Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Kembali Dalam Rapuh


__ADS_3

Sejenak keduanya saling diam dengan pemikiran masing-masing. Dan sesaat kemudian, Alsya mulai tersadar lalu memalingkan wajahnya dari wajah pria dihadapannya.


"Maaf."


"Maaf."


Ternyata keduanya berucap bersamaan. Membuat keduanya menjadi salah tingkah.


"Silahkan, kamu dulu,." Ujar pria dihadapan Alsya kemudian, ladys first!.


"Tidak, sepertinya kamu lebih dulu sampai, jadi kamu dulu saja yang mengambilnya,." Ujar Alsya menolak sopan.


"Tapi, nona..."


"Silahkan."


Alsya memotong ucapan pria itu sebelum selesai dengan perkataan nya.


"Baiklah." Pria itu akhirnya menurut dan mengambil beberapa buah lobak dan memasukkannya ke keranjang miliknya sendiri, lalu mengambil lagi beberapa buah. "Segini cukup ?." Tanyanya kemudian, memperlihatkan tiga buah lobak berukuran sedang di dalam genggamannya.


"Hahh ?. Maksud kamu ?.." tanya Alsya kebingungan.


Pria itu tersenyum simpul bahkan hampir tak terlihat lalu memasukkan tiga lobak itu ke dalam keranjang Alsya. "Jika kurang, bisa ditambahkan sendiri, nona." Ucap pria itu lagi kemudian melangkah pergi meninggalkan Alsya yang masih terpaku di tempat.


Alsya menoleh, melihat ke arah pria itu dan ternyata pria itu juga sedang menatap ke arahnya.


Pria itu tersenyum. "Sampai bertemu lagi." Ujarnya dengan suara lirih namun masih bisa di dengar oleh Alsya.


Alsya kembali tersadar. Matanya mulai melirik keranjang belanjanya, dan senyum simpul terbesit di sudut-sudut bibirnya kemudian menggeleng aneh memikirkan pria itu yang baru disadarinya sekarang jika pria tersebut adalah pria yang sama dengan pria baik yang ada di kereta Minggu lalu.


Alsya kembali fokus pada tujuannya datang ke tempat ini. Dia mulai menelusuri deretan keranjang dan mencari sayu dan buah-buahan yang akan di belinya.


Setelah selesai, Alsya mendorong keranjang belanja nya menuju kasir. Saat hampir sampai, matanya melihat sesuatu yang sedikit janggal akan terjadi pada wanita paruh baya. Alsya mempercepat langkahnya dan menghampiri wanita itu, lebih tepatnya menyelamatkan.


Alsya segera menarik tangan wanita itu sehingga dia reflek menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah Alsya.


BRUGHH !!


Sebuah rak berukuran setinggi orang dewasa ambruk, tepat di belakang wanita tersebut.


"Astaghfirullah !!." Pekik wanita tersebut sedikit berjingkat.


Alsya juga sedikit berjingkat karena kaget.


Hampir saja, sebuah rak berisi rempah-rempah dalam kemasan botol kecil-kecil itu roboh menimpa tubuh wanita tua tersebut jika saja Alsya tidak segera menarik tangan wanita itu.


Alsya menghembuskan nafasnya lega karena tidak terjadi apa-apa pada wanita paruh baya tersebut. Wanita itu tiba-tiba menubruk tubuh Alsya dan memeluknya erat. "Makasih, nak. Kamu menyelamatkanku..." Ujar wanita itu terdengar sangat terharu.


Alsya masih bisa merasakan detak jantung wanita yang sedang memeluknya ini sangat kencang, mungkin masih dalam keadaan reflek terkejut.


Alsya mengusap lembut punggung wanita itu. "Iya, Bu, sama-sama."


Pelukan keduanya dilepaskan dengan wajah keduanya yang saling melempar senyum ramah.


"Ibu tidak apa-apa ?." Tanya Alsya memastikan.


"Iya, saya tidak apa-apa, nak. Sekali lagi terima kasih, yaa?."


"Iya, Bu."

__ADS_1


Keadaan langsung riuh-ricuh karena beberapa orang datang untuk melihat. Beberapa pegawai juga nampak sigap membereskan kekacauan yang terjadi dan terlihat seorang pria berpakaian rapi mendekat.


"Permisi, nyonya dan nona, saya adalah manajer disini, saya mohon maaf atas kejadian tadi yang hampir melukai anda..." Ujar pria itu sangat sopan dan terlihat sangat menyesali atas kejadian barusan.


"Iya, tidak apa-apa, pak. Kami tidak apa-apa kok." Ujar wanita itu ramah.


"Terima kasih, nyonya. Sekali lagi maafkan atas kelalaian kami."


"Iya, tapi lain kali diharapkan di cek semua dulu, yaa, biar tidak ada kejadian seperti ini lagi."


"Baik, nyonya..."


"Iya sudah, anda bisa kembali lagi."


"Baik, nyonya. Permisi, nyonya dan nona..." Ujar pria itu sangat sopan dan berlalu pergi.


"Kamu mau ke kasir, nak ?."


"Iya, Bu."


"Ya sudah, ayo, kita bareng aja ke sananya."


"Iya."


Keduanya berjalan berdampingan sambil mendorong keranjang masing-masing menuju kasir.


"Ibu kesini sendirian ?." Tanya Alsya kemudian.


"Tidak, saya bersama anak saya, tapi entah dimana dia sekarang ?." Wanita itu melihat ke sekeliling seperti mencari seseorang.


Saat sampai di depan kasir, Alsya mempersilahkan wanita itu untuk yang pertama. wanita itu mengangguk lalu menyerahkan keranjang belanjanya untuk dihitung.


"Nama saya Alsya, Bu."


"Alsya, nama yang cantik, sama seperti orangnya." Ujar wanita itu sambil tersenyum.


Alsya tersipu malu dengan pujian itu tapi dia hanya menunjukkan senyuman manisnya saja sebagai respon. "Terima kasih,." Ucapan Alsya masih tersenyum.


Pelayan kasir itu menyerahkan belanjaan wanita tersebut setelah wanita itu membayarnya.


"Sebentar, mbak. Nak Alsya ayo serahkan belanjaan kamu, biar sekalian dihitung bareng." Ujar wanita itu menahan kartu atm-nya yang akan diserahkan kembali oleh pihak kasir, membuat Alsya kaget.


"Oh, tidak Bu, makasih, saya akan bayar sendiri saja." Tolak Alsya tidak enakan.


"Tidak apa-apa, nak. Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan saya tadi." Ujar wanita paruh baya itu sedikit memaksa.


Alsya menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, Bu. Saya ikhlas menolong ibu, maaf bukan saya menolak kebaikan ibu, tapi saya benar-benar tidak bisa menerimanya,... Maafkan saya, yaa." Ujar Alsya penuh kehati-hatian agar tidak membuat wanita itu sakit hati.


Wanita itu terlihat menghembuskan nafasnya berat. "Baiklah, apa menurutmu baik saja nak." Ucap wanita itu akhirnya sambil tersenyum.


Alsya ikut tersenyum lalu mengangguk kemudian menyerahkan belanjaannya untuk dihitung dan membayarnya dengan ATM nya sendiri.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Alsya berpamitan pulang karena dia tidak bisa terlalu lama diluar sedangkan anaknya sendiri dititipkan pada orang lain. Alsya memesan kendaraan online sambil menemani wanita itu menunggu anaknya yang katanya sedang disuruh untuk membeli beberapa sayuran, dan tidak juga kelihatan batang hidungnya.


Notifikasi jika pesanannya telah ada di depan, Alsya langsung memberitahu wanita itu dan menyalami tangan wanita itu dengan penuh penghormatan. "Saya duluan ya, Bu." Ucapnya sopan.


"Iya, nak. Hati-hati dijalan, dan lain kali mampirlah ke tempat ibu yaa."


"Insya Allah, Bu. Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam..."


Alsya keluar dari toko mendekati kendaraan online yang telah dipesannya, lalu masuk ke dalam mobil tersebut dan sesaat kemudian mobil itu mulai bergerak melaju.


Alsya tidak menyadarinya jika saat ini ada sepasang mata telah memperhatikannya dari tadi. Sepasang mata milik pria yang untuk kedua kalinya bertemu dengannya. Pria itu tersenyum melihat Alsya yang mulai melakukan perjalanan pergi, mungkin pulang ke rumahnya.


✓✓✓✓✓✓✓✓


Larut malam, setelah tertidur nyenyak Alsya seakan merasa ada yang membangunkan. Alsya melirik jam dinding yang memperlihatkan pukul dua dini hari, yang artinya yang membangunkannya adalah sang Maha Rahman dan Rahim yang memanggilnya untuk mengadu di saat semua orang terlelap tenang dalam tidurnya.


Alsya melirik ke arah putranya yang tertidur tenang dengan posisi tubuh sangat menggemaskan. "Pangeran Ummi... Tumbuhlah sebagai pria yang bertanggung jawab ya, nak. Jadilah pria yang menjunjung tinggi derajat dan kehormatan seorang wanita." Gumam Alsya lirih sambil mencium kening putranya lama kemudian beralih pada kedua pipinya.


Alsya bangkit dari tempat tidur dan segera menyucikan diri untuk melaksanakan sholat malam.


Suasana malam yang senyap, sunyi, dan hanya bertemankan dendang detik jarum jam yang terus melaju. Alsya merasa ketenangan yang teramat sangat saat Kalam takbir terucap di sepasang bibirnya. Hatinya terasa tentram saat lantunan ayat-ayat dari surah pendek mengalun merdu, keluar dari pita suaranya. Berlanjut hingga saat kening bertemu dengan sajadah, hati, raga, jiwa, pikiran, semuanya terasa tenang, nyaman dan damai merupakan Keindahan yang hanya bisa dirasakan saat melakukan sholat malam.


Usai menutup sholat dengan salam terakhir, Alsya melanjutkan dengan dzikiran panjang yang dulu pernah dia dapat saat belajar di pesantren. Lalu dilanjut lagi dengan do'a dengan khusyuk hingga air mata seakan banjir membasahi kedua pipinya.


Alsya terisak bersamaan dengan kalam pinta kepada Lillah yang terucap dengan bibir yang bergetar hebat karena tangis.


...Ya Rabbana......


...Kepada Engkaulah hamba memohon dan panjatkan pinta....


...Hamba mensemogakan ampun terhadap segala Lena....


...Ya Rabbana......


...Hati hamba masih terluka....


...Hamba datang padaMu untuk meminta penawarnya....


...Ya Rabbana......


...Engkaulah sebaik-baik Pengatur Rencana....


...Hamba yakin jika dibalik semua lara ini Engkau siapkan hal terbaik untuk hamba....


...Ya Rabbana......


...Hati ini masih terikat atas satu nama yang pernah selalu menjadi pelengkap di setiap pinta semoga....


...Hamba ikhlas mencintai ciptaan Mu....


...Hamba hadirkan cinta hamba pada salah satu ciptaan Mu tanpa melalaikan untuk menghadirkanMu di setiap langkahnya....


...Jika memang ini jalanku yang terbaik menurut Mu....


...Hamba mohon, semoga engkau lekaskan hati ini agar bersabar dan ikhlas saat melepaskannya......


Alsya terisak hebat saat Kalam-Kalam pinta itu dilangitkan. Tangisannya memporak-porandakan kesunyian dan keheningan malam ini.


Dirinya memang tanpa malu dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dirinya tak lain adalah salah satu pendosa terbesar, yang datang dengan penghambatan kepada Sang Penentu Kehidupan.


Tanpa terasa, ternyata waktu begitu cepat untuk berlalu. Kumandang adzan Subuh telah disenandungkan. Kalam itu menembus dan membaur dengan udara pagi yang menusuk dan mendinginkan.


Alsya mengakhiri doanya kemudian kembali mengambil wudhu untuk dilanjutkan sholat berikutnya.


Usai sholat subuh, Alsya tidak langsung bangkit dari duduknya dan malah merebahkan tubuhnya di atas bentangan sajadahnya dengan mata masih sembab karena menangis tadi.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2