Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Bukan gadis pelakor


__ADS_3

Kekesalan Aly pada pria tadi masih belum bisa reda. Sebagai seorang laki-laki yang memegang kendali dalam kepemimpinan sebuah keluarga, dirinya tidak terima dengan kata-kata menjelekkan yang keluar dari pria pengagum salah satu istrinya.


Aly berjalan tergesa-gesa meninggalkan Halimah yang terus mensejajarkan langkahnya dengan Aly. Yang Aly butuhkan sekarang adalah bertemu dengan Alsya, menanyakan hal terkait pria kurang kerjaan tadi. Selama ini dirinya memang jarang ada disamping Alsya tapi bukan berarti Alsya melewati batasannya sebagai seorang istri, bukan ?. Seharusnya jika Alsya sadar posisinya sebagai seorang istri, Alsya tidak mungkin menjalin pertemanan dengan seorang pria yang jelas-jelas memiliki rasa terhadapnya.


Dengan perlahan, Aly membuka pintu kamar Alsya dan meninggalkan Halimah yang berdiri tak ingin ikut masuk ke dalam.


Tatapan wajahnya kelam bahkan mengabaikan senyuman manis istrinya itu yang sedang berbaring di tempat tidur.


Aly duduk di kursi samping tempat tidur Alsya dengan tatapan mata terfokus pada mata Alsya . Jika sebelumnya dia sangat marah dan ingin menanyakan hal yang telah membuat marahnya itu, tapi saat melihat wajah tersenyum istrinya, membuat amarahnya reda seketika.


Aly memejamkan matanya kala jemari lentik istrinya mengusap sudut bibirnya. Dia baru teringat, bahwa tadi dipukul oleh pria pengagum Alsya, dan pasti Alsya melihat luka lebam yang ada di bibirnya.


"Bicaralah, mas."


Aly kembali membuka matanya dan menatap lekat wajah teduh Alsya. Dia tidak bisa meluapkan amarahnya pada Alsya, sebab kehilangan calon buah hati mereka pasti masih membuat Alsya sedih meski senyuman terlihat di bibir Alsya, tapi aly masih menemukan gurat kesedihan di mata Alsya. Tangan Aly menangkup jemari Alsya yang masih mengusap lembut wajahnya lalu mendekatkan pada bibir dan mengecupnya lama.


"Al."


"Hem ?."


"Mas, mau tanya sesuatu sama kamu, boleh ?."


Alsya mengangguk. "Iya, silahkan, mas." Jawabnya.


"Al, siapa pria tadi ?." Tanya Aly akhirnya dengan tatapan semakin lekat.


Alsya membalas tatapan itu tak kalah kuatnya, dia sudah memikirkan tentang ini sebelumnya, jika kesalahpahaman pasti akan terjadi.


"Aku tidak mengenalnya, mas..." Jawab Alsya jujur, karena dia memang tidak mengenal sosok pria itu sama sekali.


"Kamu membohongiku, Al ?." Tanya Aly lagi.


"Demi Allah, aku tidak membohongimu, mas. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Memang dia pernah mencoba mendekatiku saat aku lagi lari pagi beberapa hari lalu, tapi aku tidak menghiraukannya sama sekali, bahkan aku langsung pulang ke rumah Abah untuk menghindarinya." Ucap Alsya sungguh-sungguh karena memang kejadiannya seperti itu.


"Lalu, kenapa dia mengakuimu sebagai gadisnya ?."


Alsya terdiam. Dia juga tidak menyangka jika kejadiannya akan sedemikian rumit.


"Aku juga tidak tahu, mas." Jawab Alsya takut-takut karena sekarang tatapan Aly berubah menajam.


Tatapan Aly meredup, melihat wajah Alsya yang sudah pias karena ketakutan. Aly tersenyum lalu dia usap wajah Alsya yang menegang itu.


"Maaf, bukan tak percaya sama kamu, mas hanya ingin tahu soalnya tadi dia membuat mas marah." Suara Aly melembut.

__ADS_1


Alsya mengangguk dan tersenyum. Tangan Alsya kembali mengusap sudut bibir Aly yang memar. "Apa ini karena ulahnya, mas ?." Tanyanya.


Aly mengangguk.


"Maaf." Ucap Alsya lirih.


"Sudahlah, mas tidak apa-apa."


"Tapi itu gara-gara aku. Coba waktu itu aku tidak bertemu dengannya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini, mas." Ucap Alsya lirih dan menunduk penuh penyesalan.


"Sayang, heyy... Sudah, mas gak papa." Aly mengusap lagi wajah istrinya yang meredup, lalu mendaratkan kecupannya di pipi Alsya.


Alsya hanya mengangguk tapi wajahnya masih mendung.


"Al, kamu sudah makan, sayang ?." Tanya Aly kemudian saat matanya melihat ke arah meja kecil yang masih terdiri sebuah nampan makanan yang belum tersentuh sama sekali.


Alsya menggeleng lemah. "Nggak lapar, mas." Jawabnya.


"Kenapa memangnya?. Makan ya, mas suapi." Ucap Aly sambil bangun untuk mengambil nampan makanan.


"Mas, nggak mau. Aku tidak lapar..." Cegah Alsya  menarik tangan Aly agar tidak sampai mengambil makanannya.


Aly menoleh. "Alsya..."


Aly menghela nafasnya panjang, dia tidak pernah menyaksikan sikap Alsya yang sekarang, sebab Alsya selalu menurut apapun ucapannya. Apa karena kehilangan sosok calon bayinya, sehingga Alsya jadi sedikit kurang nurut pada Aly, pikirnya.


"Baiklah." Aly mendudukkan kembali tubuhnya di kursi. "Terus sekarang maunya apa ?." Tanya Aly kemudian.


"Aku tidak mau apa-apa, mas. Aku hanya ingin mas Aly disini menemaniku."


Aly tersenyum. "Itu sudah pasti, sayang." Jawab Aly sungguh-sungguh.


"Makasih."


"Sama-sama, istriku..."


Keduanya saling melempar senyuman manis dengan candaan renyah yang semakin membuat hati keduanya menghangat hanya karena melihat senyum, tawa, juga kekehan dari masing-masing bibir mereka.


 


________________


 

__ADS_1


"Pasangan yang romantis. "


 


Suara bariton itu membuat Halimah langsung menoleh ke arah suara. Pria yang tadi memukul suaminya ternyata. Pria itu juga menoleh dan menyunggingkan senyum anehnya.


Halimah terkesiap, kakinya segera melangkah pergi dari depan jendela kamar Alsya. Dia sudah tidak mau berurusan dengan pria itu yang hanya bisa merusak momen bahagianya saja bersama sang suami.


"Istri rasa pelakor ." Rupanya pria itu mengikutinya.


Halimah semakin melangkah cepat untuk menghindari pria aneh pengagum rahasia sahabatnya. Dia tidak ingin menghiraukan ucapannya.


"Kalian menyembunyikan hubungan kalian di belakang Alsya, benarkan ?."


Halimah masih tidak menggubrisnya. Dia tidak peduli terhadap ucapan-ucapan yang dikatakan pria disampingnya itu.


"Hanya wanita bodoh yang mau dijadikan simpanan." Ucap pria itu lagi.


Halimah tidak terima jika pria itu mengatakan bahwa dirinya adalah wanita simpanan. Halimah langsung menoleh, menatap sengit wajah pria di sampingnya. "Hentikan ocehanmu !." Ucapnya sinis.


"Oh, kamu marah, nona ?. Bukankah aku mengatakan fakta ?." Ucap pria itu semakin meledek.


 


Plakk


 


Tangan Halimah mendarat mulus di pipi pria tersebut. Amarahnya sudah tersulut. " Jaga ucapanmu !." Ucapnya geram.


Pria itu menatap tajam ke arah Halimah, tangannya mengusap pipi yang memerah akibat tamparan keras yang diberikan oleh Halimah.


Halimah berbalik lagi lalu berlari meninggalkan pria itu yang masih terpaku di tempat.


Air mata Halimah luruh deras bersamaan dengan kakinya yang terus mengayuh cepat menyusuri koridor rumah sakit. Saat ini hatinya sedang sakit, sakit karena melihat keharmonisan sahabat dan suaminya juga karena mendengar orang mengatakan bahwa dirinya adalah wanita simpanan. Jelas semua itu menyakiti hati Halimah yang paling terdalam.


Dulu, dia berusaha keras menentang perintah Abahnya yang memintanya untuk menikah dengan Aly, karena dia yakin, di suatu harinya dia akan merasakan hal menyakitkan yang menggores hatinya yang terdalam, dan hari inilah puncaknya. Hari inilah dimana hal yang selalu membuat hatinya khawatir itu terjadi.


Halimah hanya ingin bahagia bersama sang suami. Dia tidak pernah memiliki bayangan jika ternyata dia akan dinikahi oleh seorang pria yang sudah beristri, apalagi suami sahabatnya sendiri.


 


______________

__ADS_1


__ADS_2