
Tubuh Fyzha terhempas di atas tempat tidur. Affin segera bergerak cepat dan langsung membekuk tubuh Fyzha.
Tapi, Fyzha tidak kehabisan akal. Dia mulai menghentakkan lututnya di paha Affin membuat Affin meringis kesakitan. Tapi Affin kembali meluncurkan gerakan secepat kilatnya membuat Fyzha langsung membeku di tempat.
Ciuman mendadak dari Affin membuat tubuh Fyzha membeku seketika. Affin benar-benar sangat curang kaku ini !.
Setelah beberapa menit, Affin mulai menjauhkan lagi wajahnya dari wajah Fyzha kemudian tangannya mengusap bibir Fyzha yang tampak memerah karena ulahnya dengan gerakan yang sangat lembut. "Kamu sudah kehilangan fungsi mulutmu." Ucapnya dengan seringaian menyebalkan menurut Fyzha.
"Kau sangat curang !."
"Tidak masalah, dan aku akan membuatmu kehilangan fungsi kaki dan tangan mu malam ini juga."
Keduanya saling menatap dalam dengan waktu yang cukup lama. Lalu Fyzha memejamkan matanya dan kembali menatap wajah suaminya.
"Lakukanlah." Ucapnya penuh keyakinan.
Affin terdiam tak percaya. "Kamu mengizinkannya ?."
"Aku rasa bukan kaki dan tangan ku saja yang akan kehilangan fungsinya. Tapi, seluruh tubuhku."
Affin tersenyum mendengar ucapan Fyzha yang sepertinya sudah sangat pasrah. Dia melepaskan kuncianngya di tangan Fyzha lalu bangkit berdiri untuk mengganti lampu kamar menjadi terang temaram.
Untuk pertama kalinya, keduanya menyatu dalam lautan surga dunia setelah pernikahan mereka yang dua mencapai dua bulan lebih.
Bulan purnama menjadi saksi bisu atas keberlangsungan kegiatan menjemput nikmat yang menghasilkan pahala di dalam bingkai rumah tangga.
Beberapa menit telah berlalu. Keduanya saling menatap dalam dengan tatapan cinta yang semakin membara. Tersenyum manis untuk pasangan menuju Ridha Nya.
"Kamu tidak jadi menemui Nadia ?."
Affin tersenyum lalu menggeleng. "Jangan menyebut nama lain lagi. Karena menjemput pahala dengan wanitaku adalah hal yang terindah untukku." Jemari Affin membelai lembut pipi Fyzha yang langsung merona karena ucapannya. "Aku bukan pria jahat yang bisa menyentuh sembarang wanita." Ucapnya lagi.
"Tapi kamu pernah melakukannya denganku waktu itu ?."
__ADS_1
"Iya, hanya waktu itu, untuk pertama dan terakhir kalinya."
"Oh ya ?!, Apa aku harus mempercayaimu, suamiku ?." Ucapan Fyzha seolah meremehkan.
Affin menatap tak suka dengan ucapan istrinya. "Jadi kamu meragukan ucapanku, sayang ?. Baiklah, aku aku buktikan, agar kamu percaya."
Fyzha spontan membelalak kaget. Dia merutuki ucapannya sendiri. Affin ternyata tidak seperti yang dipikirkannya.
"Fin !, Pelankan gerakanmu, kau menyiksaku."
Affin tersenyum menang. "Agar kamu tau bahwa canduku hanyalah tubuhmu, sayang..."
✓✓✓✓✓✓✓
Acara pernikahan Aly dan Nareena di gelar di rumah Nareena atas keinginan Nareena sendiri. Acaranya juga digelar dengan tema sederhana namun terkesan elegan dan mewah karena didesain langsung oleh Nareena.
Nareena sudah tau segalanya tentang masa lalu Aly. Dia sudah tau semua anak Aly yang sekarang sedang tinggal bersama Anand dan Alsya.
Berbeda dengan Anand dan Fyzha, acara Nareena hanya berlangsung dari pagi hingga sore saja dan seterusnya hingga malam rumah Nareena sudah sepi lagi.
Susah. Sangat susah untuk mewujudkan keinginan Nareena, menurut Aly. Karena dia pernah mencobanya dan Keyya sendirilah yang tidak mau ikut bersama ayahnya. Keyya memilih tetap tinggal bersama Alsya .
"Keyya kenapa, Hem ?." Nareena mendekati Putri sambungnya yang dari semenjak kepergian keluarga Anand terus terdiam.
Keyya tidak menjawabnya, dia malah memeluk Nareena dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Ibu..."
Nareena tidak pernah melahirkan seorang anak, tapi setelah tau jika Keyya adalah anaknya Aly dia sangat menyukai Keyya dan menyayanginya seperti putrinya sendiri. Bahkan Keyya pun sudah sangat nyaman padanya. Maka dari itu juga Keyya akhirnya mau ikut bersama mereka dan kembali lagi di kehidupan Aly.
"Keyya kangen mas ?." Nareena mengusap-usap lembut punggung Keyya dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
Keyya menjawabnya dengan gelengan kepala. "Ibu, punggung Keyya sakit..." Lirih Keyya masih meletakkan kepalanya di pelukan Nareena.
Nareena sangat terkejut mendengarnya. Dia langsung menyentuhnya tangannya di dahi, pipi dan leher Keyya tapi Keyya tidak panas sama sekali.
__ADS_1
Nareena dengan raut wajah cemasnya menatap wajah Keyya. "Mananya yang sakit, sayang ?." Tanyanya sangat khawatir.
Keyya menyentuhkan tangan mungilnya di punggungnya sendiri. "Yang ini." Ucapnya.
Nareena ikut menyentuh dan mengusap-usap punggung Keyya . "Apa sakit sekali ?."
Keyya mengangguk. "He em."
Raut wajah Nareena semakin terlihat cemas dia mengusap-usap lembut punggung Keyya hingga putrinya itu lebih baik. "Ya sudah, Keyya tidur dulu ya sayang. Ibu mau panggil ayah dulu." Nareena membantu Keyya untuk tiduran.
Nareena mencium kening putrinya penuh dengan kasih sayang sebelum akhirnya keluar dari kamar Keyya untuk mencari keberadaan Aly yang sudah satu Minggu ini menjadi suaminya.
Di ruang tamu tidak ada, di dalam kamar mereka juga tidak ada. Nareena kembali mencari ke ruang kerja suaminya dan ternyata dugaannya benar jika Aly sedang sibuk dengan pekerjaan kantor yang dibawa pulang sebab mereka masih belum berangkat lagi ke kantor setelah menikah.
"Mas."
Mendengar suara Nareena Aly langsung menghentikan kegiatannya. " Kenapa sayang ?." Tanya Aly dengan tatapan matanya yang terlihat heran dengan wajah istrinya. "Apa ada sesuatu ?." Tanyanya penasaran.
Nareena berdiri di depan suaminya. "Mas, Keyya sakit."
"Astaghfirullah !, " Aly reflek berdiri dan langsung mengajak Nareena ke kamar Keyya lagi.
Di dalam kamar, Keyya sudah tertidur pulas. Tubuhnya yang mungil sangat menggemaskan dengan posisi tidur yang meringkuk lucu. Aly duduk di sisi putrinya dan mengecek suhu tubuh Keyya.
"Tapi badannya adem, sayang ?." Ucapnya.
Nareena ikut duduk di sampingnya. Dia juga menyentuh kening Keyya. "Suhu tubuhnya memang normal, mas. Tapi, tadi dia mengatakan punggungnya sakit." Nareena menatap sedih putrinya.
"Punggung ?!." Pekik Aly spontan.
Aly menatap lagi wajah putrinya. Wajah itu mengingatkan dirinya akan Halimah. Semakin tumbuh, wajah Keyya semakin mirip dengan istri keduanya yang telah meninggalkan dunia ini.
Nareena menatap heran wajah suaminya. Dia yakin jika Aly sedang memikirkan sesuatu hal. "Mas, ada apa ?." Tanyanya penasaran.
__ADS_1
Aly mengusap lembut kepala putrinya penuh kasih sayang. "Aku keinget sama Halimah, dulu Halimah juga meninggal karena masalah di punggungnya." Tatapan mata Aly begitu lekat pada wajah Keyya.
Nareena menjadi penonton kebersamaan antara ayah dan anak perempuannya. Tanpa sadar, matanya sudah berkaca-kaca menyaksikan kebahagiaan yang tercipta di depannya itu.