
Ternyata benar apa yang terlintas di pikiran mbak Nisa tadi. Jika bayi itu merasakan kehadiran ayahnya dan ingin disentuh oleh ayahnya hingga saat ini tangisnya mulai mereda dan perlahan membuka matanya, menatap lekat wajah Aly dengan mata sebening kristal itu.
Aly tersenyum lalu mengecup lembut kening putranya. "Kamu ingin bersama Abi, ya nak ?." Ucap Aly sangat terharu karena ternyata putranya mengerti dengan siapa dia di gendong.
Mbak Nisa ikut tersenyum, dia akhirnya bisa bernafas lega saat melihat keponakannya itu berhenti menangis. Begitupun dengan seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu yang kini kembali menitikkan air matanya, terharu melihat kasih sayang suaminya terhadap putranya itu. Yah, sosok itu adalah Alsya yang sengaja ingin mengikuti kakaknya yang ternyata menemui Aly.
Aly sadar jika saat ini ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Di dalam hati, dia merasa desiran lembut menyapa hatinya saat ini. Aly menoleh ke arah Alsya yang terlihat langsung salah tingkah karena ketahuan memperhatikan dari jauh. Alsya segera kembali masuk ke dalam kamar, membuat Aly melebarkan senyumannya.
Mbak Nisa hanya bisa menggeleng melihat tingkah laku adik dan adik iparnya itu. "Ly, sebaiknya kamu bawa anakmu ke dalam lagi, mbak mau ke depan dulu." Ucap mbak Nisa akhirnya.
Aly mengangguk lalu berjalan menuju kamar Alsya lagi.
"Al." Aly ragu-ragu mendekat ke arah Alsya. Melihat wajah Alsya yang tampaknya tidak suka dengan kedatangannya .
"Kemarikan." Ucap Alsya dingin.
Aly mengangguk lalu memberikan bayinya pada Alsya. "Al." Panggil Aly lagi, dia berharap Alsya masih mau memaafkan kesalahannya.
"Pergilah. "
"Tapi, Al..."
"Aku tunggu surat dari pengadilannya." Ucap Alsya lagi membuat Aly terhenyak kaget.
"Tidak, Al. Aku tidak akan melepaskanmu !." Tolak Aly bersikeras. "Kita saling mencintai, Al... Dan... Bagaimana dengan anak-anak nantinya ?.. Al, aku mohon maafkan aku..." Wajah Aly penuh permohonan, menatap sendu wajah Alsya.
"Tidak, mas...!!. Kamu tidak pernah mencintaiku !." Sentak Alsya tajam.
"Demi Allah, aku sangat mencintaimu, Al... " Ujar Aly berusaha meyakinkan.
Alsya menatap tajam wajah suaminya. "Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan pernah memaduku !. Pergilah. " Ucap Alsya tajam.
"Tidak, Al... Aku tidak mau kita berpisah... Kita adalah keluarga, anak-anak membutuhkan orang tua yang utuh...!" Aly masih memaksa tidak ingin menuruti ucapan Alsya.
"Kamu sendiri yang membuat keluarga kita hancur..!! Kamu sudah berbohong..!!. Kamu mengkhianati kepercayaanku !!. Aku bilang, pergi...!!." Teriak Alsya sudah habis kesabaran. Alsya menunjuk ke arah pintu keluar.
Aly tertegun. Dia tidak pernah mendengar Alsya berteriak keras seperti itu, tapi kini Alsya telah melakukannya dan teriakannya itu di tunjukkan kepadanya.
"Alsya.." Mbak Nisa datang terburu-buru karena mendengar teriakkan Alsya dari luar.
"Mbak, suruh dia pergi !. Aku sudah muak melihat wajahnya !."
Lagi. Aly benar-benar tidak menyangka Alsya akan mengatakan hal tersebut.
Mbak Nisa memandang wajah Aly, seolah memberi penegasan agar Aly menuruti ucapan Alsya.
__ADS_1
Sekali lagi Aly melihat wajah Alsya yang kini sudah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Pergi..."
"Alsya..." Panggil mbak Nisa mencoba meredam amarah adiknya.
"Baiklah, aku akan pergi, Al. Tapi aku tidak bisa melepaskanmu." Ujar Aly akhirnya menurut. Aly melangkah keluar dari kamar. "Assalamualaikum..."
"Jika kau tidak melepaskanku, jangan salahkan aku yang akan mempermasalahkan pernikahanmu dengannya." Ujar Alsya dingin sebelum Aly benar-benar keluar dari kamar.
Aly menghentikan langkahnya. Dia kira mengerti apa maksud ucapan Alsya barusan. Tapi dia sedikit ada rasa tidak nyaman dengan apa yang dikatakan Alsya. Aly berusaha tenang lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Sepeninggalan Aly, mbak Nisa mendekat. "Al, apa maksud ucapanmu tadi ?." Tanya mbak Nisa yang juga tidak paham dengan apa yang dikatakan Alsya tadi.
"Aku punya hak, Mbak, aku bukan wanita lemah. Aku hanya ingin membuatnya berpikir." Ujar Alsya dengan tatapan mata terfokus ke depan
"Apa yang akan kau lakukan ?. Jangan, Al. Dia juga sahabatmu, kan ?."
Alsya menoleh. "Iya, dia memang sahabaku, mbak. Maduku juga." Ucapnya.
"Jangan gegabah, dia juga memiliki putri dari Aly. Kalau kamu melaporkannya, apa kamu tega dengan anaknya ?."
Alsya terdiam. Dia baru tahu jika Aly ternyata juga memiliki anak bersama istri keduanya itu. Namun, rasa di hati Alsya kini sudah mati, hancur lebur tak berbekas terhadap sosok suaminya itu.
"Berdoalah, mintalah yang terbaik untuk semuanya." Nasihat mbak Nisa penuh kasih sayang.
Alsya hanya mengangguk.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Keluar dari rumah sakit, Aly pulang ke pesantren karena memang semenjak beberapa hari terakhir Aly tidak pernah lagi kembali ke rumah yang biasa ditinggalinya bersama Alsya.
Saat ini tempat pulang Aly hanyalah kepada istri keduanya itu. Wanita yang selalu bersikap bijaksana dalam segala urusan yang menimpanya.
Rumah tampak sepi, hanya ada suara-suara lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang sedang dibacakan santri-santri di asrama dan Madjid, suasana yang selalu membuatnya nyaman dan damai.
Dengan langkah perlahan, Aly masuk ke kamar dan kebetulan Halimah terlihat sudah siap untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib.
"Assalamualaikum..." Ujar Aly pelan.
Halimah yang akan mengangkat kedua tangannya sambil membaca takbir langsung urung. Halimah melihat ke arah suaminya dengan senyum teduh. "Waalaikumsalam, mas." Jawabnya masih tersenyum.
"Tunggu, aku Wudhu dulu." Ucap Aly bergegas ke kamar mandi untuk menyucikan diri.
Halimah mengambilkan sajadah lagi untuk Aly dan membentangkannya di shaf depan lalu duduk di atas bentangan sajadahnya sendiri sambil menunggu dengan melantunkan beberapa hafalan ayat-ayat Al-Qur'an nya.
__ADS_1
Aly sudah siap setelah lima menitan di dalam kamar mandi. Melihat sajadah sudah disiapkan dia tersenyum pada istrinya sebagai ucapan terima kasih.
Keduanya bersiap, berdiri dengan kokoh dan Aly mulai mengangkat kedua tangannya mengucap takbir, disusul dengan Halimah sebagai makmum.
Aly memang pria idaman sebagai pemimpin kala berurusan dengan agama, dan itulah yang menjadikan Halimah sangat mengagumi sosok pria yang kini menjadi suaminya itu. Meski terbalik jika di selain hal itu, yaitu Aly yang kurang tegas sebagai laki-laki juga termasuk orang yang lemah untuk bersikap dalam beberapa hal.
Sholat tiga rakaat dilaksanakan dengan khusyuk, dimana keduanya tampak tenang dan damai dalam melaksanakan kewajiban ibadahnya.
Di ruku' terakhir, Halimah merasakan punggungnya kembali nyeri bahkan membuatnya sedikit meringis karena merasakan kesakitan. Halimah mencoba bertahan demi menyelesaikan sholatnya meski gerakannya menjadi sangat lambat. Saat sujud terakhir, sesuatu seakan terasa menerjang tulang punggungnya, semakin terasa sakit saja.
Airmata Halimah menetes membasahi sajadah, dia sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang ada di punggungnya saat ini.
Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah... Ya Allah... Jika sekarang waktunya... Hamba mohon jagalah Putriku dengan Sifat Rahman, Rahim Mu, Ya Rabb...
"Allah... !!." Pekik Halimah saat rasa sakit tak Terperi itu kembali menerjang tulang punggungnya.
Aly tersentak kaget mendengar suara Halimah. Namun, karena sholatnya belum selesai, Aly mencoba Kembali fokus lagi tapi ternyata sangat sulit karena kepikiran Halimah.
Aly memohon ampun karena saat ini dia ingin segera menyelesaikan sholatnya.
"Assalamualaikum, warahmatullah..."
Tak ada salam setelahnya dari Halimah. Aly mencoba tenang kemudian mengucapkan salam kedua sebagai penutup sholatnya.
Selesai sholat, Aly segera berbalik, betapa terkejutnya dia saat melihat Halimah tergeletak tak berdaya di atas sajadah. Aly menubruk tubuh istrinya dengan wajah cemas dan kaget.
"Dek... Dek, kamu kenapa ?!. Imah...!. Imah... Bangun, dek !!!. " Ujar Aly panik sambil menepuk-nepuk wajah istrinya yang tak kunjung membuka matanya.
Ooekk... !! ooekk...!! Ooekk..!!
Suara tangis bayinya langsung melengking memenuhi kamar.
"Halimah... !!. Bangun, sayang... !!. Bangun... !!." Teriak Aly semakin histeris dengan memeluk erat tubuh Halimah yang tak ada lagi tanda-tanda kehidupan.
"Imah ?!, astaghfirullah...!!." Ummi nyai masuk dan sangat kaget melihat keadaan putrinya yang terlihat tak berdaya di pelukan Aly. Ummi segera mendekat. " Imah... !!. Imah, kamu kenapa nak ??!." Ujar ummi yang sama paniknya.
Aly semakin memeluk erat tubuh istrinya. "Imah, bangun, sayang... Jangan tinggalkan aku, dek....!!. Jangan tinggalkan Chayra...!!. Imah....!!. Halimah bangun.....!!!." Aly berteriak keras masih tidak bisa menerima kepergian istrinya.
Suara tangisan Aly dan sang putri memenuhi kamar, seakan bayinya itu juga ikut merasakan kehilangan sosok malaikat hidupnya, membuat siapapun yang mendengarnya tak sanggup untuk tidak menitikkan airmata.
Seorang khodam perempuan masuk dan mengangkat tubuh mungil putri Chayra ke dalam gendongannya.
Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'uun...
✓✓✓✓✓✓✓✓
__ADS_1