
Sudah seminggu Alsya dan putranya hidup di lingkungan pedesaan yang masih termasuk dekat dengan kota. Suasana di tempat dirinya tinggal ternyata memang nyaman dan damai. Orang-orang juga menyambut kedatangannya dengan ramah. Bahkan selama satu Minggu ini, kadang ada saja tetangga yang berkunjung sekedar mengapa.
Mereka juga tampak memahami kondisi Alsya yang merupakan janda beranak satu dan tergolong ibu muda, jadi mereka kerap kali membantunya untuk beberapa hal.
Hari ini Alsya akan keluar untuk membeli keperluan dapur yang sudah mulai habis. Alsya mendatangi salah satu rumah tetangga yang rumahnya paling dekat dengan rumah miliknya.
"assalamualaikum... mbak Mira..."ujar Alsya sopan.
"Waalaikumsalam, Alsya... jadi, perginya ?." Ujar tetangganya itu sangat ramah.
Memang wanita yang dipanggil alsya dengan sebutan mbak Mira itu adalah tetangga yang paling ramah terhadapnya, meski semuanya ramah juga tapi mbak Mira adalah yang paling pertama. Usia mbak Mira juga masih tergolong muda jadi masih sangat menyambung jika menjadi teman dekat Alsya.
Alsya tersenyum."iya, mbak." Jawabnya sopan.
"Oh, ya sudah, sini Fazal nya,. "
"Iya, mbak. Makasih ya, maaf merepotkan mbak..." Ujar Alsya sedikit tak enak hati karena harus merepotkan orang lain.
Sebelumnya Alsya sudah menghubungi Mbak Mira, jika akan menitipkan putranya sebentar selama dia pergi berbelanja. Dan mbak Mira terlihat antusias mendengarnya, sebab dia sangat menyukai putranya itu yang memang sangat lucu dan menggemaskan juga tampan.
Apalagi mbak Mira sangat ingin memiliki seorang putra namun ternyata Allah memberinya dua orang anak yang semuanya adalah perempuan. Jadi kasih sayangnya pada Fazal kadang sudah seperti ibunya sendiri.
"Kamu ini kaya sama siapa saja, Al ?!. Ujar mbak Mira terlihat tidak senang mendengar ucapan Alsya.
Alsya hanya tersenyum lalu mengangguk. "Iya, mbak. Ya sudah, saya berangkat dulu ya mbak, ini keperluan fazal ada di tas ini semua." Alsya menyerahkan sebuah baby bag berukuran sedang.
"Iya."
"Ummi pergi dulu ya, nak." Alsya mencium pipi putranya sebentar lalu mengusap lembut kepala Fazal.
"Assalamualaikum,."
"Waalaikumsalam..."
Alsya keluar dari gerbang rumah mbak Mira dan menaiki mobil yang dipesannya melalui aplikasi online.
"Sesuai lokasi, mbak ?." Tanya Abang drivernya memastikan.
"Iya, mas."
"Baik, mbak "
__ADS_1
Mobil mulai meluncur, membaur di kepadatan jalanan di sore hari. Dan lima belas menit perjalanan, Alsya telah sampai di depan toko sayuran yang terlihat sangat higienis dan tertata rapi.
"Makasih, mas." Ucap Alsya setelah memberikan ongkosnya.
"Sama-sama, mbak." Mobil itu kembali pergi setelah menurunkan Alsya.
Alsya masuk ke dalam ruangan berpintu kaca itu dengan tenang. Kali ini dia akan membeli beberapa sayuran sehat untuk kelangsungan ASI nya juga.
Deretan keranjang sayuran terlihat memadati Indra penglihatan. Alsya bertanya pada salah satu pegawainya untuk memberitahukan keranjang tempat sayuran yang dicarinya.
Setelah sampai, Alsya tidak memperhatikan kanan kiri dulu dan hendak mengambil salah satu sayuran.
Dan tangannya reflek ditarik kembali karena tanpa sengaja menyentuh tangan yang terlihat seperti...
"Astaghfirullah !!." Pekik Alsya saat sadar jika itu adalah tangan seorang pria.
Alsya sontak menoleh melihat pemilik tangan Tersebut. sebuah wajah yang tampak familiar dipenglihatannya.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Seorang pria tampak melamun di kursi kebesarannya di dalam ruang pribadinya. Ternyata keisengannya yang tiba-tiba ingin menaiki kereta api untuk perjalanan ke rumah orang tuanya, membawanya bertemu dengan sosok perempuan cantik dengan senyuman manisnya. Tapi sayang, wanita itu sudah memiliki seorang anak yang berarti dia juga memiliki seorang suami.
"Anand, cepat kesini !, Anterin mama !." Teriakan di luar kamar membuat pria itu langsung bangkit dari rebahan nya.
"Iya, ma... !." Sahut nya sedikit mengeraskan suara.
Anand Haikal Ghuinandra. Putra dari pasangan Aryan Ghuinandra dan Fadhilah Ningrum. Anand asli dari kota dengan julukan kota Udang, namun usahanya pesat di ibukota Jakarta.
Anand pulang ke rumah karena sang ibu memintanya agar menemaninya selama ayahnya pergi ke luar kota untuk mengurus perusahaan Ghuinandra yang lain. Anand juga memiliki saudara kembar tak seiras bernama Fyzha, dan saudaranya itu sedang ada di ibukota untuk mengurus perusahaannya selama dia di Cirebon.
Dengan malas-malasan, Anand berdiri di hadapan sang ibu. "Mau kemana sih ma...?." Tanyanya sedikit kesal karena diganggu.
"Mama mau ke toko sayuran, kamu antar mama sebentar !."
"Kenapa tidak dengan mang Hadi aja sih ma ?."
"Mang Hadi lagi istirahat, kasihan Anand. Sudah, ayo jangan banyak nanya ?!." Mamanya jika berbicara memang tidak bisa dibantah.
Anand hanya bisa pasrah menuruti perintah mama tersayangnya itu.
Menuju toko sayuran hanya memerlukan waktu dua puluh menit, dan di waktu sore seperti ini, jalanan hampir macet karena bertepatan dengan kepulangan orang-orang dari mencari nafkah ataupun bersekolah.
__ADS_1
"Anand, kapan kamu ngenalin perempuan ke mama ?, Inget loh, kamu sudah tua !." Ujar mamanya saat mobil masih melaju.
Anand hanya memutar bola matanya jengah dengan ucapan sang ibu. Jika dihitung, ini adalah yang ke belasan kalinya mamanya menanyakan hal demikian.
"Berapa kali sih ma, Anand bilang?, Jika memang sudah ada jodohnya, Anand juga ingin menikah secepatnya..." Decak Anand kesal. "Lagian, kenapa mama tidak suruh saja Fyzha cepet nikah?, Dia sudah terlalu tua tuh !." Lanjutnya mengingatkan sang ibu yang masih memiliki satu anak lagi yang belum juga menikah, perempuan lagi !.
"Hahh, kalian ini sama saja !!. Kalian mau liat mama keburu meninggal sebelum merasakan memiliki menantu terus gendong cucu ?!." Sembur mamanya yang kini dalam mode ngambek. Sudah biasa memang!.
"Sudah, ma. Kita sudah sampai." Ucap Anand memberitahu.
Mamanya melihat ke luar jendela yang ternyata sudah sampai di tempat tujuan.
"Ayo, kamu ikut turun ?!." Ujar mamanya sambil turun dari mobil.
"Ma, Anand disini aja ya... Anand gak suka ke tempat kaya gituan." Anand menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Gak, kamu ikut turun !. Bantuin mama nyari bahan-bahan dapur !." Sentak mamanya dengan tatapan mata tajam.
Anand hanya bisa mendengus kesal, namun juga tetap menuruti perintah mamanya itu. "Iya, iya !." Ujarnya malas.
Anand membuntut di belakang sang ibu memasuki toko sayuran yang terlihat lengkap itu. Saat di dalam, mamanya langsung saja menyuruh Anand mencarikan beberapa sayuran yang tertulis di secarik kertas, lalu meninggalkannya begitu saja.
Anand melihat kertas itu, membacanya sebentar lalu mencari sesuatu yang telah dituliskan di kertas tersebut.
Karena tidak mengerti dan tidak tau tentang Dena lokasi di toko tersebut, Anand kerap kali bertanya pada pegawai tokohnya.
Beberapa saat kemudian, dengan membawa troli belanjaan yang sudah terisi beberapa sayuran, Anand kembali bertanya kepada pegawai lagi untuk mencari dua sayuran yang masih belum ditemukan. Lobak dan labu Siam.
"Tadi, kata pegawai nya... Lurus, terus belok kanan, terus.... Cari keranjang wortel !." Gumam Anand sambil kakinya terus melangkah sedangkan matanya fokus melihat ke dalam sekelilingnya.
Dan sesuai yang di intruksikan oleh pegawai tadi, akhirnya Anand menemukan keranjang wortel, dan menelusuri deretan di samping keranjang wortel tersebut, dan...
"Ini dia !." Pekiknya terlalu senang karena menemukan keranjang yang berisi tumpukan lobak.
"Ehh !." Anand reflek menjauhkan tangannya karena tak sengaja menyentuh tangan seseorang.
"Astaghfirullah !."
Anand menoleh melihat orang yang sedang berdiri disampingnya. Orang itu juga tampak terkejut, sama seperti Anand.
Seketika Anand berdiam kaku saat mengenali wajah orang itu. Wajah yang sangat teduh jika dipandang.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓✓