
Siang yang cerah dengan panas menyengat di luaran membuat siapapun yang merasakannya akan merasa gerah dan . Begitupun dengan keadaan Alsya yang sedang kesakitan karena masa kontraksinya mulai terasa.
Alsya sedang mengerang kesakitan di atas tempat tidurnya dan hanya ditemani oleh pelayan rumah juga putranya karena Anand masih belum juga datang.
Meski Fazal masih sangat kecil, dia senantiasa menemani Umminya tanpa ada rasa takut sama sekali, malah sikapnya malah lebih pada khawatir saat melihat kondisi Ummi nya yang sedang kesakitan. Adik-adiknya akan segera dilahirkan, itulah kiranya yang dimengerti oleh Fazal.
Seseorang berlari masuk ke dalam kamar dengan wajah khawatirnya. Yah, itu adalah Anand yang baru saja pulang dari kantor.
Anand segera menghampiri istrinya dengan wajah sudah tak karuan. "Maafkan aku, sayang." Ucapnya penuh sesal karena baru bisa datang.
Alsya tak ingin suaminya itu merasa bersalah jadi dia usahakan untuk tersenyum.
Anand segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya keluar dari kamar berlanjut ke mobil.
"Siapkan perlengkapannya. Dan, Fazal, Abi mau antar umma dulu ya sayang, kamu nanti berangkat sama Mbak ya ?." Anand mengusap lembut kepala putranya sebentar lalu berjalan memasuki mobil tanpa mendengar jawaban Fazal karena sangat terburu-buru.
Sepanjang perjalanan, Anand terus mendekap tubuh Alsya yang masih terus merintih kesakitan pada perutnya.
Anand sangat tidak tega melihatnya. Ini adalah kali pertama dia melihat istrinya sampai menangis kesakitan seperti itu. Tangan Anand juga tak henti-hentinya mengusap-usap lembut perut Alsya karena dia kira itu bisa meredakan sakitnya sehingga istrinya bisa lebih tenang.
"A'... Sakit..."
"Iya, sayang... Bertahan ya... Kita akan segera sampai." Anand terus menggumamkan sholawat kesukaan istrinya sambil terus mengusap-usap lembut perut Alsya.
Akhirnya perjalanan sampai di tempat tujuan. Anand segera keluar dari mobil saat pintunya dibuka dari luar oke supirnya. Dia berjalan tergesa-gesa membawa tubuh Alsya ke dalam bangunan rumah sakit.
Terlihat beberapa pegawai rumah sakit langsung sigap menghampirinya dan segera mengambil alih tubuh Alsya untuk dibaringkan di atas brankar.
Tangan Anand dan Alsya saling menggenggam erat hingga mereka masuk ke dalam ruang persalinan.
Kontraksi tiba-tiba pada persalinan anak kembar memang kerap terjadi. Sama halnya dengan kondisi Alsya sekarang. Dia awalnya tidak merasakan apapun hingga Anand pun bisa tenang saat meninggalkannya untuk berangkat ke kantor, tapi ternyata mereka salah menebak dan Alsya ternyata sudah saatnya melahirkan ketiga buah hatinya.
Tidak menunggu lama, dokter datang dan proses tindakan persalinan Caesar dilakukan. Anand tidak sanggup melihat ke bawah sana. Dia hanya memandangi wajah Alsya yang sedang banjir oleh peluh. Bibir Anand tak pernah sedikitpun menghentikan sholawat dan dzikirnya. Di dalam hatinya pun tak kalah ribut nya berdoa untuk keselamatan istri dan anak-anaknya agar mereka bisa berkumpul kembali dan merasakan kebagian bersama nantinya.
Setelah perjuangan yang sangat menegangkan, di dalam salah satu ruangan di rumah sakit.
__ADS_1
Alsya dan Anand tidak ada henti-hentinya mengumandangkan doa saat melihat tiga jagoan mereka sudah bisa melihat dunia dengan keadaan normal tanpa cacat.
"Terimakasih, sayang." Ucap Anand tulus dengan air matanya yang masih menggenang membasahi pipi.
Anand mengecup kening istrinya dengan penuh kelembutan dan Alsya menyambutnya dengan perasaan bahagia yang tak terkira.
Tiga bayi yang masih merah itu diletakkan di atas tubuh Alsya untuk mencari kehangatan tubuh ibunya.
Alsya dan Anand yang melihat bagaimana lucunya mereka hanya bisa menangis memperhatikan.
"A', mereka sudah lahir ?." Tanya Alsya dengan suara lirih tak kuasa melihat wajah lucu-lucu putra-putrinya.
"Iya, sayang. Mereka sudah lahir. Adik-adiknya Fazal sudah bisa melihat dunia." Anand tak pernah jauh dari wajah Alsya dan menciumi kening istrinya.
Tangan Alsya terangkat dan menyentuh satu-persatu wajah anaknya. "Selamat datang sayang Ummi... Kami sudah menanti kalian." Ucapnya penuh haru.
Tiga suster segera mengambil lagi ketiga bayi itu untuk di bersihkan, begitupun dengan sang ibunya.
Setelah lima belas menitan, ketiga bayi itu sudah dikembalikan lagi dengan tampilan yang berbeda dengan bedong bayi yang membalut tubuh mereka.
Anand sedikit ragu tapi dia tetap menerimanya dan dengan penuh khidmat mengadzani telinga putranya lalu memberikan bayinya itu pada suster lagi dan beralih pada bayi laki-laki satunya lagi kemudian pada bayi perempuannya yang sedang dipangku oleh Alsya.
Anand siap mengambil bayi itu tapi entah kenapa Alsya malah menahannya.
"Kenapa sayang ?." Tanya Anand dengan tatapan bingung.
Alsya tersenyum. "Biarkan aku memangku putriku saat kau mengadzaninya." Pintanya pada sang suami.
Anand membalas senyuman itu kemudian mengangguk. "Apapun untuk umminya anak-anakku." Ucapnya menurut.
Anand berjongkok di samping telinga putrinya dan mulai mengadzaninya. Suara yang sangat merdu di pendengaran Alsya hingga Alsya tak kuasa menahan isakan tangisnya.
Anand selesai mengadzani putrinya kemudian mendongak menatap wajah ayu istrinya dan mengusap air mata Alsya yang masih menggenang di pelupuk matanya.
"Putriku." Ucap Alsya lirih.
__ADS_1
Yah, Alsya sekarang bisa merasakannya memiliki seorang putri. Dia sangat menantikan hal itu. Dan Anand yang mengerti akan itu semua juga tak kalah senangnya bisa melihat pancaran mata Alsya saat memandang wajah cantik putrinya.
Anand kembali menegakkan posisi berdirinya dan memeluk erat tubuh Alsya. "iya, sayang. Dia putri kita, putri yang selalu kamu nanti kedatangannya. "
Setelah semuanya selesai, Alsya dipindahkan ke ruang inap biasa dan keluarganya baru bisa melihat menjenguknya.
Umma masuk dengan penuh semangat untuk melihat kondisi anak dan cucu-cucunya. "Assalamualaikum..." Ucap Umma dan Abah saat memasuki kamar.
"Waalaikumsalam... Umma, Abah ?." Alsya tersenyum senang melihat kedatangan kedua orang tuanya.
Umma langsung memeluk erat tubuh Alsya yang masih terlihat sangat lemah dan mencium puncak kepalanya. "Selamat sayang, umma bangga sama kamu." Ucap Umma sangat terharu.
Alsya tersenyum. "Iya, Umma, Alsya gak nyangka akhirnya mereka bisa melihat dunia. " Ucap Alsya dengan tangannya yang membelai lembut pipi putra-putrinya yang diletakkan di sisinya, berjejer rapi di atas ranjang bersamanya.
Abah mendekati menantunya. "Selamat, nak. Kamu memang bisa di andalkan." Ucap Abah sambil terkekeh.
Anand sempat bingung tapi sesaat kemudian dia mengerti maksud dari ucapan Abah. "Maaf harus merasakan kesakitan karena melahirkan anak-anakku,." Ucap Anand penuh penyesalan dan permohonan.
Abah menggeleng dan langsung memeluk tubuh menantunya. "Tidak, nak. Abah malah seneng karena putri Abah itu akhirnya memiliki tiga jagoan sekaligus." Abah menepuk-nepuk punggung Anand karena bangga.
Anand tersenyum. "Makasih, bah."
Mereka melepaskan pelukannya.
"Orang tua kamu belum datang, nak ?."
"Belum, Abah. Mereka masih dalam perjalanan."
Abah manggut-manggut mengerti lalu mulai melangkah mendekati Alsya. Alsya yang melihat Abah mendekat langsung melemparkan senyumannya.
"Abah." Panggil alsya lalu menyalami tangan Abah.
"Selamat putriku."
"Makasih, Abah."
__ADS_1