
Lagi-lagi, entah kenapa saat ke rumah sakit, Aly kembali bertemu dengan sosok kembaran kakak iparnya Alsya. Dari kejauhan, dia melihat Affin baru saja turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Aly tidak ingin membuat pria itu mengetahui dirinya yang kembali datang berkunjung ke rumah sakit ini. Aly tidak ingin pria itu tau rahasianya selama ini karena akan diberitahukan pada keluarganya nanti.
Setelah kepulangan Aly waktu itu, Aly masih belum juga datang menemui Halimah lagi hingga dua hari terakhir karena kemarin, Aly baru saja mengantarkan Alsya untuk melakukan proses pemeriksaan terhadap kandungan sedangkan kemarin nya lagi, Aly disibukkan dengan liburan bersama Alsya dan putranya di salah satu taman hiburan.
Setelah melihat Affin sudah menjauh, Aly langsung turun dari mobilnya dan masuk ke dalam bangunan yang selalu diselubungi oleh bau obat-obatan itu. Kakinya melangkah tergesa-gesa menuju kamar tempat Halimah di rawat. Matanya terus waspada jika tau-tau Affin melihat keberadaannya.
Tapi Aly masih kurang teliti terhadap penglihatannya. Dia tidak sadar jika saat ini ada sepasang mata sedang memperhatikannya dari balik kaca mata hitam yang dipakainya.
Sosok itu merupakan pria yang sedang duduk di salah satu kursi tunggu dengan wajah di tutupi masker juga topi berwarna abu-abu. Sosok itu langsung bangkit dan mengikuti langkah Aly yang terlihat belum juga menyadarimya. Hingga tiba di sebuah kamar yang dua hari lalu pernah dia cek.
Yah, sosok itu adalah Affin. Tadi, saat dia memasuki gerbang rumah sakit, di kaca spion dia melihat kelebatan mobil Aly yang juga sedang mengarah ke arah yang sama. Awalnya Affin santai saja berjalan masuk ke rumah sakit dan dia langsung membelokkan langkahnya dan segera merubah penampilannya.
"Assalamualaikum..." Ujar Aly saat memasuki kamar.
Sontak semua orang langsung menjawab. Aly menyalami tangan mertuanya kemudian menghampiri istrinya yang sedang duduk sambil memangku bayinya.
"Apa kabar, dek ?." Tanya nya lembut lalu mencium kening Halimah dan beralih pada pipi bayinya. "Maaf, mas baru bisa datang lagi." Lanjut Aly penuh penyesalan.
"Iya, tidak apa-apa mas. Aku ngerti kok." Ucap Halimah selalu bersikap tenang seperti biasanya. Keduanya saling melempar senyum manis.
"Kamu sudah makan, Hem ?."
"Sudah tadi."
"Syukurlah, kalau putri Abi sudah makan ?." Tanya Aly memandang wajahnya putrinya gemas.
"Dedek juga sudah makan Abi." Halimah menjawab seolah mewakili putrinya.
Momen bahagia itu terus berlangsung, karena Ummi beserta khodamnya telah berpamitan pulang.
Di balik kaca jendela, Affin masih mengintip keadaan orang-orang di dalam kamar. Rahangnya semakin mengeras dan hatinya kini sudah dipenuhi oleh emosi yang teramat sangat.
"Ternyata benar. Dasar pria kurang ajar !." Gumam Affin semakin geram saja melihat interaksi Aly bersama selingkuhannya yang terlihat sangat mesra dan bahagia.
Affin sudah jengah melihat mereka, dan segera beranjak dari tempat berdirinya. Saat ini pikirannya tertuju pada satu nama, seorang wanita yang telah dikhianati oleh suaminya sendiri. Affin berniat menemui Alsya, tapi dia juga berpikir lagi karena tidak boleh gegabah sebab mengingat Alsya sedang berbadan dua. Jadi, dia hanya akan menemui kakak iparnya.
Namun sebelum itu, dia menyempatkan diri untuk mengunjungi gadis yang masih berada di ruang ICU, karena hingga saat ini, kondisinya masih sangat memprihatinkan.
Affin memasuki ruang steril itu dan segera memakai pakaian sterilisasi sebelum mendekati tubuh yang sedang terbaring tak berdaya di pembaringan.
"Apa ada perkembangan ?." Tanya Affin pada perawat yang sedang berdiri di samping pembaringan.
"Kondisinya masih sama, pak. Belum ada perkembangan hingga sekarang."
__ADS_1
Affin memerhatikan wajah pucat itu dengan seksama. Lagi. Hatinya kembali resah dan dipenuhi oleh rasa bersalah saat melihat kondisi gadis malang itu.
"Pantau terus kondisi nya. Jika ada sesuatu langsung kabari saya."
"Baik pak."
Affin mengangguk lalu keluar dari ruangan tersebut. Kini dia melakukan perjalanan ke rumah kakak kembarannya.
Di jam segini biasanya kembarannya itu pasti ada di rumah untuk makan siang bersama keluarganya. Mobil Affin sudah terparkir di halaman rumah Affan, dan turun dari mobil lalu melangkah menaiki teras rumah Affan. Jarinya memencet tombol bell yang berada di samping pintu masuk. Hanya dua kali pencet, terdengar seruan dari dalam rumah dan tak lama pintu di hadapannya terbuka.
"Affin ?!." Pekik Nisa terkejut dengan kedatangan adik iparnya.
"Iya, mbak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
" Affan sudah datang mbak ?."
"Sudah, ayo masuk ?!."
"Iya."
Affin membuntut di belakang Nisa memasuki rumah kediaman kakaknya. Nisa membimbingnya menuju ke ruang makan yang disana terlihat sudah ada Affan juga keponakan lucunya yang sedang duduk di kursi meja makan.
" Hai boy ?." Sahut Affin segera memeluk ponakannya yang langsung menubruk tubuhnya. "Anak papa apa kabar, Hem ?." Tanya Affin sambil terus mencium gemas pipi sang ponakan yang terkekeh kecil dengan tindakannya.
"Izal baik, papa. "
"Iya, tentu saja, lihatlah ini pipinya sudah kaya seperti bakpao." Affin kembali mencium gemas pipi Rizal.
Sejenak dia melupakan tujuannya datang ke rumah kakaknya ini. Tapi suara deheman Affan membuat ingatannya kembali.
"Ada perlu apa ?." Tanya Affan dengan ekspresi datar.
"Ada perlu sama kakak ipar." Jawab Affin santai sambil menggendong tubuh mungil Rizal dan mendudukkannya di kursi semula.
"Apa ?." Tanya Affan lagi dengan ekspresi yang masih membuat Affin malas saja saat melihatnya.
"Ada apa Fin ?."
"Tentang Alsya."
"Kamu sudah mendapatkan sesuatu ?."
"Iya, tadi kebetulan aku melihat Aly datang lagi ke rumah sakit. Dan, yah aku sudah melihat wajah selingkuhannya.." jelas Affin sedikit lesu karena saat ini pikirannya tertuju pada Alsya, dia mengkhawatirkan keadaan Alsya. Affin membuka ponselnya dan menunjukkan foto yang bergambar identitas pasien yang merupakan selingkuhan Aly.
__ADS_1
Nisa segera memeriksanya dan setelah beberapa saat dia terlihat mengerjitkan alisnya membuat Affan dan Affin penasaran.
"Kenapa sayang ?." Tanya Affan.
"Ada apa Mbak ?."
"Ini... Ning Imah..." Gumam Nisa dengan suara yang sangat lirih hampir tak terdengar di telinga dua pria di hadapannya.
"Mbak Nisa kenal dengan wanita itu ?." Tanya Affin tidak sabaran.
Nisa tidak menjawab dengan ucapan tapi dia menganggukkan kepalanya.
"Siapa mbak ?."
"Dia... Dia putri pengasuh pesantren tempat Alsya dan Aly mondok. Ning Halimah." Jawab Nisa seakan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ning ?!." Pekik Affan Affin secara bersamaan.
"I-iya. Aku sangat mengenalnya, karena dia juga adalah sahabat baiknya Alsya." Ucap Nisa lagi.
"Sahabat ?!." Kembali Affan dan Affin berucap bersamaan.
Ketiganya mulai dilanda keheningan dengan pemikiran masing-masing. Ada kecamuk besar yang sedang bergemuruh hebat di hati Affin saat ini. Dia tidak habis pikir dengan pola pikir Aly yang telah menjadikan dua wanita bersahabat sebagai istrinya semua, dan lagi yang membuat dirinya terkejut adalah jika wanita selingkuhan Aly adalah seorang anak kyai besar. Sungguh disayangkan !!.
Namun beda lagi dengan bocah kecil laki-laki yang kini melihat kebingungan dengan sikap orang-orang dewasa di sekelilingnya.
"Apa yang terjadi dengannya ?." Tanya Nisa lagi yang rupanya sudah kembali pada kesadarannya. Mata Nisa masih fokus pada layar ponsel yang menunjukkan foto wajah Ning Halimah.
"Dia baru saja melahirkan." Jawab Affin datar namun suaranya sarat akan kemarahan.
"Melahirkan ?!." Kali ini Affan dan Nisa yang terkejut.
"Iya. Pria brengsek itu telah memiliki anak dengan perempuan lain selain Alsya !."
"Astaghfirullah... Alsya...!." Gumam Nisa lirih sudah tak sanggup mendengar kebenaran tentang apa yang telah menimpa adik tersayangnya.
"Nisa ?!!."
"Mbak Nisa ?!!."
"Ibu ?!!."
Semua orang langsung panik saat melihat Nisa tiba-tiba pingsan.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓
__ADS_1