
" Mas, ini ada yang nelpon..!" Teriak Halimah sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Kamu angkat aja, sayang..!" Aly menyahut dari dalam.
Halimah melirik handphone yang terus berdering dan berada di dalam genggaman tangannya.
"Mas, memangnya kamu masih lama ?!." Teriak Halimah lagi.
"Iya..!."
Sekali lagi Halimah melihat layar handphone nya yang menampilkan kontak bernama *UMMA*. Dia tahu jika itu adalah ibunya Alsya. Halimah gelisah antara ingin mengangkat atau membiarkannya saja. Tapi ponsel terus berdering seakan ada sesuatu yang mengkhawatirkan yang membuat ibunya Alsya tak henti-hentinya menelpon.
"Astaghfirullah... Perasaanku tidak enak sekali, apa aku angkat saja ya ?." Gumam Halimah bermonolog.
Dengan keyakinan tinggi, akhirnya Halimah menggeser layar yang berwarna hijau, otomatis telepon itu langsung tersambung.
"Halo, assalamualaikum... Aly, kamu bisa pulang tidak ?, Alsya sekarang masuk rumah sakit karena kecelakaan..!." Suara dari seberang telepon terdengar sangat panik.
Astaghfirullah, Alsya !.
Halimah langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Halimah kembali mengetuk pintu kamar mandi. "Mas Aly ayo keluar, mas !?." Teriaknya.
"Iya, sebentar !."
"Mas Aly, ummanya Alsya nelpon, katanya Alsya masuk rumah sakit karena kecelakaan !." Teriaknya lagi.
Setelah tidak lagi mendengar sahutan, beberapa detik setelahnya, pintu dibuka dengan tergesa.
"Alsya masuk rumah sakit ?." Tanya Aly panik.
"Iya, mas. Alsya kecelakaan."
"Astaghfirullah..."
"Ayo, sana kamu pulang mas. Temui Alsya."
"Iya." Aly bergegas mengganti pakaian dan langsung mengambil kunci mobilnya lalu kembali menghampiri Halimah. "Mas pergi dulu, ya ?." Aly mengecup singkat kening Halimah. "Assalamualaikum..." Ujarnya lagi.
"Waalaikumsalam... Mas !, Ini handphone nya." Halimah langsung mengejar Aly dan memberikan handphone milik suaminya.
"Makasih, sayang."
Aly berjalan cepat menuju mobilnya dan langsung menaikinya. Kaca jendela dia buka untuk melihat sosok istrinya yang sedang berdiri di teras rumah. Aly tersenyum sambil melambaikan tangannya dan segera tancap gas melenggang pergi dari halaman rumah.
Beberapa saat kemudian, Aly sampai di depan gerbang rumah mertuanya. Aly menyembulkan kepalanya dari balik kaca mobil. "Assalamualaikum, mang." Ujarnya pada penjaga gerbang rumah.
"Waalaikum salam, nak Aly. Nak Aly kalau mau ke nak Alsya, langsung ke rumah sakit aja, orang rumah juga pada lagi disana."
"Oh, iya. Di rumah sakit mana, mang?."
"Rumah sakit Jaya Medika, nak."
"Yaudah, saya pergi ya mang ?, Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam."
Aly memundurkan mobilnya lalu berbelok dan kembali menjelajah jalanan beraspal jalan raya menuju rumah sakit yang telah disebutkan tadi.
Sampai rumah sakit, Aly menelpon mertuanya dimana ruangan Alsya, dan mertuanya mengatakan bahwa Alsya masih ditangani di ruang ICU.
__ADS_1
Saat sampai disana, Aly tidak hanya melihat kakak iparnya dan mertuanya saja. Tapi dia juga melihat seorang pria yang tidak dikenalnya sama sekali. Aly mendekat menghampiri mertuanya.
"Assalamualaikum, Abah, umma. " Ujarnya lalu menyalami kedua tangan mertuanya bergantian.
"Waalaikum salam." Jawab mereka dengan suara yang sangat lirih.
Aly menatap wajah ayah mertuanya." Apa yang terjadi dengan Alsya, bah ?." Tanyanya yang sudah mulai cemas mengkhawatirkan kondisi istri dan calon bayinya. Bahkan mata Aly sudah mulai berembun siap menitikkan air matanya.
"Alsya kecelakaan, Ly. Dia tertabrak mobil." Jawab ayah mertuanya dengan suara yang terdengar parau.
Aly menghembuskan nafasnya berat. "Astaghfirullah..." Gumamnya sangat terkejut.
Aly meraup wajahnya sendiri dengan kasar. Dia tidak tahu harus berucap dan bereaksi seperti apa saat mendengar istrinya mengalami hal demikian.
"Ly, duduklah." Annisa, kakak iparnya menyuruhnya demikian karena Aly masih duduk bersimpuh di hadapan mertuanya dengan keadaan sangat terpuruk.
Aly mengangguk dan duduk di bangku yang kosong, tepatnya di samping pria yang tidak dikenalnya itu. Aly menunduk dalam sambil menyanggah wajah dengan telapak tangannya. Lantunan doa ia senandungkan untuk sang istri.
Hampir setengah jam bagi Aly menunggu pintu ICU dibuka, tapi ternyata tak kunjung ada tanda-tanda apapun. Tapi, setelah menunggu beberapa menit lagi, akhirnya pintu tersebut dibuka.
Aly segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari sana, begitupun dengan yang lainnya.
"Bagaimana keadaan istri saya ?!."
"Apa gadisku baik-baik saja ?!."
Penuturan yang diucapkan bersamaan itu membuat dokter tersebut kebingungan dan menatap dua pria di hadapannya dengan wajah kaget.
Aly menoleh pada pria disampingnya dan ternyata pria itu juga menoleh ke arahnya. Tatapan keduanya saling membentur dengan tak terbaca tapi sama-sama menyatakan ketidaksukaan.
"Mari ikut saya, pak." Ucap dokternya pada Abah.
Abah mengangguk dan mengikuti langkah dokter itu yang berakhir di ruangannya.
Umma dan Annisa menatap bingung wajah pria yang tidak mereka kenali itu, tapi hanya memilih diam.
"Kau mengatakan jika istriku adalah gadismu ?." Tanya Aly mengintimidasi dan menatap tajam wajah pria dihadapannya.
"Dia istrimu ?." Tanya pria itu seperti orang linglung karena terkejut.
"Iya."
"Tidak mungkin. Dia tidak mungkin sudah bersuami, dia gadisku dan aku akan menikahinya saat dia sadar nanti."
"Heyy, jaga ucapanmu !!. Dia istriku, bukan gadismu !." Sentak Aly tak terima jika seseorang mengaku bahwa istrinya sebagai gadisnya.
"Aku tidak percaya !. Aku bahkan tidak pernah melihatnya bersamamu !." Pria itu juga mulai menaikkan suaranya.
"Kurang ajar !!." Geram Aly dan langsung menghadiahkan pukulannya pada wajah pria itu.
Karena merasa tidak terima, akhirnya mereka saling menghantam satu sama lain hingga terjadi keributan yang tak terelakkan.
"Kalian, cukup !!. Aly !!." Umma berteriak agar mereka menghentikan perkelahiannya.
Aly membuang kepalan tangannya ke udara karena menuruti perintah ibu mertuanya, begitupun pria tersebut yang juga sudah tak lagi menghajarnya. Wajah mereka sama-sama terluka dan babak-belur.
__ADS_1
"Kamu, siapa kamu sebenarnya ?, Dan kenapa kamu mengatakan Alsya adalah gadismu ?." Annisa angkat bicara dan menatap tajam wajah pria tersebut.
"Aku Dimas, calon suami Alsya."
"Kau ?!!.'' Aly menyentak dan siap memukul lagi.
"Aly." Annisa menatap tajam wajah adik iparnya dan itu membuat Aly kembali diam.
"Kamu, kamu tidak boleh sembarang berbicara. Saya kakaknya Alsya, dan saya tegaskan, jangan mengaku-ngaku sebagai calon suami Alsya, karena Alsya sudah memiliki suami." Ucap Annisa tegas.
"Bagaimana mungkin, Alsya belum menikah." Elak pria itu.
"Dari mana kau tau Alsya belum menikah ?." Annisa langsung melayangkan pertanyaannya.
Pria itu langsung kicep tak berkutik apa-apa.
"Kamu tidak tau, kan ?. Jadi, jangan berbicara tentang apa yang tak kau ketahui." Ucap Annisa lagi semakin membuat pria itu terpaku dalam.
"Baiklah, tapi aku butuh bukti bahwa Alsya sudah menikah." Ucap pria itu masih belum menyerah juga.
Annisa menghembuskan nafasnya berat, kesel rasanya menghadapi pria model seperti itu, pikirnya.
Annisa kembali angkat bicara, tapi terhenti di udara karena mendengar suara ayahnya yang memanggil nama Aly.
"Iya, bah ?." Ucap Aly menyahuti panggilan mertuanya.
"Astaghfirullah, Aly !. Kamu, wajahmu kenapa ?!." Pekik Abah kaget dengan keadaan wajah Aly karena sebelumnya tidak seperti itu.
"Tidak apa-apa, bah. Hanya masalah sedikit. Jadi, apa yang dikatakan dokternya, bah.?." Ucap Aly setenang mungkin sambil terus meredam amarahnya.
Bukannya menjawab, Abah malah merengkuh tubuh Aly dan menepuk pundaknya berkali-kali seolah sedang memberikan kekuatan pada menantunya. Aly kebingungan dan segera melepaskan pelukan mertuanya.
"Abah, ada apa ?, Apa yang terjadi dengan istriku ?!." Tanya Aly mulai panik.
Abah langsung menunduk dan bersamaan dengan itu, umma menghampirinya. "Abah..." Memanggil ummanya.
Abah memeluk umma sangat erat. "Kita tidak jadi memiliki cucu, sayang..." Ucap Abah dengan nafas tercekat.
Bagai disambar petir di siang bolong, Aly ambruk seketika. Persendian otot dalam tubuhnya seakan tak tersisa sama sekali membuat dirinya tak mampu menopang beban tubuhnya sendiri.
"Alsya...?. Bayiku... ?. Astaghfirullah... Ya Allah..." Aly menangkupkan kedua telapak tangan pada wajah. Aly terisak pilu mendengar kabar duka itu. Dia tidak menyangka jika akan kehilangan sosok bayi yang sangat dinantinya untuk hadir di dunia ini.
Suasana duka itu juga dirasakan oleh pria itu yang sangat terkejut dengan apa yang didengarnya. Bukan hanya karena Alsya yang benar-benar sudah menikah yang membuatnya sedih, tapi juga karena mengetahui jika ternyata Alsya telah kehilangan bayinya karena kecelakaan itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Alsya saat mengetahui bahwa bayi yang pernah hadir dalam perutnya telah tiada. Pasti sangat-sangat menyakitkan. Dan dia tidak bisa melihat Alsya terpuruk karena itu. Pria itu akhirnya memilih untuk pergi dan mencoba untuk tidak hadir lagi di hadapan Alsya, setelah mengetahui semuanya.
"Aly, kau mau kemana ?!." Teriak Annisa saat mengetahui Aly tiba-tiba bangkit dan pergi dengan langkah tergesa-gesa.
Aly tidak menjawab dan melanjutkan terus langkahnya. Dia hanya butuh tempat mengadu untuk ujian yang telah menimpanya, ujian yang telah hadir dalam rumah tangganya. Yah, Aly berjalan menuju masjid terdekat untuk bersimpuh pada Sang Pencipta untuk mengadukan keluh kesahnya.
_________
__ADS_1