
Terkadang, ada beberapa hal yang memang harus selalu ditempatkan di belakang. Sebab, ada bahagia yang sedang di tata dan di realisasikan menjadi bahan canda dan tawa.
✓✓✓✓✓✓✓✓
Aly sudah siap dengan pakaian formalnya karena hari ini dia akan berangkat ke kantor. Aly menghampiri kedua anaknya yang sedang berada di atas tempat tidur.
"Hafidhz,."
"Iya, Abi,.?."
"Abi mau berangkat dulu yaa. Nanti Hafidhz jangan nakal sama Mbak nya !." Nasihat Aly, kata-kata yang sama seperti yang dia katakan kepada putranya itu sebelum berangkat ke kantor.
"Iya, bi. Hafidzh udah gede, gak bakal nakal sama mba Alma !." Jawab putranya tampak meyakinkan.
Aly tersenyum lalu mengusap lembut kepala putranya dan mendaratkan kecupannya di kepala Hafidzh. "Abi percaya sama Hafidhz. " Ujar Aly sangat bangga memiliki putra yang sangat baik dan nurut.
Aly beralih pada bayinya yang sedang di gendong oleh baby sitter nya, mengusap wajah bayinya penuh kasih sayang. "Mbak, titip Chay, yaa. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi saya."
"Baik, pak. "
Aly mengangguk, melambaikan tangannya pada Hafidhz sebelum keluar dari kamar. "Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam... Abi !."
Semenjak kematian Halimah dan bercerai dengan Alsya, Aly langsung memutuskan untuk keluar dari pesantren dan hidup bersama kedua anaknya di rumah sendiri yang beberapa bulan lalu dia beli.
Rumah yang dulu di tempati oleh Alsya dan anak-anaknya sudah dia serahkan kepemilikannya atas nama Alsya sebagai hadiah, namun nyatanya Alsya malah menolaknya mentah-mentah kala itu. Dan Aly sudah tidak mungkin berbuat apa-apa lagi selain pasrah atas kemauan mantan istrinya itu.
Aly sampai di kantor tepat setelah dua puluh menit perjalanan. Aly masuk ke dalam bangunan berlantai tujuh itu dengan wibawanya yang selalu menjadi tolak ukur semua orang untuk menghormatinya.
Sampai di ruangan pribadinya, seorang asisten pribadi masuk ke dalam. "Assalamualaikum, pak ..." Ujarnya sopan.
"Waalaikumsalam, Rey."
Rey, asisten pribadi Aly di kantor itu mulai membacakan agenda kegiatan yang akan dilakukan oleh pemimpinnya di hari ini. Dan Aly manggut-manggut mengerti.
"Baiklah, siapkan berkasnya sekarang !." Perintah Aly dan langsung disambut hormat oleh Rey.
Jadwal pagi ini memang ada pertemuan dengan salah satu kliennya yang bertempat di sebuah restoran di daerah pusat kota, tepat di waktu jam makan siang. Aly yang baru saja duduk, mulai mengecek berkas-berkas perusahaannya yang belum dilihat karena terlalu sibuk dengan urusan pribadi.
__ADS_1
Waktu terus berjalan dengan pasti hingga tiba saatnya Aly keluar dari ruangan tersebut karena jam makan siang sudah akan masuk.
Aly bergegas bangun dan Rey telah siaga di belakangnya, mengikuti langkah Aly yang mulai memasuki mobilnya. Rey mengambil alih kunci mobil Aly karena dialah yang akan mengendarainya menuju lokasi pertemuan.
Langkah Aly santai saat memasuki pintu kaca restoran dan Rey masih senantiasa mengikutinya di belakang.
"Disana, pak ." Ujar Rey karena dia lebih dulu melihat rekan kerja bosnya. Rey mengulurkan tangannya dengan sopan menunjuk sebuah meja yang sudah terisi oleh dua orang.
Aly mengangguk lalu melangkah menghampiri mereka.
"Selamat siang, tuan Anand ?!." Aly menjabat tangan pria muda yang kerap disapa bernama Anand itu kemudian Rey mengikuti. "selamat siang, tuan ?." Ujar Rey ramah.
"Siang, Rey." Jawab pria itu yang tak kalah ramahnya.
Aly beralih pada seorang wanita berjilbab simpel di samping Anand sebentar lalu mengangguk sopan.
"Siang nona..." Sapa Aly sopan.
"Siang tuan..." Wanita itu mengangguk lalu tersenyum ramah.
Aly dan Rey duduk berseberangan dengan dua orang itu.
"Apa kita bisa memulai saja pembahasannya, tuan Zuhally ?, Sambil menunggu makanan datang." Ujar Anand tiba-tiba.
"Ouh, iya, kita mulai saja tuan Anand." Jawab Aly spontan.
"Iya, untuk pengenalan tentang pembahasannya, Fyzha akan menjelaskan. "
Semua orang reflek mengangguk mengiyakan bersamaan dengan Fyzha yang mulai berdiri.
Fyzha membuka satu persatu lembaran kerja samanya dengan penjelasan yang sangat mendetail dan dapat dipahami juga pembawaannya yang luwes tampak sekali bahwa dia adalah seorang yang berpengalaman di bidangnya.
Aly dan Rey menyimak dengan serius, sesekali Rey juga terlihat menulis sesuatu di lembaran berkas yang di hadapannya.
Fyzha selesai menerangkan kemudian dilanjut oleh Anand yang menjelaskan bagian terakhirnya.
Aly sedikit terusik pada dua wajah dihadapannya itu. Dia bahkan kerap kali melihat kedua wajah itu bergantian seolah sedang meyakinkan akan sesuatu hal.
Rey mulai bersuara, menjelaskan tentang detail pada berkas yang dibawanya dan berlanjut disambung oleh Aly.
__ADS_1
Pembahasan di jeda karena pesanan sudah datang. Mereka memutuskan makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembahasan tadi.
Setelah selesai makan, Rey memanggil waitress yang terlihat sedang berkeliling, untuk membersihkan makanan di meja, dan bersamaan dengan itu salah satu waitress lain datang menyajikan minuman baru yang memang telah dipesan tadi. Dan mereka kembali memulai pembicaraan tentang hal yang sempat tertunda tadi.
"Baiklah, semuanya telah selesai, jadi kita adakan pertemuan berikutnya di lain hari." Ujar Anand setelah semua telah rampung didiskusikan.
"Iya, untuk jadwal pertemuan berikutnya mungkin beberapa bulan kedepan."
"Iya itu lebih baik, karena saya juga akan ke luar kota untuk beberapa Minggu ke depan."
"Ohh sangat kebetulan sekali yaa ?." Aly mengakhiri ucapannya dengan kekehan kecil.
"Hahaha iya tuan Zuhally." Anand ikut terkekeh kecil.
"Oh ya, maaf tuan Anand, sebelumnya saya ingin bertanya, apakah kalian bersaudara ?." Tanya Aly kemudian membuat Anand dan Fyzha saling melihat satu sama lain.
Anand kembali menatap wajah Aly sambil tersenyum. "Benar, tuan. Fyzha adalah adik saya selisih lima belas menit saja." Ujar Anand kembali terkekeh.
"Masya Allah..!" Pekik Aly kaget.
"Woww, kembar ternyata ?!." Rey menimbrung.
Sedangkan Anand dan Fyzha hanya terkekeh melihat tingkah Aly dan asistennya itu.
"Hahaha, pantas dari tadi saya perhatikan wajah kalian sangat mirip.." ujar Aly kembali.
"MIRIP ?!!." Pekik Anand dan Fyzha bersamaan kemudian mereka saling menatap dan beberapa detik kemudian mereka sama sama menggeleng.
Aly dan Rey sedikit bingung dengan reaksi kakak beradik kembar itu.
"Tidak, tuan... Kamu tidak ada kemiripan sama sekali." Ucap Fyzha kemudian.
"Bahkan dari kecil, kami memang dilahirkan kembar tak seiras, bahkan sangat tak seiras sama sekali." Decak Anand menyambung.
Aly mengerjitkan alisnya heran namun karena mendengar kekehan kecil Rey, membuatnya ikut terkekeh dan berakhir tertawa lepas. Entah apa yang mereka tertawaan saat ini !!.
Anand dan Fyzha ternyata ikut menyambung, dan akhirnya mereka tertawa bersama hingga membuat pengunjung lain keheranan melihat keempatnya.
"Ekhem !!. "Anand berdehem membuat semuanya langsung menutup mulut, menghentikan tawanya.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓✓