Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Promo Judul lanjutan


__ADS_3


...****************...


...Menceritakan kisah tentang perjalanan cinta salah satu putri Alsya dan Anand yang bernama Zahwa Hence Ghuinandra. ...


...Kisah seorang Zahwa yang disukai oleh guru dan seniornya sendiri saat belajar agama di salah satu pesantren di negeri Maroko....


...****************...


20 tahun kemudian...


Seorang gadis cantik berjalan masuk ke dalam rumah mewah nan elegan milik kedua orang tuanya. Lalu disusul oleh dua pria yang juga berjalan santai mengikutinya di belakang.


"Assalamualaikum, Ummi..." Ujar ketiganya bersamaan.


Wanita yang dipanggil ummi itu tersenyum lebar menanti kedatangan ketiga jagoannya yang baru saja pulang dari menjelajah kota kelahirannya.


"Waalaikumsalam..." Jawab wanita itu tak lain adalah Alsya, yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tua.


Ketiga jagoannya bersimpuh di kaki Ummi mereka yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


Alsya tersenyum lembut menyambut kedatangan anak-anaknya. Tangannya terulur menyentuh wajah ketiganya lalu berhenti pada pipi lembut putrinya.


"Kalian sudah sholat ashar ?." Tanya Alsya pada putra-putrinya.


"Sudah, Ummi. Kami sholat di masjid dekat jalan." Zahwa menjawab mewakili adik-adiknya.


"Ummi, kami membawakan sesuatu untuk Ummi." Zyan memberikan sebuah paper bag dan di dalamnya terdapat sebuah kotak kado berukuran kecil, hadapan Alsya.


Alsya menerimanya dengan rasa penasaran. "Apa ini ?."


"Hanya sesuatu yang sederhana,." Zyan menjawab.


Alsya membuka kado yang diberikan oleh anak-anaknya dan ternyata isinya adalah sebuah tasbih berwarna krem, kerudung syar'i dan...


"Cadar ?." Pekik Alsya saat melihat barang terakhir.


Alsya melihat satu persatu wajah anak-anaknya dengan penuh tanda tanya.


Ketiga anaknya tersenyum. "Entahlah, tapi saat melihat benda itu, aku tiba-tiba teringat sama Ummi. " Fathan bersuara.


"Tapi, Ummi tidak memakai ini, nak ?."


Semuanya terdiam karena bingung sebenarnya atas apa yang telah mereka bawa sendiri.


"Buat koleksi aja, Ummi." Zyan memberikan solusi.


Alsya kembali terdiam dan menatap lekat benda yang masih digenggamnya. "Baiklah, ummi akan menyimpannya saja." Ucap Alsya akhirnya.


Ketiga jagoannya kembali tersenyum. "Kalau begitu, aku ke kamar duluan ya ?, Ummi, Zyan ke kamar dulu. " Zyan bangkit dari simpuhnya dan sebelum pergi ke kamarnya dia mencium pipi umminya dulu.


"Iya, nak."


Zahwa juga bangkit. "Ummi, Zahwa juga mau mandi dulu,." Zahwa ikut mencium salah satu pipi umminya.


Sekarang hanya menyisakan Alsya dan Fathan di ruangan tersebut. Fathan juga bangkit tapi tidak pamit pergi namun duduk di samping umminya duduk.


"Ummi, maaf Fathan sudah lancang membelikan Ummi cadar." Ucapnya lirih sambil menunduk dalam.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ummi tadi cuma kaget aja. Nanti, Ummi akan tanyakan pada Abi kalian, apakah dia mengizinkannya kalau ummi memakainya." Ucap Alsya menenangkan hati putranya.


Fathan langsung mengangkat wajahnya kembali dan menatap lekat wajah Umminya. "Ummi tidak marah pada Fathan?." Tanya putranya sedikit ragu.


Alsya menggeleng dan tersenyum. "Tidak, sayang." Ucapnya sambil membelai lembut pipi putranya.


Fathan langsung melebarkan senyumannya dan memeluk tubuh Umminya. "Makasih, Ummi." Ucapnya sangat terharu.


"Kalian akan berangkat kapan ?." Tanya Umminya kemudian setelah mereka saling melepaskan pelukan.


"Insya Allah, kalau Fathan berangkat nanti sore. Kalau Zyan besok dan kak Kak Zahwa katanya menunggu Kak Fazal ada waktu saja."


Alsya manggut-manggut mengerti. "Ummi hanya bisa mendoakan kalian agar menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi setelah mendalami ilmu agama."


"Aamiin."


"Tapi, kalian jangan sampai keburu-buru ya ?, Selesaikan dulu masa belajar kalian, barulah berbicara tentang jodoh." Godaan Alsya langsung membuat telinga Fathan memerah.


"Ummi..."


"Hehehe, iya, iya."


Fathan merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Fathan memang sangat dekat dengan Umminya daripada kedua saudara kembarnya. Kasih sayang Fathan sama persis seperti Fazal yang selalu menomorsatukan perasaan umminya. Jadi, keduanya tidak akan pernah melakukan hal yang tidak disukai oleh Umminya.


"Ummi, sepertinya putrimu yang akan segera membicarakan tentang itu." Ucap Fathan memberitahu.


"Apa Zahwa sedang dekat dengan seseorang pria ?." Tanya Alsya penasaran.


Fathan mengangguk tapi kemudian menggeleng. "Kak Zahwa tidak dekat dengan siapa-siapa, Ummi."


"Lalu ?."


"Memangnya dia orang mana ?."


"Masih dari negara situnya."


Alsya langsung membekap mulutnya sendiri mendengar penuturan putranya. Dia tidak menyangka jika putrinya akan disukai oleh orang Maroko, sebab saat ini Zahwa memang sedang menjalani pendidikan di salah satu universitas di Maroko dan kenapa sekarang dia ada di rumah itu karena sedang dalam liburan semester, sama seperti kedua kembarannya.


"Ummi hanya bisa berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan kakak mu."


"Iya, Ummi. Fathan juga berdoa semoga kak Zahwa mendapatkan jodoh idaman seperti Abi."


Alsya tersenyum lalu mengangguk. "Aamiin. Oh ya, Abi kamu tumben jam segini belum pulang ?." Alsya melirik jam tangannya sendiri.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, dan biasanya suaminya sudah pulang jam lima sore. Tapi entah ada apa hingga sampai telat setengah jam pun suaminya belum juga datang.


"Mungkin Abi sedang ada urusan penting yang belum selesai, Ummi."


"Wajah Alsya sedikit lebih lega setelah mendengar ucapan Fathan, yang dirasanya ada benarnya juga.


"Assalamualaikum..."


Baru juga dibicarakan, orang yang sedang ditunggu akhirnya datang. Alsya langsung berdiri dan menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman manisnya.


"Waalaikumsalam, tumben pulangnya telat, A' ?."


Anand, memberikan kecupan singkatnya di kening istrinya. "Tadi aku menyempatkan mampir dulu ke mall untuk membeli sesuatu untuk anak-anak."


"Abi selalu mengerti kami memang !." Fathan ikut mengalami abinya.

__ADS_1


"Tentu saja, karena hari ini adalah hari terakhir kalian di rumah."


"Baiklah, makasih, Abi."


Anand memberikan kode pada anak buahnya untuk memberikan beberapa barang-barang yang baru saja dibelikan kepada putranya itu. Dan membawa beberapa barang yang lainnya untuk diberikan kepada dua anaknya yang lain yang ada di dalam kamar mereka masing-masing.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Zahwa sudah siap dengan pakaiannya dan juga barang-barang bawaannya saat berdiri di dekat mobil sang kakak bersama keluarga besar.


"Kamu hati-hati disana, ya nak. Jaga kesehatan dan tingkah laku kamu, karena kami tidak bisa melihatmu nantinya." Nasihat Alsya sambil memeluk erat tubuh putrinya sebelum melepaskannya pergi ke negara lain.


"Iya, Ummi. Zahwa akan selalu berhati-hati dalam segala hal. Ummi tidak perlu khawatir."


Alsya mendaratkan kecupannya di kedua pipi Zahwa dan terakhir di kening putrinya lumayan lama.


Setelah melepaskan pelukannya dari sang ibu, Zahwa beralih pada abinya. Anand pun melakukan hal yang sama yaitu memeluk erat tubuh putri satu-satunya yang menjadi kesayangan istrinya itu.


"Jaga dirimu baik-baik disana. Bulan depan Abi akan menjengukmu kesana."


"Ahh, tidak perlu, Abi. Abi tidak usah kesana, nanti Abi akan sakit lagi kaya waktu itu." Zahwa memasang wajah cemberut masam karena teringat saat waktu dia sedang di negeri orang, abinya nekat ingin mengunjunginya dan alhasil, abinya malah sakit karena kelelahan sebab usianya yang sudah sangat senja.


"Kalau mau kesana mending kak Fazal saja, terus nanti kita video call aja." Ucapnya lagi memberikan saran.


"Hahaha, iya sudah. Iya, apa katamu saja nak." Anand melepaskan pelukannya dari tubuh putrinya. "Tapi itupun kalau kakak kamu tidak sibuk ?."


Zahwa tersenyum lalu mengangguk. "Kapanpun, yang penting masih ada kabar." Ucapnya lalu mencium kedua pipi abinya dan setelah selesai, Abinya memberikan kecupan hangat penuh kasih sayang di keningnya.


Zahwa beralih pada kedua saudara kembarnya dan memeluk mereka bersamaan. "Aku akan merindukan kalian."


"Kakak baik-baik disana, jangan buka hati dulu sebelum lulus." Bisik Fathan dan langsung mendapatkan pelototan mata Zahwa dan Zyan.


"Kamu tau dari mana ?."


"Sumber informasi terakurat." Fathan menunjuk ke arah Fazal menggunakan dagunya.


Zahwa mengikuti arah tunjukkan itu dan ternyata mengarah kepada kakaknya. Wajah Zahwa langsung bersemu merah. "Tidak, aku tidak dekat dengan siapapun. Dia memang menyukaiku tapi tidak denganku." Ucapnya jujur.


Kedua kembarannya hanya mengangguk mengiyakan.


"Kata Ummi, Ummi sudah menikah di usianya yang masih 19 tahun." Kali ini Zyan yang berbisik.


"Itu Ummi, bukan aku."


"Yah, siapa tau kakak mau mengikuti jejak Ummi ?." Kali ini keduanya menggoda bersamaan.


"Ishh. Sudahlah, aku berangkat dulu. " Zahwa mencium pipi kedua kembarannya lalu melangkah mendekati kakaknya lagi.


"Sudah ?." Tanya Fazal pada adiknya.


"Iya,."


"Baiklah, ayo berangkat ?!."


Zahwa mengangguk mengiyakan lalu masuk ke dalam mobil dan disusul dengan Fazal yang juga masuk dibalik kursi kemudi.


Mobil mulai bergerak perlahan. Zahwa melambaikan tangannya pada keluarganya yang akan dia tinggalkan untuk beberapa bulan ke depan.


"Assalamualaikum, Abi, Ummi, semuanya...!!, Daaahh !!." Tangan Zahwa terus melambai-lambai mengiringi perpisahan mereka.

__ADS_1


"Waalaikumsalam... !!." Seru keluarganya yang juga membalas lambaian tangan Zahwa.


__ADS_2