
Waktu berangsur tanpa jeda dan bergerak tanpa lelah pula. Kala waktu subuh mulai berkumandang, Alsya dan Aly bangun dari tidurnya dan segera melakukan sholat subuh berjamaah seperti biasanya.
Hari ini Aly akan berangkat bekerja di perusahaan miliknya seperti yang telah diucapkan pada Alsya malam tadi.
Selesai sholat, Alsya keluar kamar dan mulai berkutat di dapur untuk membuat sarapan. Sering kali Aly melarang Alsya untuk mengerjakan tugas rumah, sebab sudah ada pegawainya. Namun, Alsya tetap bersikeras untuk menyiapkan makanan juga keperluan suaminya selagi dirinya bisa mengerjakannya kare dia ingin mendapatkan keberkahan dengan melayani suaminya sendiri. Meski begitu, pegawai rumah juga masih ada membantunya agar Alsya tidak terlalu kelelahan.
Aly keluar dari kamar dan melangkah menuju meja makan yang sudang terhidang beberapa makanan yang telah dimasak oleh Alsya.
Alsya menyiapkan makanan ke piring Aly dengan telaten. "Mas, aku ke kamar dulu, ya ?. Mas bisa makan duluan." Ucap Alsya setelah selesai menyiapkan makanan suaminya.
"Mau ngapain ke kamarnya ?."
"Sebentar kok. Mas makan duluan aja ya." Ucap Alsya langsung beranjak menuju kamar.
"Mas akan nunggu kamu aja. Kita makan bareng." Ujar Aly dengan suara sedikit meninggi karena Alsya yang sudah menjauh.
"Iya, mas." Jawab Alsya dengan suara yang juga sedikit ditinggikan.
Saat tubuh Alsya sudah sampai di kamar, Alsya langsung mengambil pakaian di lemari dan membawanya masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Alsya keluar dari kamar lagi dan menghampiri Aly yang setia menunggunya di meja makan.
"Ada apa, sayang ?." Tanya Aly dengan raut wajah cemas.
"Tidak ada apa-apa, mas. Aku cuma mau ganti baju soalnya tadi pakaianku kotor karena masak."
Aly perhatikan pakaian Alsya yang memang sudah berbeda dari sebelumnya. "Oh, kirain ada apa-apa." Ucap Aly yang mulai bernafas lega sebab tidak terjadi hal yang sempat di pikirkannya.
"Iya, mas."
"Ya udah, kita makan, ya ?."
"Iya."
Keduanya mulai menyantap makanan yang sudah dihadapan masing-masing. Alsya sedikit terkejut sebenarnya, saat melihat piringnya telah di isi. Dia faham ulah siapa itu jika bukan suaminya sendiri yang memang sangat memanjakannya.
Keduanya makan bersama tanpa saling bicara sebab sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri-sendiri.
"Mas berangkat dulu, ya ?." Ucap Aly saat sudah siap untuk berangkat ke kantor dan memeluk sebentar tubuh istrinya juga tak lupa mengecup singkat kening Alsya.
"Hati-hati dijalan, mas. "
"Iya. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Aly pacu kendaraan beroda empatnya pergi dari halaman rumah dan membelah jalanan beraspal menuju perusahannya yang sangat jarang dia kunjungi karena kerap kali lebih fokus pada tanggung jawabnya di pesantren.
Baru berangkat ke kantor, ternyata Aly sudah dijadwalkan untuk melakukan pertemuan dengan salah satu kolega bisnisnya di sebuah restoran.
Bersama asistennya, Aly berangkat ke tempat pertemuan. Dan setelah sampai, ternyata dia dikejutkan dengan seseorang yang dulu pernah berurusan dengannya, yang kini sebagai kolega bisnisnya.
Tatapan keduanya saling menghunus satu sama lain, namun karena harus mengesampingkan urusan pribadi, jadi mereka mencoba bersikap profesional dan akhirnya pertemuan berjalan dengan lancar.
"Mari, tuan Dimas..." Ujar Aly dengan senyum kaku saat berpamitan untuk pulang lebih dulu.
"Iya, tuan Aly." Dimas menjawabnya dengan senyuman manisnya namun terlihat ngeri di mata Aly.
Aly tak ingin menghiraukan pria itu lagi, dia memilih keluar dari restoran, masih bersama dengan asistennya.
"Farhan, kamu bisa duluan ke kantor. Saya ada urusan dulu sebentar." Ucap Aly saat keduanya sampai di tempat parkiran.
"Baik, pak. Kalau begitu saya duluan. Assalamualaikum." Ucap asistennya lalu beranjak menuju ke mobilnya sendiri.
"Iya, waalaikumsalam." Jawab Aly yang juga langsung pergi ke suatu tempat dengan mobilnya.
Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, akhirnya Aly sampai di sebuah kafe tempatnya akan bertemu seseorang. Aly segera masuk ke dalam bangunan yang diselubungi oleh harum kopi tersebut dan mencari kursi yang sudah dihuni, katanya.
Senyum Aly merekah saat melihat wajah ayu Halimah yang menyambutnya dengan senyuman manisnya. Halimah berjalan menghampiri Aly dan langsung menyalami tangan suaminya yang sudah lama tak dia sentuh.
"Assalamualaikum."
Aly mencium kening Halimah lalu mengajaknya untuk kembali duduk di kursi, memesan minuman yang tersedia di kafe yang merupakan kesukaannya sedangkan pesanan Halimah sudah berada di atas meja.
"Bagaimana keadaan Alsya, mas ?."
"Alhamdulillah, Alsya baik-baik saja. Cuma sekarang-sekarang dia sering merasakan perutnya keram tiba-tiba."
"Alsya sudah akan melahirkan, kan mas ?."
"Iya, minta doanya aja, biar prosesnya lancar dan keduanya selamat, ya ?."
Halimah tersenyum. "Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Alsya dan calon buah hati kalian, mas." Ujarnya tulus.
Aly tersenyum senang mendengarnya, dia sudah sejauh ini telah mencintai Halimah, sama seperti cintanya kepada Alsya. Mereka berdua memang memiliki daya tarik tersendiri yang membuat Aly semakin jatuh cinta saja.
Aly pandangi wajah teduh dan sejuk itu dalam-dalam, dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya yang satu ini, sebab meski Halimah adalah sosok yang cerewet namun Halimah selalu memendam perasaannya sendiri meski itu sepertinya beban yang berat.
Aly tahu semuanya sebab Halimah memang kerap kali bersikap demikian sehingga Aly yang memang orangnya kurang pahaman tidak bisa sama sekali menebak apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu.
"Dek." Panggil Aly masih dengan menatap lekat wajah istrinya.
__ADS_1
"Hem ?."
"Kamu menyembunyikan sesuatu dari mas ?."
Halimah tersenyum lalu menggeleng.
"Dek, mas tahu kamu sedang memiliki beban pikiran. Tolong jangan suruh mas menerka-nerka, karena mas tidak pekaan."
"Hmm, mas. " Halimah menatap ragu wajah suaminya.
"Yah ?."
"Kapan kita akan memberitahu Alsya, mas ?." Ucap Halimah serius.
"Apa kamu yakin, akan memberitahu Alsya ?."
Halimah terdiam. "Aku takut sama rekasinya, mas. Alsya pasti akan sangat kaget nantinya.." ujar Halimah mulai sendu.
"Mas juga bingung, dek." Aly juga mulai murung.
"Mas, kita sudahi aja ya, pernikahan kita. Aku gak sanggup jika harus melihat Alsya malah membenciku..." Ucap Halimah, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku nggak tega sama Alsya, mas... Sudah, cukup mas Aly membagi waktunya untuk bersamaku. Kembalilah, mas. Aku mohon, lepaskan aku..." Ucap Halimah mulai terisak.
Aly langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Halimah lalu memeluknya erat. "Tidak, dek. Mas tidak akan melepaskan kamu. Kamu istri mas, mas tidak akan melepaskanmu, mas sudah mencintaimu..." Ucap Aly, dia usap lembut punggung istrinya.
"Mbak Imah ?!." Pekik seseorang yang baru datang.
Aly dan Halimah langsung menoleh ke arah suara.
_____________
"Kenapa, Ra?." Tanya gadis disampingnya.
"Lihat, bukankah itu suami Alsya ?." Ucap gadis lainnya yang tidak lain adalah sahabat baru Alsya, Zahra.
Kedua gadis itu kebetulan juga sedang mengunjungi kafe untuk sekedar merehatkan pikiran.
Keadaan Zahra yang sudah tidak berbadan dua memang telah membuat Zahra kembali beraktivitas seperti biasanya yaitu jalan-jalan bersama sahabatnya yang bernama Lily, layaknya anak remaja lainnya.
"Iya, itu suami Alsya. Sedang sama siapa ya ?. Kok itu sudah kaya sepasang suami istri aja." Decak Lily yang melihat adegan dua sejoli yang tak lazim itu, sebab Lily juga tahu jika Aly adalah suami sahabat dari sahabatnya itu. "Ehh, Ra. Kamu mau kemana ?." Pekik Lily saat melihat Zahra melangkah mendekati sejoli itu.
"Aku tidak bisa membiarkan Aly selingkuh." Ucap Zahra sudah tersulut emosi.
Dari jarak yang sedikit jauh, Zahra mengehentikan langkahnya saat melihat wajah wanita yang sedang dipeluk oleh Aly itu. Zahra tidak pernah menyangka jika wanita selingkuhan suami Alsya adalah wanita yang sangat dia kenal, sangat malah.
"Mbak Imah ?!." Pekik Zahra dengan tatapan tajam.
__ADS_1
__________