
Gery dengan teliti melihat semua rekaman CCTV,
"itu" kata gery dan mengambil foto yang badan di layar Serta mengirimnya ke Leon
"aku melihat laki laki ini menarik dan membawa Sasa, cepat selidiki dia apakah ada hubungannya dengan Jack " Gery mengirim pesan itu beserta foto yang dia ambil dari layar yang menampilkan rekaman CCTV
Leon menerima pesan itu tersenyum dan segera membalasnya
"laki laki itu ada hubungannya dengan Jack, dia adalah mantan calon menantu Jack" Leon
"kenapa kau malah senyum senyum sendiri? lihat anakmu ini mas? umurnya sudah tua tapi kelakuan kayak remaja" Maura
"ini Gery mengirim pesan kepadaku" kata Leon dan menunjukkan layar ponselnya ke semua orang
"Gery kan belum mengenal Delon, cepat hubungi dia dan suruh pulang.
dia pasti sangat khawatir di sana" Marco
"pulang lah, Sasa sudah di rumah" leon mengirim pesan kepada Gery
Gery yang menerima pesan itu bisa bernafas lega dan tanpa berbicara apa apa segera pergi dari ruangan itu dan kembali ke rumah.
Sampai di rumah gery Gery memanggil nama Sasa
"kau baik baik saja nak? " tanya Gery dan memeluk Sasa
Gery melihat Delon duduk santai dan memainkan ponsel di sana.
"ini ini orang yang membawa Sasa, apa yang kau mau? kenapa menculik Sasa dan kenapa kau ada di sini?" kata Gery berteriak marah.
"aku? " kata Delon menunjuk dirinya.
"1. aku tidak menculik dia
aku ada di sini karena ini rumahmu" kata Delon santai.
Gery memandang semua orang di sana dengan penuh tanya
__ADS_1
"katamu dia calon menantu Jack? " Gery menatap Leon
"iya memang, dia mantan calon menantu Jack,
dia dan anak Jack gagal bertunangan karena penyakit ayannya kumat saat acara tukar cincin"Leon
Gery masi bingung dengan situasi ini
" Papa, aku tidak punya penyakit ayan, aku terpaksa melakukan itu karena Papa."Delon
"Papa? " Gery mengerutkan keningnya mendengar itu
"iya Gery, dia adalah putra Kami
Delon dan sasa pernah bertemu sebelumnya di Singapura dan waktu Sasa ke Bali mereka bertemu lagi dan dekat, Sasa bahkan pernah ke rumah kami waktu di Bali" Maura
"jadi untuk apa dia membawa Sasa seperti itu dan membuat kita semua panik? " Gery
"itu karena Sasa menghilang dan tidak merespon semua pesan dan panggilanku" Delon
Situasi hening
"ma, bukankah kau kemarin meninta aku untuk segera menikah? aku bersedia
aku ingin menikah dengan dia " kata Delon menunjuk Sasa yang sedang berbicara dengan Donna
"kau lamar lah dia mumpung semua lagi berkumpul" Maura
"aku malu" jawab Delon singkat yang membuat Maura tiba tiba tertawa
"ada apa dengan kalian? " Leon
"Delon malu? " jawab Maura yang langsung mendapat tatapan tajam dari Delon
"malu apa? dia bahkan bersikap santai saja dari tadi dan sibuk bermain ponsel padahal dia sudah membuat kita semua panik "Leon
" dia ingin menikahi Sasa tapi dia malu mengatakannya"Maura
"Ma" kata Delon karena dia merasa malu berkat ulah mamanya itu
semua orang yang ada di Sana tertawa mengejek Delon
__ADS_1
"kau bahkan sering melakukan kesepakatan bisnis dan berbicara di depan umum, namun kau berkata kau malu untuk masalah ini" Leon
"dari tadi aku ingin berbicara dengannya namun dia terus mengabaikan aku" kata Delon menatap Sasa
Donna dan Marco tersenyum melihat putrinya
"Gery bagaimana menurutmu? aku serahkan keputusan ini kepadamu" Marco
"aku terserah kepada Sasa, jika dia bahagia maka aku juga bahagia" Gery
semua orang memandang Sasa
"bagaimana nak? kami menunggu jawabannya? " tanya Donna lembut
"a a aku kan masi muda " jawab Sasa malu
"jadi maksudmu aku terlalu tua? " Delon merasa terhina karena ucapan Sasa
"ha ha ha ha ha kau di tolak pangeran " kata Leon mengejek Delon
Delon merasa malu dan kesal hendak pergi dari sana
"bu bukan menolak, tapi aku masi ingin mengejar cita citaku"Jawab Sasa gugup
Delon mendengar itu berbalik dan berdiri di dekat Maura.
"aku menikahimu buka berarti aku melarangmu mengejar cita citamu dan melakukan hal yang mau suka" Delon
"Nak, kau masi bisa meneruskan kuliahmu dan mengejar cita citamu setelah menikah.
kami tidak akan membuat larangan apa pun selagi kau mengerjakan hal yang positif" Maura
"kami juga akan lebih tenang jika ada yang menjagamu nak, kau tau kan apa yang kita alami ini bukan hal yang gampang" Marco.
Sasa menatap Donna
"keputusan ada di tanganmu nak kami tidak akan memaksamu jika kau tidak bersedia" Donna.
"a a aku bersedia" Sasa
Semua yang di sana bahagia mendengar keputusan Sasa
__ADS_1