
Seminggu setelah percakapannya dengan Gracia Sania Terus memikirkan kata kata anaknya itu.
Hari ini Sania sudah menetapkan pilihan tapi dia akan meminta pendapat sang anak karena anaknya juga sudah terlanjur mengetahui semuanya jadi tidak ada lagi yang perlu di sembunyikan.
"Gres" panggil Sania mengetuk pintu kamar anaknya
"ya bunda" Gracia
"bunda boleh masuk nak? " Sania
"Mmm" Gracia
"nak bunda mau membicarakan sesuatu apakah bisa? " tanya Sania hati hati
"tentang ayah? " tanya Gracia
"Mmm" jawab Sania sambil menganggukkan kepala
"apapun keputusan bunda aku akan mendukungnya.
jangan khawatirkan aku bunda, bagaimana pun keadaan kita nanti aku akan membiasakan diri.
seperti kebahagiaanku yang terpenting untuk bunda begitu juga kebahagiaan bunda sangat penting untuk aku.
jika bunda mau kita pergi maka ayo pergi secepatnya " jawab Gracia dengan penuh ketegaran di setiap kata katanya.
Sania menatap mata sang anak mencari keraguan di dalam mata ank itu namun tidak menemukan sedikitpun keraguan di setiap kata katanya.
"aku sering melihat ayah dan keluarga barunya menghabiskan waktu bersama tapi aku tidak pernah mengatakan apa pun kepada bunda.
aku sudah bisa menerima semuanya bunda jadi jangan khawatirkan aku" lanjut Gracia
"kau melihat ayah dan wanita itu? " Sania
__ADS_1
"mm, iya aku melihat mereka.
mereka tinggal di komplek perumahan yang sama dengan temanku dan saat aku belajar kelompok dengan temanku aku melihat mereka keluar dari rumahnya" sejenak Gracia terdiam dan menarik nafas
"mereka terlihat sangat bahagia" lanjutnya lagi
"ayah sering mengantar anak itu pergi ke sekolah tipu tidak pernah memiliki waktu untuk datang ke sekolahku" lanjutnya lagi
Ternyata begitu banyak yang anaknya itu ketahui dan pendam sendiri.
Sania memeluk anaknya itu
"maafkan bunda nak" Sania
"jangan meminta maaf atas kesalahan orang lain.
bunda ayo kita pergi
di sini terasa sangat sesak dan menyakitkan
Bunda tolong bawa aku pergi dari neraka ini.
ini menyesakkan dan sungguh menyiksa.
aku sungguh tidak tahan lagi bunda. " Akhirnya tangis Gracia yang dia tahan pun tumpah begitu saja.
Sania dan Gracia menangis bersama
" setelah ini kita tidak akan menangis lagi"kata Sania
Mereka mengemas keperluan yang mau di bawa
Sania membawa semua barang berharga yang dia punya
__ADS_1
ada lima mobil di garasi pun dia jual semua.
Darmawan sama sekali tidak tahu karena belum juga pulang ke rumah.
Tiga hari kemudian setelah segala urusan jual beli beberapa barang yang dia lakukan dan setelah selesai berkemas mereka pergi.
Tak lupa Sania juga mengurus surat kepindahan mereka.
Mereka melangkah keluar dari rumah itu tanpa ragu dan tidak menoleh sama sekali.
Satu bulan kemudian Darmawan kembali ke rumahnya.
betapa terkejutnya dia mendapati rumah itu kosong.
tidak ada istrinya dan tidak ada sambutan ceria dari anaknya.
Darmawan pergi ke sekolah putrinya tapi tidak juga menemukan putrinya di sana bahkan dia sangat terkejut ketika anaknya susah tidak bersekolah di sana dan sudah mengurus surat pindah.
Darmawan kembali ke rumah dan duduk di meja makan.
tidak ada aroma makana tercium di sama
walaupun hubungan nya dengan Sania memburuk dan dia jarang pulang tapi setiap hari Sania masi melayani dan menyiapkan segala kebutuhannya walaupun tidak ada percakapan antara mereka
Darmawan duduk di kamar putrinya sambil mengusap kasar wajahnya
"bukan ini yang aku mau" liriknya
"aku pikir kau tidak akan pergi dariku dan bisa menerima keputusan ku, aku mencintainya tapi juga masi sangat mencintaimu" Darmawan
Darmawan tidak pernah menyangka Sania akan benar benar pergi meninggalkannya karena dia pikir sania tidak akan sanggup berpisah dengannya dan tetap Mempertahankan dia seperti waktu keluarga besarnya menentang hubungan mereka.
__ADS_1
Sania lebih memilih dirinya dan meninggalkan keluarganya.