
Kabar tentang kecelakaan yang menimpa Aly dan Hafidhz mulai terdengar ditelinga keluarga besar Aly juga Alsya. Mereka sangat syok dan segera menuju ke rumah sakit dengan kekhawatiran yang sangat besar.
Tidak ada yang memberitahu mereka jika kecelakaan itu telah merenggut nyawa Hafidhz. Semua orang langsung lemas saat diberitahu ketika mereka sampai di rumah sakit.
Mbak Nisa dan Umma langsung menangis histeris menyaksikan tubuh mungil Hafidhz sudah terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Dan keluarga Aly pun tak kalah terpuruknya, ibunya juga ikut menangis histeris sambil memeluk erat tubuh sang cucu yang sudah kaku.
"Hafidhz,... Sayang... Kenapa kamu tinggalkan nenek...? Hafidhz bangun, nak..." Ceracauan ibunya Aly yang sangat tidak bisa kehilangan cucunya.
"Hafidhz,... Kamu tidak boleh meninggalkan kak Rizal sayang... Hafidhz dengarkan ibu, nak... Bangun sayang... Bangun..." Mbak Nisa juga tak kalah histeris mengajak bicara jenazah keponakannya.
Berbeda dengan umma yang hanya bisa menangis karena sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi karena saking syoknya.
Semua orang menangis dalam diam. Mereka tidak menyangka Hafidhz yang masih sangat kecil kini telah terbujur kaku.
Abah hanya terdiam sambil merasakan kesakitan atas kepergian cucunya. Pikiran Abah telah berkelana ke putrinya yang sedang berada jauh di belahan bumi lain. Abah tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Alsya saat mengetahui kematian putranya. Alsya pasti sangat syok, Alsya pasti sangat terpukul, Alsya pasti sangat frustasi.
Ya Allah... Ujian apa lagi ini...? Kenapa Engkau beri cobaan yang berat kepada putriku secara berturut-turut...
Abah terdiam sendu. Dia menangis tanpa suara. Apakah ini kesalahannya karena dulu dia memaksa Alsya untuk menikah dengan Aly ?. Apakah semua ini akan terjadi jika seandainya putrinya itu tidak menerima perjodohannya dulu?.
Alsya maafkan Abah, nak... Ini semua salah Abah... Ini salah Abah, karena sudah memintamu menikah dengan pria seperti Aly...
Abah mendekati tubuh cucunya itu yang masih di dekap erat oleh istri, anak dan besannya. Abah perhatikan wajah teduh yang sudah membiru itu dengan penuh kesedihan yang mendalam. Abah mengusap kepala cucunya dengan perasaan yang bergemuruh hebat.
Ya Allah... Kenapa harus anakku...?!. Kenapa harus cucuku...?!. Abah hanya bisa menjerit di dalam hatinya.
Hatinya sangat remuk hanya karena ulah salah satu menantunya. Aly sudah keterlaluan !. Abah memang tidak bisa marah dan selalu berhati lembut, tapi kali ini Aly sudah sangat melewati batas !!.
Mata Abah memerah karena sedih bercampur amarah. Abah pergi begitu saja dari lingkaran semua orang. Abah berjalan tidak karuan menuju tempat untuk menenangkan diri, tempat dimana selalu dia temukan kedamaian dan ketenangan di dalamnya. Abah memasuki masjid yang berada tepat di seberang jalan raya.
Sepergian Abah, Hafidhz mulai diproses untuk dibawa pulang ke rumah atas perintah Affan. Yah hanya Affan lah yang kini masih bisa bertindak sadar. Sebab yang lainnya terlihat sangat terpukul. Affan meminta pihak rumah sakit agar menyegerakan mengurus jenazah keponakannya supaya bisa lebih cepat dibawa pulang.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, mobil ambulance sudah melaju kencang membelah jalanan beraspal menuju ke rumah Abah. Dan itupun atas perintah Affan lagi yang juga sudah sangat kesal dengan mantan suami adik iparnya itu.
Affan sudah menganggap Alsya sebagai adik kandungnya sendiri, dan jika seseorang melakukan kesalahan pada adiknya maka dia pun tidak akan terima begitu saja. Apalagi kesalahan itu sudah sangat fatal hingga melenyapkan nyawa keponakan kesayangannya itu.
Para tetangga langsung berdatangan ke rumah duka kediaman Abah. Acara tahlilan juga yasinan seakan langsung membaur di setiap sudut-sudut ruangan.
Pikiran semuanya orang hanya tertuju pada Hafidhz seorang. Tidak ada satupun dari mereka yang mengingat tentang Aly. Begitulah kiranya yang ada dibenak Affan. Dan menurutnya itu balasan yang setimpal dengan apa yang telah diperbuat oleh Aly.
Tanpa sepengetahuan semua orang juga, Affan telah menghubungi relasinya untuk mengusut tuntas akan kejadian yang manimpa Aly dan Hafidhz. Dia ingin tahu kenapa sampai kecelakaan itu terjadi.
Setelah dimandikan dengan penuh kehati-hatian dan di sholati, Hafidhz dikebumikan di samping makam adiknya yang dua bulan lalu juga meninggal.
Tak disangka, ternyata berita duka itu juga telah sampai di telinga Affin. Affin yang saat itu mendapat kabar buruk dari kembarannya tentang Hafidhz yang sudah sangat dia sayangi seperti anak sendiri, juga sangat syok menghembuskannya. Kebenciannya terhadap Aly juga sudah terasa hingga ke ubun-ubun !. Affin segera meminta cuti beberapa hari untuk terbang ke Indonesia demi melihat anak angkatnya itu sebelum benar-benar dimakamkan. Dan untungnya saat sebelum Hafidhz diturunkan ke liang lahat Affin telah sampai di area pemakaman.
Mata Affin tampak berkaca-kaca saat melihat tubuh mungil itu telah dibungkus dengan kain berwarna putih. Affin dengan gontai mendekatinya tangannya terulur mengusap lembut kepala Hafidzh lalu matanya tertuju pada Abah.
"Izinkan saya yang meletakkannya, Abah,.?" Ujar Affin sangat lirih.
Abah tanpa berpikir panjang langsung mengangguk lalu membiarkan Affin ikut turun ke liang lahat dan salah satu orang yang tadi di dalam ada yang keluar.
Sebelum menutup tubuh mungil itu Affin mencium lembut kepala Hafidzh. "Berbahagialah putra ayah..." Ujar Affin lirih.
Beberapa saat kemudian, kuburan Hafidhz sudah mulai sepi dari para pelayat. Dan hanya menyisakan beberapa keluarga saja yang masih tetap di tempat.
"Abah, kemana Alsya ?, Apa dia tidak ikut kesini ?." Tanya Affin mencari-cari sosok yang sudah sangat dirindukannya.
"Alsya tidak ada, nak." Jawaban Abah membuat Affin bingung.
"Maksud..." Ucapan Affin menggantung.
"Sebaiknya kita pulang." Sergah Abah dan berlalu begitu saja.
__ADS_1
Semua orang langsung menyusul langkah Abah, meninggalkan Affin yang semakin kebingungan dan akhirnya mengikut juga.
Saat sampai di rumah, mbak Nisa tiba-tiba mendapat telepon dari adiknya. Mbak Nisa langsung kelimpungan bingung untuk mengangkatnya. Affan yang kebetulan tepat berdiri disampingnya langsung melirik ke layar handphone sang istri.
"Mas..."
"Sini, biar mas aja yang jawab."
Mbak Nisa hanya mengangguk mengiyakan dan menyerahkan handphonenya. Affan menjawab teleponnya dan men-loadspeaker suaranya.
"Hallo, assalamualaikum, mbak... " Terdengar suara Alsya dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam, Al." Jawab Affan berusaha tenang. Dengan tatapan mata melihat satu-persatu orang-orang di sekitarnya.
Mereka tampak diam membeku. Mereka semua sudah sepakat untuk tidak memberitahu Alsya tentang kematian Hafidhz untuk saat ini karena takut Alsya yang seharusnya bisa lebih tenang malah semakin kacau jika mendengar berita duka itu.
"Ehh, kak ?. Maaf kak, mbak Nisa nya kemana kalau boleh tau ?." Tanya Alsya yang sepertinya kaget karena yang menjawab bukanlah sang kakak.
"Ohh, Nisa tadi ada di dapur dan kebetulan ponselnya ada di kamar. Ada apa Al?, Apa ada sesuatu yang penting?, Kalau iya saya akan kasihkan ke Nisa sekarang." Jawab Affan berbohong.
"Hmm, nggak kak, tidak ada apa-apa mungkin lain kali aja ngomong sama mbak Nisa nya. Saya tutup dulu ya kak, assalamualaikum..."
"Baiklah, waalaikumsalam."
Sambungan diputus dari pihak Alsya. Affan mengembalikan lagi ponselnya pada si pemilik.
Semua orang yang tadi hampir tak bisa bernafas kini menghembuskan nafasnya lega.
"Mungkinkah jika Alsya merasakannya ?." Tanya mbak Nisa dengan tatapan mata kosong.
Semua orang Kembali terdiam. Termasuk Affin yang kini memahami jika Alsya sedang tidak ada di tengah-tengah mereka saat ini.
__ADS_1
Entah kemana kepergian wanita pujaannya itu ?.
✓✓✓✓✓✓