Power System

Power System
Tubuh Dewi Kehidupan


__ADS_3

"Ha~Ha~Ha~" Xin Huang tertawa dengan nada meremehkan.


"Xin!!!.... Kau!!!!" Hua Mei sangat geram melihat tingkah laku suaminya.


"Itu! Disitu hartanya!" Xin Huang melihat sesuatu, dan menunjuknya.


"Mana?!" Hua Mei melihat arah yang ditunjukkan Xin Huang. "Benar! Disitu ada sesuatu!" Hua Mei berlari mengikuti Xin Huang.


Drap...


Drap...


Drap...


Sesampainya disana, Xin Huang dan Hua Mei melihat sebuah peti batu yang mengeluarkan aura menenangkan.


"Aura apa ini?" Hua Mei merasa sangat nyaman saat merasakan aura itu.


"Aura kehidupan...." Xin Huang sangat aneh merasakan aura didepannya.


"Memang apa yang aneh?" Hua Mei bingung melihat Xin Huang yang merubah wajahnya.


"Itu aneh Hua'er, menurut mahluk aneh itu, harta yang dijaganya adalah mayat istri raja naga, Dan yang aneh, masa mayat mengeluarkan aura kehidupan?!"


"A-Apa?... Betul juga!!!"


"Ya, manusia biasanya mempunyai energi kehidupan yang tebal, lalu saat manusia mati, aura kehidupan akan pergi menyebar ke udara, dan akan hilang selamanya"


"Betul!"


"Bagaimana bila kita membukanya?"


"Ya! buka saja!"


"Ya sudah, cepat buka peti ini Hua'er!"


"Ba---Kau mau menipuku lagi ya?" Hua Mei menyipitkan matanya.


"Hahaha, ketahuan"


"Cih!"


"Ya sudah, sana. Aku akan membukanya" Xin Huang meminggirkan tubuh Hua Mei, lalu menyentuh pintu peti itu.


"Wah gila, ini berat sekali" ucap Xin Huang setelah menyentuh peti itu.


"Benarkah?"


"Benar! bahkan bila ada seribu kau pun tidak akan bisa mengangkat peti ini"


"Cih! dari tadi kau mengejek ku terus" Hua Mei terlihat membuang wajahnya kesal.


"Hahaha, maaf, maaf" Xin Huang mencoba mengangkat peti itu. "Erghhhh" urat-urat muncul dikepala dan lengan Xin Huang, Xin Huang berusaha sekuat tenaga untuk membuka peti itu.


Kretak


Kretak


Kretak


Kretak


Terdengar suara retakan-retakan dipeti batu itu, menandakan bahwa peti itu mulai terbuka sedikit-sedikit.


"Hiyahhhh!!!" Xin Huang mengalirkan Qi nya ke kedua lengannya. "Hiyahhhh"


Bretakkkk


Pintu peti itu terbuka sepenuhnya. "Hosh... Hosh... Hosh..." Xin Huang terlihat ngos-ngosan setelah membuka peti itu.


"Xin... Apa kau lelah?" Hua Mei mengeluarkan sebutir pil kebugaran.


Melihat itu, Xin Huang mengambilnya, lalu memakannya. Cahaya hijau menyelimuti tubuh Xin Huang, tubuh yang awalnya kelelahan, berubah menjadi tubuh yang penuh stamina dan energi.


"Terima kasih Hua'er"


"Sama-sama"


"Lalu...." Xin Huang melihat kedalam peti, terasa aura kehidupan yang sangat tebal didalamnya. "Cantik sekali..." Xin Huang juga melihat seorang wanita cantik sedang tiduran disana.


"Analisa"


[Nama: Dewi Kehidupan]


[Level: Dewa Kuno]


[Status: Mati]


"Mati?!" Xin Huang tak percaya sumber energi kehidupan yang sangat tebal itu adalah orang yang sudah mati 300 triliun tahun yang lalu.


"Cantik sekali.... Apa aku bisa secantik itu?" Hua Mei sedikit merasa tak percaya diri saat melihat wajah indah milik mayat wanita itu.

__ADS_1


"Tak usah minder Hua'er, bahkan bila ada wanita yang jutaan kali lebih cantik darimu, kau tetap yang paling cantik di mataku" Xin Huang mencoba mengembalikan rasa percaya diri Hua Mei yang sedikit menurun.


"Iya Xin, terima kasih" Hua Mei tersenyum dengan pipi yang merah merona.


"Baiklah, apa yang harus kulakukan dengan mayat ini?"


[Ambil Dantiannya]


"Ambil Dantiannya?"


[Betul! Disemua dantian manusia mengandung esensi tubuh. Bila orang lemah memakan Dantian milik orang yang kuat, maka orang lemah itu akan mendapatkan tubuh orang kuat itu. Seperti terlahir kembali dengan pikiran yang masih sama seperti sebelumnya]


"Oh! Maksudmu seperti tubuh yang kau jual-jual itu?"


[Betul tuan]


"Baiklah!"


"Xin... Kau berbicara dengan siapa?" Hua Mei bingung melihat Xin Huang yang berbicara pada udara.


"Aku berbicara dengan teman rahasiaku"


"Teman rahasia? Apa dia wanita?"


"System, kau wanita?"


[Iya tuan]


"Ya, dia wanita"


"Oh...." Hua Mei menyipitkan matanya.


"Tenang saja Hua'er, kau satu-satunya wanita yang kucintai"


Mendengar itu, Hua Mei tak bisa menahan senyumnya. "Benar ya...?"


"Tentu saja..." Perhatian Xin Huang kembali kepada mayat wanita itu. "Hmmmm...."


Jleb


Xin Huang memasukan tangannya ke perut wanita itu. "Dimana ya?" Xin Huang mengobok-obok perut mayat itu. "Ketemu!!!" Xin Huang mengangkat tangannya.


Wushhhhhhh


Sebuah aura kehidupan yang sangat kuat keluar dari benda bulat kecil yang dipegang Xin Huang.


"Apa itu Xin?"


"Ini? Ini Dantian!"


"Ya!" Xin Huang menjelaskannya pada Hua Mei sama seperti sistem menjelaskannya pada Xin Huang.


"Wah! jadi bila kau memakan itu! kau akan menjadi kuat?!"


"Betul!"


"Cepat makan Xin!" Hua Mei sangat senang bila Xin Huang menjadi lebih kuat.


"Aaaa" Xin Huang berniat memakan itu. Tapi sebelum memakannya, terdengar suara peringatan dari Sistemnya.


[Ding! sistem harap tuan tidak memakan itu]


"Hah? kenapa?"


[Dantian itu memiliki energi Yin yang sangat kuat. Bila tuan memakannya, tuan akan berubah menjadi wanita]


"Apa?!" Xin Huang menatap Dantian itu, lalu menatap Hua Mei.


"A-Apa?" Hua Mei merasa aneh saat ditatap Xin Huang.


"Makan ini..." Xin Huang menyodorkan Dantian itu pada Hua Mei.


"Kenapa? Apa kau akan mengerjaiku lagi?" Hua Mei terkejut melihat keputusan Xin Huang yang berubah tiba-tiba.


"Kau mau suamimu menjadi wanita?"


"Wanita?"


"Betul! energi Yin yang dikandung Dantian ini sangat kuat. Jika aku memakannya, aku akan berubah menjadi wanita"


"Wah... Jadi aku boleh memakan ini?"


"Tentu! bila kau kuat, aku juga akan terbantu"


"Emmm... Beneran?"


"Ya!"


"Beneran?" Hua Mei masih terlihat ragu memakan Dantian itu.


"Betul.... Hua'er...."

__ADS_1


"Aku makan ya...." Hua Mei menelan benda bulat kecil itu.


Wushhhhhhhhh


Seluruh tubuh Hua Mei tiba-tiba diselimuti aura merah mawar. Lalu tubuh Hua Mei melayang di atas langit, dan mulai memancarkan sinar yang sangat terang.


Sringgggggg


"Sial! ini akan meledak!. Teknik Ruang dan Waktu: Teleportasi" Xin Huang berteleportasi jauh dari Hua Mei.


Sringgggggggggggg


Duarrrrrrrrrrrrrrrrrrrr


Ledakan besar menghapus goa keberadaan mayat itu, ledakan itu sangat besar. Bahkan sangking besarnya, efek ledakan itu terasa sampai ujung benua selatan.


"Erghhhhhhhh" Xin Huang melindungi tubuhnya dengan teknik ruang.


Duarrrrrrrrrrrrrrrrr


Muncul sebuah raksasa merah yang terbentuk dari banyaknya bunga-bunga. Bila dilihat dengan teliti, raksasa bunga itu bersatu dan membentuk tubuh Hua Mei.


"Hua'er?!" Xin Huang sangat panik melihat Hua Mei yang berubah menjadi raksasa.


"Arghhhhhhh" Hua Mei berteriak, lalu muncul sekumpulan tali bunga raksasa yang terbentuk dari berbagai macam bunga.


Gruduk


Gruduk


Gruduk


Gruduk


Sekumpulan tali bunga raksasa itu menjalar ke arah Xin Huang dengan cepat. "Gawat!" Xin Huang mengeluarkan pedang kekosongannya.


Sring!


Sring!


Sring!


Sring!


Xin Huang memotong tali-tali bunga raksasa itu dengan mudah. "Sistem! apa yang harus kulakukan?!" Xin Huang berteriak pada sistemnya.


[Hancurkan inti merah yang ada didahi raksasa itu]


"Baiklah!" Xin Huang berlari ke arah Hua Mei dengan cepat.


Wushhhhhhh


Melihat ada manusia kerdil yang berlari ke arahnya, raksasa itu mengeluarkan ratusan mawar raksasa yang melayang disekitarnya.


Wushhhhhhh


Ratusan mawar raksasa itu melesat ke arah Xin Huang dengan cepat.


Wushhhh


Wushhhh


Wushhhhh


Xin Huang bisa menghindari itu dengan melihat masa depan beberapa detik kedepan.


Melihat serangannya yang gagal, Raksasa itu mengumpulkan ratusan mawar raksasanya menjadi mawar yang puluhan kali lebih besar dari sebelumnya.


"Arghhhh" raksasa itu melempar mawar super besar itu ke arah Xin Huang.


Wushhhhhhhhh


"Teknik Ruang dan Waktu: Tebasan Dimensi" Xin Huang menebaskan pedangnya secara vertikal.


Sringggggggggg


Sebuah garis cahaya hitam membelah mawar raksasa itu dengan mudah. Setelah membelah raksasa mawar itu, Xin Huang berteleportasi ke arah dahi raksasa itu.


Wushhhhhh


Tiba-tiba Xin Huang muncul didepan dahi raksasa itu. "Teknik Ruang dan Waktu Tingkat Menengah: Tombak Kosmik" pedang Kekosongan Xin Huang berubah menjadi tombak raksasa berwarna biru gelap. "Sadarlah Hua'er!" Xin Huang menusukan pedang tombak itu.


Jlebbbbbbbb


Duarrrrrrrrrrr


Raksasa itu meledak menjadi butiran-butiran bunga tajam saat inti merah di dahinya ditusuk oleh Xin Huang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2