
Selama ini Alsya sedang melakukan program kehamilan dengan salah satu dokter spesialis terbaik yang ada di ibukota. Pernikahannya dengan Anand yang sudah lima bulan lebih tapi Alsya masih belum juga ada tanda-tanda kehamilannya membuat Alsya sangat merasa bersalah pada suaminya. Memang, itu merupakan qodarullah, dan manusia hanya sebagai hamba yang dititipkan saja. Tapi tetap saja, Alsya merasa kasihan jika melihat suaminya itu yang sangat mengharapkan adanya buah hati untuk pernikahan mereka.
Alsya menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Dia tak kuasa menahan air matanya yang tiba-tiba telah memenuhi pelupuk matanya. "Maaf..." Cicitnya merasa bersalah.
Tanpa diketahui oleh Alsya, mata Anand juga memerah karena menahan kesedihan agar tidak membuat Alsya semakin terpukul.
Anand semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Alsya. Bibirnya tak henti-hentinya mencium puncak kepala istrinya. "Tidak sayang, ini bukan salahmu. Semuanya sudah Allah atur dengan baik." Ucap Anand mencoba tabah.
Dua bulan terakhir Alsya dan Anand mulai melakukan pemeriksaan tubuh untuk mengetahui lebih jauh akan kesehatan tubuh mereka dan berlanjut untuk melakukan program kehamilan dengan sesuai prosedur yang ditetapkan oleh dokternya.
Anand memang tak masalah jika dia hanya akan memiliki anak sambung. Tapi, jauh di lubuk hati yang terdalamnya, dia menginginkan keturunan yang dari darah dagingnya sendiri.
Kembali lagi pada Sang Maha Kuasa. Bahwa semuanya sudah diatur dengan demikian rupa olehNya. Mereka sebagai hamba hanya bisa berdoa dan berusaha untuk selebihnya dikembalikan lagi kepada sang Pencipta.
Dengan penuh kelembutan, tangan Anand mengusap-usap punggung Alsya agar Alsya tenang. Tak lupa juga, Anand menyenandungkan shalawat kesukaan istrinya itu sehingga Alsya bisa lebih cepat tenangnya.
"A'."
"Hem ?."
"Aku ngantuk."
"Iya, tidurlah sayang."
Alsya mengangguk lalu mulai menutup matanya. Anand yang juga kelelahan ikut merapatkan matanya, menjemput alam mimpi bersama sang istri.
Berbeda tempat berbeda juga keadaan. Di luar kamar Anand, tepatnya di ruang keluarga yang kini sudah diubah menjadi ruang bermain, Fazal dan Keyya terlihat sangat semangat bermain dengan kakek-neneknya. Tawa mereka menggema menghiasi setiap penjuru ruangan yang biasanya sepi. Para pelayan rumah juga ikut dibuat senang melihat kelakuan Fazal dan Keyya yang sangat menggemaskan.
Dan pengasuh anak-anak hanya menjaga dari kejauhan. Mereka begitu telaten memperhatikan setiap pergerakan tingkah laku anak majikannya.
Fazal dan Keyya berlarian saling mengejar dengan tawa yang mengiringi langkah kaki mereka.
Bugghh !!
Keyya tersandung oleh kakinya sendiri sehingga membuat tubuhnya oleng dan berakhir dengan lutut dan telapak tangannya menggusur lantai.
"Mas...!!." Jeritan Keyya seakan memenuhi seluruh penjuru ruangan.
"Keyya !."
__ADS_1
"Nona !."
Setiap orang yang melihatnya langsung berlari menyongsong tubuh mungil Keyya, termasuk Fazal sendiri yang langsung menghentikan larinya dan berbalik menghampiri Keyya.
"Kamu tidak apa-apa ?." Tanya Fazal saat sudah sampai di hadapan Keyya yang sedang terduduk sambil menangis.
Lutut Keyya sedikit memerah membuat Fazal merasa kasihan. Fazal mendekatkan wajahnya ke lutut Keyya dan meniupnya penuh perasaan.
Semua orang terpaku melihat apa yang dilakukan oleh Fazal terhadap Keyya. Fazal begitu menyayangi adiknya.
"Sakit, mas... Hiks hiks..." Rengekan Keyya masih terdengar meski sudah tak menangis kencang seperti sebelumnya.
Fazal mengusap-usap kepala Keyya . "Cup cup cup... Kakinya gak ada darahnya kok." Ujar Fazal
Ningrum beserta dua pengasuh Keyya dan Fazal menerbitkan senyumnya mendengar ucapan Fazal.
"Hiks hiks... Ummi...!." Tangisan Keyya kembali kencang.
Fazal seperti mulai kebingungan dan disaat itulah Ningrum mendekat lalu membawa tubuh mungil Keyya ke atas pangkuannya.
"Cucu nenek yang cantik, sini nenek obatin ya lututnya." Ningrum membawa Keyya untuk didudukkan di sofa.
"Makasih, mbak..." Ningrum menerimanya dengan ramah. Kemudian mulai mengoleskan salepnya di lutut Keyya yang memar dengan penuh hati-hati. "Sudah, selesai...!." Ucapnya lagi setelah selesai mengobati luka Keyya.
Fazal duduk di samping kembarannya. "Maafin mas, yaa?." Ujarnya menatap penuh bersalah pada kembarannya.
Keyya membalasnya dengan menganggukkan kepalanya.
Mereka bukanlah kembaran asli tapi kasih sayang mereka sangatlah kuat untuk satu sama lainnya membuat siapapun yang melihatnya sungguh takjub dibuatnya.
Ningrum dan Aryan juga berpikiran seperti itu sebab mereka tidak tahu hubungan antara Fazal dan Keyya aslinya adalah memang kakak-beradik dari ayah yang sama.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Seminggu, hanya digunakan untuk meratapi nasib cintanya yang kandas di tengah jalan. Pintanya sebelum pergi ternyata tidak diindahkan oleh sang pujaan hati yang malah merajut cinta dengan orang baru.
Rupanya pengorbanannya selama ini memang tidak ada artinya bagi seseorang yang setiap saat selalu ada di dalam hatinya.
"Aargghhh !!. Kenapa...?!, Kenapa Al...?!.aku sudah menunggumu sejak lama, tapi kenapa kamu malah bersamanya...?!!."
__ADS_1
Barang-barang di dalam kamar sudah hancur dan berserakan di lantai dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Semuanya telah membohonginya. Tidak saudaranya juga orang-orang yang dulu sangat dipercayainya. Semuanya telah menyembunyikan kenyataan besar yang sangat memilukan untuk dirinya.
Dia pria yang tak lain adalah Affin, kembarannya Affan. Sebelumnya Affin sudah menanyakan pada Alsya apakah dia akan menerima perasaannya atau tidak saat akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri, dan Alsya memilih tetap diam saja.
Affin yang memang mengerti akan keadaan Alsya, dia memilih mengalah agar Alsya bisa menyembuhkan hatinya dulu sambil dia yang melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Tapi siapa sangka, ternyata saat pulang kabar buruk menyambutnya dengan tanpa persiapan. Alsya sudah menikah tanpa sepengetahuannya !. Tak ada seorangpun yang memberitahunya tentang pernikahan Alsya yang telah dilaksanakan beberapa bulan yang lalu.
Affin terus melampiaskan kekesalannya pada barang-barang yang tak bersalah. Bahkan, tangannya sampai terluka karena memukul cermin dengan keras hingga kacanya pecah tak berbentuk.
"Affin, astaghfirullah !!."
Pekikan seseorang tak dihiraukan oleh Affin. Dia hanya terus menunduk meratapi nasib cintanya pada Alsya yang tak sampai.
Dia tahu siapa yang datang ke kamarnya itu. Karena orang itu adalah salah satu orang yang paling Affin benci untuk saat ini.
Affin langsung menyingkirkan tangan yang mencoba memegang bahunya dengan kasar. Tatapan matanya juga langsung menghunus wajah yang sangat mirip dengannya itu.
"Affin, apa-apaan kamu ?!, Apa yang kau lakukan ?!." Affan terlihat sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh kembarannya.
"Pergi, bodoh !!." Teriak Affin semakin menatap tajam wajah Affan.
Affin bangkit dan langsung menarik kerah baju kembarannya. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku, hahh ?!!, Kenapa ?!!." Teriaknya sekencang mungkin di depan wajah Affan.
"Fin, apa maksudmu ?, Kau sedang membicarakan apa ?!." Affan terlihat heran dan bingung. Dia memang tidak tau apa yang menyebabkan Affin terlihat marah seperti itu.
Awalnya, Affan yang baru saja pulang dari masalah pekerjaannya di luar kota yang menghabiskan waktu hingga dua Minggu, dia yang mendengar bahwa Affin telah pulang langsung berniat mengunjungi kembarannya. Tapi, apa yang dia lihat sekarang benar-benar membuatnya tak mengerti dengan keadaan Affin.
"Katakan !, Kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang pernikahan Alsya ?!!. Kenapa Affan ?!!."
Bugghh
Affin sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Dia memukul tembok yang tepat berada di samping wajah Affan.
Affan langsung terdiam karena terkejut. Kesalahannya, memang. Dia yang tak mengizinkan siapapun memberitahu Affin akan pernikahan Alsya dan Anand. Sebab, dia tau pasti Affin akan sangat terluka jika mendengarnya dan Affin malah akan datang untuk mengacaukan acaranya.
Bukan. Bukan Affan tidak merestui perasaan Affin terhadap Alsya, hanya saja dia tahu bahwa sebenarnya Affin bukanlah cinta terhadap Alsya, melainkan hanya obsesi dan rasa iba atas penderitaan yang pernah dialami Alsya. Yah, Affan tahu itu karena dia adalah kembarannya, dia dan Affin adalah sesuatu yang satu.
Melihat Affan yang hanya terdiam semakin membuat Affin frustasi. Dia mendorong tubuh Affan sambil melepaskan cengkeramannya di kerah baju Affan kemudian dia bergegas pergi dari kamar, tepatnya pergi dari rumah dengan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa perduli dengan keadaan sekitarnya.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓