Riontan

Riontan
Episode 209


__ADS_3

Dokter keluar dari ruangan Nuna karena dia memeriksa keadaan Nuna dan semua baik membuat mereka bernafas lega tapi King sejak tadi merasa jengkel pada Tuan Figo yang terus menerus menatap sinis pada mereka


Bahkan dia menanyakan kapan Nuna bisa dibawa pulang membuat Cio juga sangat geram padanya


Cio ingin masuk kedalam ruangan Nuna tapi dia tahan oleh Tuan Figo membuat King menepis tangan Tuan Figo dari jangan Cio


"Jangan buat saya marah Pak tua" Tegur King dengan wajah datar


"Saya sudah sering bilang jika saya tidak takut" Jawabnya dan King tersenyum miring dengan tatapan sinis


"Baiklah jika anda tidak takut dengan kami tapi setidaknya jangan membuat keributan disini" Ucap King


"Jika kalian pergi maka tidak akan pernah terjadi keributan" Jawab Tuan Figo


"Pak Tuan sialan" Ujar Cio lalu dia masuk, Tuan Figo ingin menahan Cio tapi King berdiri di depannya jadinya Cio bisa masuk


Cio masuk dia melihat Nuna yang sedang menatap langit kamar nya dengan tatapan kosong dan dia duduk di kursi disamping Nuna


"Nunaaaaa" Panggil Cio lembut dan Nuna langsung menoleh dengan senyuman tipis, Cio melihat senyum Nuna pun ikut tersenyum


"Apa yang kamu pikirkan Nuna? " Tanya Cio sambil mengelus pipi Nuna


"Aku masih belum percaya jika mereka tiba-tiba orang tua ku Berci" Ucap Nuna


"Aku perlu bukti jika mereka benar mereka orang tua ku bukan hasil test DNA itu aja" Ucap Nuna lagi


"Aku sudah mencari tahu Nuna tapi susah untuk mendapatkan dengan cepat karena waktu sudah terlampau jauh dan juga yang jadi saksi kunci nya adalah ibu kamu tapi dia sudah meninggal kan? " Jawab Cio


"Aku merasa ini bohong Berci! aku gak masih belum Terima! benar-benar sangat tidak Terima! aku mau pulang dengan kamu" Ucap Nuna dengan nada permohonan pada Cio


"Kalau kamu sudah dinyatakan sembuh oleh dokter kita pulang" Jawab Cio membuat Nuna tersenyum dengan pelan Nuna mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Cio


"Maafin aku tadi yah karena sudah usir kamu" Ucap Nuna lalu Cio menahan tangan Nuna yang ada diwajahnya sambil menganggukkan kepalanya


"Bagaiamana dengan kuliah kamu Berci? " Tanya Nuna yang baru ingat jika Cio berkuliah


"Aku minta cuti dan Daddy ku yang urus" Ujar Cio

__ADS_1


"Emang boleh? kan kamu baru kuliah? " Tanya Nuna


"Boleh asal alasan jelas" Jawab Cio


"Apa alasannya? " Tanya Nuna


"Honeymoon" Jawab Cio dan Nuna langsung menarik tangannya dari wajah Cio, ekpresi Nuna juga berubah sedangkan Cio tertawa kecil


"Kenapa? " Tanya Cio sambil mengangkat alisnya


"Aku bercanda kok tapi kalau alasannya memang itu" Ujar Cio tapi ekspresi Nuna yang tadi terkejut sekarang malah menatap Cio dengan tatapan dalam lalu Cio tersenyum


"Kenapa menatap ku seperti itu? " Tanya Cio


"Apa lagi yang akan kamu korban untuk aku Berci? " Tanya Nuna membuat Cio mengerucutkan alisnya


"Kamu rela tinggalin kuliah kamu buat aku" Sambung Nuna


"Sampai sini aku belum berkorban apapun untuk kamu Nuna tapi malah kamu" Jawab Cio dengan senyum nya


"Jangan bahas masalah pengorbanan sekarang menurutku ini tidak pantas di bahas karena memang tidak ada" Sambung Cio


"Kenapa bahas itu? sudah sedih lagi? " Tanya Cio


"Aku akan terus bersedih tentang orang tua ku tapi aku ingin tau kamu mau punya anak berapa? " Tanya Nuna lagi


"Masih belum ada dibenak ku untuk memiliki anak"Jawab Cio, Nuna menatap dengan tatapan tidak percaya pada suami kecilnya itu


"Kenapa? " Tanya Nuna keheranan


"Aku males bahas itu" Jawab Cio


"Anak kecil menyusahkan jika boleh aku akan hidup berdua saja dengan kamu selama nya" Batin Cio membuat Nuna geleng-geleng kepala


"Anak kecil menyusahkan Berci? kamu pernah kecil kan tapi masa-masa itu lah yang membuat semua orang tua tidak mau anak nya besar karena melihat anak kecil berkembang itu sangatlah senang tapi juga sedih" Tegas Nuna membuat Cio heran bahkan bingung dengan Nuna


"Aku gak bilah jika anak kecil menyusahkan? " Ucap Cio dan Nuna baru sadar jika Cio mengatakan itu dalam hatinya

__ADS_1


Nuna tergagap mencari alasan agar Cio tidak curiga padanya


"Rata-rata jawaban orang yang mau anak itu kan, itu jawabannya" Jawab Nuna dengan ekspresi muka gugup


"Benarkah? Apa kamu bertanya seperti ini karena ingin mengandung anak ku? " Tanya Cio tapi Nuna menggelengkan kepalanya


"Baguslah" Ujar Cio dan Nuna juga lega karena Cio percaya dengan alasanya


"Boleh aku tanya-tanya kamu? " Ujar Cio dan Nuna menganggukkan kepalanya


"Selama kamu dengan Juan apa dia macam-macam dengan kamu? " Tanya Cio tatapan Nuna langsung layu mendengar pertanyaan Cio


"Iyah" Jawab Nuna pelan


"Katakan pada ku Nuna" Ucap Cio


"Dia sering memukul dan mengancam ku" Jawab Nuna dan dia membuka rambut nya memperlihatkan bekas memar yang ada di lehernya yang pernah Juan lakukan padanya


Cio menghela nafas dengan berat melihat Nuna seperti ini "Dia mengancam apa? " Tanya Cio


"Ingin menghamili ku, jika aku tidak menurut pasti dia akan memukuli ku bahkan menggendong paksa ku ke ranjang tapi syukurnya tidak pernah melakukan itu namun aku tidak tahu jika aku tidak sadarkan diri karena kamu tinggal satu unit apartemen" Jawab Nuna


"Jangan harap setelah ini dia mati dengan mudah" Batin Cio


Nuna merentangkan tangannya sebelah karena yang satunya di infus dengan polosnya Cio mendekat lalu Nuna menyandarkan nya m kepala Cio ke di dadanya


"Berci! cuma kamu orang yang ku ingin datang saat itu tapi sampai hari mengganti malam dan siang kamu tidak kunjung datang sampai aku frustasi tapi keyakinan ku tetap yakin dan benar saja keyakinan ku benar" Ucap Nuna sambil mengelus kepala Cio


"Yang ku cinta itu belum tentu selalu ada untukku tapi jika orang mencintaiku pasti dia akan datang tanpa di minta" Sambung Nuna


"Kata-kata itu seperti nya juga pas untuk menyindir kamu Nuna" Ucap Cio dan Nuna tertawa kecil


"Kamu pasti selalu kecewa kan dengan ku? bahkan kamu ingin marah tapi kamu selalu menahannya" Sambung Nuna


"Jika kita bertengkar kamu selalu menyembunyikan tangan kamu supaya tidak menyakiti aku" Tambah Nuna tapi Cio hanya diam didadanya Nuna


"Di cintai tanpa syarat oleh laki-laki seperti kamu benar-benar sebuah anugerah" Ucap Nuna

__ADS_1


"Berhentilah Nuna bisa-bisa aku di rawat juga karena sangat senang, jantungku kurang aman sekarang kalau sedekat ini dengan kamu" Ucap Cio membuat Nuna tertawa dan mereka berdua sama-sama tertawa


__ADS_2