
Setelah selesai makan mereka berdua pulang lagi dan wajah Nuna sudah tidak sepucat tadi dan Pritta senang melihat sahabatnya sudah lebih ceria
"Makasih buat traktitannya" Ucap Nuna dan dia tersenyum manis pada Pritta
"Iyah Sana-sama" Jawab Pritta dan membalas senyuman Nuna
"Kamu sekarang sibuk apa Pritta? " Tanya Nuna
"Aku cuma jaga toko vape aja sih" Jawab Pritta
"Toko kamu? " Tanya Nuna dan Pritta menganguk
"Walaupun yang beli gak setiap hari tapi cukuplah buat aku makan sehari-hari" Jawab Pritta
"Loh kok gitu? itu berpotensi bangkrut loh" Ujar Nuna
"Aku jual liquid nya dan yang itu yang laris" Ucap Pritta membuat Nuna manggut-manggut kepala
"Aku boleh ngelamar pekerjaan ke kamu? " Tanya Nuna
"Aku lagi gak butuh pegawai Nuna soalnya emang gak butuh aku bisa sendiri kok" Jawab Pritta menbuat Nuna sedih
"Maaf yah aku gak bisa bantu, soalnya baru merintis Nuna" Sambung Pritta
Tidak terasa mereka sampai lalu mereka masuk ke dalam kos-kosan mereka dan betapa terkejut mereka karena melihat banyak sekali makanan yang memenuhi sofa ruang tamu kos-kosan mereka
"Ini makanan? kok banyak banget? " Ujar Pritta dengan ekspresi terkejut nya
Semua makanannya adalah makanan instan dan yang lainnya dan Nuna hanya diam karena dia tahu siapa pengirimnya pasti Cio pikirnya
"Siapa yang kirim yah? atau salah kirim Nuna? gak ah aku takut nanti kalau kita makan bisa disuruh ganti rugi" Ujar Pritta
"Gak papa kok ini aman, kalau kamu mau ambil aja, aku jamin ini aman" Ucap Nuna membuat Pritta mengerucut kan alisnya
"Maksudnya apa? kamu tau siapa pengirimnya? " Tanya Pritta dan Nuna menganggukan kepalanya
"Siapa Nuna? " Tanya Pritta dengan penasaran
__ADS_1
"Gak penting" Jawab Nuna dan dia pergi begitu saja meninggalkan Pritta
Pritta mendekati makanan yang banyak itu dan dia menemukan sebuah surat yang terletak di meja bahkan dengan bunga juga
Pritta membukanya lalu membacanya dengan serius dan dahinya langsung menyeringit karena nama yang ada disitu dia tidak kenal
"Samudera? " Ujar Pritta dan dia menatap kamar Nuna yang sudah tertutup rapat
"Siapa dia Nuna? " Ucap Pritta
Disisi Cio
Cio sudah ada dijalan pulang dari kampusnya dia berniat ingin menemui Nuna tapi dia harus bertarung hebat dengan batin dan pikirannya tapi dia hanya berani singgah di depan gang kos-kosan nya Nuna
"Nuna lihat lah aku walaupun kamu cuma sekedar menoleh" Ucap Cio dengan nada lirih
Cio melihat jika ada mobil mewah keluar dari gang kos-kosan Nuna tapi dia tidak memperdulikan nya
"Aku benar-benar ingin mendekati kamu Nuna sekarang" Ucap Cio
Cio memutuskan pergi dari sana menuju pulang ke mansionnya
"Mommy? Serena? " Ucap Cio dengan ekpresi gugup
"Duduk Cio" Suruh intan dengan tegas pada putranya dan Cio menurut dia duduk di sofa disamping Mommy nya
"Mana Nuna Cio? " Tanya Intan dengan serius
"Mommy mau apa? " Tanya Cio juga pada Intan
"Jawab pertanyaan Mommy, Nuna mana? " Tanya Intan sedikit meninggi
"Dia pergi Mom tapi itu aku yang suruh" Jawab Cio sambil menyentuh tangan Intan
"Kamu yang suruh dia pergi? " Tanya Intan dan Cio mengangguk kan kepalanya
"Suami macam apa sayang yang mengusir istrinya? " Tanya Intan
__ADS_1
"Kamu menikahi nya saja Mommy masih belum tau dan Mommy dengar kamu sering bertengkar dengan dia kan? " Sambung Intan
"Aku biarin dia pergi karena aku mau dia sadar Mom, Cio bisa handle semuanya jadi aku mohon jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga ku" Ucap Cio tapi lembut pada Mommy agar Mommy tidak tersinggung
"Bagaimana Mommy gak ikut campur? kalau putra Mommy itu di sia-siain sama wanita pilihannya" Jawab Intan
"Dia gak sia-siain aku Mom tapi dia masih belum sadar aja kalau aku tulus ke dia, Aku mau kaya Mommy dulu sadarin Daddy dan buat Daddy mencintai Mommy seperti sekarang" Ucap Cio dengan tatapan dalam pada Mommy nya
"Aku tahu gak mudah Mom tapi biarin Cio berjuang sampai Cio benar-benar cape baru Cio akan pikirkan buat lepasin dia nanti" Sambung Cio
"Apa sih ka yang buat kaka sampai segininya ke dia? " Tanya Serena
"Dia itu cuma orang biasa bahkan kaya piguran aja dihidup kaka, karena kaka ketemu dia pas umur 4 tahun mana mungkin kaka bisa anggap dia cinta pertama kaka? " Tanya Serena pada Cio
"Kamu tau kan Nuna jika teman kaka itu cuma kamu dan sepupu yang lain? tapi pas kaka ketemu dia rasanya kaya beda dan sampai saat ini rasa itu sama" Jawab Cio sambil tersenyum
"Ay Cio benar-benar seperti kamu jika mencintai seseorang pasti dia akan sangat tulus tapi kenapa perasaanya tidak terbalas? apa dosanya? Arbercio ku sangat polos dia tidak pantas sakit hati" Batin Intan
"Mommy jangan khawatirin Cio yah" Sambung Cio sambil mengelus pipi Intan dengan lembut sambil tersenyum manis
"Sayang! Mommy dan Daddy kamu selalu berikan yang terbaik buat kamu dan selalu buat kamu senang tapi kenapa kamu malah memilih menyiksa diri kamu sayang? " Tanya Intan
"Aku gak menyiksa diri ku Mom tapi malah sebaliknya karena misalnya Cio dekat dengan Nuna rasanya Cio bahagia" Jawab Cio dan Intan menetaskan air matanya sambil mengelus putranya
"Cio tau kan kalau Mommy sangat menyanyangi Cio dan sampai hari ini Mommy selalu merasa jika kamu masih Arbercio yang selalu merengek di kaki Daddy kamu dulu, Mommy terluka jika mendengar Cio sakit hati" Ucap Mommy dan Serena memeluk Mommy nya
"Serena juga, Mommy sangat menyayangi kamu karena berkat kalian Mommy selalu bahagia sampai tahun berganti tahun kalian semakin dewasa dan membuat selalu takut jika kalian akan bertemu dengan orang yang bakal buat kalian sakit karena Mommy dan Daddy selalu jagain kalian kan? " Ujar Mommy Intan
"Cio gak sakit hati Mom, Aku bakal bawa Nuna ke mansion Mommy dan Daddy nanti, aku bakal pamerin ke mesraan ju dengan dia nanti" Janji Cio
"Janji sayang" Tanya Intan dan Cio mengangguk dengan pasti
"Love you Mom" Ujar Cio sambil tersenyum
"Love you too boy" Jawab Intan
"Mommy jangan sedih-sedih nanti Serena nangis nih" Ucap Serena dengan manja membuat Intan dan Cio tersenyum
__ADS_1
"Sebegitu sayangnya Mommy ke aku sampai dia nangis karena takut aku sakit hati" Cio membatin