
Sesuai dengan keinginan Alsya, tepat setelah satu bulan, Aly benar-benar datang ke rumah dan membawa surat cerai dan Alsya hanya diminta untuk menandatanganinya saja. Dan kemarin, adalah masa sidang perceraian mereka yang akan menjadi penentu hak asuh anak mereka.
Karena memiliki dua anak, akhirnya hakim agung memberi kesempatan bagi keduanya untuk adil, dalam artian mereka akan mengasuh salah satunya dari keduanya. Alsya membawa si bayi Fazal dan Aly membawa Hafidzh. Bukan tanpa alasan kenapa hakim memutuskan demikian karena sebelumnya Hafidhz sudah di suruh memilih untuk ikut tinggal bersama siapa dan yang ternyata putranya itu memilih bersama abinya.
Hafidhz bukan tak mengerti apa yang telah terjadi pada kedua orang tuanya, dia adalah bocah yang cerdas dan saat diminta untuk memilih, entah kenapa dia lebih memilih untuk ikut bersama ayahnya.
Hari ini adalah hari dimana Alsya hidup tanpa adanya celotehan lucu dari sang putra pertama. Biasanya di pagi hari Hafidhz akan menjadi penonton setia ketika Alsya sibuk memandikan Fazal, bahkan kerap kali putranya bertanya ini-itu karena keingintahuannya yang luar biasa itu.
"Al, itu ada Affin di luar." Umma tiba-tiba sudah ada di ambang pintu.
"Affin, Umma ?.
"Iya, nak. Katanya mau ada perlu sama kamu."
"Tapi sepagi ini, Umma ?. Bahkan aku baru saja selesai memandikan Fazal."
"Umma juga tidak tahu, ya sudah temui dulu aja sana. Umma juga lagi buru-buru mau pergi."
"Umma mau kemana ?."
"Umma mau ke tukang sayur yang ada di depan gang sana. " Jawab umma langsung pergi begitu saja.
Sebenarnya Alsya sangat tidak ingin bertemu siapapun hari ini dan mungkin juga dengan beberapa hari kedepan. Dia masih ingin merenung terhadap nasib hidupnya kini yang ternyata sangatlah rumit. Alsya juga bukan tak tau jika kedatangan Affin ke sini sebab satu hal yang Alsya tidak pernah bisa menerimanya. Alsya tahu jika sikap Affin padanya terlalu berlebihan selama ini dan sudah layaknya sebagai seorang kekasih saja.
Bukan apa-apa, Alsya hanya masih butuh waktu untuk kembali bangkit dan percaya kepada sosok yang bernama pria. Dia sudah gagal di yang pertama, jadi dia harus benar-benar bisa mencari sosok yang memang sangat tulus dan tidak akan menyakitinya lagi di kemudian hari.
Alsya tahu dari mba Nisa bahwa Affin sudah pernah berniat untuk mendekatinya saat pertama kali mereka bertemu dalam artian beberapa tahun lalu sebelum Alsya menikah dengan Aly. Tapi niat Affin itu di urungkan sejak pria itu tahu jika Alsya sudah di pinang oleh orang lain.
Jika Aly yang sudah menaruh hati kepada Alsya semenjak usia Alsya masih remaja, dan setelah menikah masih bisa mencintai wanita lain. Maka, untuk Affin pun bukan hal kecil untuk tidak melakukan hal yang sama seperti Aly.
Alsya keluar dari kamarnya dan menemui Affin yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu.
Senyuman Affin langsung tercipta menyambut kedatangan Alsya.
"Assalamualaikum..." Ujar Alsya ramah.
"Waalaikumsalam, Al." Affin semakin melebarkan senyumannya.
Alsya duduk di kursi tepat berhadapan dengan Affin dan hanya terhalang oleh meja saja.
"Apa kabar, Al ?."
"Alhamdulillah, baik. Fin."
__ADS_1
Basa-basi yang tidak bermutu. Itulah yang dipikirkan oleh Alsya, karena tidak mungkin Affin tidak faham bagaimana kini keadaannya, seharusnya dia tahu pasti sebab kemarin saat di pengadilan agama Affin juga ikutan datang.
Entah bagaimana dengan gelar dokter nya itu yang bahkan tidak terlihat seperti dokter sama sekali. Affin terlalu luang untuk melakukan hal seperti dokter lainnya.
"Al, bagaimana keadaan hatimu sekarang?." Tanya Affin lagi.
"Aku masih belum bisa jauh dari Hafidzh Fin. Rasanya sepi tidak ada celotehan lucunya." Ujar Alsya terus terang.
Mereka sudah sangat dekat sebagai seorang teman, jadi Alsya kadang menjadikan Affin sebagai teman curhat selama ini. Kedekatan mereka hanya sebagai teman, dan tidak lebih.
"Tidak apa-apa, nanti juga terbiasa. Yang penting kamu bersabar, tapi jangan sampai tidak ada interaksi sama sekali meski hanya di telfonan.
Alsya tersenyum kaku lalu mengangguk. "Iya, Fin. Oh ya, kamu kesini mau ngapain ?."
"Itu, ini... Aku datang kesini mau ketemu sama kamu dan Fazal, karena nanti siang aku akan berangkat ke luar negeri." Ujar Affin sepertinya sangat berat untuk mengatakan hal tersebut.
"Ke luar negeri ?." Alsya menatap bingung ke arah Affin.
"Iya, aku akan melanjutkan pendidikanku yang terakhir di Negara E untuk mendalami ilmu kedokteranku." Jelas Affin dengan wajah semakin sendu saja.
"Ouh, lalu bagaimana dengan rumah sakit kamu ?. "
"RS akan di pegang dulu sama sepupu dari Malang. "
"Alsya."
"Iya, Fin ?."
"Al, bisakah kau menungguku ?. Demi Allah, aku sudah sangat suka dan sayang sama kamu selama ini, aku ingin menjalin hubungan serius dengan mu, aku ingin kamu menjadi istriku, Al.." ujar Affin akhirnya menyatakan hal yang selama ini dia sembunyikan dari Alsya.
Alsya tersenyum. "Fin, kamu mencintai wanita yang sudah pernah gagal dalam pernikahannya. Apa kamu yakin ?, Kamu masih lajang, kamu bisa mencari wanita lain di luar sana __"
"Tidak, Al. Aku tidak pernah bisa mencintai wanita lain semenjak aku mengenalmu."
"Aku punya anak, Affin."
"Iya aku tahu, aku akan menyayangi anakmu seperti anakku sendiri."
Alsya menghela nafasnya berat. "Fin, tolong, jangan seperti ini. Aku sudah menganggap kamu sahabat aku sendiri..." Ucap Alsya lirih.
"Alsya..."
"Aku baru saja bercerai, dan mas Iddah ku pun masih lama. Lalu, apa kamu gak mikir jika kita bersama sekarang ?. Aku mohon, carilah wanita lain, jangan terlalu berharap padaku..." Ujar Alsya semakin lirih hampir tak terdengar.
__ADS_1
Affin tertegun. Dia memang tidak memikirkan sesuatu yang jauh, yang mungkin saja terjadi nanti. Alsya baru saja gagal terhadap status pernikahannya, dan dia pasti sangat susah untuk membuka hati lagi untuk orang lain.
"Al..."
"Aku mohon..." Ucap Alsya kini terlihat matanya mulai berkaca-kaca.
Affin akhirnya mengangguk pasrah. Dia tidak mungkin memaksakan kehendak terhadap perasaan Alsya. "Maafkan aku, Al. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku tidak akan pernah memaksamu lagi, biarkan semuanya berjalan dengan semestinya. Maaf..." Tatapan Affin penuh dengan penyesalan terhadap ucapannya sendiri barusan.
Alsya hanya mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, boleh aku menggendong Fazal, sebelum aku pergi ?."
Alsya kembali mengangguk dan menyerahkan bayinya pada Affin yang langsung menerimanya dengan sangat hati-hati.
Saat Fazal sudah dalam gendongan, Affin langsung menciumi wajah bayi yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri itu. Dia pasti akan merasakan kerinduan saat nanti jauh dengan bayinya Alsya. Setelah cukup, Affin kembali menyerahkan Fazal pada Alsya.
"Aku pergi ya Al ?."
"Iya, hati-hati dijalan."
Affin tersenyum. "Iya, aku akan sangat merindukan kalian." Ucapnya tulus dengan tangan mengusap-usap lembut wajah Fazal.
Alsya hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Titip salam ke Abah sama Umma,."
"Insya Allah, akan disampaikan salamnya."
"Makasih, assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Alsya mengantar sampai Affin memasuki mobilnya kemudian melenggang pergi, keluar dari pekarangan rumah Abahnya.
"Maafkan aku, Fin... Semoga Allah memberimu jodoh yang terbaik..." Gumam Alsya lalu kembali melangkah masuk ke dalam rumah.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Maafkan othor yaa readers, baru bisa update lagi,🙏🏻🥰
othor lagi banyak kegiatan di dunia nyata soalnya 🙏🏻🥰🥰
salam bahagia untuk kalian semua...🤗🥰🥰
__ADS_1