Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Firasat


__ADS_3

Cuaca sedikit malam ini sedikit mendung disertai angin kencang. Alsya baru pertama kalinya merasakan keadaan demikian karena dulu saat di Jakarta tidak pernah sekalipun ada angin yang katanya normal ini, padahal sangat menakutkan.


Alsya mengecek semua pintu dan jendela, memeriksanya apakah sudah terkunci semua lalu kembali ke kamar dan bergabung tidur bersama Fazal.


Tangan Alsya mengusap lembut perut sang putra yang sedang terlelap tenang. Entah mengapa, Malam ini Alsya begitu merindukan putranya yang pertama. Sudah sebulan dia tidak pernah bertemu dengan Hafidzh, bahkan untuk sekedar berkomunikasi lewat telepon pun tidak pernah.


Entah siapa yang egois disini, Alsya ataukah Aly?. Yang jelas, dua-duanya bahkan tidak ada tindakan sama sekali untuk sekedar mengetahui kabar sang putra.


Saat ini, fazal sudah menginjak umur dua bulan, tubuhnya semakin gembul dan tambah menggemaskan saja.


Alsya melirik ke arah gorden jendela yang berkibar-kibar semakin kencang saja. Angin di luar seperti nya semakin besar karena kata tetangga, angin ini adalah angin datangnya musim kemarau. Suara gemuruh pepohonan juga terdengar jelas sekali bahkan sampai membangunkan tidur nyenyak Fazal.


Fazal membuka matanya dengan sempurna tapi tidak menangis sama sekali.


"Sayang... Kamu terganggu yaa tidurnya ?." Ujar Alsya lembut lalu mengangkat tubuh mungil putranya ke atas pangkuannya.


Alsya menatap lekat wajah Fazal yang ternyata langsung mengingatkan dirinya terhadap sosok Hafidhz. Rasa rindunya pada sang putra semakin menjadi-jadi saat dia merasa perasaannya tidak tenang.


"Ya Allah... Ada apa dengan putra ku ?.. Apa dia juga sedang merindukanku ?. "Gumam Alsya menatap kosong mata Fazal.


Di waktu yang sama namun ditempat berbeda. Seorang pria tampak sangat gelisah dan hampir frustasi. Dia tidak pernah melihat sang buah hati sakit sampai sedemikian mengkhawatirkan.


Pria itu tidak lain adalah Aly. Saat ini Aly sedang dirundung gelisah yang hebat sebab Hafidhz tiba-tiba mengalami demam tinggi. Hafidhz sangat rewel dan terus menangis meskipun dalam keadaan tertidur.


Aly semakin kalap saat tubuh putranya semakin panas. Dia tidak bisa berpikir jernih dan langsung membawa sang putra keluar rumah menuju rumah sakit. Tidak sempat memikirkan keadaan malam yang hampir larut.


"Kamu menyusul bersama Rey !. Dan kamu jaga Chayra selama saya pergi !." Ujar Aly pada kedua baby sitter anak-anaknya dengan sangat terburu-buru. Mereka mengangguk patuh.


Aly segera menggendong tubuh Hafidhz dan memasukkanmya ke dalam mobil. Perjalanan sangat diburu-buru sebab rasa khawatirnya yang semakin menjadi-jadi.


Aly melirik ke arah sang putera yang didudukkan di kursi samping kursi pengemudi.

__ADS_1


"Ummi... Hiks... Ummi..."


Ceracauan Hafidzh membuat Aly tertegun. Dia langsung teringat terakhir kali mereka bertemu dengan Alsya yang ternyata sudah sebulan lebih. Aly menatap bersalah pada sang putra karena tega memisahkan antara anak dan ibunya itu.


Entah mengapa Aly merasakan matanya panas dan tidak lama setetes air mata telah meluncur dari sudut matanya.


"Al... Maafkan aku... Maafkan aku..." Ceracau Aly merasa sangat bersalah pada sosok wanita yang dulu sangat dicintainya, sosok yang pernah mengisi hidupnya selama beberapa tahun.


Aly tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis terisak-isak karena penyesalan yang mendalam terhadap Alsya. Selama ini Aly telah egois dan tidak pernah berpikir jauh hingga sampai membohonginya.


Yang saat ini dia rasakan hanyalah penyesalan yang teramat sangat. Dia menyesal telah berbohong pada Alsya. Dia menyesal karena terlalu bodoh saat sang kyai memintanya untuk mengambil alih tanggung jawab putrinya. Dia sangat menyesal karena ulahnya, dia telah merusak kebahagiaan anak-anaknya.


Air mata membuat pandangan mata Aly menjadi kabur dan buram. Aly sedikit tidak bisa melihat keadaan di depan.


Aly kembali melirik ke arah Hafidhz yang wajahnya semakin pucat membiru dan itu membuat Aly semakin panik.


Aly menyentuh tangan sang putra dan sedikit terkejut karena suhu tubuh putranya yang sangat panas.


Sorot cahaya yang memancar dari depan membuat Aly reflek melepaskan genggaman tangannya di tangan Hafidzh dan memindahkannya menutup wajah karena silau dan saat menyingkirkannya kembali, dia langsung reflek membanting setir mobil ke kiri, Dan hal diluar ekspektasi malah terjadi.


Brugg !!


Aly dan Hafidhz terhuyung ke depan dengan gerakan yang sangat keras bersamaan dengan suara dentuman keras yang terjadi pada awak mobil karena menabrak sesuatu.


Aly merasakan seluruh tubuhnya sangat sakit. Dia menoleh pada Hafidhz yang masih menutup matanya tapi kepalanya terlihat terluka parah dan mengeluarkan darah segar. Wajah sang putra juga terlihat ada luka karena pecahan kaca.


Aly mengulurkan tangannya menyentuh wajah sang putra.


"Ummi... Afidhz... sayang ummi..." Hafidhz berkata lirih di dalam bawah sadarnya.


Mendengar itu, Aly merasa hatinya langsung dihantam keras. Sakit dan nyeri segera menyerang tubuhnya. Aly membeku tak berdaya.

__ADS_1


"Maafkan Abi, Hafidhz... Maafkan..." Aly belum sempat menyelesaikan ucapannya kesadarannya lebih dulu menghilang.


Keadaan Aly tidak lebih baik dari Hafidhz. Bahkan lebih parah. Kaki Aly tertekuk di penyangga kursi yang sudah pasti terkilir hebat. Wajah Aly juga sudah tak karuan, banyak luka karena serpihan kaca yang telah hancur dan berlumur darah.


Tangan dan beberapa bagian tubuh Aly juga tak elak dari pecahan kaca tersebut.


"Ummi... Abi..." Rintih Hafidhz kembali yang sudah tidak bisa di dengar Aly.


Hafidhz juga mulai hilang kesadarannya. Tubuh mungil itu yang tadi menggigil hebat karena demam tinggi kini telah tenang bagai air danau. Nafasnya perlahan berhembus teratur.


Dalam keadaan panas yang seharusnya diobati, Hafidhz kecil malah diberi keadaan yang lebih parah dari sebelumnya.


Keributan orang-orang terasa memekakkan telinga saat melihat kecelakaan itu. Mereka yang berani langsung sigap mengeluarkan tubuh korban yang masih ada di dalam mobil.


Aly dan Hafidhz dikeluarkan dari mobil oleh beberapa orang baik yang sukarela membantu. Keduanya juga langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa berlanjut. Dan itu juga tak lepas dari gotong royong warga.


Bersamaan dengan dilarikannya kedua korban tersebut, mobil sedan yang telah sudah tidak dalam bentuk beraturan itu tiba-tiba meledak hebat dan disusul dengan datangnya beberapa petugas kepolisian.


Saat sampai di rumah sakit, beberapa pegawai rumah sakit langsung sigap menangani. Membawa keduanya ke dalam ruang IGD dengan kamar yang berbeda.


Operasi Pembedahan juga langsung dilakukan untuk mengambil serpihan-serpihan yang telah melukai tubuh pasien nya.


Di dalam kamar yang berisi Aly dan Hafidhz dilakukan hal yang sama, nemuin pada langkah selanjutnya, tenaga medis telah memberhentikan tindakannya pada Hafidhz. Mereka semua hanya bisa menghembuskan nafas berat, pasrah terhadap ketentuan Sang Maha Kuasa.


Ada dari salah satunya, tampak menitikkan air mata saat menyaksikan seorang anak kecil yang kini telah terbaring lemah karena sebuah kecelakaan. Dia tidak menyangka jika kehidupan anak itu berakhir dengan cara yang tragis.


Pengumuman tentang kematian Hafidhz mulai terdengar di setiap bangsal rumah sakit, termasuk di ruangan tempat Aly mendapatkan penanganan.


Beberapa tenaga medis tampak saling melempar tatapan. Mereka juga menyayangkan keadaan anak kecil yang mungkin adalah anak dari pasien yang sedang mereka tangani.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓

__ADS_1


__ADS_2