
Satu bulan kemudian...
Semua kebenaran masih tertutup rapat hingga satu bulan terakhir. Itu di karenakan, Nisa tidak ingin terjadi sesuatu buruk terhadap adiknya dan suami juga adik iparnya ternyata sependapat dengan ucapannya.
Aly terlalu apik dalam menyembunyikan hubungannya dengan Halimah, hingga sampai sekarang pun semuanya masih terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada yang mencurigakan dari sikap Aly bahkan karena sekarang Alsya telah mendekati hari-hari melahirkan, sikap posesif Aly selalu tertuang untuk menjaga istrinya itu, Aly juga senantiasa siap siaga.
Dan hari ini adalah hari dimana Alsya harus memeriksakan kehamilannya untuk bulan terakhir sebelum kelahiran. Dan untuk pertama kalinya juga USG 4D dilakukan untuk melihat keadaan bayi yang di dalam perutnya, karena sebelum-sebelumnya, Alsya tidak pernah mau untuk melakukan USG pada bentuk apapun, sama seperti saat kehamilan Hafidhz, Alsya hanya mau melakukan pemeriksaan tersebut setelah usia kandungannya sudah mencapai waktu melahirkan.
"Mbak, itu...?!." Pekik Alsya saat melihat layar monitor yang menampilkan sosok mungil bagi yang sedang meringkuk sambil memasukkan jarinya ke dalam mulut.
"Masya Allah, iya, Al. Mereka berdua !." Ucap Nisa seolah memahami keterkejutan adiknya meski sebenarnya dia juga sama kagetnya dengan tampilan di Monitor itu.
"Benarkah, mereka kembar ?!." Pekik Aly dengan wajah teramat senang melihat calon buah hatinya yang ternyata ada dua.
Nisa dan Alsya menatap wajah Aly dengan tatapan mata yang berbeda. Jika Alsya menatap haru dengan raut bahagia, lain dengan Nisa yang menatap jengah wajah penuh kebohongan itu.
Beberapa saat kemudian. Alsya sudah selesai dengan pemeriksaannya dan pulang di antar oleh supir pribadinya sebab Aly tidak bisa mengantarkan pulang karena dia harus kembali ke kantor. Keduanya berpisah di parkiran rumah sakit dan memasuki mobil sendiri-sendiri setelah itu mulai melakukan perjalanan dengan arah yang berlawanan.
"Pak, berhenti dulu." Pinta Alsya pada supirnya.
"Kenapa, nyonya ?." Tanya supirnya yang terlihat kebingungan atas permintaan istri majikannya.
"perut saya terasa tidak nyaman, pak...!." Alsya langsung keluar dari mobil dan berjongkok di tepi jalan.
Mata Alsya melirik ke arah mobil Aly yang sudah semakin menjauh dan kini tak terlihat lagi. Sebenarnya dia tidak merasakan apa-apa di perutnya. Alsya hanya sedang mengulur waktu agar saat dia mengikuti mobil suaminya itu dia tidak akan ketahuan.
Selama ini Alsya sudah cukup bersabar menunggu suaminya itu mengungkapkan semuanya, tapi, ternyata harapan Alsya tak kunjung datang jadi dia bertekad untuk mencaritahu sendiri. Alsya sudah menetapkan hatinya untuk menerima segala konsekuensi yang kemungkinan akan terjadi nanti.
"Nyonya, Apa kita ke rumah sakit lagi saja ?." Tanya pak supir yang terlihat khawatir.
"Tidak apa-apa, pak. Sudah mendingan kok." Jawab Alsya mulai beranjak dari tempat berdirinya Lalau kembali masuk ke dalam mobil.
Supir itu juga segera kembali menempati kursi kemudi. Dan mulai menyalakan lagi mesin mobilnya.
"Pak, kita putar balik ya !."
"Mau kemana nyonya ?."
__ADS_1
"Ikuti mobil mas Aly."
"Maksudnya nyonya ?!." Tanya supirnya sedikit bingung.
"Cepetan pak !." Desak Alsya tidak sabar
"Iya, iya, nyonya ."
Mobil mulai bergerak dan menyeberang ke jalan sebelah. Dan berjalan sedikit cepat untuk mencari keberadaan mobil Aly. Setelah beberapa lama, akhirnya mobil Aly sudah terlihat.
"Pak, jangan bilang ke mas Aly kalau kita mengikutinya !."
Lagi-lagi sang supir pribadi hanya bisa menuruti ucapan majikannya tanpa banyak tanya. " Baik, nyonya." Jawabnya.
Mobil terus melaju, bergerak dengan menjaga jarak agar tidak terlihat oleh Aly. Hati Alsya semakin dilanda kegelisahan yang teramat sangat. Dia sedang mencoba meyakinkan diri untuk tetap tenang apapun keadaannya.
Ya Allah... jika memang firasatku benar, hamba memohon, beri jalan keluarnya ya Rabb...
Tatapan mata Alsya terlihat kosong menatap rumah-rumah yang berjejer di pinggir jalan raya hingga dia menyadari sesuatu. Melihat rumah-rumah itu yang tampak tidak asing bagi penglihatannya membuat Alsya terkesiap, dia segera mencari hal untuk meyakinkan dugaannya dan tidak lama...
"Pesantren ?!." Pekik Alsya dengan suara lirih.
"Apa kita masuk aja nyonya ?." Tanya supir membuat Alsya kembali pada kesadarannya.
"Tidak usah, pak. Kita pulang aja." Jawab Alsya sudah lesuh.
"Baik, nyonya." Mobil kembali putar balik dan bergerak melakukan perjalanan menuju rumah orang tua Alsya.
Mas, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan ?.
Bukankah kamu sudah keluar dari pesantren ?.
Kenapa mereka menyambutmu seperti itu ?.
Astaghfirullah... Ya Allah...
Tak terasa air mata sudah membasahi pipi Alsya bahkan kini isakan kecil mulai keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Mobil telah sampai. Alsya segera turun dan berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya sendiri yang ada di lantai dua di rumah orang tuanya ini. Alsya tidak perduli dengan jalan yang di injaknya yang merupakan susunan anak tangga. Hatinya semakin gelisah dan resah memikirkan kemungkinan besar tentang suaminya itu yang kini entah dia tidak tau sedang apa.
"Alsya !." Suara Umma mengagetkan Alsya sehingga dia tidak bisa menjaga keseimbangannya dan tanpa bisa di cegah kakinya terpeleset ke anak tangga dibawahnya.
"Aaaa...!!!." Alsya menjerit karena tubuhnya terpelanting ke belakang hingga dia hanya bisa memejamkan matanya karena takut.
Bugghh
"Aakhhh... !!." Desis Alsya saat tubuhnya membentur hebat lantai yang terasa dingin dan keras. "Ya Allah..."
"Alsya ?!!." Jerit Umma langsung berlari menghampiri putrinya yang sudah tergeletak tak berdaya dan tak sadarkan diri.
Tadi, niat Umma memanggil Alsya karena umma akan menegur putrinya itu agar menaiki tangga dengan hati-hati sebab merasa ngilu saat melihat Alsya berjalan tergesa-gesa seperti itu. Tapi siapa sangka ternyata panggilannya membuat Alsya terkejut dan berakhir mengenaskan seperti ini.
"Abah...!! Tolong... !!" Umma berteriak sekencang mungkin memanggil suaminya yang entah berada di rumah di bagian ruangan mana ?.
Abah datang dengan berlarian menghampiri. "Astaghfirullah !!. Alsya ?!!." Pekik Abah saat matanya melihat ke arah Alsya yang sudah tak sadarkan diri di pangkuan istrinya. "Alsya kenapa ?!." Tanya Abah sangat panik dan langsung menggendong Alsya, membawanya keluar rumah lalu memasukkan Alsya ke dalam mobil. Umma sudah menangis histeris menyaksikan keadaan putrinya.
Umma membuntut di belakang dan segera ikut naik. Meletakkan kepala putrinya di pangkuan. Abah langsung memutari mobil dan masuk ke dalam kursi kemudi kemudian segera melesatkan mobilnya menuju rumah sakit. Di belakang, supir pribadi Alsya juga mengikuti mobil Abah.
Kondisi Alsya semakin mengkhawatirkan karena kini terlihat sebuah cairan putih keluar dari bawah tubuhnya, dan beberapa saat kemudian berganti dengan darah.
"Abah, cepetan !!. Alsya pendarahan !!." Ujar Umma semakin panik.
Meski sudah berusia senja, Abah masih sanggup untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan akhirnya, setelah penuh perjuangan dengan hari yang terasa cemas-cemas, mobil sampai di depan lobi rumah sakit.
Mereka sampai di rumah sakit milik Affin. Dan disana, ada Affin dan beberapa perawat yang terlihat sudah menunggu.
Affin tahu, karena tadi dia berencana berkunjung ke rumah mertua kakaknya, namun belum sampai dia masuk ke gerbang rumah itu, dia melihat mobil mertua Affan keluar dengan kecepatan tinggi dan juga di belakangnya, mobil yang biasa dipakai Alsya saat bepergian mengikuti. Affin merasa ada sesuatu yang terjadi dengan kondisi Alsya, dia akhirnya mengikuti dua mobil itu. Hingga ternyata mobil yang di depan menuju ke rumah sakit miliknya, Affin segera mempercepat kelajuan mobilnya untuk sampai lebih dulu dari dua mobil tersebut.
Setelah turun, suara Affin seakan menggelegar saat meminta pegawainya untuk datang dengan siap siaga, dan itu segera dilakukan oleh beberapa tenaga medis yang langsung menurutinya sambil membawa sebuah brankar rumah sakit.
Tubuh Alsya segera di baringkan di atas brankar. Affin memperhatikan wajah cantik itu yang kini terlihat pias. Hatinya seakan mencelos saat melihat gadis pujaannya tak berdaya dengan kondisi yang memprihatinkan.
Brankar didorong masuk ke dalam ruang IGD yang pintunya langsung di tutup rapat oleh petugas medis.
Abah dan Umma hanya bisa menangis dalam diam mencemaskan keadaan putri dan cucunya. Mereka berdoa semoga Sang Maha Kuasa memberikan pertolongan pada Alsya dan calon cucunya.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓