Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Pukulan terhadap Aly


__ADS_3

Perpisahan mungkin hal yang berat. Namun, terkadang hal tersebut sangat diperlukan untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya. Tidak ada hal yang baik dari perpisahan tapi akan ada hal diluar ekspektasi yang sedang menunggu untuk di pertontonkan.


Dan kuncinya hanya satu. Jika setelah badai petir, akan ada pelangi yang mewarnai.


_-_-_-_--_-_--_--_-_-


Pagi menyapa, membuat mata-mata yang telah lelap mulai terjaga. Kondisi Alsya semakin membaik hari ini bahkan dia meminta untuk memandikan sendiri bayinya. Nisa yang sangat bahagia melihat perkembangan kondisi Adiknya itu tentu saja mengizinkan namun dia tetap harus memantaunya. Karena Alsya masih terlihat ragu-ragu membersihkan tubuh mungil putranya. Tapi dengan perlahan, tubuh bayi mungil itu sudah kembali berbalut kain bedongnya. Alsya dan mbak Nisa akhirnya tersenyum puas melihat bayi itu sudah rapi.


Disaat kebersamaan itu, terlihat pintu kamar berderat terbuka dari luar, menampilkan sosok pria yang tatapan matanya langsung menatap lekat wajah Alsya. Tidak lain lagi, pria itu adalah Aly yang dari hari kemarin belum kelihatan batang hidungnya dan kini mulai menampakkan dirinya lagi.


Aly mendekati tubuh istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur. Mbak Nisa yang mulai memahami sesuatu dan berniat untuk memberikan privasi pada adik dan adik iparnya itu dan ingin pergi untuk keluar, tapi tangan Alsya langsung menggenggam kuat tangannya, menahannya seolah tidak ingin kakaknya itu pergi.


Mbak Nisa memperhatikan wajah cantik adiknya yang kini mulai terlihat pias juga berkeringat dingin. Mbak Nisa juga merasakan bagaimana dinginnya tangan Alsya di pergelangan tangannya.


"Pergi..." Ujar Alsya tiba-tiba membuat langkah kaki Aly seketika berhenti.


"Sayang,.." panggil Aly tidak menyangka dengan ucapan Alsya barusan yang mengusirnya.


Genggaman tangan Alsya semakin kencang di pergelangan tangan mbak Nisa. Alsya menggeleng lemah dengan mata sudah mulai berkaca-kaca.


"Al, Alsya, tenangkan dirimu..." Bisik mbak Nisa lembut agar ketegangan Alsya mengendur.


"Pergi kamu... Kamu sudah membuat anakku meninggal... Aku benci kamu... !. " Ucap Alsya mulai meninggikan suaranya.


Mata Alsya menatap tajam ke arah Aly namun Aly sepertinya malah membuat masalah dengan kembali melangkah semakin mendekati tubuh istrinya.


"Tidak... !. Aku benci sama kamu...! Aku benci... !. Jangan mendekat...!" Teriak Alsya semakin menangis histeris.


Mbak Nisa segera mengambil bayinya dan segera meminta bantuan pada beberapa rekannya untuk mengurus kondisi Alsya, melalui telekom di samping tempat tidur Alsya.


Beberapa perawat datang, mbak Nisa menyerahkan bayinya pada salah satu dari mereka yang segera pergi dari tempat itu setelah bayi itu sudah berada di gendongan nya.


Mbak Nisa kembali pada adiknya yang badannya mulai gemetaran juga berkeringat dingin.


"Aly, pergilah !. " Perintah mbak Nisa panik.


"Tapi, mbak..." Ucap Aly ingin membantah.


"Aku bilang pergi !!. Ini demi kesehatan Alsya !!." Teriak mbak Nisa dengan suara lantang.


Aly akhirnya menurut dan keluar dari kamar.


Kini tinggal Alsya yang masih menangis histeris juga berteriak tidak karuan membuat mbak Nisa dan beberapa perawat kewalahan.


Perasaan syok membuat kondisi psikis Alsya sedikit terganggu memang. Karena disaat bersamaan, Alsya telah mengetahui dua hal besar. Dimana dia telah melihat suaminya berbohong padanya juga harus menelan pahit kehilangan salah satu calon buah hatinya yang selama ini sudah bersemayam di dalam perutnya.

__ADS_1


"Dok, kita suntikan obat penenang saja...!" Ujar salah satu perawat.


"Tidak, jangan !." Cegah mbak Nisa sambil memeluk erat tubuh adiknya.


"Tapi, dok ..." Ujar perawat itu hampir memaksa.


"Turuti ucapannya !." Suara bariton itu membuat perawat tadi langsung terdiam menurut.


Mbak Nisa yang memang seorang dokter obgyn, tapi dia juga tahu efek dari obat penenang yang salah satunya adalah keberlangsungan ASI yang akan sedikit tersumbat.


Kondisi Alsya sudah lebih tenang namun dia masih menangis memeluk erat tubuh kakaknya.


"Affin, gimana ini... ?." Tanya mbak Nisa sangat khawatir.


Affin mendekat dan mulai memeriksa kondisi Alsya yang masih belum juga melepaskan pelukan ke tubuh kakaknya.


"Tidak apa-apa, mbak. Dia hanya masih mengalami Panik sesaat. Kondisinya akan kembali berangsur membaik dengan sendirinya." Jelas Affin setelah selesai melakukan pemeriksaan.


Akhirnya mbak Nisa bisa mengangguk tenang.


"Jangan suntikan obat penenang, Fin." Ujar mbak Nisa memberi ultimatum.


Affin mengangguk patuh.


"Kalian keluar !." Ujar Affin pada seluruh anak buahnya yang langsung mengangguk patuh dan keluar semua.


"Al,."


"Aku tidak mau bertemu dengannya, mbak... Aku benci padanya..." Ucap Alsya lirih penuh permohonan.


"Iya, Al. Iya, dia sudah tidak ada sekarang." Ucap mbak Nisa menenangkan.


Alsya mengangguk mengiyakan.


"Sekarang istirahatlah !."


Alsya kembali mengangguk.


Mbak Nisa membantu Alsya merebahkan tubuhnya dan membenahi tidur adiknya itu.


Tatapan Alsya beralih pada sosok pria yang berdiri disamping kirinya karena mbak Nisa berdiri di samping kanan.


"Affin ?." Panggil Alsya sedikit terkejut dengan kehadiran pria itu.


"Iya, Al. " Jawab Affin dengan senyuman manisnya yang sangat mematikan bagi kaum wanita. Tapi sayang, itu ternyata tidak berlaku untuk seorang Alsya.

__ADS_1


Alsya hanya membalas senyuman itu singkat lalu mulai memejamkan matanya dan tertidur dengan tenang.


"Kondisikan hatimu, Fin." Ujar mbak Nisa menegaskan namun syarat akan ledekan.


Affin mendelik, menatap tajam wajah kakak iparnya. " Kita lihat saja nanti." Ujar Affin santai dan berlalu pergi keluar.


Mbak Nisa hanya bisa tersenyum melihat tingkah adik iparnya itu yang hingga bertahun-tahun lamanya memendam rasa untuk adiknya yang jelas-jelas sudah memiliki suami.


Mbak Nisa memeriksa keadaan Alsya sebentar untuk memastikan bahwa Alsya sudah terlelap tenang lalu dia juga keluar dari kamar saat sudah yakin bahwa Alsya sudah tertidur nyenyak.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Aly duduk termenung di kursi tunggu. Dia masih tidak menyangka jika Alsya sampai bereaksi seperti itu ketika melihat kehadirannya.


Pantas saja mbak Nisa melarang agar aku tidak menemui Alsya kemarin.


Seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya membuat Aly terperanjat kaget. Saat menoleh, Aly melihat Affin kini sudah duduk di sampingnya.


"Surah an-nisa ayat tiga memang memperbolehkan untuk berpoligami. Tapi pria sepertimu bahkan tidak pantas menjadi seorang pemimpin !." Ucap Affin pedas tanpa menoleh sedikitpun ke arah Aly.


Aly terkesiap dengan ucapan Affin itu. Dia tidak mengerti kenapa Affin tiba-tiba mengatakan hal tersebut.


"Apa maksudmu ?." Tanya Aly bingung.


Affin menoleh. "Jangan dikira kami tidak tau kalau selama ini kamu memiliki istri lain selain Alsya ?!. "


Deg.


Inilah akhir dari kebohongan yang selama ini disimpan rapat olehnya kini telah terkuak begitu terang.


Aly menunduk dalam, dia sadar jika memang yang dikatakan oleh Affin benar adanya.


"Lepaskan Alsya !." Ucap Affin lagi.


Aly mendongak menatap tajam ke arah wajah pria di sampingnya. "Kau tidak berhak mengatakan itu !." Ucap Aly geram.


"Yah, tentu saja. Tapi, bukankah Abah sudah mengatakannya terlebih dahulu ?!. "Ucap Affin membuat Aly teringat akan ucapan ayah mertuanya kemarin.


"Tidak usah ikut campur urusan pribadi orang lain !." Ujar Aly sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan pergi.


Affin ikut bangkit. "Semua keluarga Alsya sudah tahu kebusukanmu!. Tapi mereka diam karena memikirkan perasaan Alsya !. Lalu, apa kau masih ingin bertahan jika Alsya saja tidak mau melihatmu ?!." Ucap Affin lagi.


Aly terhenyak. Keluarga Alsya sudah tahu ?. Dan, harapannya hanya pada Alsya, tapi tadi Alsya bahkan sampai bereaksi seperti itu ketika melihat kehadirannya ?!.


Aly kembali melanjutkan langkahnya pergi menjauh dari Affin yang kini tersenyum menyeringai.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2