Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
anak ke dua


__ADS_3

"Hallo, assalamualaikum, Ummi."


"Waalaikumsalam, Ada apa Ummi ?." Tanya Aly bingung karena tidak biasanya mertuanya itu menelfon.


"Aly, Imah akan melahirkan. Cepatlah datang ke rumah sakit."


"Masya Allah, iya, iya, Ummi. Aly akan kesana. Di rumah sakit mana Ummi?."


"Sepertinya di rumah sakit dekat pesantren, Ly."


"Ya udah iya Ummi, Aly akan segera kesana."


Panggilan terputus karena dimatikan oleh Ummi Nyai.


Aly menatap wajah putranya yang seperti kebingungan. "Hafidhz, Hafidhz disini ya, jagain Ummi. Abi mau keluar dulu nak." Ucapnya pada sang putra.


"Abi mau kemana lagi ?."


"Abi mau ke rumah sakit, sayang. Teman Abi ada yang sakit soalnya." Jawab Aly berbohong.


"Oh, ya udah."


"Abi akan pulang kalau udah selesai, ya. Nanti jagain Ummi ya kalau Abi belum pulang."


"Iya, Abi."


Aly mengulurkan tangannya untuk disalami putranya, mengusap kepala hafidzh lalu pergi setelah mengucapkan salam.


Dengan kecepatan tinggi, Aly mengendarai mobilnya menuju rumah sakit yang jaraknya dekat dengan pesantren, sesuai yang dikatakan mertuanya tadi.


Setelah sampai, Aly menanyakan kamar yang ditempati oleh istrinya di meja resepsionis.


"Maaf, mbak. Saya mau tanya pasien yang bernama Halimah Az-Zahra ?."


"Oh, Ibu Halimah, pasien yang melahirkan?."


"Iya, benar mbak."


"Oh, beliau baru saja dipindahkan ke ruang inap biasa, mas. Kebetulan tadi suaminya kesini untuk membayar biaya administrasinya." Ucap mbaknya.


"Suami ?!."


"Iya, Mas."


"Baiklah, ada di ruangan apa Mbak ?."


"Di ruang Melati, kelas B nomor 21, tempatnya, masnya jalan aja di lorong sebelah sana, nanti di sebelah kanan ada tulisannya kok, mas." Ucap mbaknya memberikan arahan melalui tangannya.


"Oh iya, makasih, mbak."."iya, sama-sama, mas."


Selama kaki melangkah, pikiran Aly terasa gelisah, dia memikirkan ucapan mbak tadi.

__ADS_1


Suaminya ?.


Siapa pria itu ?, Berani sekali dia mengaku-ngaku sebagai suaminya Halimah ?. Sudah jelas Halimah adalah istrinya, dan anak yang sedang di kandung Halimah adalah anaknya.


Kejadian dulu ternyata kembali berulang. Dulu, seorang pria mengaku Alsya sebagai gadisnya dan sekarang ada lagi yang mengakui Halimah sebagai istrinya. Sungguh membingungkan saja.


Aly sampai di depan pintu yang bertuliskan kamar melati, kelas B nomor 21. Dengan hati-hati Aly melangkah masuk ke dalam kamar tersebut. Dan benar saja, ada Halimah yang sedang duduk sambil memangku bayinya dan di samping kanan kirinya ada ummi juga dua khodam ndalem.


"Assalamualaikum." Ujar Aly, matanya tak lepas dari wajah sang istri.


"Waalaikumsalam." Jawab semua orang serempak.


Aly berjalan mendekati Halimah. Saat sampai, tangannya langsung memeluk erat tubuh istrinya, air mata sudah mulai menganak sungai di pelupuk matanya.


"Mas."


"Maafkan mas, dek. Mas tidak menemani kamu saat melahirkannya." Ucap Aly penuh penyesalan. Tangannya mengusap wajah sang bayi yang sedang terlelap tenang.


Berkali-kali, Aly mendaratkan kecupannya di kepala Halimah.


"Maaf, sayang..." Air mata Aly mulai menetes.


"Iya, mas. Tidak apa-apa, aku mengerti keadaanmu." Ujar Halimah pengertian sekali.


Yah, Halimah memang memiliki hati yang sangat bersih, dia tidak pernah sekalipun menaruh kemarahan yang mendalam kepada siapapun, dia juga sangat memahami posisi suaminya yang memang memiliki dua istri.


"Dia cantik sekali, sayang ?. Apa dia perempuan?."


"Iya, mas. Dia perempuan."


Bukan apa-apa Aly menanyakan hal demikian, sebab dia tiba-tiba teringat akan ucapan mbak tadi saat di meja resepsionis.


"Sudah, mas sama kang Fikri." Jawab Halimah.


Aly sangat kenal dengan pemilik nama tersebut, Aly langsung menoleh ke arah khodam putra mertuanya itu. Senyuman langsung menghiasi wajahnya. "Maka, Fik." Ucapnya tulus.


"I-iya, Gus. Maaf, tadi saya melakukannya karena di paksa sama Ning Imah." Ucap Fikri menunduk.


Sudah di duga, Aly memang sangat memahami sikap istrinya yang terkadang sangat memaksa dan selalu orang lain yang menjadi korbannya.


"Aku hanya tidak mau kelamaan menunggumu, mas." Ucap Halimah membela diri sendiri.


"Iya, mas mengerti, sayang." Aly mengusap lembut kepala istrinya. "Sebentar, dek. Mas ada perlu dulu sama Fikri. Ayo Fik ?!." Ucap Aly tiba-tiba dan langsung pergi. Fikri segera mengikuti langkah Gus nya, keluar dari ruangan.


Aly mengajak Fikri duduk di kursi tunggu.


"Fikri."


"Iya, Gus ?."


"Apa tadi kamu yang membayarkan biaya administrasinya ?."

__ADS_1


"Nuwunsewu, Gus." Ujar Fikri semakin menunduk penuh, tidak berani menatap gurunya.


"Berapa habisnya ?." Tanya Aly lagi.


"Maaf Gus. Saya kurang tahu, soalnya saya tadi saya membayarnya memakai card, Gus. Tapi, ini Gus.." Fikri menyerahkan selembar kertas yang dari tadi di pegang ya. "Surat administrasinya."


Aly menerimanya dan langsung membukanya. "Baiklah, nanti saya transfer gantinya ya ?." Ucap Aly kemudian.


"Hem, tidak usah Gus. Tidak perlu diganti, saya tidak apa-apa."


"Kamu ini ada-ada saja, Fik. Masa biaya untuk lahiran istri saya kamu yang bayar?, kan tidak lucu. Ini juga sampai tujuh juta lebih, kamu pasti membutuhkan uangnya." Ucap Aly lagi.


"Tapi, Gus ..."


"Sudah, pokoknya akan saya ganti, nanti saya kirimkan ke nomor rekening kamu." Ucap Aly kekeuh.


"Iya, Gus." Ucap Fikri akhirnya menurut.


"Jadi sekarang, udah ya jadi suami penggantinya ?." Ucap Aly lagi.


Fikri langsung terbelalak kaget. Kepalanya semakin menunduk dalam. "Nuwunsewu, Gus. Saya tidak bermaksud seperti itu, tadi mbak kasirnya aja yang salah sangka." Jawab Fikri sangat ketakutan.


"Iya, saya paham. Ya sudah, saya mau masuk lagi, kamu mau ikut ?." Ucap Aly sambil bangkit dari duduknya.


"Iya, Monggo, duluan Gus,." Ucap Fikri menolak halus.


"Kamu mau apa Dek?." Tanya Aly pada Halimah saat sudah berdiri di samping istrinya lagi.


"Mas." Halimah menatap lekat wajah suaminya.


"Iya, Dek?."


"Mas, bagaimana dengan identitas anak kita ?."


Aly terhenyak. Dia pernah memikirkan tentang ini sebelumnya. Bagaimana dengan identitas anaknya ?, Karena pernikahan mereka tidak terdaftar ke sipil.


"Aku akan segera memberitahu Alsya, Dek."


"Tapi kasihan Alsya, mas. Dia pasti akan sedih."


"Lalu, kita harus bagaimana, dek ?, Kalau kita terus menyembunyikannya, lama-lama juga Alsya akan tau."


"Iya sih, mas."


"Mas akan bilang nanti kalau pulang."


"Terserah kamu aja lah mas." Halimah mulai merebahkan diri lagi dan tidur sambil membelakangi Aly. Dia juga membawa bayinya untuk pindah, dan memeluknya.


Aly duduk di kursi samping tempat tidur sang istri. Tangannya terus membelai kepala Halimah.


"Istirahatlah, dek."

__ADS_1


Tak ada jawaban, namun mata Halimah perlahan terpejam karena memang dirinya masih lemah dan sangat kelelahan. Tak terasa, Aly juga mulai meletakkan kepalanya di pembaringan Halimah dan mulai memejamkan matanya.


___________


__ADS_2