
#Maaf, Tulisan awal kesalahan teknik ππ»
Author dalam mode ngebleng jadi salah meluncurkan alur ceritanya π ππ»
#Isinya diganti yaaππ»ππ»
Hampir setahun Nareena berusaha untuk menaklukkan hati seorang pria dingin seperti bosnya yang selalu saja bersikap acuh dan cuek terhadapnya.
Nareena kadang berpikir jika bosnya itu termasuk pria yang tidak menyukai lawan jenis, tapi dia juga berpikir lagi, masa ada seorang pria yang taat agama memiliki kelainan seperti itu.
Nareena sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi dia rasa memang sudah bukan lagi ranahnya berharap agar cintanya terbalas. Nareena jadi teringat akan ucapan istrinya Anand. Jika dengan berusaha Nareena tetap dianggurkan, maka menjauh adalah jawaban terbaik untuk dilakukan.
Hari ini Nareena akan mencobanya. Dia akan bersikap dingin seperti yang dilakukan bosnya dan dia juga akan bersikap keras kepala pada bosnya itu.
Seperti biasa, sang bos datang di jam yang selalu tepat waktu. Nareena akan melancarkan aksinya. Dia tidak ingin menghiraukan apapun tentang bosnya itu. Nareena hanya melirik sekilas melihat kedatangan Aly lalu kembali lagi pada kesibukannya membereskan pekerjaannya. Tak ada lagi sapaan selamat pagi, selamat siang dan berdiri menyambut kedatangan sang bos besar.
Setelah melihat Aly sudah memasuki ruangannya, barulah dia bangun dan memasuki ruangan bosnya itu.
"Permisi..." Ujar Nareena mendekat ke meja Aly. Dan tanpa basa-basi dia langsung membuka agenda kegiatan bosnya dan membacakannya hingga selesai.
"Terimakasih, saya pamit pergi." Ucapnya mengakhiri tugasnya lalu keluar lagi dari ruangan tersebut.
Keluar dari ruangan sang bos, Nareena tak bisa menahan senyumnya saat melihat wajah si bos yang terlihat kebingungan dengan sikapnya.
Nareena mengangkat bahu tak perduli. Dia kembali duduk di kursinya dan langsung menyambung pekerjaan yang belum diselesaikan.
"Makanya jangan terlalu datar, nggak enak kan dicuekin ?!." Nareena mendumel sambil tangan dan matanya terfokus pada pekerjaannya.
"Di cuekin gitu langsung diam. Huhh, dasar bos aneh !." Ceracauan Nareena masih terus berlanjut tanpa lelah.
Dering telepon khusus berbunyi. Nareena segera mengangkatnya.
"Datang ke ruangan saya." Terdengar suara dari seberang telepon lalu sambungan terputus begitu saja.
"Menyusahkan memang." Meski mendumel, tapi Nareena tetap bangkit dari duduknya dan kembali memasuki ruangan bos anehnya itu. "Permisi, tuan." Ujarnya sesopan mungkin.
"Hem, kemarilah." Seperti biasa. Sikap Aly yang selalu membuat Nareena kesal tak terbatas.
"Iya, tuan ?, Ada yang bisa saya bantu ?."
"Bawakan berkas dari Auristella'S Jawelry."
"Baik, tuan." Nareena mengangguk kemudian keluar lagi untuk mengambil berkah yang diminta Aly.
__ADS_1
Kekesalannya semakin bertambah saja. "Kenapa coba, tidak sekalian ngomong tadi di telpon ?!, Ini namanya buang-buang waktu. Huhh !." Nareena mengambil berkas itu tak bersemangat. Dia segera memasuki ruangan bosnya lagi.
"Ini, berkasnya, tuan." Ujarnya sopan sambil menyerahkan berkas tersebut.
"Hmm." Aly mengambilnya dan langsung memeriksanya dengan sangat fokus.
Hampir lima menit Nareena berdiri menunggu tuannya itu berbicara lagi. Tapi, ternyata tak kunjung juga.
Nareena sudah mulai kelelahan berdiri seperti patung tanpa melakukan apa-apa. "Maaf, tuan, ada yang perlu saya lakukan lagi ?." Ucapnya karena sudah hilang kesabaran.
"Kau boleh keluar." Aly menjawab tapi matanya masih fokus pada kegiatannya.
Nareena mencoba bersikap tenang. Dia tersenyum paksa kemudian melenggang keluar dari ruangan itu lagi.
Dan benar saja, sepeninggalan Nareena, Aly dibuat bingung oleh sikap Nareena yang tidak seperti biasanya itu. Nareena hari ini sangatlah berbeda dari hari-hari sebelumnya.
"Kenapa dengan anak itu ?." Gumam Aly penasaran.
Aly mencoba abai. Dia mulai menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang ditumpuk di mejanya. Memeriksa setiap berkas tapi pikirannya malah ribut memikirkan sikap Nareena barusan.
Aly menyerah. Dia menyimpan lagi pulpennya dan memilih duduk bersandar sambil terus memikirkan tentang sikap Nareena.
Aly sudah terbiasa dengan sikap Nareena yang selalu membuatnya kesal dan ingin marah. Nareena cerewet yang suka sekali ikut campur dengan urusan pribadinya.
"Apa aku melakukan hal yang salah ?. Tapi perasaan tidak, aku selalu bersikap seperti biasanya kok." Aly terus bergumam dengan asumsi-asumsi yang menyelimuti pikirannya.
Tiba waktunya pemberangkatan menuju lokasi Auristella'S Jawelry. Nareena segera mengikuti langkah kaki Aly saat melihat Aly keluar dari ruangannya. Dia sudah faham jika saat ini waktunya kunjungan ke perusahaan sepupunya.
Keduanya menaiki satu mobil dan itu adalah mobil Aly.
Di dalam perjalanan, Nareena memilih diam tak banyak bicara seperti biasanya. Dia hanya menjawab jika Aly bertanya dan itupun seperlunya saja.
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di bangunan mewah dan megah yang dijaga begitu ketat. Bahkan saat memasuki gerbangnya pun, harus menyertakan kartu identitasnya.
Mereka turun dari mobil kemudian melangkah memasuki ruangan mewah tersebut.
"Selamat datang, tuan Zuhally, nona Nareena... Mari saya antar ke Bu Auristella..." Sapa seorang pria yang mereka tau adalah asisten pribadi Fyzha.
Aly mengangguk mengiyakan. Dengan dipandu oleh orang tersebut, mereka dibawa ke ruangan khusus yang letaknya lumayan jauh dari pintu utama tadi. Di sepanjang lorongnya, terdapat beberapa ruangan yang masih sangat sepi dari interior dan furniturenya.
"Ini adalah bagian yang belum di desain, tuan." Ucap pria itu menjelaskan saat mereka melewati lorong-lorong.
"Masih banyak yang belum diselesaikan ?."
__ADS_1
"Benar, tuan. Maka dari itu kami memerlukan banyak barang yang dipesan pada tuan Zuhally untuk furniture di ruangan-ruangan yang masih kosong ini."
"Ada berapa yang belum selesai ?."
"Sekitar lima ruangan, dua aula utama, dan tiga kelas."
Mereka sampai di tempat dimana disana ada Fyzha juga beberapa pekerja yang sedang menata barang-barang yang baru saja datang.
Fyzha menyambut kedatangan keduanya dengan senyuman ramah.
"Saya kira anda tidak akan datang, tuan Zuhally." Ujar Fyzha yang memang bukan tanpa alasan. Sebab, kedatangan Aly kesitu ialah telat sampai sepuluh menit dari waktu yang telah ditentukan.
"Maafkan kami yang tidak bisa profesional." Ucap Aly merendah.
Tapi, di pendengaran Nareena itu seperti sebuah alasan yang tidak benar. Sudah jelas, tadi Aly seperti sengaja mengulur waktu dengan kesibukan yang menurut Nareena tidak penting yaitu membaca berkas kerjasama Auristella'S Jawelry yang sudah dibaca dan di cek dengan teliti sebelumnya.
Yang awal ingin membuat perhitungan pada bos-nya itu, tapi tetap saja jiwa dingin sang bos tetap nomor satu untuk membuat Nareena selalu kesal.
"Bisa saya melihat-lihat pemasangannya ?." Tanya Aly kemudian.
"Oh, tentu. Mari saya antar."
Kedua bos itu berjalan beriringan melihat-lihat para pekerja yang sedang sibuk memasangkan interior di beberapa ruangan.
Desain yang dimiliki oleh perusahaan Aly memang sangatlah mengagumkan dan itu semakin menambah kesan elegan dan mewah untuk ruangan baru yang ada di Auristella'S Jawelry.
Mereka berempat berjalan bersama dengan posisi Aly dan Fyzha berjalan di depan dan Nareena dengan asisten Fyzha berjalan di belakangnya.
Dari belakang, Nareena seperti melihat tingkah aneh pada diri sepupunya itu. Dia melihat mata Fyzha saat melihat ke arah Aly seperti dengan mata senang dan berseri.
"Apa Fyzha menyukainya ?." Gumam Nareena tanpa sadar.
Gumaman Nareena tampaknya didengar oleh asisten pribadi Fyzha. Pria jangkung itu menunduk. "Apa anda mengatakan sesuatu, nona ?." Tanyanya.
"Ehh, oh tidak, saya tidak mengatakan apa-apa." Nareena tersenyum kaku pada pria di sampingnya. Pria itu mengangguk percaya.
Mereka berjalan dari ruangan satu ke ruangan lainnya. Ada beberapa yang sudah dalam tahap sempurna dalam pemasangannya, dan ada pula yang masih baru tahap awal.
Setelah selesai, mereka menyempatkan waktu untuk makan siang di restoran dekat Auristella'S Jawelry.
Dalam satu meja dengan empat kursi, masing-masing memesan makanan yang akan dinikmati.
Nareena terus memperhatikan gerak-gerik Fyzha yang terlihat sangat kentara. Dari tatapannya, dari sikapnya, dari gerak tubuhnya, tidak salah lagi, bahwa Fyzha menyukai Aly.
Nareena mulai cemas dengan usahanya selama ini. Jika Aly sampai tau bahwa Fyzha menyukainya, bisa jadi Aly dan Fyzha akan menjalin kasih dan kisah cinta Nareena yang selama ini di perjuangkan akan sia-sia.
Nareena tidak mau itu terjadi. Dia akan berusaha untuk mendapatkan perhatian Aly sebelum sepupunya itu mendahului.
__ADS_1