
Nareena beralih lagi pada wajah ayahnya. Tatapan mata ayahnya menyiratkan sebuah kekecewaan yang besar. Dia tahu jika ayahnya juga merasa seperti telah dibohongi oleh calon menantunya sendiri. Tapi, sebagai seorang ayah tunggal dari anak semata wayangnya, Hadi terlihat mencoba bersikap tenang.
Aly mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap wajah Nareena. "Nareen, sebelumnya saya minta maaf karena kurang jujur sama kamu. Tapi, saya tidak bermaksud membohongimu, saya hanya belum sempat menceritakannya padamu karena mengingat waktu pendekatan kita yang terlalu sebentar. Maafkan saya Nareen. Saya akan menerima apapun keputusan kamu saat ini." Ucap Aly menjelaskan semuanya.
Semua orang terdiam dengan pemikiran masing-masing. Nareena juga disibukkan dengan pemikirannya sendiri yang menjadi sangat rumit dan membingungkan.
Nareena bingung harus memberi keputusan yang seperti apa, jika dia menolaknya lalu bagaimana dengan hatinya yang sudah terperosok jauh untuk Aly, tapi jika dia menerimanya, hidup dengan seorang duda adalah hal yang tak pernah ada dalam pikirannya.
Nareena semakin mengeratkan genggaman tangannya di tangan-tangan Tantenya. Dia butuh pendapat dari orang-orang di sekelilingnya.
"Tante..."
"Nareen pasti tau apa yang harus Nareen lakukan nak." Ucap Ningrum menenangkan.
"Yang Nareen butuhkan hanya keyakinan, sayang." Rene menambahkan.
Nareena mengangguk mengiyakan kemudian dia menatap lagi wajah Aly sedikit lama lalu beralih menatap wajah sang Ayah. Seolah dari tatapannya itu dia sedang berbicara untuk meminta restu sang ayah akan keputusannya. Dan karena ikatan bathin antara seorang anak dan ayahnya, Hadi mengangguk mengiyakan seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Nareena.
Nareena tersenyum kemudian mengangguk lalu dia kembali melihat ke arah ibunya Aly lagi.
"Boleh Nareen bertanya satu hal pada Aly ?." Tanyanya kemudian.
Aly langsung mengangguk mengiyakan.
"Maaf sebelumnya, apa boleh Nareen tau, jika Aly bercerai hidup atau cerai mati dengan istrinya ?."
"Kami cerai hidup karena memang sudah tidak ada kecocokan di antara kami, dan... Saya juga sudah memiliki anak sebelumnya."
"Lalu, dimana anakmu sekarang ?."
"Hak asuh jatuh pada ibunya karena memang umurnya yang masih sangat kecil."
"Baiklah, saya mengerti."
Semua orang langsung menghempaskan nafasnya perlahan. Sesi pertanyaan yang diberikan oleh Nareena pada Aly benar-benar membuat tegang semua orang.
"Kenyataan ini sangat mendadak untukku. Tapi, saya meminta pada Aly, bisakah anda memberikan saya waktu untuk semuanya meskipun saya menerimamu menjadi imam saya ?." Ucap Nareena selanjutnya.
Aly tersenyum meneduhkan. Dia mengangguk mantap dengan pertanyaan yang diberikan. "Saya menikahimu sebagai seorang perempuan yang harus dimuliakan oleh pasangannya. Saya tidak akan memaksakan kehendak jika kamu tidak mengizinkannya." Janji Aly begitu meyakinkan.
Nareena hampir tersenyum mendengar penuturan Aly, tapi dia mencoba untuk menahannya. Nareena mengangguk.
__ADS_1
"Jadi, bisakah kamu mendengar jawaban nak Nareen atas niat kedatangan kami kesini ?." Kali ini ayahnya Aly yang bersuara.
Nareena tidak langsung menjawabnya. Dia lebih memilih melihat ke arah ayahnya dulu dan ternyata ayahnya mengangguk seolah memberikan izinnya.
Nareena menunduk dalam. "Insya Allah, saya menerimanya." Ucapnya malu-malu.
Semua orang langsung menghela nafas lega. Ucapan syukur dengan suara lirih menghimpun di pendengaran Nareena.
Aly juga tak kuasa menahan rasa bahagianya setelah mendengar jawaban Nareena yang bersedia menjadi pendamping hidupnya.
Dalam hati, dia berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak akan pernah kembali ke sikap Aly yang dulu yang tidak memiliki prinsip hidup sehingga berakibat fatal pada keluarga kecilnya. Dia sudah memantapkan hati jika saat ini dan kemudian, hanya akan menjadikan Nareena sebagai bidadari dunia dan akhiratnya dan menjadi pendamping selama hidupnya.
Bismillahirrahmanirrahim... Semoga niat baik Aly diridhoi oleh Sang Maha Kuasa.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Katanya, jika kita mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, niscaya Dia akan mendekatkan juga hajat kita.
Tapi, serasa kata-kata mutiara itu tidak berlaku untuk kehidupan seorang Fyzha Auristella Ghuinandra.
Dulu, dia adalah seorang gadis yang sangat jauh dari yang namanya iman dan ketaatan. Dia tidak pernah mau jika orang tuanya menyuruhnya untuk menutup auratnya, dia adalah seorang gadis yang suka berkelana hingga dia melupakan umurnya yang telah berkepala tiga.
Tapi, setelah dia mencoba berhijrah dengan berusaha menjalankan setiap perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, ternyata Maha Kuasa memberinya sebuah anugerah yang dinamakan Cinta.
Fyzha melamun sendiri di taman alun-alun kota. Suasana temaram lampu dan damai tak membuat hatinya menjadi tenang. Fyzha malah semakin terpuruk oleh segala kenangan yang tercipta antara kebersamaannya dengan pria yang dia kagumi secara diam-diam.
Merasa semakin kesal dengan diri sendiri, Fyzha bangkit dari duduknya dan berjalan gontai menapaki tanah berumput dan tatapan kosong tanpa arah. Yang diinginkannya saat ini adalah mencari tempat yang lebih baik dan bisa menghilangkan rasa emosinya. Hingga sampailah di dekat jalan, dia lupa bahwa malam itu sudah sangat larut dan tidak mungkin ada taksi lewat. Mau memesan kendaraan di aplikasi online juga tidak bisa karena kemarahannya membuatnya tidak sempat membawa ponsel saat keluar tadi.
Kekesalan semakin membuat Fyzha frustasi. Dia melihat seorang pria berjalan ke sebuah mobil, tanpa berpikir panjang, dia langsung menghampiri pria itu.
"Permisi,." Ujarnya sopan.
"Ouh, iya, ada apa ya mbak ?."
"Bisakah kau mengantarku ?."
"Kemana ?." Wajah pria itu terlihat seperti kebingungan.
"Kemanapun, yang penting suatu tempat untuk menenangkan pikiran."
"Tapi,... Baiklah, silahkan masuk !." Jawab pria itu sedikit ragu.
__ADS_1
Fyzha mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil di bagian bangku depan di samping bangku kemudi.
Mesin mobil dinyalakan dan selanjutnya bergerak melaju. Pada saat mobil berjalan, Fyzha yang masih dalam emosi bercampur frustasi tiba-tiba melepaskan hijab yang menutupi kepalanya lalu membuka sedikit kancing baju bagian atasnya.
"Nona !, Apa yang kau lakukan ?!." Pria disampingnya jelas sangat terkejut melihat apa yang dilakukan Fyzha.
Fyzha hanya melirik sekilas. "Kenapa ?, Biarkan saja, aku sangat gerah." Ucapnya santai.
Fyzha memang sudah kehilangan akal sehatnya. Putus cinta membuatnya lupa akan kelakuannya yang jelas-jelas sangat salah.
"Tapi auratmu, nona !." Ucap pria itu lagi.
"Sudahlah, aku memintamu untuk mengajakku untuk menghilangkan stress ku, bukan ?!." Sungut Fyzha menatap wajah pria di sampingnya.
Pria itu mendengus kesal. " Iya, tapi..." Ucapannya tidak dilanjutkan.
Fyzha tidak perduli dengan sikap pria tersebut. Dia memilih menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi karena kepalanya yang mulai terasa pening.
Mobil kembali berhenti. Fyzha melihat ke luar jendela dan mereka masih berada dikawasan taman tadi. Tapi kenapa pria itu menghentikan kelajuan mobilnya ?. Fyzha menoleh ke samping sambil menegakkan posisi duduknya lagi. "Hey, kenapa berhenti lagi ?." Tanyanya bingung.
Pria itu menatapnya dengan tatapan mata yang sangat lekat. "Nona, kau membuatku tergoda dengan keadaanmu yang seperti itu." Ucap pria itu seperti menahan sesuatu.
Fyzha menelisik penampilannya sendiri lalu kembali menyandarkan punggungnya dan melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong.
"Kalau itu bisa membuat pikiranku lebih tenang, maka lakukanlah !."
"Apa ?!!. Kau serius ?, Tapi kau tidak tau apakah aku orang baik ataukah orang jahat, nona ?." Pria itu seperti masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Fyzha.
"Aku tidak perduli !, Yang penting hati dan pikiranku menjadi tenang. Jadi, itu tidak masalah bagiku." Ucapan Fyzha semakin meyakinkan.
Pria itu mendekat. "Baiklah, nona. Kau, kuanggap telah mengizinkannya, padahal kita tidak tahu apakah setelah ini akan bertemu lagi nanti."
Peristiwa itu benar-benar terjadi. Fyzha telah merelakan hal yang paling berharga dalam dirinya hanya karena putus cinta.
Yang ada di pikiran Fyzha hanyalah jika dia membutuhkan hal baru untuk merilekskan pikiran dan hatinya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Putus cinta tidak sakit. karena, yang sakit itu putus tapi belum pernah terungkap. seperti kisahnya Fyzha yang diam-diam menyukai Aly, tapi ternyata Aly malah datang ke keluarganya untuk melamar Nareena.
Apalagi disana, dia menyaksikan sendiri ucapan Aly yang begitu lugas dan jelas saat meminta sepupunya itu pada ayahnya.
sakit sekali !. Dan itulah yang dirasakan oleh Fyzha.
__ADS_1
Layu sebelum bersemi !!.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓