang Guang secara cuma-cuma, dia mendapatkan julukan itu karena dialah orang yang paling banyak membunuh dimasa peperangan antar benua, hingga akhrinya seluruh pemimpin 30 benua besar mengusulkan perdamaian dan membuat satu perjanjian yang berbunyi '30 Benua besar tak akan saling berperang lagi' Dan akhirnya nama Liang Guang diseluruh benua mulai meredup dan meredup bagi orang awam, tapi bagi para pemimpin, nama Liang Guang terus menimbulkan teror yang mendalam.
Liang Guang bediri, lalu berkata pada seorang sepuh dihadapannya, "Gong Luo, siapkan kereta, aku akan menemui kaisar Wei" titahnya.
"A-Apa patriak benar-benar ingin memberi tahunya pada kaisar?" ucap Gong Luo yang sedang bersujud dihadapan Liang Guang.
"Tentu saja"
"Ta-Tapi bila kita memberi tahunya, kemungkinan perang akan terjadi"
"Yang dilakukan Bing Lian sudah melewati batas, jadi jika perang pun terjadi, aku akan tetap ada disamping kaisar Wei"
"Aku penasaran, bagaimana kabar kaisar Wei" ucap singkat Liang Guang, lalu berjalan pergi dari sana.
***
Didepan sebuah rumah besar, dengan pagar-pagar raksasa yang mengelilinginya, terlihat seorang pria tampan dan wanita cantik sedang berdiri disana. "Tuan Xin... Inilah rumahku"
"Ya..." Xin Huang menganggukan kepalanya untuk menanggapi Xiu Lan.
Xiu Lan sedikit kesal dengan sikap Xin Huang yang seolah tidak peduli dengannya, bahkan saat Xiu Lan menangis pun Xin Huang terlihat tidak peduli, "Sikapmu dingin sekali tuan Xin" Xiu Lan mendengus kesal.
"Masa?" Xin Huang memiringkan kepalanya.
"Pikir saja sendiri tuan Xin" Xiu Lan mengeluarkan kunci, lalu membuka pagar rumahnya, setelah terbuka, Xiu Lan mempersilahkan Xin Huang masuk.
__ADS_1
Di dalam rumah Xiu Lan sendiri, terlihat banyak interior-interior klasik yang menghiasi tembok rumahnya, ditengah-tengah ruang tamu, terletak empat buah sofa yang terlihat sangat lembut dan mahal. "Tuan Xin, kau mau minum apa?" Setelah mempersilahkan duduk, Xiu Lan hendak membuat minuman untuk Xin Huang.
"Teh, tapi yang tidak ada racunnya ya" Xin Huang tetap berbicara begitu walaupun dia tahu bahwa dia kebal dengan segala racun.
"Haha, Tuan Xin bisa saja, aku tidak akan meracuni orang tahu" Xiu Lan tertawa kecil sembari menutup mulutnya dengan tangan, paras Xiu Lan yang sedang tertawa sangatlah imut dan menawan, membuat siapapun yang melihatnya, pasti ingin memeluk erat dirinya.
"Omong-omong, kau tidak mempunyai pelayan?" Setelah melihat-lihat ke sekitar rumah Xiu Lan, Xin Huang tidak melihat adanya pelayan satupun.
"Mempunyai pelayan, rentan untuk di khianati, jadi aku tidak mempekerjakan pelayan satupun agar aku tidak dikhianati" Xiu Lan sangatlah benci dengan pengkhianatan, karena saat melihat pengkhianatan, dia akan teringat sesuatu yang sangat menusuk hatinya.
"Oh, ya sudah"
Xiu Lan mengangguk, lalu pergi ke dapur, meninggalkan Xin Huang yang sedang duduk sendirian di dalam ruang tamu. Untuk mengatasi rasa bosannya, Xin Huang bertanya-tanya pada sistem.
"Sistem, apa yang ras rubah sukai?" Xin Huang akan merasa bersalah jika tidak memberi Xiu Lan satu pun hadiah, mau bagaimanapun, Xiu Lan adalah rekan bisnis sesama pemegang saham.
[Saat tuan sendirian, tuan baru ingat bahwa tuan punya sistem]
"Kau ini terlalu terbawa perasaan, apa kau sedang puber?"
[Yang ras rubah sukai adalah permata kuning]
"Permata kuning? Maksudmu yang seperti Bai Xuantian?"
[Ya tuan]
"Baiklah, beli satu Permata Kuning"
[Berhasil membeli satu permata kuning, Poin Sistem dikurangi 10.000]
Sebuah permata kecil berbentuk layang-layang dengan warna kuning, tiba-tiba muncul didalam inventori sistem. Xin Huang berencana memberi Xiu Lan permata kuning itu nanti saat dia akan pulang.
.
.
__ADS_1
.
.