
Tubuh lelah namun tak dirasa. Itulah yang sedang terjadi pada Anand. Dia sedang lelah body, lelah hati dan juga lelah pikiran.
Permasalahan adiknya memang sudah selesai setelah dia dengan berusaha sebaik mungkin untuk memberitahu pada orang tuanya tentang keadaan Fyzha. Awalnya mereka memang sangat terkejut, tapi ternyata mereka juga memiliki pemikiran sama seperti Alsya. Bahwa saat ini Fyzha sedang membutuhkan kehadiran keluarganya untuk mensupportnya agar tidak terjadi depresi.
Anand merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri. Tangan Anand terulur menyentuh perut istrinya. Entah mengapa, akhir-akhir ini dia sangat senang sekali menyentuh perut Alsya yang didalamnya terdapat tiga jagoannya.
"Kamu mau sesuatu, sayang ?."
"Hmm sebenarnya iya, tapi aku tidak tega sama kamu."
"Memangnya apa yang kamu inginkan ?, Apapun itu akan aku turuti." Ujar Anand serius.
Alsya menggeleng. "Tidak, tidak usah Aa' sayang.." Alsya tersenyum manis.
Tapi Anand tidak suka dengan senyuman itu untuk saat ini. Anand tau istrinya itu sangat menginginkan sesuatu, hal yang sangat lazim untuk seorang wanita yang sedang hamil.
"Sayang, aku tidak suka dengan sikap kamu sekarang, cepat katakan, kamu mau apa ?, Hem ?,." Tanya Anand sekali lagi.
Alsya termenung sejenak. "Apa di luar hujannya masih gede ?."
Anand melihat ke arah jendela yang terbuka dan dari sana terlihat rintik hujan masih turun deras diluar.
"Sepertinya masih, lalu apa hubungannya dengan hujan ?."
"Aa', aku ingin mandi hujan ?."
"Ehh ?!, Mandi hujan ?!." Anand terperanjat kaget.
Alsya mengangguk dengan wajahnya yang terlihat menggemaskan di mata Anand.
Anand melirik jam dinding yang sedang menunjukkan waktu jam empat sore. Masih ada dua jam lagi menuju waktu Maghrib.
"Baiklah, ayo kita mandi hujan !." Ujarnya penuh semangat.
__ADS_1
Alsya terkekeh melihat tingkah laku suaminya. Dia segera menyusul Anand turun dari tempat tidur.
"Kita mandi hujannya di halaman belakang aja ya ?,." Ucap Anand saat mereka berjalan keluar dari kamar.
"Iya."
Anand menggandeng tangan Alsya masuk ke dalam lift dan keluar dari sana langsung menuju ke pintu belakang rumah.
Halaman belakang itu memang lebih mirip seperti area lapangan olahraga. Di setiap sudutnya terdapat berjejer tanaman bunga yang ditatap rapi. Dan ada satu bagian yang khusus dibuat untuk sang istri, sepetak tanah yang dibuat sekitar dua bulan lalu yang diisi oleh berbagai macam jenis tanaman bunga tulip.
"Siap sayang ?."
Alsya mengangguk antusias.
Anand menarik tangan istrinya dan keluar dari area teduh menuju tempat yang terbuka. Guyuran air hujan yang sangat lebat langsung membasahi pakaian keduanya.
Alsya terpekik kegirangan dan Anand tertawa lebar mendapati wajah gembira istrinya.
Mereka sudah seperti anak kecil yang sangat kegirangan mandi hujan. Mereka saling berkejaran layaknya adegan film Bollywood. Sungguh menyenangkan dilihatnya.
Air hujan yang memang sangat deras membuat teriakan Anand sedikit tidak terdengar tapi samar-samar Alsya mendengar salah satu kata-katanya yang merupakan larangan untuknya. Alsya menurut dan menghentikan larinya kemudian duduk di hamparan rumput yang terawat baik.
Anand ikut bergabung di samping istrinya. "Kamu suka ?." Tanyanya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Sangat suka. Aku sudah menginginkannya dari kemarin." Alsya meringsek mendekat ke tubuh suaminya.
Anand menyambut tubuh istrinya. "Kemarin tidak hujan ?." Tanya Anand karena teringat jika kemarin cuacanya sangat panas dan terik matahari terus menyinari dari pagi hingga menjelang petang.
"Iya."
Cup
Anand mencium kening istrinya dengan penuh perasaan. "Anak-anak kamu larang mandi hujan, tapi kamu sendiri malah meminta hujan-hujanan."
__ADS_1
"Hehehe, anak-anak tidak melihat kita kan, A ?."
"Sepertinya tidak." Jawab Anand karena memang tadi dia tidak melihat keberadaan si kembar dan dia berpikir mereka sedang asyik bermain di ruang bermain.
"Abi... !!. Ummi...!!."
Anand dan Alsya reflek menoleh. Ternyata mereka salah menduga. Anak-anak tau bahwa orang tuanya sedang senang mandi hujan.
Belum sempat Alsya melarang mereka, anak-anak lebih dulu turun dan ikut basah karena air hujan.
Alsya sudah siap menghampiri mereka dengan peringatannya. Tapi langkahnya ditahan oleh Anand. "Jangan larang mereka, mereka hanya mengikuti orang tuanya."
Akhirnya Alsya mengangguk menyetujui.
"Hahaha... Dingin...!!." Fazal dan Keyya tampak sangat senang. Dari kecil mereka memang tidak pernah merasakan mandi hujan jadi setelah merasakannya mereka terlihat sangat kegirangan.
Keyya meloncat-loncat di genangan air hujannya lalu diikuti oleh Fazal dan mereka kembali tertawa lepas. Betapa menyenangkannya perasaan mereka.
Alsya yang melihat kebahagiaan anak-anaknya menjadi ikut tertawa mendapati tingkah lucu keduanya.
Anand mulai bergabung bersama mereka. Dia tertular tingkah anak kecil dengan ikut meloncat-loncat seperti keduanya.
Alsya tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah laku suaminya yang sungguh lucu menurutnya. Dan Anand menoleh dengan senyuman manisnya pada sang istri.
"Kalian mau main bola ?." Tanya Anand tiba-tiba.
"Mau !!."
"Oke, sebentar Abi mau ambil bolanya dulu !." Anand melesat cepat dan tak lama kembali lagi dengan tangan yang kini memegang dua bola.
Anand melemparkannya pada anak-anak dan mereka menerimanya dengan senang hati.
Permainan sepak bola dengan tanpa gawang semakin menambah kesenangan mereka. Alsya juga ikut bermain bersama keluarga kecil bahagianya.
__ADS_1
Tawa mereka begitu lepas membaur pada curah hujan yang sangat besar.
✓✓✓✓✓✓✓✓