Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Rutinan Pengajian


__ADS_3

Seminggu sudah Aly terbaring di ranjang rumah sakit dan belum ada tanda-tanda matanya terbuka.


Selama lima hari Aly mengalami koma setelah menjalani operasi darurat waktu itu. Ibunya senantiasa menemani Aly selama berhari-hari ini bergantian dengan suami dan juga anak perempuannya. Meski masih ada rasa kesal terhadap tindakan ceroboh Aly, bagaimanapun mereka adalah keluarganya yang saat ini adalah orang-orang yang sedang dibutuhkan Aly.


Namun satu Minggu ini juga kamar inap Aly dijaga oleh beberapa pihak keamanan yang telah diperintahkan oleh kakak ipar Alsya.


Setelah menyelidikinya, Aly memang telah berbuat ceroboh sehingga menyebabkan kecelakaan itu. Awalnya Aly mungkin karena terlalu panik saat mengetahui keadaan Hafidhz yang demam tinggi, tapi itu seharusnya tidak membuat Aly lengah saat perjalanan. Bahkan seharusnya Aly lebih fokus dalam mengemudi agar tidak terjadi kecelakaan.


Keluarga dari pihak Aly yang juga sama kecewanya terhadap Aly hanya bisa pasrah jika pihak keluarga Alsya melakukan tindakan demikian. Dimana meski Aly sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, Aly sudah berstatus sebagai seorang tahanan dan setelah sehatnya nanti dia akan di masukkan ke dalam pintu jeruji besi.


Di kediaman keluarga Alsya, sedang diadakan selamatan hari ke tujuh kematian Hafidhz. Semua kerabat berkumpul untuk mendoakan anak pertama Alsya itu. Dan meski sudah berusaha ikhlas, ternyata mereka kembali merasa kehilangan yang teramat sangat sehingga kembali menangis.


Dan hari ini juga, Affin akan kembali ke negeri orang untuk kembali fokus pada pendidikannya. Affin sudah mengetahui semuanya jika Alsya sedang berada di luar kota yang tidak ada satupun dari semua orang memberitahu dimanakah kota itu. Affin hanya bisa pasrah seperti yang lainnya yang tidak bisa mencegah keinginan Alsya untuk menenangkan dirinya itu.


Affin berangkat setelah selesai acara selametan Hafidhz diantar oleh kembarannya menuju bandara.


✓✓✓✓✓✓


Pagi Jumat yang penuh berkah. Untuk pertama kalinya Alsya ikut kajian rutinan yang diadakan oleh para tetangga rumahnya. Alsya yang merupakan anggota baru dan masih belum tau apa-apa hanya bisa ngikut dengan Mbak Mira yang juga orang yang mengajak Alsya untuk ikut kajian rutinan itu.


Alsya telah rapi dengan abaya longgarnya berwarna biru pastel juga sang putra yang berpakaian agamis berwarna sama dengannya.


Alsya menghampiri rumah mbak Mira, menjemputnya dan akan berangkat bareng. Saat sampai, ternyata mbak Mira beserta anaknya yang terakhir sudah lagi duduk di teras.


"Assalamualaikum..." Ujar Alsya ramah.


Mbak Mira langsung tersenyum dan menjawab salamnya. "Waalaikumsalam, langsung berangkat aja yuk ?!, Kebetulan kali ini rumahnya sedikit jauh, biar tidak terlambat." Ujar mbak Mira sambil bangkit dari duduknya.


"Baiklah, Mbak."


Keduanya berjalan beriringan sambil menggendong anak masing-masing. Benar yang dikatakan mbak Mira jika rumah yang mendapat giliran hari ini lumayan jauh, melewati sekitaran dua puluh rumah. Dan bagi Alsya yang tidak biasa jalan kaki jauh, rasanya kakinya sedikit pegal apalagi dia juga membawa Fazal yang tentunya menambah keram saja kakinya.


Mereka sampai di halaman rumah yang terlihat sangat luas dan berfurniture klasik, benar-benar rumah modern. Alsya kira di daerah pedesaan tidak ada rumah yang sebagus ini, tapi ternyata salah. Bahkan rumah ini terlihat paling besar diantara rumah lainnya.


Beberapa jemaah kajian yang lain juga pada berdatangan dari segala arah. Dan mereka pun sama, berjalan kaki bersama kawanan nya. Hanya satu-dua orang yang mengendarai motor.


"Assalamualaikum, Bu Mira..." Sapa ibu-ibu saat bertemu.


"Waalaikumsalam, Bu Nur..."


"Ohh, ada anggota baru ternyata ?." Wanita setengah baya itu tampak antusias menatap Alsya. "Orang pindahan ya neng ?." Tanyanya ramah pada Alsya.


Alsya mengangguk dan tersenyum. "Iya, Bu. Kebetulan baru sebulanan di Cirebon." Jawab Alsya sopan santun dengan tutur katanya yang lembut.


Wanita itu semakin melebarkan senyumannya saat mengetahui sikap Alsya yang sangat sopan santun dan menenangkan. Wanita tersebut mengulurkan tangannya. " Kenalkan, nama saya Nuriyah, panggil saja Bu Nur." Ujarnya.

__ADS_1


Alsya membalasnya. "Saya Alsya, Bu. Salam kenal..."


Bu nur tersenyum manis. Akhirnya setelah berbasa-basi, ketiganya masuk ke dalam rumah, tepatnya di ruangan khusus yang biasa dijadikan sebagai tempat pengajian rutinan. Disini juga tidak ada bangku dan semua orang duduk ngampar di lantai yang digelar permadani. Disana juga sudah mulai ramai oleh anggota pengajian yang telah datang lebih awal.


"Assalamualaikum..." Ujar ketiganya sopan.


Bu Nur dan mbak Mira menyalami satu persatu orang-orang yang telah ada di dalam dan Alsya mengikutinya dibelakang.


Semua orang tampak bingung dengan kehadiran Alsya yang merupakan anggota baru.


Mbak Mira mengajak Alsya duduk di tempat yang masih kosong sedangkan Bu nur sudah bergabung dengan ibu-ibu yang seusianya.


Ibu-ibu mulai penasaran dengan Alsya. Wanita muda yang memiliki putra tampan dan masih sangat kecil.


"Namanya siapa, neng ?." Tanya seorang ibu-ibu yang Alsya tidak kenal.


"Nama saya Alsya, Bu." Jawab Alsya ramah.


"Ouh, Alsya... Pindahan yaa ?."


Alsya tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Bu. Saya dari Jakarta."


"Masya Allah,... Pantesan bening banget kelihatannya.." seloroh salah satu dari mereka sambil tersenyum ramah pada Alsya.


Alsya hanya tersenyum menanggapinya.


Alsya sangat salut dengan kegiatan ini. Di tempatnya, dia tidak pernah melihat ada acara seperti ini jika bukan di pesantren. Ummanya yang merupakan anggota pengajian juga, tempat kajiannya hanya di satu tempat saja yaitu di masjid, dan semua anggotanya akan datang ke masjid itu. Berbeda dengan disini, yang tempatnya terus berpindah-pindah sesuai gilirannya masing-masing. Sangat unik !. Acara ini juga dikhususkan untuk para perempuan saja.


Seorang wanita keluar dari salah satu ruangan di rumah ini. Alsya sedikit terkejut saat melihat wajah wanita itu. Dia masih sangat ingat jika wanita itu adalah orang yang waktu itu dia tolong saat di toko sayuran.


"Mbak, itu siapa ?." Bisik Alsya pada mbak Mira.


Mbak Mira melihat ke arah tatapan Alsya. "Ouh, itu tuan rumahnya, Al. Namanya Bu Ningrum." Jawab mbak Mira.


Alsya mengangguk mengiyakan. Dan seorang wanita paruh baya, yang Alsya kira itu adalah ustadzah memulai acaranya.


Acara pembukaan membaca alfatihah, falaq-binnas dan Al-Ikhlas. Berlanjut dengan ayat kursi dan yasinan. Kemudian dilanjut lagi dengan pembacaan berzanji. Dan berlanjut lagi dengan ceramah dari ustadzahnya kemudian doa.


Acara inti berlangsung hingga dua jam setengah lamanya dan berlanjut makan bersama sebagai penutup.


Beberapa pelayan rumah tampak sigap membawakan berbagai macam lauk-pauk dan meletakkannya di meja khusus di pojok ruangan. Sebenarnya sebelum berangkat Alsya sudah makan, tapi karena semua orang makan, dia akhirnya mengambil meski sedikit karena perutnya masih sedikit kenyang.


Alsya bangkit dan mengambil makan layaknya di tempat hajatan, yaitu mengantri.


"Alsya ?!." Pekik suara itu membuat Alsya menoleh.

__ADS_1


"Masya Allah... Alsya, bener kamu Alsya, kan ?." Ujar wanita itu yang tidak lain adalah si tuan rumah.


Alsya tersenyum dan mengangguk. "Iya, Bu. Saya Alsya." Jawabnya lembut.


Ningrum langsung memeluk Alsya seakan telah lama tak berjumpa. Padahal hubungan keduanya tidaklah sampai sedekat itu. Tapi Alsya tetap bersikap sopan santun.


"Apa kabar, Bu ?." Tanya Alsya lembut.


"Alhamdulillah, saya baik, nak. Dan sekarang saya senang sekali karena bertemu denganmu lagi." Ujar Ningrum dengan raut bahagianya.


Alsya hanya tersenyum.


"Apa dia keponakan kamu ?." Tanya Ningrum saat melihat ke arah Fazal yang terlihat anteng-anteng saja dari tadi.


Alsya menggeleng. "Bukan, Bu. Dia anakku,." Jawab Alsya.


Raut wajah Ningrum tiba-tiba berubah sendu dan terlihat ada rasa kekecewaan di matanya. Tapi tidak lama, dia menyempatkan tangannya di pipi Fazal. "Wajahnya sangat tampan dan menggemaskan ." Ujarnya lirih seakan hilang semua kebahagiaan di wajahnya.


"Alhamdulillah, makasih, Bu. "


"Astaghfirullah!. Kamu mau ngambil makan yaa ?, Aduh, maafkan ibu yaa,." Ningrum tersadar jika dia telah membuat Alsya tidak jadi mengambil makanannya.


Alsya hanya tersenyum ." Tidak apa-apa, Bu." Jawab Alsya tidak ingin wanita dihadapannya itu merasa bersalah.


"Yah, kamu memang seperti itu, nak. Ayo, sana kamu ngambil makanannya dulu, atau sini anak kamu biar saya saja yang gendong biar kamu makannya tenang." Ujar Ningrum menawarkan.


"Ehh, tidak Bu. Jangan, nanti merepotkan, saya bisa makan sambil memangkunya." Tolak Alsya spontan.


"Kamu ini, sudah tidak apa-apa, saya tidak akan ngapa-ngapain anak kamu yang gemesin ini kok. Tidak apa-apa yaa, saya pengen banget gendong anak bayi karena kebetulan anak-anak saya masih belum bisa ngasih semua. " Ujar Ningrum sangat berharap agar Alsya memperbolehkannya.


Ningrum memang sangat menggembirakan bayi tampan yang di gendong Alsya. Dia juga berdoa dalam hatinya semoga cucunya nanti ada yang tampan seperti anak Alsya ini.


Alsya tidak enakan menolak lagi, jadi dia memberikan Fazal pada Ningrum.


Ningrum dengan hati-hati menggendong bayinya. "Uhh, kamu berat ya ternyata.." uajr Ningrum sambil terkekeh kecil.


"Maaf, Bu. Beneran tidak apa-apa Fazal saya titip dulu ?." Alsya masih ragu menitipkan fazal karena takut merepotkan.


"Ohh, namanya Fazal yaa. Bagus seperti orangnya. " Bukannya menjawab Ningrum malah semakin senang menatap wajah lucu Fazal.


Alsya hanya menggeleng melihat itu. Dia tidak menyangka jika Ningrum sedemikian sukanya dengan putranya.


"Sudah, sana kamu makan dulu. Fazal sama ibu dulu." Ucap Ningrum saat melihat Alsya masih diam di tempat.


Alsya mengangguk. "Baiklah, makasih Bu." Ujar Alsya tulus.

__ADS_1


"Iya, nak. Ini Fazal ibu bawa ke dalam dulu ya, dia pasti gerah karena banyak orang seperti ini." Izin Ningrum pada ibu si bayinya.


__ADS_2