
Sebulan telah berlalu bersama penantian, ternyata Aly baru pulang ke rumah setelah dua bulan lebih di pesantren. Meski ada rasa kecewa juga sedikit kesal, tapi Alsya tetap menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman manisnya dan juga pelukan rindu.
Setiap hari mereka memang saling memberi kabar melalui via telepon juga sesekali saling mengirimkan pesan lewat aplikasi chat.
Hormon sebagai ibu hamil kini dirasakan Alsya, dimana Alsya bahkan selalu tak bisa jauh dari tubuh suaminya, lengket seperti perangko dan lem saja. Alsya juga sudah tidak lagi mengalami Sickness, tepat setelah usia kandungannya menginjak bulan ke empat.
"Mas, kamu sedang apa ?." Alsya yang baru keluar dari kamar mandi sedikit terheran melihat suaminya sedang sangat fokus pada layar handphone bahkan dia juga menangkap senyuman di bibir suaminya itu.
"Eh, Al. Ini, mas lagi membalas pesan guru madrasah yang lagi curhat tentang kelakuan anak-anak santri." Jawab Aly sangat jujur, meski tidak menyebutkan secara spesifik siapa guru yang sedang dia ceritakan itu.
Yah, guru itu memang benar adalah Ning Halimah, istri keduanya yang kini sedang menceritakan keluhannya pada sang suami setelah selesai mengajar di kelas santri baru. Sama bukan, seperti penjelasan Aly ?.
Aly dan Ning Halimah memang belum memberitahu Alsya soal pernikahan mereka waktu itu. Dan itu juga adalah permintaan dari Ning Halimah yang tidak ingin Alsya syok hingga sampai berdampak buruk pada kandungannya yang masih sangat muda dan rentan. Ning Halimah juga memberitahukan kepada siapa yang sudah tahu akan hubungannya dengan Aly agar cukup tutup mulut supaya berita itu tidak sampai keluar dari area pesantren, termasuk sampai terdengar di telinga Alsya dan keluarganya.
Aly meletakkan handphone nya di atas meja lalu tangannya menarik tubuh Alsya agar lebih dekat.
"Kamu menginginkan apa, Al ?. " Pertanyaan Aly membuat Alsya bingung.
"Maksudnya gimana mas ?."
Aly memutar tubuh Alsya agar menghadap ke arahnya. Tangan Aly terulur dan sampai di perut Alsya yang sudah terasa kencang dan sedikit membuncit. "Biasanya orang hamil akan mengalami masa ngidam, kamu ngidam apa sekarang ?, Biar mas turuti." Ucap Aly sungguh-sungguh, sebab setiap kali melihat wajah ayu dan teduh istrinya ini, rasa cintanya kepada sang istri semakin dalam saja, apalagi sekarang tubuh Alsya sedikit berisi sebab sedang mengandung anaknya, membuat Aly semakin merasa bersalah pada Alsya, jika harus teringat status Ning Halimah yang juga menyandang sebagai istrinya yang lain.
Alsya tersenyum lalu memegang tangan Aly yang sedang mengusap lembut perutnya sehingga dia merasakan kenyamanan karena itu. "Aku tidak menginginkan apa-apa, mas." Ucap Alsya sambil menatap wajah Aly begitu lekat. "Tapi, aku ingin selalu merasakan kehadiranmu disisiku." Lanjutnya.
Aly tersenyum lalu menanggalkan kecupannya di pipi Alsya. "Iya, mas akan selalu ada di sisi kamu jika mas sedang ada di rumah." Jawaban demikian, ternyata malah membuat wajah Alsya murung juga menatap sendu suaminya. Aly membingkai wajah Alsya. "Kok wajahnya jadi murung?, Hem ?." Tanya Aly bingung terhadap perubahan mimik wajah istrinya.
Hormon kehamilan memang membuat perasaan Alsya sedikit sensitif terhadap apapun yang terasa tak mengenakkan menurutnya.
"Kapan mas selesai mondok ?." Tanya Alsya yang kini matanya sudah berkaca-kaca.
Aly menghembuskan nafasnya perlahan. Dia juga bingung ingin menjawab apa, sebab sebenarnya dia sudah akan boyong saat penerimaan santri Baru tadi, tapi mengingat dia memiliki satu lagi tanggung jawab yang berada di pesantren, dia tidak mungkin untuk melalaikannya begitu saja. Yah, apalagi yang lebih berat selain persoalan tentang istri keduanya, Ning Halimah.
"Insya Allah, mas akan usahakan agar bisa cepat pulang ke rumah seperti yang kamu inginkan." Ucap Aly semakin merasa bersalah saja pada istrinya.
"Jawabnya tidak pernah berubah kamu, mas..." Alsya menelusupkan wajahnya di pangkuan sang suami.
Tangan Aly membelai lembut rambut panjang Alsya yang kini tergerai bebas. Rasanya beban di hatinya sangat berat, dan dia seakan tidak sanggup mengembannya. Tapi kembali pada takdir, jika Allah telah menyiapkan yang terbaik untuk hambanya.
Astaghfirullah...
Ampuni hamba ya Allah... Hamba tidak bermaksud menyakiti hati istriku ini, hamba hanya ingin menjadi orang yang amanah terhadap titipan guru hamba...
Aly bermunajat dalam hatinya.
Satu lagi yang kini menjadi kebiasaan bagi Alsya, yaitu hati dan keadaannya bisa langsung tenang jika mendapatkan sentuhan dari tangan suaminya. Bahkan kini Alsya sudah terlelap dalam tidurnya, masih dalam posisi yang sama, dimana kepalanya diletakkan di pangkuan sang suami.
Setelah merasa Alsya sudah bernafas dengan tenang dan terlelap sangat nyenyak, Aly dengan hati-hati membenarkan posisi tidur Alsya agar lebih nyaman. Seolah dia sangat takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang menimpa istri dan anaknya, nantinya. Aly mendaratkan kecupannya pada kening Alsya lalu keluar dari kamar.
Rumah berukuran sedang dengan hanya memiliki beberapa ruangan saja adalah rumah yang kini mereka tinggali berdua. Mereka pindah ke rumah baru pada saat Aly pulang seketika itu juga.
__ADS_1
Aly memang dari keluarga berada, bahkan sangat jauh perbedaannya dengan keluarga Alsya yang hanyalah keluarga biasa dan hanya merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Alsya juga tidak heran jika Aly sudah membeli rumah untuk mereka tinggali, sebab yang dia ketahui bahwa sudah memegang salah satu saham yang dimiliki oleh orang tuanya, meski masih berstatus santri.
Aly duduk di kursi ruang TV dan langsung menyalakan handphonenya. Bukan yang pertama bagi Aly melakukan hal demikian, sudah seperti main colongan pada sang istri karena takut tertangkap basah sedang selingkuh. Padahal aslinya, dia hanya takut membuat Alsya sakit hati jika mengetahui bahwa dirinya telah memiliki seorang istri lagi, apalagi sampai membuat Alsya stres akibat terlalu kaget akan kenyataan jika dia sudah menjadi madu dari putri kyai nya sendiri, juga sahabat baiknya.
"Hallo, assalamualaikum..." Terdengar suara di seberang telepon.
"Waalaikumsalam. Kamu masih mengajar ?." Tanya Aly dengan suara lembut seperti biasanya.
"Sudah selesai, mas. Sekarang aku lagi lagi istirahat di kamar."
"Sambil minum kopi ?." Pertanyaan Aly mengintimidasi.
"Eee iya, tapi sedikit kok. Lagian aku juga jarang minum kopi." Elak Ning Halimah yang takut jika suaminya marah.
Ning Halimah memang sedikit keras kepala, dia akan sangat susah dinasehati oleh siapapun. Padahal itu untuk kebaikannya sendiri. Dan Aly harus selalu bersabar menghadapi sikap istrinya itu, meski kerap kali menghukumnya jika Imah tidak menurut, tentunya hukuman yang sesuai dengan keadaan mereka sebagai suami istri.
"Sekarang kamu aman karena aku tidak ada disana, tapi aku akan menggantinya saat aku kesana." Ancam Aly yang malah membuat istrinya terkekeh.
Kekehan Halimah berhenti sehingga keheningan menyertai keduanya.
"Mas."
"Hemm?."
"Apa Alsya baik-baik saja ?. Bagaimana dengan kandungannya ?." Tanya Halimah tiba-tiba.
"Alhamdulillah, Alsya baik-baik saja, kandungannya juga baik."
"Alhamdulillah... Lalu, kemana dia ?, Mas sedang ada di rumah kan ?."
" Ouh. Oh ya, mas Aly kapan pulang ke sini ?."
"Minggu depan kayanya. Kenapa ?, Kamu kangen ya sama mas ?." Aly meledek dengan suara menggoda.
"Ihh, yah jelas aku kangen dengan suamiku sendiri..." Suara Halimah merajuk.
Aly terkekeh mendengar ucapan istri keduanya itu. "Iya, nanti mas akan segera pulang ke sana."
"Hmm sebenarnya kalau mas ingin lebih lama bersama Alsya, insya allah aku ridho, mas. Lagipula Alsya juga pasti sangat membutuhkan kehadiran mas Aly sebagai suaminya." Ucap Halimah serius.
"Apa kau yakin ?. Tapi, kita hampir satu bulan tidak bertemu, sayang. "
"Iya, mas. Aku nggak papa. Aku juga juga sadar bahwa aku hanyalah istri kedua, ada yang lebih berhak mendapatkan perhatian lebih dari mas Aly." Ucapan Halimah terdengar melemah.
"Kamu ini ngomong apa sih ?, Mas nggak suka dengernya."
"Yah, tapi kan.."
"Imah. Mas sudah katakan, mas nggak suka." Aly sedikit menaikkan suaranya.
"Iya, mas..." Jawab Halimah langsung patuh.
"Mas akan tetap pulang ke sana Minggu depan, jadi persiapkan dirimu untuk menerima hukumannya."
__ADS_1
"Mas, bisa nggak hukumannya ditawar ?." Tanya Halimah tiba-tiba.
"Hahh?, Maksudnya gimana nih?."
"Soalnya mas kalau aku melakukan kesalahan pasti hukumannya itu. Memangnya tidak ada cara lain gitu ?."
"Ouh, jadi kamu tidak suka disentuh oleh suamimu sendiri ?." Sindir Aly.
"Astaghfirullah... Yah nggak gitu juga mas... Mas, ihh kok malah bikin kesel yaa ?!." Ucapan Halimah semakin merajuk.
Aly terkekeh. "Iya, iya, maaf. Mas hanya bercanda. Tapi untuk hukuman tidak ada candaan, karena mas merindukanmu."
"Mas ?!. Mulai deh ?!." Sembur Halimah seketika.
Hening kembali menyertai keduanya.
"Mas. Apa... Hem.. hahh bingung gimana ngomongnya ?!." Halimah meracau frustasi.
"Kamu kenapa ?. Ayo, ngomong aja, mas dengerin."
"Maaf ya mas, tapi... Apa mas juga sering menghukum Alsya saat dia melakukan kesalahan dengan hukuman yang sama ?." Tanya Halimah penuh kehati-hatian.
"Tidak sama sekali." Jawab Aly lugas.
"Hahh ?!. Jadi hanya ke aku ?!."
"Iya."
"Jahat sekali kamu mas ?!."
"Iya, aku memang tidak pernah menghukum Alsya dengan bentuk apapun karena Alsya tidak pernah membuat kesalahan sama sekali..."
"Masya Allah... Iya, aku tahu Alsya memang orang yang sangat teliti terhadap diri sendiri."
"Iya, kalau kamu ceroboh, cerewet, sering ngambek, cemburuan dan..."
"Mas Aly....!!. Awas kau mas, kalau kamu pulang aku akan mencubit perut kamu tanpa ampun !." Ancam Halimah.
Tawa Aly langsung pecah dan menggelegar di dalam ruangan itu bahkan sampai menyeberang ke ruangan lainnya.
"Udahlah, aku matiin telfonnya !."
"Ehhh kok dimatiin ?!."
"Habis, mas Aly ngeselin !."
"Mas nggak ngeselin kok tapi ngangenin." Ucap Aly percaya diri.
"Terserah. Assalamualaikum." Sambungan langsung diputus sepihak.
"Waalaikum salam..."
__ADS_1
____________