
Lagi-lagi Aryan dan Ningrum dikagetkan oleh kedatangan kedua anak kembarnya yang tiba-tiba sudah ada di depan rumah saja tanpa memberitahu dulu sebelumnya.
Anand dan Fyzha memang langsung berangkat ke Cirebon setelah keadaan Fyzha membaik. Mereka ingin memberitahukan tentang keadaan Fyzha saat ini pada kedua orang tuanya, walau waktu itu mereka sudah menceritakan semuanya. Tapi tetap saja, itu tidak sebaik bertemu langsung.
Fyzha langsung ambruk di bawah kaki Ningrum. Dia bersimpuh memohon maaf atas apa yang sudah dilakukannya. Fyzha menangis sesenggukan dengan tangan gemetar memeluk kaki ibunya.
Ningrum ikut menangis melihat putrinya yang sangat terpuruk seperti itu. Dia membantu Fyzha untuk bangkit dan setelah Fyzha berdiri dia langsung memeluk erat tubuh putrinya. Mereka berdua saling menumpahkan air matanya sambil berpelukan.
Mata Aryan dan Anand juga memerah karena menahan air mata. Tapi mereka bukan sekuat itu sehingga air matanya tetap tumpah walau tidak deras.
Aryan mengelus lembut kepala putrinya. Dia memang kecewa pada Fyzha tapi sebagai orang tua, dia harus bisa bersikap tenang karena putrinya sedang memerlukan dirinya.
"Papa..." Fyzha beralih memeluk Aryan dan kembali menumpahkan air matanya di pundak sang ayah. "Maafin Fyzha, pa... Fyzha telah berdosa, Fyzha melakukan hal menjijikkan... Maafin Fyzha, pa ..." Ceracau Fyzha sambil diselingi Isak tangisnya.
"Iya, nak, iya, papa maafin Fyzha sayang."
Anand mendekat ke arah ibunya lalu memeluknya.
Mereka masuk ke dalam rumah dan melanjutkan drama penuh air mata itu hingga akhirnya Fyzha menghentikan tangisnya.
"Bagaimana keadaan istrimu, Anand ?." Tanya Ningrum setelah mereka semua sudah kembali tenang.
"Alhamdulillah, sekarang sudah lebih baik, ma. Cuma, sekarang Anand harus ekstra sabar menuruti ngidam Alsya yang kadang Masya Allah." Anand terkekeh kecil.
Ningrum dan Aryan juga ikut terkekeh mendengarnya.
"Syukurlah, untuk tiga jagoan mu, kamu memang harus ekstra, nak."
Mendengar kata tiga jagoan, Anand langsung membayangkan bagaimana nanti sibuknya mereka mengurus anak-anak. Istrinya juga pasti sangat kelelahan nantinya.
"Sudah, jangan dipikirin, insya Allah kalau anak kalian lahir mama akan kesana untuk membantu Alsya biar dia tidak kerepotan."
Anand mengangguk. "Makasih, ma." Ucapnya tulus.
"Oh ya, waktu itu kamu bilang ada pria yang ingin melamar Fyzha ?." Aryan bertanya seperti itu karena dia melihat putrinya yang diam saja dengan wajah tak bersemangat.
"Iya, pa. Namanya Affin, adik kembarnya suami mbak Nisa."
"Masya Allah, kembar lagi ?." Seloroh Aryan membuat semuanya terkekeh terkecuali Fyzha.
__ADS_1
"Siap-siap aja cucu kita bisa langsung banyak ini ma, hahaha !." Kali ini Aryan tertawa lepas.
Anand ikut terkekeh dan Ningrum hanya tersenyum lalu Fyzha, pipinya terlihat merona karena digoda meski reaksi wajahnya hanya menampilkan raut dingin dan datar.
Obrolan terus mengalir dengan sikap Fyzha yang tidak pernah berubah dari awal hingga akhirnya mereka bubar memasuki kamar sendiri-sendiri.
Selesai sholat Maghrib, Anand segera menghubungi kontak istrinya. Kurang dari dua hari tidak berada disisi Alsya, dia sudah merasakan kerinduan yang teramat mendalam.
Sambungan terhubung dan wajah Alsya sudah nampak di layar ponsel Anand. "Hallo, assalamualaikum." Ujar Alsya dengan senyuman manisnya yang selalu membuat Anand tak pernah bosan melihatnya.
"Waalaikumsalam, sayang. Sedang apa, Hem ?."
"Aku baru saja keluar dari kamar anak-anak dan sekarang mau tiduran sebentar sambil nunggu waktu insya.
"Iya, sayang. Banyakin istirahatnya biar badannya gak lemas terus."
"Iya, A. Aa' kapan pulangnya ?."
"Insya Allah lusa, sekalian mama sama papa juga akan ke Jakarta."
"Ouh, baiklah." Wajah Alsya terlihat murung.
Tapi Alsya langsung menjawabnya dengan anggukan kepala. "Sudah dua hari ini susah tidur, A." Ucapnya lirih.
Anand tersenyum. Bukan hanya istrinya saja yang susah tidur selama dua hari ini semenjak Anand ke Cirebon. Sebab Anand juga merasakan hal yang sama, dia bahkan kemarin tidak bisa tidur sama sekali hingga menjelang pagi lagi.
"Iya, sayang. Bersabarlah dua satu hari lagi, kita akan segera bertemu."
Alsya hanya mengangguk.
"Oh ya, tiga jagoan Abi apa masih membuat umminya kesusahan ?." Tanya Anand tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
Alsya terkekeh lalu mengarahkan kameranya pada perutnya yang tertutup kain dasternya. "Alhamdulillah, mereka nurut. Mungkin mereka tau kalau sekarang umminya sedang tidak ada tempat untuk bermanja-manja." Mengucapkan sendiri tapi Alsya juga terkekeh sendiri.
Anand semakin melebarkan senyumannya mendengar penuturan istrinya.
✓✓✓✓✓✓✓
Berbeda lagi dengan kondisi Fyzha di kamarnya. Dia sedang melamun menatap kosong pada semburat merah di langit senja.
__ADS_1
Dia hari lagi akan diadakannya acara tunangan dirinya dengan pria yang sudah sekuat tenaga dia hindari sebelumnya.
"Fyzha, apa kamu mengenal Affin sebelumnya ?." Anand bertanya.
Fyzha sekilas melirik wajah pria yang bernama Affin tersebut lalu dia menggeleng. "Tidak, aku tidak mengenalnya kak."
Tatapan Affin mengunci wajah Fyzha dan itu membuat Fyzha salah tingkah. Bukan karena ge er tapi dia lebih kepada takut dengan tatapan penuh selidik itu.
"Kalau kamu tidak mengenalnya, kenapa kalian bisa sampai bertarung adu beladiri segala ?." Rupanya Anand masih ingin terus mengorek informasi lebih lanjut nya.
Lagi, Fyzha dan Affin saling menatap dalam diam. "Saya yang iseng-iseng mengganggunya." Affin menjawab.
Anand melirik Affin dan Fyzha bergantian seolah dia masih belum percaya dengan jawaban Affin tadi.
"Pikiranku sedang kacau waktu itu, dan saat di jalan saya menemui dua gadis yang sedang berjalan santai di pinggir jalan. Dan karena tak ada pekerjaan saya turun dan mencoba merayu mereka tapi saya tidak menyangka jika ternyata Fyzha ahli ilmu beladiri." Ucap Affin panjang lebar untuk meyakinkan pria si kakak gadis yang pernah dirusaknya dulu.
Anand menghembuskan nafasnya berat. "Baiklah, aku percaya. "
Affin mengangguk.
"Aku akan pulang dulu sebentar, Karena Nareena sudah pulang, kamu tidak apa-apa kan ditemani Affin ?, Sekalian mungkin kalian bisa mengobrol agar saling mengenal."
Fyzha mengangguk. "Iya, kak."
"Kalau ada apa-apa langsung ngomong saja sama Affin." Anand mengusap lembut kepala adiknya. "Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam."
Suasana menjadi canggung saat di dalam ruangan itu hanya ada Affin dan Fyzha saja. Untuk menghalau rasa tak nyaman, Fyzha memilih tiduran dengan posisi membelakangi Affin yang sekarang sudah duduk di sofa di sudut ruangan.
"Kenapa tidak berkata jujur ?,"
"Itu bukan urusan mu."
"Tentu saja itu juga urusanku, karena itu bersangkutan dengan ku."
Fyzha memilih diam. Tak ingin mengatakan apapun lagi. Melihat Fyzha yang sudah tak merespon, Affin juga mulai diam dan memilih menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Bukan aku tak ingin jujur, hanya saja kamu itu semua memang kesalahanku, dan kamu hanyalah bagian kecil dari kesalahan ku yang sangat besar." Gumam Fyzha yang dia tunjukkan untuk seseorang yang jauh di sana.
__ADS_1