
Setelah memutuskan untuk melupakan kesalahan Darmawan dan sepakat untuk tetap bersama hari hari Sania berlalu begitu saja namun makin hari dia tidak merasakan bahagia seperti dulu lagi walaupun setiap hari Darmawan memperlakukan dia dengan baik dan tidak pernah menunjukkan gelagat aneh dan mengaku sudah tidak pernah berhubungan dengan wanita itu lagi itu semua tidak membuat Sania merasa bahagia.
Setiap hari dia di hantui rasa curiga dan tidak tenang.
Setiap Darmawan pergi ke kantor sering kali Sania diam diam datang ke kantor untuk memastikan suaminya itu memang bekerja dan Sania juga sering kali diam diam mengikuti Darmawan.
Walaupun selama dia mengikuti dan menyelidiki Darmawan tidak pernah ada keanehan dari suaminya itu tidak membuat dia tenang dan percaya.
Tidak ada kepercayaan lagi pada diri Sania.
Hingga Sania juga berkonsultasi dengan dokter karena rasa cemas dan gelisah nya makin hari makin parah.
Tahun berganti tahun waktu berlalu begitu saja dan Sania pada akhirnya mulai percaya lagi pada sang suami.
berkat hasil konsultasi ke dokter dan selama dia mengikuti suaminya tidak pernah melakukan hal hal aneh membuat Sania akhirnya mulai percaya lagi dengan suaminya itu.
Kepercayaan Sania yang mulai tumbuh kembali membuat rumah tangga mereka mulai harmonis dan hangat lagi.
Saat kepercayaan nya yang mulai tumbuh namun sayangnya kepercayaan itu kembali lagi di patahkan oleh Darmawan karena Sania tiba tiba mendapat kabar dari temannya bahwa temannya itu melihat Darmawan pergi ke rumah sakit dengan seorang wanita.
Sania tidak langsung percaya begitu saja karena selama dia mengikuti Darmawan tidak pernah terlihat sekalipun dia melakukan hal hal aneh.
Sania memutuskan akan mencari tahu sendiri apakah itu benar atau tidak.
Sania diam diam memasang alat perekam suara di dalam mobil sang suami.
"aku harap mas tidak membohongi aku lagi" batinnya dan langsung keluar dari mobil Darmawan sebelum suaminya itu bangun
Pada hari itu Darmawan kembali menemui wanitanya itu
"bagaimana keadaanmu sayang? " Darmawan
"aku baik mas" jawab wanita itu
"anak kita? " tanya Darmawan lagi sambil mengelus perut wanita itu
__ADS_1
"dia baik juga tapi akhir akhir ini dia sering merindukan ayahnya" jawab wanita itu dengan nada manjanya.
Setelah mengantarkan wanitanya melakukan periksaan dan membeli kebutuhan untuk melahirkan Darmawan mengantarkan wanita itu pulang.
Malam hari Darmawan kembali ke rumah seperti biasa.
Setelah selesai makan malam Sania, gracia dan Darmawan menghabiskan waktu untuk bercengkrama seperti biasa.
bersenda gurau menghabiskan waktu bersama anak dan istri.
malam hari Setelah Darmawan tidur Sania diam diam bangun dan keluar dari kamarnya.
Sania pergi ke garasi mobil dan langsung masuk ke mobil suaminya mengambil alat perekam yang dia pasang tadi pagi.
Sania memeriksa rekaman itu dan betapa terkejutnya dia dengan apa yang dia dengar
"ternyata kau mas membohongi ku selama ini mas, kau begitu pandai memainkan permainan ini sehingga aku tidak mengetahui nya sedikitpun dan kau berhasil membuatku percaya lagi padamu tapi kau kembali mematahkan kepercayaan itu" batin Sania
Bulir bulir air mata jatuh begitu saja tanpa bisa dia tahan.
Sania langsung membawa rekaman itu sebagian barang bukti dan menemui suaminya.
Jika dulu Darmawan mengaku menyesal dan minta maaf tapi kali ini laki laki itu memilih untuk diam saja.
"mas pilih aku atau dia?
kalau mas pilih aku pertemukan aku dengan dia dan dan aku sendiri yang akan berbicara padanya untuk mengakhiri hubungan kalian" Sania
"maaf tapi aku tidak bisa" Darmawan
"tidak bisa apa? " Sania
"tidak bisa meninggalkan dia" jawab darmawan yang membuat Sania terdiam sesaat
"jadi mas lebih memilih dia daripada aku? " Sania
__ADS_1
"maaf" Darmawan
"jadi selama ini mas masi menipu aku dan tidak pernah mengakhiri hubungan mas dengan dia? " Sania
Darmawan diam saja tanpa ada niatan membalas perkataan Sania
Setelah beberapa saat terdiam akhirnya Darmawan berbicara
"maaf selama ini aku membohongimu,
awalnya aku ingin mengakhiri hubunganku dengan dia dan aku sudah mencoba sekuat tenaga mempertahankan rumah tangga kita tapi ternyata aku tidak bisa melupakannya begitu saja" Darmawan
"bagaimana dengan aku?
apakah kau sudah tidak mencintai aku lagi mas?
apakah tidak ada artinya aku bagimu? " Sania
"aku masi mencintaimu" darmawan
"jika begitu tinggalkan dia" Sania
"maaf tapi aku tidak bisa karena dia sedang mengandung anakku dan kami juga sudah menikah " Darmawan
"anak katamu? " Sania
"ya anak kedua kami? " darmawan
"apa jadi anak wanita yang kau gendong itu dulu anak kalian bersama dan sekarang dia lagi mengandung anak kedua kalian? " Sania
"iya" Darmawan
"mari bercerai jika begitu" kata sania mencoba tegar
"baiklah" jawab Darmawan
__ADS_1
jawaban yang membuat Sania kaget karena dia tidak mengharapkan jawaban itu.
Dia sungguh berharap suaminya takut saat dia mengancam untuk berpisah dan mengatakan dia bersedia meninggalkan wanita itu demi dirinya