Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Keputusan mutlak


__ADS_3

Alsya menghampiri wanita yang sudah sangat lama tidak ditemuinya itu dengan hati sangat bahagia. Wanita itu sedang menggendong bayi perempuan yang terlihat sangat cantik dan lucu.


"Assalamualaikum..." Ujar Alsya saat sudah di dekatnya.


Wanita itu menoleh. "Waalaikumsalam... Alsya ?!." Pekiknya saat melihat orang yang kini di hadapannya.


Alsya tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Zahra. Ini aku." Ucap Alsya membuat Zahra langsung memeluk erat tubuhnya.


"Alsya, apa kabar denganmu ?. Aku sangat merindukanmu... Kau tau ?." Ujar Zahra antusias.


"Alhamdulillah, aku baik, Zahra. Kau pun bagaimana kabarnya ?." Ucap Alsya tak kalah senangnya.


"Alhamdulillah aku juga baik. Masya Allah... Apa dia anak keduamu, Al?." Tanya Zahra menyentuh pipi bayi yang ada di gendongan Alsya.


Alsya tersenyum. " Iya, dia putra keduaku." Jawabnya mencoba terlihat tenang.


"Subhanallah..." Zahra tersenyum senang mendengarnya. Namun di hatinya yang terdalam, dia seakan memikirkan sesuatu yang sangat besar.


Zahra menoleh ke arah keponakannya. Wajah kalian memiliki garis yang sama, ternyata. Ucapnya dalam hati.


"Apa dia juga anak keduamu ?." Kali ini Alsya yang bertanya.


Zahra tersenyum. "Bukan. Dia keponakanku, Al. " Jawabnya.


Alsya memperhatikan wajah cantik Bayi itu yang menurutnya terlihat sangat tidak asing, tapi entah mirip siapa, Alsya juga bingung sendiri.


"Mari duduk, Al."


"Ouh, iya."


Keduanya duduk di kursi kursi kembar dan salah seorang khodam perempuan datang membawakan beberapa hidangan.


"Silahkan, Ning." Ujar khodam itu sangat hormat kepada Zahra.


Alsya mengerjitkan alisnya heran dan sedikit penasaran kenapa khodam itu memanggil temannya dengan sebutan Ning?.


"Ouh iya, makasih, Mbak." Ujar Zahra ramah lalu khodam itu pergi lagi. "Silahkan, Al." Ucapnya lagi pada Alsya yang masih dalam mode bingung.


"Hjm, Zahra... Apa kamu seorang anak Kyai ?." Tanya Alsya akhirnya.


Zahra tersenyum. "Aku bukan anak kyai, Al. Tapi keluarga dari ayahku adalah pendiri pesantren."


"Termasuk pesantren ini ?."

__ADS_1


Zahra kembali tersenyum. "Iya, beliau Paman ku." Jawab Zahra membuat Alsya sangat terkejut bukan main.


Jika Zahra adalah keponakan Abah Kyai, berarti Zahra adalah sepupu Halimah ?. Astaghfirullah...!


Alsya kembali melihat ke arah wajah bayi yang sedang di gendong oleh Zahra. Benar, bayi itu mirip sekali dengan seseorang yang tidak lain adalah Halimah, madunya.


"Assalamualaikum..." Suara seseorang membuat Alsya sedikit terjingkat kaget. Suara yang sangat di kenalnya bahkan sangat dihapalnya. Alsya mendongakkan kepalanya menatap wajah pria yang kini sedang berdiri di depannya.


"Alsya." Pekik pria itu yang juga terkejut dengan kehadiran salah satu istrinya disini.


Ingin sekali Alsya mengucap kata *mas*, namun itu seakan hanya ada di pikiran dan hatinya saja tanpa bisa diucapkan oleh sepasang bibirnya. Alsya memalingkan wajahnya dari wajah Aly, namun ternyata matanya malah dan kembali diperlihatkan hal yang semakin membuatnya kaget untuk yang kedua kalinya.


Alsya melihat satu pria lagi yang dulu sangat membuatnya risih karena tingkah lakunya itu. Pria yang dulu pernah mengaku-ngaku, menganggap dirinya sebagai gadisnya.


Terlalu banyak sekali hal yang Alsya lewatkan selama ini. Dia bahkan tidak tau tentang hal besar ini selama bertahun-tahun lamanya.


"Alsya." Panggilan Zahra membuat Alsya kembali pada kesadarannya.


Alsya menoleh lagi ke arah Zahra yang kini sudah tidak terlihat sedang menggendong bayi perempuan itu lagi karena ternyata bayi itu sudah di tangan ayahnya. Yah, itu adalah anak Aly dan Halimah.


"Alsya..." Panggil Zahra lagi sedikit ragu untuk berkata-kata lagi.


Dan reaksi Alsya malah mengejutkan semua orang. Alsya tersenyum ?!. Entah apa yang ada dipikiran Alsya sehingga hal yang mengejutkan seperti ini, tapi Alsya masih bisa tersenyum.


"Iya, Al." Jawab Zahra kikuk sendiri.


Alsya kembali tersenyum. "Baiklah, saya pergi dulu, yaa. ?." Alsya bangkit dari duduknya ingin melangkah pergi namun tertahan karena Aly menarik tangannya.


"Alsya.." panggil Aly dengan suara tertahan.


"Apa lagi ?." Alsya melirik dingin ke arah Aly.


Sangat terlihat jelas di mata Alsya, jika sekarang keadaan Aly sangat kacau. Wajahnya kelam tersirat sendu juga matanya sedikit sembab karena mungkin telah lama menangisi istrinya yang telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Maafkan, aku, Al... Aku tidak bermaksud membohongimu selama ini..."


Alsya tersenyum kecil. "Iya, aku mengerti. Jadi sekarang aku hanya menunggu surat cerai darimu saja, bukan ?."


"Al, aku mohon,.. aku akan memperbaiki kesalahanku selama ini... Jangan minta pisah dariku..." Ujar Aly sendu.


"Setelah istrimu yang lainnya telah meninggal ?." Sanggah Alsya ketus. Alsya kembali melanjutkan langkahnya tapi masih tetap tidak bisa. "Lepas !."


"Al."

__ADS_1


"Aku bilang, lepaskan tanganku !." Sentak Alsya tajam.


Dengan berberat hati, Aly melepaskan genggaman tangannya di tangan Alsya dan Alsya langsung pergi begitu saja.


Tidak jauh melangkah, ternyata Affin datang menghampirinya, menggendong Hafidhz yang kini sudah kembali terjaga.


Mata Hafidhz melihat ke arah nun jauh di belakang Alsya. "Abi...?!." Teriaknya senang melihat ayahnya berdiri di sana. Hafidhz langsung meminta di turunkan dari gendongan Affin dan berlari menyongsong ke arah Aly.


Aly menyambut kedatangan putranya itu dengan senyum haru karena sudah beberapa hari ini tidak melihat wajah putranya itu.


Aly berjongkok mensejajarkan diri di depan putranya. "Assalamualaikum... Anak Abi ?." Ujar Aly menyapa dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena rasa rindunya pada sang buah hati.


"Waalaikumsalam, Abi..." Hafidhz menyalami tangan abinya.


Aly membawa tubuh Hafidhz ke dalam pelukan tangan kanannya karena tangan kirinya sedang menggendong sang putri.


Mata Hafidhz melihat ke arah wajah bayi perempuan di hadapannya. "Abi, dia siapa ?." Tanyanya penasaran sambil tangan mungilnya yang mencolek-colek pipi putri Chayra.


Aly menoleh ke arah Alsya dan terlihat Alsya mengangguk mengiyakan, seolah menyetujui jika Aly memperkenalkan bayinya itu pada Hafidhz.


Aly kembali melihat ke arah wajah Hafidhz. "Namanya Chayra. Dia adiknya Hafidhz."


"Adiknya Afidhz ?."


"Iya, nak."


"Tapi, adiknya Hafidzh kan cuma Dede Fazal. Tuh, sama ummi." Ujar Hafidhz sangat polos dan menunjuk ke arah bayi yang sedang di gendong oleh ibunya.


Aly tertegun mendengar kata yang di ucapkan putranya. Sebuah kata dari rangkaian nama yang pernah dibuatnya untuk sang buah hati di dalam perut Alsya kala itu. Dia tidak menyangka jika Alsya masih mau menggunakan nama tersebut untuk nama putra mereka.


"Iya, nak. Adiknya Hafidzh yang ada sama Ummi, tapi Hafidhz punya adik lagi dari, ini.." ucap Aly memberikan pemahaman.


Hafidhz terlihat kebingungan namun tak arang dia ternyata bisa di yakinkan dan malah meminta Aly untuk mendekatkan wajah bayinya lalu Hafidhz mencium pipinya dengan penuh kelembutan.


"Afidhz sayang Dede Chay." Ucapnya tulus.


Aly benar-benar tidak tahan untuk mencegah airmatanya agar tidak meluncur karena saking bahagianya melihat Hafidhz bisa menerima putrinya sebagai adiknya juga. Meskipun dia tidak tahu bagaimana dengan Alsya kini.


Alsya mendekat setelah beberapa menit membiarkan Hafidhz bercengkrama dengan ayahnya. Alsya mengajak putranya itu untuk pulang karena waktu sudah mulai sore.


Meski masih belum puas bertemu dengan sosok Abi nya, Hafidhz tetap nurut terhadap perintah sang ibunda. Hafidhz kembali di gendong oleh Affin keluar dari area rumah ndalem.


Sebelum benar-benar pergi, Alsya kembali berpesan pada Aly agar segera mengurus perceraiannya dalam waktu kurang lebih sebulan, dan jika Aly masih belum bertindak maka Alsya sendiri yang akan mengajukan pertanyaan perceraiannya kepada pengadilan agama.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2