Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Wanita idaman


__ADS_3

"Iya, Bu. Nanti kalau saya selesai saya akan menyusul."


Bu Ningrum mengangguk. "Dada, mama... Fazalnya main dulu yaa.." ucap Bu Ningrum dengan suara dilucu-lucukan dan mengangkat tangan mungil Fazal, melambai-lambai pada Alsya.


Alsya tersenyum melihat tingkah laku wanita paruh baya itu.


Ningrum membawa Fazal masuk ke ruangan besar rumahnya. Rumahnya memang saat ini sedang sepi karena suaminya dan anak perempuannya sedang ada di luar kota dan hanya menyisakan dia dan putranya saja beserta pegawai rumah yang saat ini sedang sibuk mengurus ibu-ibu pengajian.


Fazal dibawa ke ruang bersantai di lantai dua yang ternyata ada putranya disana. Anand jelas terkejut melihat mamanya membawa seorang bayi. Anand melangkah mendekati.


"Siapa ma ?." Tanyanya penasaran.


"Cucu Mama." Jawab Ningrum datar.


Anand mendengus kesal. "Mama, Anand tanya baik-baik loh ?."


"Yah mama juga jawab baik-baik kok."


Rumit memang kalau sudah menghadapi sikap mamanya yang seperti ini. Anand tidak ingin berdebat lagi. Dia malah tertarik pada bayi tampan yang sedang di gendong Mamanya. Matanya menatap lekat wajah lucu bayinya. Dia sedikit terkejut saat menyadari jika bayi itu adalah bayi yang waktu itu dia temui di kereta.


"Lucu, kan ?."


"Iya, dia sangat lucu, ma." Jawab Anand masih fokus pada wajah sang bayi. Anand menyentuh pipi sehalus sutra itu dengan lembut.


"Mama mau cucu, Anand..." Ujar mamanya tiba-tiba.


Anand melirik kesal. "Yah tinggal cari aja, ma."


"Kamu ini !. Memangnya uang dicari ?, Mama ingin kamu menikah secepatnya, pokoknya ."


"Ma, menikah itu yah kalau ada jodohnya. Minta aja sana sama Fyzha biar cepat nikah terus kasih mama cucu."


"Kamu lebih tua dari Fyzha, Anand. Jadi kamu dulu yang menikah."


"Jangan lupakan selisih usia kamu hanya lima belas menit, ma." Ujar Anand mulai jengah.


"Hahh, kamu ini. Selalu bikin Mama kesal." Ningrum melangkah melewati putranya untuk duduk di kursi santai. Dan ternyata putranya itu malah mengikutinya.


"Ngapain kamu ngikutin mama ?." Tanya Ningrum sinis.


"Ma, Anand mau gendong bayinya dong."


Bukannya menjawab mamanya malah menatap tajam wajah Anand. "Makanya cepat nikah !."


"Ma, bosen sekali denger mama ngomongin nikah terus ?!, Sebaiknya Anand balik aja deh ke Jakarta."


"Ehh, enak aja !. Nanti mama sama siapa?."


"Yah mana anand tau."


"Anand, kamu mau jadi anak durhaka sama Mama ?!."


"Ya nggak lah ma."


"Ya sudah, nurut. Disini nemenin mama sampai papa kamu pulang."


"Hemm."


Anand mengambil si bayi dari gendongan sang mama.


Ningrum hanya bisa pasrah menuruti kemauan putranya itu. Awalnya Ningrum ingin mengenalkan Anand dengan Alsya, tapi ternyata Alsya sudah memiliki bahkan punya anak pula. Jadi, Ningrum akhirnya membatalkan niatnya.


Anand memang sudah pas memiliki seorang anak. Bahkan saat menggendong Fazal, dia sudah seperti ayahnya saja. Sangat cocok, hanya saja ternyata jodohnya belum juga diperlihatkan oleh Sang Pencipta.


"Ma, ini ibunya kemana ?." Tanya Fazal yang kini sudah duduk sambil memangku si bayi.


"Ada di aula lagi makan. "


Anand mengangguk mengiyakan. "Namanya siapa, Ma ?."

__ADS_1


"Fazal, kepanjangannya mama tidak tau."


"Fazal yaa." Anand bergumam masih sibuk mengusap-usap pipi Fazal.


"Anand, kamu tahu ?, Ibunya Fazal sangat sopan santun dan bertutur lembut, mama sangat menyukai sikapnya." Ningrum tiba-tiba bersuara lagi.


"Lalu ?."


"Yah, mama pengen kamu menikah dengan wanita seperti itu lah, kamu kalau dapet perempuan, lihat dulu bagaimana sikapnya yaa, jangan asal nikahin aja." Ningrum semakin serius saja bicaranya.


Dalamnya hati, Anand juga sebenarnya mengiyakan ucapan mamanya yang mengatakan jika wanita, ibu dari Fazal adalah tipe wanita idaman.


Anand pernah dua kali bertemu dengan sosok perempuan itu dan kesannya selalu sama jika wanita itu memiliki sikap yang sangat baik dan juga penuh kasih sayang terhadap anaknya.


Jika saja wanita itu belum memiliki suami, Anand pasti akan mengejarnya hingga ke belahan bumi manapun.


"Insya Allah Anand akan menemukannya, ma. Anand minta doanya aja."


"Iya itu tentu saja, mama akan selalu mendoakan anak-anak mama agar mendapatkan jodoh terbaik."


"Makasih, ma."


"Ya sudah, sini, mama mau kembalikan fazal sama ibunya." Ningrum ingin mengambil bayinya tapi langsung ditahan oleh Anand.


"Ma, nanti saja ngembaliinnya, biarkan dia dengan Anand dulu. Mama kesana saja, temuin teman-teman mama."


"Ihh yah gak boleh Kya gitu lah, nanti ibunya nanyain gimana ?."


"Yah tinggal bilang aja anaknya lagi dipinjam dulu." Ucap Anand seenak jidat.


"Memangnya dia barang?, Pake acara dipinjam ?!." Sembur Mama nya kesal.


"Ayolah, ma... Sebentar ini, lagian bayinya anteng kok,."


"Ya sudahlah, nanti mama kesini lagi, awas kalau sampai ada apa-apa sama Fazal !,."


"Iya."


"Maaf yaa, Al. Fazal lagi dipinjam dulu sama anak ibu." Jawab Ningrum sedikit takut jika Alsya tidak mengizinkan.


Alsya tampak terdiam. "Baiklah, tidak apa-apa, Bu. Nanti setelah selesai acaranya saja akan mengambilnya sebelum pulang. " Ujar Alsya penuh pengertian.


Ningrum langsung melebarkan senyumannya. Dan acara yang telah selesai kini satu-persatu orang-orang izin pamit pulang ke rumah masing-masing.


"Al, ayo pulang ?!." Ajak mbak Mira yang kini sudah ada disamping Alsya.


"Iya, mbak tapi sebentar, aku mau ngambil Fazal dulu."


"Loh, emang Fazalnya dimana ?." Tanya mbak Mira bingung.


"Tadi dibawa sama Bu Ningrum, dan sekarang lagi sama anaknya Bu Ningrum di dalam."


"Ouh, resiko anak kamu sih yang sangat tampan, jadi banyak yang suka deh. Ya sudah, sana ambil dulu, saya tunggu di luar yaa."


"Iya mbak." Alsya melangkah masuk ke dalam rumah sedangkan mbak Mira keluar untuk menunggu.


Namun, siapa sangka ternyata Ningrum yang masih di aula malah menghampiri mbak Mira dan mengatakan jika mbak Mira lebih baik pulang duluan karena Alsya akan lama di rumah itu. Mbak Mira awalnya bingung tapi setelah Ningrum menjelaskan lagi bahwa Alsya sudah sangat mengenal keluarganya dan saat ini Alsya akan main sebentar dulu sebelum pulang. Dan akhirnya mbak Mira menyetujui lalu pulang bersama ibu-ibu lain.


Ningrum sedikit mengangkat sudut-sudut bibirnya menampilkan senyum tipis. Lalu masuk ke dalam.


Di dalam, Alsya sangat kebingungan mencari keberadaan putranya yang katanya bersama anaknya Bu Ningrum. Alsya baru pertama kali masuk ke rumah ini jadi dia tidak tahu dengan ruangan-ruangannya.


Dari kejauhan, Alsya melihat seorang pria sedang menggendong bayi, dan jika diperhatikan dari pakaian bayinya, itu adalah Fazal. Alsya menghampiri orang itu.


"Permisi,."


Orang itu langsung menoleh. Dan seketika itu juga Alsya terpaku karena wajah pria itu. Ini adalah pertemuan mereka yang ketiga kalinya. Pikir Alsya.


Anand hanya memasang wajah santai, tidak ada keterkejutan sama sekali di wajahnya. Tentu saja karena Anand sudah menduganya dari semenjak melihat wajah Fazal.

__ADS_1


"Nona." Panggil Anand melihat Alsya masih saja terdiam.


Alsya kembali tersadar. "Ohh, iya. Maaf, kami akan pulang, jadi bisakah berikan Fazal padaku ?." Tanya Alsya sesuai tujuan.


"Tentu saja." Anand menyerahkan Fazal pada ibunya.


Alsya menerimanya dengan hati-hati. "Terima kasih,." Ujar Alsya lalu berbalik tanpa mengatakan apapun lagi.


Alsya keluar dari rumah itu, mencari keberadaan mbak Mira yang entah ada dimana?, Padahal tadi katanya menunggu di luar.


"Kemana mbak Mira ?." Ujar Alsya lirih dengan matanya masih mencari-cari.


"Alsya." Panggilan dari Bu Ningrum menghentikan kegiatan Alsya.


"Ibu,."


"Kamu sedang mencari Mira ?."


"Iya, Bu."


"Tadi ibu minta Mira pulang bareng yang lain, karena takut dia menunggu kamu terlalu lama."


Alsya tidak bisa mengatakan apapun saat ini. Dia hanya mengambil bayinya dan itu tidaklah lama. Alsya sedikit bingung dengan sikap Bu Ningrum ini.


"Tidak apa-apa, Nanti kamu pulangnya di antar saja. Ayo masuk dulu ?!."


Alsya akhirnya mengangguk dan membuntut di belakang Bu Ningrum, kembali memasuki rumah itu.


Saat di dalam, Alsya kembali bertemu dengan anaknya Bu Ningrum tapi kelihatannya dia tidak menyadari kedatangan Alsya lagi. Dan kelihatannya anaknya Bu Ningrum akan pergi dilihat dari pakaiannya yang rapi.


"Anand, mau kemana kamu ?." Tanya Bu Ningrum langsung menghentikan langkah putranya.


"Mau keluar sebentar,." Jawab Anand masih belum juga melihat ke arah Ibunya.


"Tidak, nanti saja. Setelah mama selesai minta tolong sama kamu."


Ucapan Ningrum langsung mendapat tatapan kesal dari Anand. Dan seketika Anand sedikit kaget karena Alsya masih ada di rumahnya.


"Mau minta tolong apa ?." Tanya Anand dingin.


"Mama minta tolong antarkan Alsya pulang, tadi temennya sudah pulang duluan."


Bukan hanya Anand yang kaget akan ucapan Ningrum, tapi Alsya juga tersentak.


"Anand ma ?." Tanya Anand masih mode bingung.


Bukan apa-apa, dia hanya takut nanti suami wanita itu akan salah faham dan marah.


"Iya, siapa lagi ?. Supir lagi sibuk bantuin di dapur."


"Ibu, maaf, sebaiknya saya pulang pake taxi saja."


"Ehh, Jangan. Ngapain pake taxi ?, Ada anak ibu biar dia yang antar kamu."


"Tapi Bu..."


"Ma... Dia punya suami, nanti yang ada nanti suaminya salah faham istrinya diantar pria lain." Anand memberi pengertian.


Alsya sedikit tertegun mendengar kata suami. Apakah dia masih memiliki suami ?, Tentu saja jawabannya tidak.


Ningrum juga langsung terdiam mendengar ucapan putranya.


"Alsya, maafkan saya yaa. Saya lupa kamu punya suami. Baiklah, kamu akan pulang naik taksi saja." Ucap Ningrum penuh penyesalan sebab tadi telah memaksa Alsya untuk diantar Anand.


Alsya tersenyum lalu mengangguk. " Iya, Bu. Tidak apa-apa, kalau gitu saya pamit dulu ya,." Alsya menyalami tangan Ningrum. "Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Alsya keluar dari rumah itu dan menghentikan taksi yang langsung melaju ke arah rumahnya.

__ADS_1


Alsya... Tutur katamu memang menghipnotis


✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2