
Kamar inap alsya semakin dipadati oleh anggota keluarga setelah kedatangan kedua orang tua Anand tepat sebelum Maghrib.
Aryan datang dan langsung mengendong cucu laki-lakinya yang menurut ucapan Anand adalah anak pertama dan Ningrum mengambil bayi laki-laki satunya lagi yang merupakan bayi kedua. Dan untuk bayi ketiga, Zahwa tidak pernah lepas dari pangkuan sang ibu karena Alsya sangat menyayanginya sebab dia adalah putri satu-satunya saat ini.
"Masya Allah... Cucu Oma ganteng sekali... Umhh. " Ningrum tak henti-hentinya memuji paras wajah cucunya yang kelewat ganteng.
"Jagoan kakek juga ganteng ini." Seru Aryan pada istrinya.
Ningrum langsung menghentikan kegiatannya menciumi wajah cucu yang digendongnya. "Loh, kok kakek sih mas ?, Opa gitu !." Seru Ningrum mengoreksi penggilan untuk cucunya.
"Itu kamu aja yang mau, aku mah pengennya dipanggil kakek aja."
"Yah gak boleh begitu dong mas, nanti gak sama masa ?."
"Yah kamu aja yang ganti jadi nenek, biar sama."
"Lah aku toh seneng panggilan Oma, mas. Mas Aryan mawon lah yang ganti ."
"Yoh mboten mekoten, lah wis aku pokoknya pengen dipanggil kakek. Kalau kamu gak mau ganti ya udah."
Abah dan Umma hanya melongo melihat tingkah kedua besannya, begitupun yang lainnya kecuali Anand dan Fyzha yang malah terkekeh melihat tingkah kedua orang tuanya.
Perdebatan itu masih bisa dimengerti karena intinya adalah tentang panggilan yang tidak sama, tapi ketika sepasang suami istri usia senja itu mengatakannya dengan menggunakan bahasa Jawa, semua orang hanya bisa menjadi penonton setia.
Alsya menyenggol lengan Anand. "A', ayah sama ibu kenapa sih ?."
"Tidak apa-apa, sayang. Mereka hanya meributkan nama panggilan aja."
"Yah, gak harus sampai ribut kan, A' ?."
Anand terkekeh. "Biarkan saja, nanti juga selesai sendiri." Ucap Anand tak perduli.
Anand mencondongkan tubuhnya dan memandang wajah cantik Putrinya yang tertidur nyenyak di pangkuan Alsya. "Cantik sekali seperti Umminya." Ucap Anand lirih sambil tangannya membelai lembut pipi merah putrinya.
Wajah Alsya langsung bersemu merah mendengar ucapan Anand barusan. "Hidungnya mirip Aa'." Alsya berucap dengan matanya yang juga fokus pada wajah putrinya.
"Bibirnya sama kaya kamu." Anand menegakkan kembali posisi tubuhnya.
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan tatapan mata yang sangat dalam dan penuh cinta dan kasih sayang. "Dan semoga sikapnya juga adalah cerminan kamu."
"Dan untuk kedua jagoannya, semoga memiliki sikap kasih sayang sama sepertimu."
Keduanya saling melempar senyuman manis yang tiada bandingnya.
"Dia akan menjadi kakak
__ADS_1
Mereka yang ada di sekitaran sana hanya bisa tersenyum melihat adegan romantis itu. Tidak ada lagi rasa cemburu di hati Aly ataupun Affin saat melihat Alsya sudah bahagia dengan kehidupan barunya bersama orang lain. Karena, mereka pun telah menemukan tambatan hati sendiri yang juga sama spesialnya di dalam hati.
Affin menatap wajah cantik istrinya dengan sangat dalam. Tatapan penuh cinta dan kasih sayang yang hanya akan dia berikan untuk istrinya dan calon anaknya kelak.
"Terimakasih telah menjadi obat lukaku, sayang." Ucap Affin tulus.
Fyzha menanggapinya dengan senyuman dan anggukan kepala. "Terimakasih karena mau bersabar menungguku." Ucapnya yang juga tulus.
Keduanya masih tersenyum kemudian saling memeluk erat satu sama lain. Affin mencium kening istrinya lama. "I love you istriku." Ucapnya serius.
"I love you too, suamiku."
Di sisi Aly dan Nareena juga tak kalah hangatnya. Keduanya sedang berpelukan mesra dengan perasaan yang dipenuhi cinta yang sedang bermekaran.
"Apa setelah ini kamu mau melakukan USG sayang ?." Tanya Aly kemudian.
Nareena mendongak menatap wajah suaminya. "Tidak." Jawabnya yakin.
"Kenapa ?."
"Biarkan itu menjadi kejutan nanti."
"Tapi aku penasaran."
Aly menghembuskan nafasnya perlahan. "Baiklah, apapun yang kamu inginkan, jika aku masih sanggup akan aku turuti."
"Jika tidak sanggup ?."
"Akan aku usahakan untuk menyanggupinya."
Nareena tersenyum cerah lalu menelusupkan wajahnya lagi di dada bidang suaminya. "Terimakasih, mas."
Tidak taukah Nareena, jika sikapnya ini sama persis seperti saat Alsya dahulu yang ketika hamil anaknya Aly tidak pernah mau melakukan USG pada masa-masa kehamilannya dan baru mau melakukannya setelah mencapai usia sembilan bulan. Itupun karena untuk melihat kondisi bayinya sebelum dilahirkan.
Entah apa itu faktor dari benih yang dititipkan Aly, atau memang hanya kebetulan saja.
Pada pasangan yang sudah lama pun sedang merasakan bunga-bunga cintanya yang semakin meningkat di usia mereka yang telah senja.
"Gak kerasa ya bah ?, Cucu kita sudah banyak." Umma menatap wajah Abah dengan penuh perasaan cinta.
"Iya Umma. Kita sudah tua, cucu kita sudah banyak. Padahal anak kita cuma dua ya umma ?." Abah terkekeh kecil.
Umma ikut terkekeh mendengar lelucon ringan suaminya.
Beralih lagi pada pasangan Aryan dan Ningrum. Keduanya saling menggenggam erat dengan hati yang dipenuhi rasa bersyukur karena penantian panjang mereka kini telah terbayar akan adanya tiga cucunya yang keluar dalam waktu yang sama.
__ADS_1
Putra putrinya telah menemukan kebahagiaan bersama keluarga barunya, itu sudah cukup bagi mereka karena itulah yang mereka inginkan dari dulu.
Anand sangat beruntung memiliki istri yang seperti Alsya di usianya yang sudah sangat dewasa seperti saat meminang Alsya. Dan Fyzha juga sangat beruntung karena memiliki suami yang begitu besar rasa kasih sayangnya seperti Affin.
Hidup keluarga besar yang penuh dengan perjuangan yang sangat besar pula.
Kembali lagi pada keadaan Alsya dan Anand yang masih dilanda rasa haru akan kehadiran bayi-bayinya.
"Kenapa Aa' memberi nama Zahwa ?." Tanya Alsya karena seakan kini dunianya hanya milik dirinya seorang dan suaminya.
Sebab yang lain juga sedang fokus pada pasangannya masing-masing.
"Karena aku suka, sebab itu juga nama kamu." Jawab Anand simpel tapi cukup membuat Alsya merasa sangat senang. "Bunga yang indahnya akan tersembunyi dan hanya akan dilihat oleh orang yang tepat saja. Sama seperti pemilik nama sebelumnya, umminya yang selalu tampak indah jika dilihat dari mataku." Bisik Anand melanjutkan ucapannya.
Alsya terkekeh kecil. Dia tidak menyangka jika dalam keadaan seperti ini pun suaminya itu masih saja menggombal.
"Ehh kok ketawa sih ?."
"Yah Aa' ngomongnya."
"Hmm, tapi bener loh itu, aku mengatakan seadanya kok. Kamu memang terlihat selalu sempurna di mataku, sayang..."
"Tidak ada makhluk yang sempurna, Aa' sayang."
"Memang, tapi kamu sangat terbaik menurutku. Buktinya, aku tidak pernah sekalipun tertarik pada yang lain sebelumnya, hingga membuatku harus melajang sampai umur 30 lebih."
Alsya menatap lekat wajah suaminya. "Pemborosan kata,."
Anand mengerjitkan alisnya bingung. "Maksudnya gimana ?."
"Sudahlah, tidak perlu di perpanjang. Oh ya, A', tadi siapa dulu yang keluar ?." Tanya Alsya karena teringat sesuatu.
Anand terdiam mengingat-ingat dan setelah beberapa saat dia kemudian tersenyum. "Kalau gak salah, yang perempuan dulu, terus baru kedua jagoan." Ucapnya menjawab.
Alsya menatap wajah suaminya seakan tidak percaya. "Beneran ?."
"Eee, hehe gak tau juga sayang, tadi aku tidak tega lihat ke bawah, aku hanya memandang wajah kamu saja saat proses tadi." Ucap Anand akhirnya mengaku. " Akan aku tanyakan pada dokternya saja, nanti."
Alsya mengangguk setuju. "Terserah Aa' aja."
Anand tersenyum senang. "Maaf ya sayang." Ucapnya lirih.
"Apanya yang harus dimaafkan sih A' ?, Kamu memang terlalu takut dengan darah, jadi aku memakluminya."
"Makasih, sayang..." Anand kembali mencium kening istrinya.
__ADS_1