
"Maaf, nona. Saya tidak sengaja." Ucapnya sopan..
"Iya, saya juga minta maaf. Karena tadi saya juga jalannya kurang fokus. " Ucap gadis di depannya yang ternyata tidak kalah sopan.
"Iya, tidak apa-apa nona. Kalau begitu, saya akan lanjutkan kembali jalan saya."
"Iya, silahkan."
Keduanya kembali melanjutkan langkah dengan arah berlawanan. sekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa gadis yang ditabraknya tadi baik-baik saja, dan ternyata gadis itu sudah pergi entah kemana.
Pria itu tidak lain adalah Dimas, meski pernah memutuskan untuk melupakan Alsya, nyatanya dia tidak bisa dan akhirnya di pagi hari ini dia datang lagi untuk memastikan bahwa gadis yang sempat singgah di hatinya itu sudah lebih baik.
Kakinya melangkah menapaki koridor rumah sakit menuju kamar yang ditempati oleh Alsya, dan belum sampai di tempat, ternyata dia malah berpapasan dengan suami Alsya.
Keduanya saling melempar tatapan datar dan dingin, lalu masing-masing melanjutkan kembali langkahnya.
Dimas akhirnya bisa bernafas lega saat mengetahui ternyata suami Alsya lagi keluar, yang berarti dia bebas melihat Alsya tanpa ada pengganggu. Setelah menemukan nomor yang tadi disebutkan oleh penjaga resepsionis, dengan perlahan, Dimas membuka pintu kamar Alsya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam... Kamu ?!." Pekik Alsya sepertinya sangat kaget atas kehadiran dirinya.
"Mau apa kamu kesini ?." Tanya Alsya ketus dan memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.
"Sepertinya kamu tidak pernah bisa ramah saat berhadapan denganku, nona ?." Ujar Dimas semakin berjalan mendekat. "Jadi perempuan jangan terlalu judes, nona. Nanti, tidak ada yang melamarmu." Seloroh Dimas asal, padahal dirinya tahu jika Alsya sudah memiliki suami bahkan hampir memiliki calon buah hatinya, tapi biarlah, toh Alsya tidak tahu jika dirinya telah tahu identitas Alsya.
"Maaf sebelumnya, seharusnya anda tidak boleh sembarang masuk ke dalam kamar seseorang yang tidak kau kenal, tuan."
"Namamu Alsya kan ?, Lalu, dimana letak aku tidak mengenalnya ?." Ucap Dimas sambil menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Tuan, terima kasih atas kebaikan anda yang mau menjengukku, tapi maaf, anda tidak sepantasnya masuk kesini karena disini tidak ada siapa-siapa selain kita berdua. Bisa-bisa nanti terkena fitnah ." Ujar Alsya mulai kesal.
"Aku bukan hanya menjengukmu, nona. Apa kau tahu, jika akulah yang membawamu kesini saat kau kecelakaan kemarin."
"Kau yang menolongku ?." Tanya Alsya yang kini mulai menatap wajah Dimas dengan raut wajah terkejut.
Dimas tersenyum lalu mengangguk. "Iya, pria kurang kerjaan yang selalu membuntutimu inilah yang menolongmu." Ucap Dimas lagi dengan bangganya karena telah menjadi pahlawan kesiangan untuk gadis pujaannya.
Alsya terlihat mendengus lalu memalingkan wajahnya lagi. "Terima kasih." Ucapnya tulus meski tak melihat ke arah pria tersebut.
"Sama-sama. Baiklah, karena kedatanganku kesini untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja, jadi sebaiknya aku keluar sebelum suamimu datang dan memukulku lagi." Ucap Dimas sambil berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Tunggu !."
Dimas menghentikan langkahnya tapi masih tetap menghadap ke arah pintu.
"Kenapa suamiku memukulmu ?. Hem, maksudku, bukankah seharusnya dia berterima kasih karena kau telah menolongku ?." Tanya Alsya.
Dimas tersenyum. "Iya, seharusnya memang seperti itu, tapi karena dia lebih dulu mendengar bahwa aku menolongmu bukan hanya cuma-cuma saja." Jawab Dimas masih membelakangi Alsya.
"Apa maksudmu ?."
"Tidak ada apa-apa, aku hanya mengatakan bahwa kau adalah gadisku." Ucap Dimas seenak jidat lalu kembali melanjutkan langkahnya dan keluar dari kamar Alsya.
Sampai di luar, Dimas semakin melebarkan senyumannya karena sebelum benar-benar keluar tadi, dia sempat mendengar bahwa Alsya mengucapkan istighfar sepertinya sangat terkejut.
Dimas mengedikkan bahu lalu melangkah santai untuk kembali pulang ke apartemennya yang selama ini dia tempati saat berada di Jakarta. Sebab dia bukanlah penduduk asli kota metropolitan ini.
Dimas terus melangkah keluar dari bangunan rumah sakit dan menghentikan langkahnya seketika saat di kejauhan, dia melihat dua sosok yang sepertinya tidak asing. Karena jika jiwa keingintahuannya bangkit, akhirnya Dimas semakin berjalan mendekati dua orang yang sedang berbahagia itu.
Dimas langsung membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan saat melihat wajah pria yang sedang tertawa disana.
"Bukankah itu suami Alsya ?." Gumamnya sangat terkejut melihat sosok yang dia kira adalah pria baik-baik karena telah menikah dengan gadis sebaik Alsya, namun ternyata dugaannya salah sebab pria itu bahkan lebih brengsek dari seorang penjahat.
"Disaat Alsya sedang bersedih karena kehilangan bayi mereka, tapi suaminya malah berselingkuh. Sialan, ini sudah seperti kisah di novel sebelah saja !. " Decak Dimas sangat kesal melihat wajah bahagia Aly, bahkan tangannya sudah terkepal kuat dan siap meninju apa saja yang ada di hadapannya.
Dimas memperhatikan wajah perempuan yang bersama Aly, dan setelah beberapa saat, akhirnya dia ingat jika perempuan itu adalah perempuan yang tadi dia tabrak saat di koridor rumah sakit.
Bugghh
"Aaaa !!!." Gadis di samping suami Alsya menjerit keras.
"Pria sialan !. Alsya sedang bersedih tapi suaminya malah selingkuh !!." Ujar Dimas berapi-api lalu kembali melayangkan pukulannya pada wajah Aly.
"Heyy, sudah !!." Teriak wanita pelakor itu tapi Dimas sudah kalap sehingga yang dia inginkan hanyalah membuat pelajaran untuk suami Alsya yang baginya sangat kurang ajar.
Dari sekian banyak pukulan keras yang diberikan Dimas, rupanya Aly tidak membalas sama sekali bahkan dia terlihat sangat tenang dengan jemari mengusap rahang sendiri yang telah memar.
"Jika tidak tahu apa-apa, jangan mengklaim sendiri." Ucap Aly dengan suara tertahan.
"Apa yang tidak ku ketahui, hahh ?!. Jelas-jelas kamu berselingkuh di belakang Alsya !!." Ujar Dimas masih tersulut emosi.
__ADS_1
"Siapa yang selingkuh ?!, Hahh ?!. Dia istriku !. Mereka berdua istriku !." Aly bangkit dengan amarahnya yang mulai berkobar. "Jika tidak tahu apa-apa, jangan sembarangan ngomong !." Ucap Aly sambil memberikan pukulan keras yang langsung membuat Dimas limbung ke tanah.
Aly berjongkok di hadapan Dimas lalu menarik kerah kemejanya. "Saya ingatkan, jangan pernah ikut campur dalam urusan pribadi orang !!." Tegas Aly lalu mendorong tubuh Dimas sangat keras dan menarik perempuan yang dia katakan adalah istrinya, pergi begitu saja.
Dimas menggeram frustasi. "Sialan !. Pria model seperti itu berani-beraninya memadu Alsya !." Umpat Dimas kesal.
Dimas menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih dan sedikit mengeluarkan bercak darah. Dia ingin marah pada suami Alsya itu, tapi dia juga teringat ucapan suami Alsya yang mengatakan jika dia tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi seseorang. Yah, memang seharusnya seperti itu, tapi dia juga tidak bisa menerima jika Alsya telah menikah dan memiliki madu.
"Alsya, seharusnya kamu menikah denganku saja, dan aku pastikan kamu akan menjadi wanita yang sangat merasa beruntung. Hahh !. Nasi telah menjadi bubur !." Dimas memukul tanah melampiaskan kekesalannya yang tidak terarah pasti.
Akhirnya Dimas memilih bangkit lalu berjalan menuju mobil miliknya yang di parkiran. Setelah masuk ke dalam mobil, Dimas segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tidak peduli dengan apapun yang terjadi disekitarnya. Karena, yang dia butuhkan sekarang adalah penenang agar rasa kesalnya teredam.
Setelah melakukan perjalanan dengan hanya menggunakan waktu beberapa menit saja, mobilnya sudah kembali terparkir di halaman apartemen miliknya.
Keluar dari mobil, kakinya menendang apapun yang ada dalam jangkauan untuk meluapkan amarahnya dan begitu seterusnya sampai dia masuk ke dalam apartemen kamarnya.
Dimas membanting tubuh di atas tempat tidur lalu mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang.
"Kirimkan sepuluh !. Sekarang !." Perintahnya saat sambungan telepon terhubung lalu kembali mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari seseorang yang diajaknya bicara.
Matanya dipejamkan sambil menunggu kedatangan barangnya yang sudah dipesan tadi.
"Alsya... Alsya... Kenapa kita terlambat bertemu ?. Kenapa aku tidak menemukanmu sebelum pria sialan itu ?!... Kamu gadisku dan pria lain mengatakan kamu adalah istrinya..." Racau Dimas sesekali terkekeh renyah lalu kembali menggeram dan tersenyum. Sudah persis seperti orang gila saja. Tapi, memang kenyataannya bahwa Dimas sedang gila. Gila terhadap ketertarikannya terhadap sosok Alsya si gadis judesnya.
Yah, meski judes, tapi dia tahu bahwa Alsya adalah wanita baik-baik yang sedang menjaga dirinya sendiri dengan sikap judesnya itu.
"Alsya... Kasihan sekali hidupmu, harus dinikahi oleh pria model seperti itu..." Racau Dimas lagi sambil menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosongnya.
Suara bel pintu membuat Dimas langsung terkesiap dan berlari ke arah pintu sebab dia yakin bahwa itu adalah pesanannya yang datang, dan ternyata benar. Dimas memerintahkan pembawa pesanan itu masuk dan meletakkan pesanannya di atas meja khusus di ruang tengah lalu mengusirnya setelah semuanya sudah rapi.
Waktu terus beranjak dengan pasti dan pada waktu yang telah dilewati itu juga Dimas telah menghabiskan beberapa botol minuman keras untuk menenangkan pikirannya yang ternyata tetap masih terasa berat meski hanya sedikit. Dimas kembali minum isi botol baru yang merupakan botol ke-lima setelah menghabiskan empat botolnya.
Tubuh Dimas sudah mulai limbung dan seakan melayang tapi tiba-tiba perutnya berbunyi. Dibalik kesadarannya, Dimas masih ingat bahwa dirinya belum makan apa-apa dari pagi sebab terlalu sibuk memikirkan tentang Alsya.
_____________
__ADS_1