Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Sikap membingungkan


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, akhirnya Alsya bisa pulang lagi ke rumah. Suasana rumah tampak sepi seperti biasanya, namun tetap bersih dan terjaga karena Aly sering meminta jasa cleaning service setiap seminggu sekali.


"Kamu mau langsung ke kamar apa kemana dulu, sayang ?." Tanya Aly sangat manis.


Langkah keduanya terhenti dengan tatapan saling bersirobok.


"Mas, aku mau makan rujak..." Ucap Alsya dengan senyuman manisnya.


"Rujak ?." Tanya Aly bingung, sebab setahu dirinya, perempuan yang makan rujak adalah perempuan yang sedang menjalani masa ngidam. Sedangkan Alsya... Sudah kehilangan calon bayinya.


"Iya, mas..."


"Kamu nggak lagi bercanda kan, sayang ?."


"Ngapain bercanda sih, mas. Beneran, aku sangat ingin makan rujak. Tapi..." Alsya menjeda ucapannya.


"Tapi apa ?."


"Rujaknya harus pake mangga yang diambil di belakang rumah !." Ucap Alsya antusias juga kerlingan matanya yang berbinar permohonan.


"Ya Allah, sayang... Memangnya pohon mangga di belakang sudah berbuah ?."


"Kayanya udah. Kan waktu kita tinggalkan, pohonnya sudah berbunga."


Aly hanya menggeleng kaku melihat sikap istrinya yang mulai aneh-aneh saja. "Ya udah, kita lihat dulu, udah ada mangganya belum."


"Iya."


Aly menggandeng tangan Alsya menuju ke halaman belakang rumah yang terdapat beberapa pohon buah-buahan, termasuk mangga. Saat sampai, ternyata apa yang dikatakan oleh Alsya benar, bahwa pohonnya sudah berbuah, bahkan sangat lebat. Tapi yang menjadi masalahnya adalah buah-buah itu masih terlihat kecil-kecil dan sangat muda.


"Benar kan, mas ?." Ujar Alsya dengan mata berbinar bahagia melihat mangga-mangga kecil yang bergelantungan.


Aly menatap intens wajah istrinya. Dia bingung harus bersikap bagaimana melihat Alsya seperti itu. "Al."


"Hem ?."


"Kamu mau makan rujak banget ?."


"Iya. Pasti sangat enak makan rujak di waktu seperti ini." Ujar Alsya ceria.


"Ya udah, mas beli mangganya dulu ke luar ya ?." Aly hendak melangkah pergi untuk mengabulkan permintaan istrinya.


"Mas, kok membeli, sih ?!. Itu kan ada mangganya." Telunjuk Alsya menunjuk pohon mangga.


"Sayang, itu masih muda banget, nanti rasanya pasti asem."


"Ihh, tapi aku maunya pake mangga yang itu, mas. Kalau mas beli, ya udah sekalian aja gak jadi makan rujak !." Wajah Alsya berubah masam dan cemberut. Alsya menyilangkan kedua tangan di dada.


"Ya Allah, kamu ini ada-ada deh, keinginanmu sudah seperti orang yang lagi ngidam aja." Ucap Aly spontan tanpa tahu jika kata-kata terakhirnya membuat Alsya terganggu.


Alsya menatap wajah suaminya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. "Mas." Panggilnya dengan suara lirih hampir tak terdengar.


Aly kebingungan dengan reaksi yang terjadi pada wajah Alsya, tapi sesaat kemudian, dia baru sadar jika ternyata tadi dia mengucapkan sesuatu kata yang menyinggung perasaan Alsya.


"Sayang..." Aly mengangkat tangannya namun langsung ditepis oleh Alsya saat tangannya itu bergerak ingin menyentuh wajah Alsya.

__ADS_1


"Sayang, maaf, mas gak bermaksud ngomong seperti tadi..." Ucap Aly benar-benar menyesali ucapannya barusan.


"Sudahlah, mas. Aku mengantuk." Ucap Alsya dan langsung pergi begitu saja.


Aly tidak ingin melihat Alsya menangis lagi karena mengingat sesuatu yang berkaitan dengan calon buah hati mereka yang telah tiada, sebab pasti akan sangat lama menangisinya dan akan mogok untuk melakukan apapun selain menangis dan melamun.


"Al, sayang, hey ?!." Aly mencoba mengejarnya tapi langkah Alsya begitu cepat saat menaiki tangga menuju lantai dua yang merupakan kamar mereka. "Alsya... Maaf, mas nggak sengaja ngomong begitu..." Ucap Aly lagi masih terus berusaha namun Alsya sama sekali tidak menghiraukannya. Alsya masuk ke dalam kamar dengan isakan tangisnya yang mulai terdengar.


Aly mendekati tubuh bergetar Alsya yang beringsut di atas tempat tidur. "Sayang... Maaf, mas nggak sengaja ngomong seperti tadi..." Ucap Aly mengulangi ucapan tadi. Tangan Aly mengusap lembut kepala Alsya agar tangis istrinya itu mereda.


"Mas menyuruhku untuk melupakannya... Tapi, mas malah membuatku mengingatnya..." Ucap Alsya dengan suara terbata-bata karena tangisnya.


"Iya, iya, mas minta maaf karena salah ngomong. Maafin, mas ya ?." Ujar Aly penuh penyesalan.


Tangan Aly membalikkan badan Alsya yang sedang meringkuk membelakanginya, dia usap air mata yang membasahi pipi Alsya lalu memberikan kecupan lembutnya disana.


"Maaf, sayang..." Ucap Aly lagi.


Alsya mengangguk masih dengan sisa-sisa isakan tangisnya. Aly tersenyum cerah saat permintaan maafnya telah diterima.


"Jadi, masih mau makan rujak?, Hem ?." Tanya Aly kemudian.


Alsya menggeleng lemah. "Nggak." Jawabnya yakin.


"Beneran ?."


"Iya."


"Terus, sekarang maunya apa ?."


"Ehh ?!." Aly membelalak sempurna sebab semakin membingungkan saja sikap istrinya itu, pikirnya. "Es krim ?." Tanya Aly masih belum yakin dengan apa yang didengarnya itu apakah salah atau tidak.


"Iya."


"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan ?." Aly menatap lekat wajah istrinya untuk mencari sesuatu disana.


"Memangnya aku kenapa ?." Alsya membalas tatapan suaminya tak kalah lekat, ternyata.


Aly langsung menggeleng kuat. "Ya udah, sebentar ya, mas keluar dulu beli es krimnya." Ucap Aly akhirnya. "Rasa coklat, kan ?."


"Bukan, aku mau rasa strawberry ."


"Strawberry ?. Sayang, bukankah kamu tidak suka sesuatu yang memiliki rasa strawberry ?." Tanya Aly semakin kebingungan.


Alsya terdiam seperti memikirkan sesuatu. "Iya, ya mas ?. Aku nggak suka strawberry."


Aly hanya mengangguk mengiyakan.


"Aku sukanya coklat, kan ?."


Aly mengangguk lagi.


"Ya udah, nggak papa, sekarang aku maunya makan es krim yang rasa strawberry ." Putus Alsya akhirnya.


"Beneran ?."

__ADS_1


"Iya, mas..."


"Ya udah, tunggu ya... Assalamualaikum."


"Iya, waalaikumsalam ."


 


Aly keluar dari kamar dengan perasaan bingung, aneh, terkejut, lalu apalah entah dia juga tidak tahu, yang jelas sikap Alsya saat ini mengingatkan dirinya pada saat Alsya masih mengandung, tepatnya pada saat masa ngidam Alsya, yang sungguh beraneka ragam dan selalu membuatnya hampir frustasi jika tidak bisa menemukan apa yang diinginkan istrinya itu.


Kaki Aly melangkah, tapi hati dan pikirannya masih terus berkelana. "Apa Alsya dalam masa mengidam lagi ya ?. Tapi, bukankah bayinya sudah meninggal ?. " Gumam Aly masih terus berfikir keras.


 


Astaghfirullah... Ini sebenarnya kenapa ?, Apa yang terjadi dengan Alsya ?.


 


Bahkan setelah kecelakaan itu kami tidak melakukan hubungan suami istri lagi, kan ?.


 


Apa bayi kami sebenarnya masih ada ?.


 


Ya Allah... Bisa pusing aku memikirkan tentang Alsya.


 


Dugaan-dugaan seakan memenuhi kepala Aly hingga dia tidak sadar jika telah sampai di mini market yang terletak hanya beberapa meter saja dari rumahnya. Aly segera masuk dan mencari keberadaan lemari es krim. Tangannya mengambil dua es krim rasa strawberry dengan tampilan berbeda, juga dua es krim rasa coklat dengan bentuk cup kecil, setelah selesai Aly langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran dan pulang ke rumah.


Sesaat kemudian, Aly berjalan memasuki kamar, matanya mencari-cari keberadaan sang istri tapi tak ditemukan sama sekali, termasuk di dalam kamar mandi yang juga kosong.


"Al... Sayang, kamu dimana ?!." Teriaknya sambil terus mencari-cari.


Aly keluar dari kamar dan mencoba untuk melihat ke ruang dapur, tapi lagi-lagi tidak menemukan sosok yang dicarinya. Kaki Aly kembali melangkah menuju pintu keluar ke bagian halaman belakang, dan ternyata ketemu. Di dipan di bawah pohon rindang, Alsya sedang duduk bersantai sambil bersenandung sholawat yang terdengar sangat merdu dan menenangkan. Langkah kaki Aly berlanjut untuk segera sampai ke hadapan sang istri.


"Assalamualaikum..."


"Ehh, mas. Waalaikumsalam."


Aly duduk di samping istrinya, tangannya menyerahkan plastik yang berisi pesanan Alsya. Dengan mata berbinar, Alsya segera mengambil plastik itu dan langsung mengeluarkan isinya.


"Makasih, mas." Ucapnya tulus dan tanpa aba-aba langsung saja membuka kemasan es krimnya dan menyantapnya dengan sangat senang.


Aly hanya tersenyum menyaksikannya,  mengambil salah satu es krim rasa coklat dan mulai menikmatinya.


Keduanya saling menikmati es krim yang dipegang masing-masing tangan mereka, hingga setelah semua habis tak tersisa, keduanya beranjak dari duduknya dan mencuci tangan di sebuah keran tak jauh dari keberadaannya.


 


 


__________

__ADS_1


 


__ADS_2