Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Pulang


__ADS_3

Hidup adalah sebuah pilihan. Dimana, meski Tak ada yang baik menurut mu dari salah satunya pilihan itu. Namun, cobalah tetap untuk memilih, dan yakinlah jika pilihan yang telah kau ambil seakan-akan itulah yang paling tepat.


_-_-_-_-_--_-


Berita buruk itu sudah membuat Aly sangat terkejut, meski ternyata nyatanya tidak seperti yang dipikirkan oleh Aly sebelumnya.


Aly pikir jika sesuatu terjadi pada Alsya, istrinya itu. tapi ternyata dia salah karena yang benar-benar pergi adalah salah satu dari bayi kembarnya.


Alsya mengandung dua bayi Kembar tak seiras yaitu bayi laki-laki dan perempuan, dan karena kecelakaan itu ternyata bayi perempuan mereka tidak selamat bahkan sudah meregang nyawa di dalam perut Ibundanya. Dan bayi satunya lagi yang terlahir lemah hingga hari ini pun, kini sedang dalam pemeriksaan oleh para dokter spesialis anak untuk mengetahui lebih dalamnya lagi karena takut terjadi sesuatu pada bayinya itu.


Aly perhatikan wajah Alsya yang terlihat sangat pucat. Meski Alsya sudah membuka matanya, tapi Alsya tidak bereaksi apapun kala ada yang menyapa ataupun menghampirinya. Alsya terus terdiam dengan pemikirannya sendiri juga dengan tatapan mata kosong menatap hampa.


Aly ingin mendekati tubuh rapuh itu tapi kakak iparnya melarang keras. Entah kenapa kakak iparnya itu sampai bersikap demikian padanya dan orang lain seperti Affin bahkan diizinkan untuk mendekati istrinya itu.


Adakah sesuatu yang membuat mbak Nisa sampai sebenci itu pada Aly?. Itulah sekiranya yang terbesit di pikiran Aly.


"Ly, ayo pulang dulu ?!." Ucap Ibunya yang ternyata sudah ada di samping Aly. Ibunya baru saja menghampiri Alsya bahkan memeluk menantu kesayangannya itu.


" Tidak Bu. Aly masih ingin disini. " Jawab Aly masih enggan untuk bangkit dari duduknya dan mata masih terfokus pada wajah Alsya.


"Dari kemarin kamu belum pulang ke rumah, Ly. Kamu butuh istirahat. " Ujar ibunya lagi.


Aly mendongak menatap wajah ibunya dalam diam. Di yakin bahwa semua orang sedang menyembunyikan sesuatu padanya saat ini, begitupun dengan keluarganya sendiri.


"Ibu, apa yang kalian sembunyikan dariku sebenarnya ?."


"Kami tidak menyembunyikan apapun." Elak ibunya yang malah semakin membuat Aly penasaran.


Aly mendengus kesal lalu bangkit dan pergi begitu saja meninggalkan ibunya yang sedang menatapnya dengan pandangan tak karuan.


Aly ingin menenangkan diri. Dia pergi dengan menggunakan mobilnya ke tempat yang selalu membuatnya merasa nyaman dan damai dan disana pula salah satu Bidadarinya berada.


Sudah seminggu dari dimana Aly pergi dengan langkah tergesa-gesa meninggalkan Halimah yang melihatnya dengan raut wajah kebingungan. Aly juga lupa tak memberi kabar pada Halimah selama seminggu ini. Entah, masih pantaskah Aly menghadapi wajah istrinya itu setelah dengan tega meninggalkannya dalam keadaan masih lemah, terbaring di atas tempat tidur.


Mobil Aly terparkir rapi di teras rumah ndalem. Aly segera masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar istrinya. Dia sangat membutuhkan kehadiran sosok istri yang selalu bisa menyejukkan hatinya itu. Dia ingin melihat wajah teduh istrinya yang selalu tersenyum lembut tatkala dirinya sedang di rundung masalah.


"Assalamualaikum..." Ujar Aly sambil kakinya melangkah masuk ke dalam kamar.


Sosok pertama yang terlihat di penglihatannya adalah bayinya yang kini sedang terbaring di atas tempat tidur. Aly edarkan pandangannya mencari sosok istrinya yang entah pergi kemana.


"Assalamualaikum, putri Abi..." Ucap Aly lirih menyapa putrinya dan mendaratkan kecupannya di kening dan pipi putrinya.


"Waalaikumsalam.." sebuah suara yang mengagetkan menjawab.

__ADS_1


Aly segera menoleh. Senyumannya langsung merekah saat melihat wajah ayu istrinya. Halimah juga terlihat langsung melebarkan senyumannya. Keduanya berjalan dalam diam dan bertemu dengan mata yang terkunci dalam. Aly langsung memeluk erat tubuh mungil istrinya dan tanpa terasa air matanya mengalir ke pipinya bahkan mulai membasahi pundak sang istri.


Tangan Halimah mengusap-usap punggung suaminya agar lebih tenang. Halimah tahu apa yang sedang terjadi pada suaminya itu.


"Kita duduk, mas.." ujar Halimah lembut.


Halimah menuntun Aly untuk duduk di tepi ranjang. Tangan Halimah masih terus mengusap-usap lembut punggung suaminya.


"Apa yang harus aku lakukan, dek ?. Aku Bingung... Demi Allah, aku bingung harus bersikap bagaimana...? Aku tidak sanggup menjalaninya..." Ceracau Aly di sela-sela tangisnya.


"Tenanglah dulu, mas... Jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu..." Ucap Halimah begitu sabar menghadapi sikap suaminya saat ini.


Halimah bahkan tahu sebab kenapa suaminya menangis sampai sedemikian rapuh yaitu menangisi istri pertamanya.


Sebenarnya, jika dikatakan, hati Halimah sudah terlalu dalam jatuh terperosok pada sosok suaminya itu. Dan melihat keadaan Aly yang seperti ini, ada sisi kecil di sudut hati Halimah merasa perih namun dia juga tidak bisa egois apalagi mementingkan diri sendiri sebab dia tau, jika suaminya itu lebih sangat mencintai istri pertamanya, sahabatnya.


Aly mengangguk masih memeluk erat tubuh istrinya. Setelah menangis untuk waktu yang cukup lama, akhirnya Aly kembali mengangkat wajahnya dan menatap wajah istrinya yang kini sedang tersenyum manis ke arahnya.


"Kamu terlihat jelek dengan kondisi seperti ini, mas." Seloroh Halimah sambil jemari lentiknya mengusap sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi suaminya.


Aly seakan tidak bisa untuk tidak tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Aly tersenyum manis dan langsung mendaratkan kecupannya di kening sang istri. "Makasih, sayang..." Ucapnya tulus.


"Mandi gih. Terus sholat isya. Aku akan menyiapkan makanan kesukaanmu." Ujar Halimah penuh perhatian.


"Belum, mas."


"Ya sudah, aku mandi dulu." Aly menurut dan berjalan menuju pintu kamar mandi.


Memang selama seminggu ini Aly kurang memperhatikan penampilannya sendiri karena pikirannya terlalu sibuk terhadap kondisi Alsya juga bayinya. Tapi sekarang hatinya sedikit lebih tenang setelah menumpahkan keresahannya di pundak sang istri kedua.


Selagi Aly mandi, Halimah keluar dari kamar dan segera menyiapkan makanan untuk suaminya dibantu oleh dua khodam dapur yang langsung siap siaga saat melihat dirinya masuk ke ruang dapur.


"Mbak, bantu membuat makanan kesukaan Gus Aly ya?." Ujar Halimah pada dua khodamnya yang langsung mengangguk patuh.


Mereka berdua memang sudah faham dengan menu yang biasanya khusus dibuatkan untuk Gus Aly.


Disaat-saat sedang memasak Halimah merasa bersalah di punggungnya. Sesekali dia menegakkan posisi berdirinya dan menepuk-nepuk punggunnya sendiri untuk mengurangi rasa ngilu disana. Hati Halimah langsung berdzikir tiada henti saat merasakan lagi keadaan yang selama bertahun-tahun ini sering dia rasakan.


"Ning, Ning Imah baik-baik saja ?." Tanya salah satu santri khodamnya dengan wajah khawatir.


Halimah menoleh lalu tersenyum. " Tidak apa-apa, mbak. Saya cuma sedikit lelah saja." Jawab Halimah terlihat santai dan tenang.


"Biar kamu saja yang memasak, Ning. Ning Imah duduk saja." Ujar salah satunya lagi.

__ADS_1


Halimah langsung menggeleng. "Tidak apa-apa, mbak. Kalian cukup membantu saja." Ucap Halimah Keukeh.


Mereka berdua terlihat mendesah pasrah lalu kembali pada tugasnya masing-masing.


Beberapa saat kemudian, makanan sudah tersaji di meja makan. Halimah memanggil suaminya yang kebetulan ternyata keluar dari kamar. Keduanya melangkah menuju ke meja makan. Halimah begitu telaten menyiapkan makanan untuk suaminya dan meletakkannya di hadapan sang suami.


Halimah duduk di kursi samping Aly dan berniat mengambil piring untuk makanannya sendiri namun Aly segera mencegahnya.


"Sepiring aja, dek." Ucap Aly lembut.


Halimah hanya bisa mengangguk patuh "iya, mas ." Jawabnya.


Dan akhirnya mereka makan dengan satu piring berdua dalam keadaan hening dan sepi.


Usai makan, Halimah langsung membereskan meja makan.


"Mas Aly mau tidur disini ?." Tanya Halimah saat keduanya sudah kembali berada di dalam kamar.


"Entahlah. Aku juga bingung." Jawab Aly, kembali dengan wajah mulai murung.


Halimah membawa tangan suaminya ke atas pangkuannya dan mengusapnya lembut. "Istirahatlah, mas. Jangan menyiksa dirimu sendiri." Ujar Halimah penuh perhatian.


"Maafkan aku, dek. Selama ini kamu harus yang selalu mengalah."


"Tidak, mas. Aku tau mas Aly sudah berusaha semaksimal mungkin selama ini. Akulah yang salah disini, karena hadir di dalam kehidupan kalian berdua."


"Kamu gak salah Imah. Sudah aku katakan, kamu tidak salah sama sekali disini." Ujar Aly seakan sangat membenci ucapan istrinya barusan.


Halimah menunduk lalu mengangguk. "Iya, mas." Ucapnya lirih.


Aly membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Jika sesuatu terjadi nanti, kamu harus bersiap ya dek. Dan, maaf jika nanti kamu harus melihat aku seperti orang bodoh yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi." Ucap Aly sambil matanya menerawang jauh entah kemana.


Halimah semakin mempererat pelukannya. "Insya Allah, aku siap apapun yang terjadi nanti, mas. Tapi aku mohon, jika suatu hari nanti terjadi padaku, jangan bedakan anakku dengan anak Alsya ya mas." Halimah mengatakan demikian bukan karena apa-apa. Dia hanya takut jika nanti kasih sayang Aly akan berbeda untuk putrinya.


"Tentu saja. Mereka adalah anak-anakku, aku tidak akan pernah membeda-bedakan antara mereka." Ucap Aly sungguh-sungguh.


Halimah mendongak, menatap lekat wajah suaminya sambil tersenyum. "Makasih, mas." Ucapnya tulus.


Aku mohon maafkan aku, yang selama ini menyembunyikan hal besar darimu.


Tapi satu hal yang harus kamu tahu, bahwa anak kita, akan menjadi anak yang istimewa di kemudian hari...


✓✓✓✓✓✓✓

__ADS_1


__ADS_2