Rindu Terlarang

Rindu Terlarang
aku tahu semua


__ADS_3

Hari hari Sania dan Darmawan selalu saja di warnai dengan perdebatan dan pertengkaran.


Sania seakan tidak lagi mengenali Darmawan karena prilakunya yang jauh berubah.


Darmawan yang dukung selalu memuja dan memperlakukan dia dengan lembut dan penuh kasih sayang kini sudah tidak ada lagi.


setiap hari hanya umpatan kasar yang di dengar Sania.


Setiap hari Sania lalui dengan air mata.


layaknya selebritis yang selalu bersandiwara


di depan anaknya Gracia dia berusaha terlihat bahagia dan harmonis dengan sang suami tapi di saat putrinya tidak ada mereka kembali seperti orang asing dan setiap Gracia mempertanyakan Darmawan yang tidak pulang ke rumah Gracia selalu mencari berbagai macam alasan agar putrinya tidak curiga.


Pagi itu tepat di hari minggu Gracia membuka pintu kamar Sania


"Bunda" panggil Gracia


"ah iya nak ada apa? " tanya Gracia gugup dan menghapus sisa sisa air matanya agar putrinya tidak tahu kalau dia baru menangis.


Gracia berusaha tersenyum di depan putrinya


"ada apa nak?" tanya Sania lagi karena putrinya hanya diam saja

__ADS_1


"ayah tidak pulang lagi tadi malam bunda? " Gracia


"ah iya semalam ayah mengirim pesan kalau proy----" kata kata Sania terhenti saat sang anak langsung menyela


"jangan terus mencari alasan bunda, jangan membuat alasan untuk menutupi kesalahan orang lain sehingga di mataku bunda lah yang pembohong " jawab Gracia lantang yang membuat Sania terperangah


" ma maksud kamu nak"? " Sania


"aku tahu semuanya, pertengkaran


perdebatan dan air mata bunda" Gracia


Sania Terdiam karena tidak tahu harus berkata apa apa karena ternyata yang dia takutkan kini terjadi


"maafkan bunda nak" Sania


"jangan meminta maaf atas sesuatu kesalahan yang bunda tidak lakukan" Gracia


Sania melihat wajah lain dari anaknya itu hari ini.


Gracia terlihat berbeda dari biasanya


anaknya yang selama ini manja, ceria dan lemah lembut tidak terlihat sama sekali.

__ADS_1


Gracia seperti sosok yang beda terlihat tegas, tegar dan tatapannya tegas seolah dia sudah bisa menata hati untuk menghadapi ini semua.


Tidak ada air mata yang tumpah dari mata Gracia si anak manja.


"Gracia minta maaf karena selama ini menutup mata dan pura pura tidak tahu karena Gres takut kehilangan kasih sayang ayah dan bunda Taki ternyata bunda sangat menderita karena keegoisanku"Gracia


" jangan begitu sayang, Bunda melakukan semuanya demi dirimu"Sania


"demi memikirkan diriku setiap hari bunda terluka dan merasa sakit hati, bunda tidak bahagia sama sekali dan tidak ada hari tanpa air mata.


apakah menurut bunda aku akan bahagia di saat bunda tidak bahagia? " Gracia


"setiap hari bunda selalu mengatakan kepada aku untuk menjadi wanita yang kuat dan mandiri tapi nyatanya bunda yang menjadi contoh untukku adalah seorang wanita yang lemah" Gracia


"nak" ucapan Sania kembali terhenti saat anaknya menyela


"jika bertahan sangat sulit dan menyakitkan maka pergi lah dari sini, untuk apa memperjuangkan seseorang yang tidak mau untuk di perjuangkan dan untuk apa menggenggam mawar yang dalam keindahannya jangan lupa ada Duri yang bisa menyakiti tangan kita" Gracia


setelah mengatakan itu Gracia keluar dari kamar Sania.


Sania hanya menatap nanar kepergian sang anak.


bagaimana putri kecilnya itu terlihat sangat dewasa dan bisa mengatakan kata kata itu.. apakah karena masalah yang selama ini terjadi di rumah menuntut putrinya menjadi dewasa di umur yang sangat muda.

__ADS_1


"maafkan bunda nak" Sania


__ADS_2