
"Aku akan bertanggung jawab." Lagi-lagi suara Affin memecahkan kesucian mereka.
Affan langsung bereaksi dan memandang wajah Affin. "Apa maksudmu ?." Tanyanya.
"Aku ayah dari anak yang dikandung Fyzha, dan aku juga yang melenyapkan anak itu." Ucap Affin akhirnya jujur .
Bugghh
Bugghh
"Aaa..!!." Semua wanita yang di disana berteriak kencang.
Affan menarik kerah baju kembarannya. "Sialan !!, Kamu mempermalukan ku, Affin ...!!." Teriak Affan kembali memukul wajah kembarannya.
Bugghh
Bugghh
Tidak ada ampun untuk Affin. Affan sudah kalap dan sangat kecewa pada adiknya yang telah mencoreng nama baik keluarga.
Affin tidak sekalipun membalas pukulan yang diberikan oleh Affan. Dia pasrah dipukul dan di tendang karena memang itu yang pantas untuk nya.
"Mas... Sudah...!!. Cukup....!!." Mbak Nisa berteriak dan langsung menghentikan tindakan suaminya. Dia menarik Affan untuk menjauhi kembarannya.
"Lepas, Nisa !, Dia harus diberi pelajaran !, Dia sudah sangat keterlaluan !!." Affan ingin memberontak tapi mbak Nisa juga tidak pernah melepaskannya.
Lain lagi dengan Nareena. Dia yang sudah sangat syok kini malah tergeletak tak sadarkan diri dan Aly reflek memeluknya.
"Kakak !." Anora memeluk Nareena yang telah pingsan.
"Bagaimana, ini kak Al ?." Tanya Anora pada Aly.
"Nareen..." Aly menepuk-nepuk pipi Nareena.
Anora juga sedikit mengguncang tubuh Nareena. Dan akhirnya mereka berhasil. Nareena kembali membuka matanya.
"Kakak."
"Nareen."
Nareena menatap wajah Anora. "Aku takut dengan Anand, Nora... Aku takut..." Nareena kembali menangis. Lalu beralih melihat wajah Aly. "Bagaimana kalau Tante sama om tau ?." Ucapnya lagi.
Anora dan Aly hanya terdiam. "Tidak apa-apa, kita bicarakan pada mereka dengan hati-hati. Aku yakin mereka juga akan mengerti." Ucap Aly akhirnya mencoba menenangkan hati calon istrinya, padahal dia juga tidak yakin akan hasilnya.
Aly membantu mendudukkan lagi Nareena.
__ADS_1
"Fan." Affin memandang wajah kembarannya.
Affan hanya terdiam tanpa reaksi apapun.
"Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahi Fyzha."
"Kamu pikir menikah adalah perkara yang gampang ?!, Ingat !, Kamu menghancurkan hidup orang hanya karena putus cinta !, Dimana akal sehatmu, hahh ?!!." Affan masih sangat marah.
Mbak Nisa mencoba menenangkan lagi suaminya. "Sudah, mas."
"Aku lelah, Nisa. Aku hanya memiliki satu keluarga tapi dia bertindak tanpa menggunakan pikirannya."
"Lalu aku harus bagaimana ?, Aku sudah menidurinya dan dia juga sudah tidak gadis lag..."
Plakkk !!
Belum sempat Affin menyelesaikan ucapannya, sebuah tamparan sudah lebih dulu mendarat di pipinya. Affin mendongak dan dia mendapati seorang wanita yang dia tau adalah sepupu Fyzha.
"Kurang ajar, kamu !, Kau sudah melecehkan saudaraku dan sekarang kau menghinanya karena sudah tidak gadis lagi ?!!, Hahh !!.
Affin menghembuskan nafasnya berat. "Aku sudah mengatakannya dari awal, aku akan bertanggung jawab tapi kalian malah meragukan keseriusanku ?!!." Affin bangkit lalu berjalan pergi begitu saja.
✓✓✓✓✓✓✓
"Hallo, ada apa Nareen ?." Anand yang akan pulang ke rumah, sebelum memasuki mobilnya, ponselnya berdering dan ternyata dari sepupunya.
"Iya, aku juga mau pulang ini." Anand entah mengapa merasakan ada sesuatu buruk yang terjadi pada salah satu keluarganya.
Anand segera masuk ke dalam mobil dan mobilnya mulai melesat dari area kantor.
Beberapa menit kemudian, Anand sampai di rumah dan di sana terlihat ada dua mobil yang bukan miliknya. Dia kenal dengan salah satu dari mobil tersebut karena itu adalah milik Nareena tapi yang satunya lagi tampak sangat asing.
Anand masuk ke dalam rumah dan benar saja, di ruang tamu sedang banyak orang.
"Assalamualaikum..."
Semua orang menoleh. "Waalaikumsalam..." Jawab mereka bersamaan.
Di ruang tamu itu, ada Alsya, Nareena, Aly, mbak Nisa beserta suami dan ada satu lagi pria yang mirip dengan suaminya mbak Nisa, Affin.
Anand duduk di samping istrinya. Alsya dengan penuh kelembutan menyalami tangan suaminya. Sekilas Anand melihat reaksi Aly saat ini. Dari sikap Aly itu, dia menyimpulkan bahwa Aly sepertinya masih sedikit ada perasaan pada istrinya. Anand mencoba mengabaikannya kemudian matanya beralih pada pria kembaran suaminya mbak Nisa.
Pria itu langsung melengoskan wajahnya seolah tidak sanggup melihat kebersamaan antara Anand dan Alsya.
Sepertinya ada sesuatu pada pria itu. Anand hanya mengatakan di dalam hatinya.
__ADS_1
Anand menegakkan posisi duduknya. "Ada apa Nareen ?." Tanyanya karena sangat penasaran.
"Anand, ada yang ingin kami bicarakan denganmu."
Anand memperhatikan wajah semua orang yang terlihat seperti sedang cemas, dan hanya Alsya yang terlihat masih tenang. "Iya, silahkan." Jawab Anand kemudian.
Affan menarik nafasnya dalam-dalam kemudian melihat ke arah Anand. "Sebelumnya, saya sebagai meminta maaf pada kamu, Anand. Ini menyangkut adik saya dan adik kamu." Ucap Affan akhirnya.
Anand melirik pria yang yang dimaksud Affan. "Fyzha ?."
Affan mengangguk.
"Kenapa dengan mereka ?."
Affan meminta Affin untuk bicara tapi Affin malah menggeleng, alhasil Affan lagi yang menjawabnya. "Saat ini Fyzha sedang dirawat di rumah sakit karena ulah adik saya."
"Apa ?!." Pekik Alsya dan Anand bersamaan.
"Kenapa Fyzha sampai masuk rumah sakit ?." Kali ini tatapan mata Anand hanya tertuju pada Affin.
"Maaf, tadi siang kami mengadu ilmu beladiri, dan saya melukainya sehingga dia mengalami pendarahan."
"Apa maksudnya, pendarahan ?." Kali ini Alsya ikut bicara. Dia juga memandang wajah Affin.
Sesaat tatapan mata keduanya bertemu dan mereka saling terdiam. Anand memperhatikan tatapan mata Affin yang memang tersirat sesuatu yang mendalam terhadap Alsya.
"Anand, selama ini Fyzha menyembunyikan hal besar dari kita. Fyzha sedang hamil dan karena kejadian tadi siang, dia mengalami keguguran."
Degg.
Anand rasanya tak sanggup mendengar kabar itu. Dia merasa telah gagal pada adiknya. Dia terlalu membebaskan Fyzha sehingga Fyzha harus mengalami keadaan seperti itu.
Adiknya, telah berbuat hal yang tak terduga. Anand meraup wajahnya sendiri dengan kasar. Dia menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Dan dia merasakan usapan lembut tangan istrinya di lengannya.
Anand menatap wajah teduh istrinya. Alsya menggeleng seolah mengatakan bahwa Anand tidak boleh menyalahkan dirinya sendiri. Anand tak sanggup menahan air matanya. Dia langsung menubruk tubuh istrinya dan menumpahkan air matanya di pundak sang istri.
Sebagai seorang istri, Alsya bisa merasakan bagaimana sakitnya hati suaminya itu. Dia sangat mengenal suaminya yang memang bisa menjadi cengeng jika itu menyangkut orang-orang tersayangnya.
Anand memang paling bijak dalam memberi nasihat jika istrinya sedang memiliki masalah, Anand juga sangat pandai membuat Alsya kembali tersenyum jika istrinya itu sedang banyak pikiran. Tapi jika dalam posisi seperti ini, maka peran itu disematkan pada Alsya. Alsya menjadi istri yang sabar menenangkan hati suaminya dengan kelembutan sikapnya.
Alsya mengusap-usap punggung suaminya.
Jangan lupakan reaksi dua pria yang melihat adegan itu. Dua pria yang pernah menjadikan Alsya sebagai penghuni di dalam hatinya. Dua pria yang hingga saat ini masih memiliki perasaan khusus terhadap Alsya. Dua pria yang mengalami kisah cinta tragis dalam versi berbeda. Affin dan Aly.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit untuk menemui Fyzha." Ucap Alsya yang langsung diangguki oleh semua orang.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓