Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Pemberontakan Alifah


__ADS_3

Alifah tidak perduli dengan kedua bodyguardnya yang terus-menerus membujuk untuk pulang. Bahkan dia sengaja masuk ke dalam lorong rak buku lagi.


Grace dan Tasya semakin gelisah karena Alifah sama sekali tidak mau mendengarkan rengekan mereka.


"Kalau kalian mau pulang, yah silahkan. Tapi aku masih mau di sini." Ucap Alifah menegaskan.


Tak ada pilihan lain selain menuruti kemauan Alifah, karena memaksa dengan kekerasan juga bukan solusi yang tepat. Dan Alifah paham itu.


Alifah terus melangkah tak menentu ke segala penjuru lorong dan lama-kelamaan dia mulai merasa bosan.


Tanpa mengatakan apapun pada kedua bodyguardnya, Alifah melangkah keluar dari toko buku itu dan berjalan santai di taman yang ada di depan bangunan toko tersebut.


Alifah terlalu santai menikmati semilir angin yang berasal dari pepohonan rindang di taman tersebut.


Brughh


Alifah membelalak kaget karena tabrakan itu. Dia hampir saja terjengkang ke belakang jika tak ada tangan yang langsung meraih tubuhnya.


"Tidak ada kebebasan untukmu." Suara dingin yang tepat berada di dekat telinga itu membuat Alifah langsung membuka matanya.


Mata Alifah membelalak kaget saat melihat wajah suaminya begitu dekat di depan wajahnya.


Alifah menelan ludahnya sendiri. Dia sangat takut jika ditatap seperti itu. Tatapan tajam dan dingin yang menakutkan.


"Iya, tapi itu terlalu mendadak, aku masih ingin jalan-jalan." Alifah melepaskan diri dari kedua tangan Melvin yang masih memeluknya.


"Tidak ada membantah, sekarang pulang !." Tatapan mata Melvin semakin tajam


"Nggak, aku tidak mau pulang." Dan Alifah tidak mau kalah. Dia balik membalas tatapan itu dengan menantang.


Melvin terlihat menghembuskan nafas berat. "Kapan kamu tidak membantah ucapan ku ?, Huhh ?."


"Untuk apa aku menuruti ucapan mu ?,. Kau bahkan..." Ucapan Alifah tak sampai karena di potong lebih dulu.


"Aku suamimu !, Ingat itu ." Tegas Melvin yang langsung membuat Alifah terdiam kaku.


Alifah menghentakkan tangan Melvin yang menggenggam pergelangan tangannya. Dia menatap wajah suaminya begitu tajam dengan matanya yang berkaca-kaca. "Apa seperti itu sikap seorang suami pada istrinya ?, Apa seorang suami hanya bisa membuat istrinya selalu menangis ?,." Ucap Alifah dengan suara bergetar.


Alifah melengoskan wajahnya dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Melvin yang memandangnya di belakang. Alifah kira setelah hari ini kehidupannya akan lebih baik dan sikap Melvin sudah tidak sedingin sebelumnya. Tapi dia salah, Melvin masih sangat menyebalkan dan itu membuat Alifah muak.


Kaki Alifah melangkah cepat tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya. Tak ada satupun bodyguardnya yang menghalangi ataupun mengejar langkah kaki Alifah karena tidak berani pada Melvin.


"Jaga dia." Ucap Melvin menatap kosong kepergian sosok wanita yang kini menjadi penghuni hatinya.


Perintah itu ditujukan hanya untuk para penjaga Alifah. Mereka langsung sigap mengikuti kepergian Alifah yang ternyata tak tau arah. Sepanjang kaki melangkah, Alifah terlihat sangat kacau dan sesekali dia seperti tersendat oleh nafasnya sendiri karena sedang menangis.


Tasya dan Grace hanya diam tanpa berani ada yang bersuara. Mereka tidak tahu permasalahan apa yang telah terjadi pada majikan dan istrinya itu. Mereka mengetahui Alifah sebagai nyonya rumah setelah Alifah pindah ke rumah utama. Mereka juga tidak tahu jika pernikahan mereka adalah sebuah paksaan.


Alifah mendudukkan tubuhnya di atas trotoar pinggir jalan. Tasya dan Grace berdiri di sisi-sisinya sedangkan yang lainnya memilih menjaga dari kejauhan.


Alifah masih pada tatapan mata kosong. Dia menatap fokus pada jalan beraspal. Dia terdiam sangat lama tanpa ada keinginan bangkit sedikitpun.


Langit ternyata mendukung keadaan hati Alifah. Langit yang tadi pagi sangat cerah kini perlahan mendung dan menitikkan air gerimisnya.


Salah seorang bodyguard langsung datang dan membentangkan payung di atas kepala Alifah.


"Nyonya, ayo kita pergi dari sini." Grace membujuk dengan penuh hati-hati.


Alifah hanya bergeming tak perduli. Dia hanya menunduk sambil menangis tak bersuara.


Dari gerimis, ternyata mendung semakin rapat dan rintikan air semakin deras menjadi hujan.


"Nyonya, hujannya semakin deras, ayo masuk mobil." Tasya ikut membujuk tapi Alifah tetap tidak mau meladeninya.


"Nyonya..."


"Nyonya, nanti nyonya sakit karena kedinginan."


Alifah mendongak menatap langit yang sangat mendung tertutup oleh payung. "Singkirkan payungnya." Perintahnya.

__ADS_1


Kedua bodyguardnya membelalak kaget. " Tidak, nyonya. Hujannya sangat deras." Tolak Tasya tak menurut.


Alifah menatap tajam wajah Tasya tapi yang ditatap malah memalingkan wajahnya.


"Cepat singkirkan, Tasya !." Sentak Alifah membuat kedua bodyguardnya terjingkat kaget.


"Tidak, nyonya."


"Tasya !."


"Nyonya, kami mohon menurutlah, nanti tuan marah." Grace kembali membujuk.


"Aku tidak peduli." Alifah bangkit dan melangkah pergi.


"Nyonya !." Tasya dan Grace langsung sigap mengejar langkah kaki Alifah sehingga kini mereka berjalan bersama lagi dengan Tasya yang tak menyerah untuk memayungi.


Trralaapp... !!


Alifah tidak perduli dengan kedua bodyguardnya yang terus-menerus membujuk untuk pulang. Bahkan dia sengaja masuk ke dalam lorong rak buku lagi.


Grace dan Tasya semakin gelisah karena Alifah sama sekali tidak mau mendengarkan rengekan mereka.


"Kalau kalian mau pulang, yah silahkan. Tapi aku masih mau di sini." Ucap Alifah menegaskan.


Tak ada pilihan lain selain menuruti kemauan Alifah, karena memaksa dengan kekerasan juga bukan solusi yang tepat. Dan Alifah paham itu.


Alifah terus melangkah tak menentu ke segala penjuru lorong dan lama-kelamaan dia mulai merasa bosan.


Tanpa mengatakan apapun pada kedua bodyguardnya, Alifah melangkah keluar dari toko buku itu dan berjalan santai di taman yang ada di depan bangunan toko tersebut.


Alifah terlalu santai menikmati semilir angin yang berasal dari pepohonan rindang di taman tersebut.


Brughh


Alifah membelalak kaget karena tabrakan itu. Dia hampir saja terjengkang ke belakang jika tak ada tangan yang langsung meraih tubuhnya.


"Tidak ada kebebasan untukmu." Suara dingin yang tepat berada di dekat telinga itu membuat Alifah langsung membuka matanya.


Mata Alifah membelalak kaget saat melihat wajah suaminya begitu dekat di depan wajahnya.


Alifah menelan ludahnya sendiri. Dia sangat takut jika ditatap seperti itu. Tatapan tajam dan dingin yang menakutkan.


"Iya, tapi itu terlalu mendadak, aku masih ingin jalan-jalan." Alifah melepaskan diri dari kedua tangan Melvin yang masih memeluknya.


"Tidak ada membantah, sekarang pulang !." Tatapan mata Melvin semakin tajam


"Nggak, aku tidak mau pulang." Dan Alifah tidak mau kalah. Dia balik membalas tatapan itu dengan menantang.


Melvin terlihat menghembuskan nafas berat. "Kapan kamu tidak membantah ucapan ku ?, Huhh ?."


"Untuk apa aku menuruti ucapan mu ?,. Kau bahkan..." Ucapan Alifah tak sampai karena di potong lebih dulu.


"Aku suamimu !, Ingat itu ." Tegas Melvin yang langsung membuat Alifah terdiam kaku.


Alifah menghentakkan tangan Melvin yang menggenggam pergelangan tangannya. Dia menatap wajah suaminya begitu tajam dengan matanya yang berkaca-kaca. "Apa seperti itu sikap seorang suami pada istrinya ?, Apa seorang suami hanya bisa membuat istrinya selalu menangis ?,." Ucap Alifah dengan suara bergetar.


Alifah melengoskan wajahnya dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Melvin yang memandangnya di belakang. Alifah kira setelah hari ini kehidupannya akan lebih baik dan sikap Melvin sudah tidak sedingin sebelumnya. Tapi dia salah, Melvin masih sangat menyebalkan dan itu membuat Alifah muak.


Kaki Alifah melangkah cepat tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya. Tak ada satupun bodyguardnya yang menghalangi ataupun mengejar langkah kaki Alifah karena tidak berani pada Melvin.


"Jaga dia." Ucap Melvin menatap kosong kepergian sosok wanita yang kini menjadi penghuni hatinya.


Perintah itu ditujukan hanya untuk para penjaga Alifah. Mereka langsung sigap mengikuti kepergian Alifah yang ternyata tak tau arah. Sepanjang kaki melangkah, Alifah terlihat sangat kacau dan sesekali dia seperti tersendat oleh nafasnya sendiri karena sedang menangis.


Tasya dan Grace hanya diam tanpa berani ada yang bersuara. Mereka tidak tahu permasalahan apa yang telah terjadi pada majikan dan istrinya itu. Mereka mengetahui Alifah sebagai nyonya rumah setelah Alifah pindah ke rumah utama. Mereka juga tidak tahu jika pernikahan mereka adalah sebuah paksaan.


Alifah mendudukkan tubuhnya di atas trotoar pinggir jalan. Tasya dan Grace berdiri di sisi-sisinya sedangkan yang lainnya memilih menjaga dari kejauhan.


Alifah masih pada tatapan mata kosong. Dia menatap fokus pada jalan beraspal. Dia terdiam sangat lama tanpa ada keinginan bangkit sedikitpun.

__ADS_1


Langit ternyata mendukung keadaan hati Alifah. Langit yang tadi pagi sangat cerah kini perlahan mendung dan menitikkan air gerimisnya.


Salah seorang bodyguard langsung datang dan membentangkan payung di atas kepala Alifah.


"Nyonya, ayo kita pergi dari sini." Grace membujuk dengan penuh hati-hati.


Alifah hanya bergeming tak perduli. Dia hanya menunduk sambil menangis tak bersuara.


Dari gerimis, ternyata mendung semakin rapat dan rintikan air semakin deras menjadi hujan.


"Nyonya, hujannya semakin deras, ayo masuk mobil." Tasya ikut membujuk tapi Alifah tetap tidak mau meladeninya.


"Nyonya..."


"Nyonya, nanti nyonya sakit karena kedinginan."


Alifah mendongak menatap langit yang sangat mendung tertutup oleh payung. "Singkirkan payungnya." Perintahnya.


Kedua bodyguardnya membelalak kaget. " Tidak, nyonya. Hujannya sangat deras." Tolak Tasya tak menurut.


Alifah menatap tajam wajah Tasya tapi yang ditatap malah memalingkan wajahnya.


"Cepat singkirkan, Tasya !." Sentak Alifah membuat kedua bodyguardnya terjingkat kaget.


"Tidak, nyonya."


"Tasya !."


"Nyonya, kami mohon menurutlah, nanti tuan marah." Grace kembali membujuk.


"Aku tidak peduli." Alifah bangkit dan melangkah pergi.


"Nyonya !." Tasya dan Grace langsung sigap mengejar langkah kaki Alifah sehingga kini mereka berjalan bersama lagi dengan Tasya yang tak menyerah untuk memayungi.


Trralaapp... !!


Jedderr !!.


"Aaa... !!. Ibu...!!. " Alifah berteriak keras sambil ambruk dan memeluk erat tubuhnya sendiri.


Kilatan petir dan gemuruh geledek membuat Alifah sangat ketakutan.


"Nyonya, nyonya tidak apa-apa ?!." Grace langsung panik dan memeriksa keadaan Alifah.


Alifah tak menjawabnya. Dia sedang gemetaran sekarang, dia semakin kacau karena suara kilat terus bersahutan terasa sangat mencekam.


Alifah merupakan salah satu orang yang sangat takut akan kilat petir meski dia sangat menyukai hujan.


Kilatan petir adalah hal yang sangat menakutkan bagi Alifah. Dan petir juga adalah kenangan buruk bagi Alifah.


Sebuah tangan merengkuh tubuhnya. Tangan yang langsung mengangkat tubuh bergetarnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Alifah tak tau pemilik tangan tersebut. Yang ada di pikirannya saat ini adalah sebuah ketakutan yang teramat sangat karena petir besar tadi.


Seperti anak kecil, tubuh Alifah meringkuk menelusup di rengkuhan tubuh kekar seseorang. Hawa hangat dari tubuh itu sedikit membuatnya lebih nyaman dan gemetar pada tubuhnya pun perlahan mereda.


Alifah akan mendongak melihat wajah orang tersebut. Dan lagi-lagi ternyata petir mengagetkannya sehingga dia urung untuk mengangkat wajahnya dan malah semakin menelusupkan wajahnya pada tubuh itu.


Semakin lama, kehangatan yang membuat nyaman itu membuat Alifah mulai tenang dan karena terlalu tenang dia sampai terlelap.


Melvin yang tadi akan pulang dan membiarkan istrinya pergi bersama para bodyguardnya, mengurungkan niat saat melihat langit yang sangat mendung. Dan ternyata benar, hujan pin turun deras sehingga kekhawatirannya terhadap Alifah semakin menjadi-jadi.


Perasaan Melvin semakin tak tenang saat kilatan petir mulai muncul. Dia terus mencari Alifah dan saat menemukannya, ternyata istrinya itu sedang meringkuk ketakutan di tepi jalan.


Dengan tanpa kata, Melvin membawa tubuh mungil istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya sendiri. Dan kini tubuh bergetar itu mulai tenang tertidur di dalam pelukannya.


Melvin menatap lekat wajah istrinya yang terlihat sangat pucat.


"Kapan kamu mau menuruti ucapan ku ?,." Ucapnya lirih sambil tangannya mengusap lembut pipi Alifah.

__ADS_1


__ADS_2