Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Bertamu


__ADS_3

"Fazal, Keyya ayo makan dulu !,." Teriak Alsya memanggil anak-anaknya yang sedang asyik bermain untuk mendekat.


Tangan Alsya membawa sepiring makanan untuk anak-anaknya. Kebiasaan Alsya yang memang selalu menyempatkan waktu untuk bersama anak-anaknya saat suaminya tidak ada. Seperti saat ini, meski Anand sudah pulang, Alsya masih ada waktu untuk bersama Fazal dan Keyya karena suasana yang memang masih cerah sebab Anand pulang lebih cepat tidak seperti biasanya.


Keyya menghentikan permainannya dan berlari ke arah Alsya. "Ummi...!." Teriaknya sekencang mungkin.


Alsya tersenyum lebar lalu mengangkat sendok yang berisi makanannya dan memasukkannya ke dalam mulut Keyya. Setelah mendapatkan suapannya, Keyya kembali berlari ke permainannya lagi.


"Jangan lari-lari sayang, nanti perutnya sakit !." Seru Alsya menasehati.


Tapi anak kecil yah anak kecil, Keyya tetap tidak menghiraukan nasihat Alsya dan terus berlari hingga sampai di tempat bermainnya lagi. Alsya hanya bisa menggeleng pasrah melihat kelakuan Keyya. Fazal juga mulai mendekat dan Alsya kembali mengangkat sendoknya lalu menyuapkan makanan ke dalam mulut Fazal.


"Ummi, tadi Abi udah pulang ?." Tanya Fazal di sela-sela kunyahannya.


"Iya, sayang. Abi udah pulang."


"Kok cepet ?."


"Iya, soalnya pekerjaan Abi udah selesai. Ayo sana main lagi ."


"Nggak ahh, Fazal capek. Mau duduk disini aja sama ummi." Fazal duduk di samping kanan umminya.


Tubuhnya yang mungil membuatnya kesulitan untuk menaiki bangkunya tapi setelah berjuang akhirnya Fazal bisa duduk tenang di samping Alsya. Dan tingkah laku anak kecil tidak lepas darinya, kaki Fazal yang menggantung di ayun-ayunkan semakin menggemaskan saja.


"Ummi."


"Hem ?."


"Fazal mau sekolah."


"Ehh, sekolah ?, Fazal masih kecil sayang, sekolah nya nanti kalau Fazal sudah gede."


"Tapi, Fazal udah gede kok Ummi."


Alsya memberikan piringnya kepada Inne, pengasuh Fazal. Kemudian dia beralih menatap wajah putranya yang duduk disampingnya.


"Ummi mau nanya, berapa umur Fazal ? Hem ?."


Fazal terdiam seperti memikirkan sesuatu. "Mau dua tahun !." Jawabnya kemudian.


"Fazal tau kalau sekolah harus umur berapa ?." Tanya Alsya lagi.


Kali ini Fazal langsung menggelengkan kepalanya karena tidak tau jawaban dari pertanyaan Alsya. "Berapa ?."


"6 tahun sayang. Berarti masih empat tahun lagi kalau Fazal mau sekolah." Alsya mengusap kepala Fazal penuh kasih sayang.


"Tapi, Ummi... Fazal mau sekolah..." Rengek Fazal lalu menyenderkan kepalanya di pangkuan sang ibu.


"Kenapa Fazal tiba-tiba mau sekolah, Hem ?."


"Mau punya temen ."


"Kan Fazal udah punya temen, tuh ada Keyya."


"Nggak mau !, Fazal mau punya temen yang banyak !."


Alsya sudah bingung harus menjawab apa lagi. Dia tidak pernah melihat Fazal meminta sesuatu hingga sampai merengek seperti itu. Alsya hanya terdiam sambil terus mengusap-usap lembut kepala putranya.


Anand yang baru datang heran saat melihat Fazal sedang tiduran dengan kepala diletakkan di atas pangkuan Alsya. "Fazal kenapa ?." Tanyanya saat sampai di dekat mereka.


"Abi..." Fazal mengangkat wajahnya saat mendengar suara abinya, dia langsung beralih memeluk tubuh Abinya setelah Anand ikut duduk di samping kanannya.


"Ehh, anak Abi kenapa ini ?, Kok nangis ?." Tanya Anand lagi semakin kebingungan dengan tingkah putranya.

__ADS_1


"Fazal mau sekolah... Abi..."


"Sekolah ?."


"He em."


Anand menatap ke arah wajah Alsya. "Aku juga tidak tau kenapa fazal tiba-tiba menginginkan sekolah." Jawab Alsya memahami maksud tatapan mata suaminya.


"Iya, nanti Fazal daftar sekolah ya ?,." Ucap Anand kemudian.


Fazal langsung mengangkat wajahnya lagi dan menatap senang wajah abinya. "Beneran Abi ?!." Tanyanya seolah tak percaya.


"Iya, nak."


"Yeyy !!, Fazal sayang sama Abi...!!." Seru Fazal kegirangan kemudian memeluk kembali tubuh Abinya.


"A', tapi Fazal masih terlalu kecil."


"Tidak apa-apa, lagian di PAUD masih tempat untuk bermain-main, Fazal juga akan mendapatkan teman baru disana." Ucap Anand mencoba meyakinkan.


Alsya hanya mendengus pasrah. "Baiklah, semoga saja dia tidak cepat bosen."


"Iya, sayang."


Keduanya saling melempar senyuman manis. Hubungan yang mencoba saling mengerti satu sama lain meski salah satunya harus merelakan ego.


Pengalaman yang pernah dirasakan Alsya dulu menjadi guru terbaik bagi Alsya. Dia tidak ingin kepolosannya dulu terus menguasai dirinya hingga saat ini. Dan untungnya, Anand selalu bersabar dalam menghadapi sikap Alsya yang kadang lebih egois.


"Permisi, tuan, nyonya." Penjaga gerbang datang mendekati mereka.


"Iya, pak ?,."


"Itu tuan, ada tamu katanya mau bertemu tuan dan nyonya di depan."


"Tuan Zuhally, tuan."


"Oh, iya suruh masuk aja pak, kami memang memiliki janji sebelumnya."


"Baik, tuan." Penjaga gerbang itu kembali melenggang pergi.


Alsya sudah menatap dingin wajah suaminya. "A'. Apa maksudmu membuat janji dengannya ?." Tanyanya dengan nada yang seperti tidak senang.


"Sayang, kita sudah membicarakannya kan sebelumnya ?. Dan, yah kami sudah bertemu tadi dan membicarakan soal Chayra lalu setelahnya aly meminta untuk menemui Chayra, sayang."


"Tapi aku tidak mau bertemu dengannya,.."


"Tidak apa-apa, aku saja yang akan menemuinya, kamu bisa di dalam kamar saja."


"Lalu, Fazal ?." Tanya Alsya lagi dengan wajah semakin cemas.


Anand tersenyum untuk mencoba menenangkan hati istrinya. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Alsya. "Sayang, tidak baik menyimpan dendam pada seseorang. Itu juga akan merusak hati kamu sendiri karena perasaan dengki. Bagaimanapun, Fazal juga putranya, apa salahnya jika dia menemui putranya, Hem ?."


"Tapi aku tidak suka, dulu dia..."


"Tidak, jangan mengungkit tentang dulu lagi. Sekarang, yang terpenting adalah kamu harus berdamai dengan hatimu sendiri. Yang lalu biarlah berlalu, ikhlaskan sayang.... Ya ?." Nasihat Anand panjang lebar agar Alsya mengerti.


Akhirnya Alsya mengangguk meski ragu. "Baiklah, aku akan mencobanya. Kalau begitu, aku ke kamar dulu." Ucap Alsya dengan suara lirih seperti tak bersemangat.


Anand mengecup singkat kening istrinya sebelum Alsya bangkit berdiri dan melangkah pergi.


Setelah kepergian sang istri, Anand juga bangkit sambil menggendong tubuh mungil Fazal untuk menemui tamunya tapi sebelumnya dia juga memanggil pengasuh Keyya agar membawa Keyya ikut bersamanya.


Mobil sedan berwarna hitam mulai memasuki pelataran rumah dan berhenti tepat di samping kolam air mancur kemudian seseorang keluar dari dalam mobil tersebut.

__ADS_1


Anand menyambut ramah kedatangan Aly dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Silahkan duduk dulu tuan Zuhally." Ujarnya mempersilahkan tamunya.


Aly mengangguk mengiyakan lalu duduk. Matanya terus menatap ke arah bocah yang digendong Anand saat ini. Anaknya, Fazal. Kemudian dia beralih pada bocah yang sedang digendong oleh wanita yang berpakaian rapi seperti babi sitter. Dan dia bisa menebak jika itu adalah Chayra, putrinya yang pernah hilang. Yah, Aly tidak pernah melihat langsung wajah putrinya selama satu tahun lebih ini, dia hanya tahu wajahnya dari foto yang kerap kali dikirimkan oleh orang tua angkat Chayra.


Seorang pelayan datang membawakan jamuan untuk tamunya kemudian setelah menaruhnya di atas meja dia kembali pergi ke belakang.


"Silahkan, tuan."


"Oh iya tuan Anand, terimakasih." Aly mengangkat gelas minumannya dan menyesapnya sedikit untuk menghargai tuan rumah.


"Maaf, tuan. Apakah dia Fazal ?." Tanya Aly masih menatap bocah yang dari tadi menyembunyikan wajahnya di bahu Anand.


"Oh iya, dia memang pemalu dan kurang suka dengan orang baru, jadi dari tadi ngumpet terus." Ujar Anand dengan diakhiri kekehan kecil.


Deg


Orang baru ?. Yah, jelas putranya itu tidak mengenalnya sebagai abinya selama ini.


"Ouh, iya." Jawab Aly berusaha bersikap biasa saja padahal dihatinya saat ini sedang bergemuruh hebat menahan rasa sakit.


Anand menoleh ke arah pengasuh Keyya. "Mbak, dia abinya Keyya. Dia datang kesini ingin menjemput anaknya." Ucap Anand pada pengasuh Keyya.


"Iya, tuan." Jawab pengasuh Keyya dan dia mendekat ke arah Aly untuk memberikan Keyya pada Abi kandungnya.


Tapi siapa sangka ?, Keyya malah tidak mau diturunkan dari gendongan mbak pengasuhnya.


"Keyya kenapa ?, Itu Abinya Keyya loh ?." Ujar mbaknya pada Keyya.


"Nggak mau !, Key nggak kenal !." Keyya semakin mengeratkan pelukannya di leher mbak pengasuhnya


Anand dan Aly semakin bingung melihatnya. Terutama Aly sendiri, dia memiliki dua anak yang masih hidup tapi kedua-duanya tidak ada yang mengenalinya sama sekali. Sungguh miris hidupnya saat ini.


"Mbak, coba kesiniin Keyya nya !." Titah Anand pada pengasuh Keyya.


Mbaknya menurut dan mendudukkan Keyya di samping Anand. Dan jelas Keyya langsung meringsek ke tubuh Anand. "Abi..." Rengeknya seperti ketakutan.


Mendengar panggilan itu semakin membuat Aly merasakan kesakitan di hatinya. Dan Anand pun merasa tidak enak terhadap Aly karena sikap Fazal dan Keyya. Sebagai orang tua, dia juga bisa merasakan bagaimana sakitnya hati Aly saat ini, tapi mau bagaimana lagi ?, Anak-anaknya sendirilah yang tidak mau bertemu dengan Aly ?!.


"Maafkan saya, Ly." Ucap Anand penuh penyesalan karena sikap putra-putrinya.


"Iya, tidak apa-apa, saya bisa memakluminya." Mulut berkata iya tapi tidak dengan perasaannya. Mata Aly bahkan sudah berkaca-kaca menahan kesakitan yang menerpa hatinya. "Chayra memang belum pernah bertemu denganku lagi selama ini." Cup lagi.


"Pantas dia tidak mengenalimu."


"Iya."


"Lalu bagaimana ?, Apa kau akan tetap membawanya ikut bersamamu ?."


"Apa itu tidak apa-apa ?, Sedangkan dia tidak mengenaliku sama sekali ?."


"Iya kau benar, atau mungkin kau bisa membawanya lain kali, selama itu kau juga harus sering bertemu dengannya agar dia mengenalimu."


"Itu lebih baik. Tapi, maaf, saya harus merepotkanmu lagi."


"Tidak masalah, seperti yang ku bilang sebelumnya. Kami sangat menyayangi Chayra."


"Syukurlah, sekali lagi terimakasih."


"Iya, sama-sama. Nanti jika kau ingin menemuinya, kau bisa mengabarimu dulu."


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2